07 September 2008

Kisah Penuh Hikmah (6)

BUKU : 6

Disusun Oleh :
Edi S. Kurniawan
e-mail : Edieskurniawan@yahoo.com

Modifikasi Oleh :
S.Samiyana, KDU
NPV: 20.003.357

( Dipersembahkan kepada semua Ikhwan-Akhwat Muslim
dimana saja berada )

“ Bísmíllaahírrahmaanírrahím ”

Sabda Rasullullah SAW, 'Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Ramadhan
dengan ikhlas kepada Allah SWT, dia akan diberikan oleh Allah SWT 7 perkara:
1. Akan dicairkan daging haram yang tumbuh dari badannya
(daging yang tumbuh dari makanan yang haram).
2. Rahmat Allah senantiasa dekat dengannya.
3. Diberi oleh Allah sebaik-baik amal.
4. Dijauhkan dari rasa lapar dan dahaga.
5. Diringankan baginya siksa kubur (siksa yang amat mengerikan).
6. Diberikan cahaya oleh Allah SWT pada hari Kiamat untuk
menyeberang Titian Sirath.
7. Allah SWT akan memberinya kemudahan di surga.'

****
Adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa'." (HR. Ahmad dan An-Nasa'i)

****
Ilmu yang bermanfaat ialah salah satu amal
yang berkekalan bagi orang yang mengajarnya
meskipun dia sudah mati.

****

(1)
KISAH TSABIT BIN IBRAHIM

Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan.
Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.
Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah yang telah dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata, “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku Khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya”.
Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.” Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam”.
Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orang tua itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka”
Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata,” Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu maukah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?”
Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan ?” Orang itu menjawab, “Engkau harus mengawini putriku !”
Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?”
Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!”
Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai istri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !”
Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkawinanya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala”.
Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walau-pun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam ,”Assalamu’alaikum…”
Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi jadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu , dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya . Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.
Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. “Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula”, Kata Tsabit dalam hatinya.
Tsabit berpikir, mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan yang sebenarnya ?
Setelah Tsabit duduk di samping istrinya, dia bertanya, “Ayah-mu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa ?” Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”.
Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?”
Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah.
Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan ?” Tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala”.
Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat shaleha dan wanita yang memelihara dirinya. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, “Ketika kulihat wajahnya Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”.
Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke seluruh penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit.

(2)
BELAJAR DARI BURUNG DAN CACING

Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena him-pitan kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing.
Kita lihat burung tiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya kemana dan di-mana ia harus mencari makanan yang diperlukan. Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan buat keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus puasa. Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya, sehingga ia dan keluarganya harus berpuasa.
Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya ?kantor? yang tetap, apalagi se-telah lahannya banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai. Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderi-taannya. Kita lihat burung tetap optimis akan rizki yang dijanjikan Allah. Kita lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya.
Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada diatas dan dilain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan dan di lain waktu kekurangan. Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.
Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari bu-rung, yaitu cacing. Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai kaki, tangan, tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga.
Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati. Tapi kita lihat , dengan segala keter-batasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari rizki . Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan kepalanya ke batu.
Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan de-ngan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih. Tetapi kenapa ma-nusia yang dibekali banyak kelebihan ini seringkali kalah dengan burung atau cacing ? Mengapa manusia banyak yang putus asa lalu bunuh diri menghadapi kesulitan yang dihadapi? Padahal rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa.
Rupa-rupanya kita perlu banyak belajar dari burung dan cacing.

(3)
KARAKTERISTIK ORANG TUA

Seorang Muslim sudah semestinya memikirkan masa depan dengan melakukan investment –bukan dengan stock portofolio, 401K, rumah ataupun saving account, tetapi dengan shodaqoh jariyah, menyebarkan ilmu yang bermanfaat, dan membina anak yang sholeh/-ah. Ketiga aktivitas ini ternyata tercakup dalam proses pendidikan anak dan apalagi Alhamdulillah banyak diantara kita yang telah dikaruniai anak, sehingga saya tergerak untuk merangkum 6 karakteristik kepribadian seorang ayah idaman.
1. Keteladanan
Suatu pagi, saya terperanjat ketika melihat cara putriku memakai sepatunya. Ia langsung memasukkan kakinya ke dalam sepatu tanpa melepas talinya. Rupanya selama ini ia memperhatikan bagaimana cara saya memakai sepatu. Karena malas membuka simpul tali sepatu, sering kali saya langsung memakainya tanpa membuka dan mengikat simpul tali sepatu. Saya berusaha melarangnya dengan memberikan penjelasan bahwa cara memakai sepatu seperti itu bisa mengakibatkan sepatu cepat rusak. Namun hasilnya nihil. Ini merupakan satu contoh nyata bahwa anak, terutama pada usia dini, mudah sekali mencontoh orangtuanya. Tidak perduli apakah itu benar atau salah. Nasehat kita tidak ada manfaatnya, jika kita tetap melakukan apa yang kita larang.
Apakah kita sudah memberikan teladan yang terbaik kepada anak-anak kita? Apakah kita lebih sering nonton TV dibandingkan membaca Al-Quran atau buku lain yang bermanfaat? Apakah kita lebih sering makan sambil jalan dan berdiri dibandingkan sambil duduk dengan membaca Basmallah? Apakah kita sholat terlambat dengan tergesa-gesa dibandingkan sholat tepat waktu? Apakah bacaan surat kita itu-itu saja?
Allah SWT berfirman dalam surat Ash-Shaff 61:2-3: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. “
Allah SWT juga mengingatkan untuk tidak bertingkah laku seperti BaniIsrail dalam firmanNya dalam surat Al-Baqoroh :44 “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?”

2. Kasih Sayang dan Cinta
Kehangatan, kelembutan, dan kasih sayang yang tulus merupakan dasar penting bagi pendidikan anak. Anak-anak usia dini tidak tahu apa namanya, tapi dengan fitrahnya mereka bisa merasakannya. Lihat bagaimana riangnya sorot mata dan gerakan tangan serta kaki seorang bayi ketika ibunya akan mendekap dan menyusuinya dengan penuh kasih sayang.
Bayi kecilpun sudah mampu menangkap raut wajah yang selalu memberikan kehangatan, kelembutan, dan kasih sayang dengan tulus, apalagi mereka yang sudah lebih besar.
Rasulullah SAW pada banyak hadith digambarkan sebagai sosok ayah, paman, atau kakek yang menyayangi dan mengungkapkan kasih sayangnya yang tulus ikhlas kepada anak-anak. Sebuah kisah yang menarik yang diceritakan oleh al-Haitsami dalam Majma’uz Zawa’id dari Abu Laila.
Dia berkata: “Aku sedang berada di dekat Rasulullah SAW. Pada saat itu aku melihat al-Hasan dan al-Husein sedang digendong beliau. Salah seorang diantara keduanya kencing di dada dan perut beliau. Air kencingnya mengucur, lalu aku mendekati beliau. Rasulullah SAW bersabda, ‘Biarkan kedua anakku, jangan kau ganggu mereka sampai ia selesai melepaskan hajatnya.’ Kemudian Rasulullah SAW membawakan air.” Dalam riwayat lain dikatakan, ‘Jangan membuatnya tergesa-gesa melepaskan hajatnya.’
Bagaimana dengan kita? Sudahkan kita ungkapkan kecintaan kita yang tulus kepada anak-anak kita hari ini?
3. Adil
Siapa yang belum pernah dengar kata sibling rivalry dan favoritism? Jika belum dengar, maka ketahuilah! Siapa tahu kita termasuk orang yang telah melakukannya. Seringkali kita terjebak oleh perasaan kita sehingga kita tidak berlaku adil, misalnya karena anak kita yang satu lebih penurut dibandingkan anak yang lain atau karena kita lebih suka anak perempuan daripada anak laki-laki dll.
Rasulullah SAW bersabda: “Berlaku adillah kamu di antara anak-anakmu dalam pemberian.” (HR Bukhari)
Masalah keadilan ini dikedepankan untuk mencegah timbulnya kedengkian diantara saudara. Para ahli peneliti pendidikan anak berkesimpulan bahwa faktor paling dominant yang menimbulkan rasa hasad/ dengki dalam diri anak adalah adanya pengutamaan saudara yang satu di antara saudara yang lainnya.
Anak sangat peka terhadap perubahan perilaku terhadap dirinya. Jika kita lepas kontrol, sesegera mungkin untuk memperbaiki, karena anak yang diperlakukan tidak adil bisa menempuh jalan permusuhan dengan saudaranya atau mengasingkan diri (menutup diri dan rendah diri).
4. Pergaulan dan Komunikasi
Seringkali kita berada dalam satu ruangan dengan anak-anak, tapi kita tidak bergaul dan berkomunikasi dengan mereka. Kita asyiik membaca koran, mereka asyik main video game, atau nonton TV.
Banyak hadith yang menggambarkan bagaimana kede-katan pergaulan Rasulullah SAW dengan anak-anak dan remaja. Beliau bercanda dan bermain dengan mereka.
Bagaimana dengan kita yang sudah sibuk kuliah sambil bekerja plus ‘ngurusin’ IMSA (**smile**)? Mana ada waktu untuk bercengkrama dengan anak-anak? Sebenarnya ada waktu, jika kita mengetahui strateginya. Misalnya, sewaktu menemani anak bermain CD pendidikan di sampingnya, kita bisa menjelaskan cara mengerjakan/bermainnya, lalu memberi contoh sebentar, lantas bisa kita tinggalkan. Begitu pula dengan buku bacaan dan permainan lainnya. Repotnya ada sebagian ayah yang tidak mau berkumpul dengan anak-anak, terutama yang menjelang dewasa karena takut kehilangan wibawa atau kharismanya. Ini pandangan yang keliru. Yang lebih tepat adalah kita jaga keseimbangan, artinya kita tidak boleh terlalu kaku dalam memegang kekuasaan dan sayangnya, tetapi juga tidak boleh terlalu longgar.
5. Bijaksana Dalam Membimbing
Rasulullah SAW bersabda: “… Binasalah orang-orang yang berlebihan …” (HR Muslim). Jadi metoda yang paling bijaksana dalam mendidik dan mengarahkan anak adalah yang konsisten dan pertengahan – seimbang, yakni tidak membebaskan anak sebebas-bebasnya dan tidak mengekangnya; jangan terlalu sering menyanjung, namun juga jangan terlalu sering mencelanya. Bila ayah memerintahkan sesuatu kepada anaknya, hendaknya ayah melakukannya dengan hikmah, penuh kasih sayang, dan tidak lupa membumbuinya dengan canda seperlunya. Jelaskan hikmah dan man-faatnya, sehingga anak termotivasi untuk melakukannya. Jangan lupa juga untuk memperhatikan kondisi anak dalam melaksanakan perintah atau aturan tersebut.
Imam Ibnu al-Jauzi mengatakan bahwa melatih pribadi perlu kelembutan, tahapan dari kondisi yang satu ke kondisi yang lain, tidak menerapkan kekerasan, dan berpegang pada prinsip pencampuran antara rayuan dan ancaman.
6. Berdoa
Para nabi selalu berdoa dan memohon pertolongan Allah untuk kebaikan keturunannya. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (Ibrahim:35)
Segala puji bagi Allah yang telah menganugrahkan kepa-aku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doa-ku.” (Ibrahim:39-40)

(4)
DO’A UNTUK ANAK / KELAHIRAN

Ada beberapa adab dan do’a yang diambil dari Al-Qur’an dan hadith yang bisa dijadikan rujukan untuk mendo’akan calon anak/anak kita.Saya coba sampaikan beberapa:
1. Perbanyak saja baca Al-Qur’an. Baik oleh calon bapak-nya/suami atau oleh sang calon Ibu/istri.
2. Jaga kelakukan diri dari perbuatan yang tidak baik. Seper-ti: mudah marah, bergunjing, menyakiti makhluk lain, dll.
3. Baca do’a ini : Robbi hablii minash shoolihiin (QS Ash-Shoffat ayat:100) artinya:Ya Tuhanku, anugerahkanlah ke-padaku ( anak ) yang termasuk orang-orang yang sholeh.
4. Baca do’a ini : Robbi hablii min ladunka dzurriyyatan thoyyibatan, innaka samii’ud du’aa’I (QS Ali imran : 38) ar-tinya : Ya Tuhanku berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik.Sesungguhnya Engkau Maha mendengar (memper-kenankan do’a).
5. Baca do’a ini : Robbanaa hab lanaa min azwaajinaa wadzurriyyatinaa qurrota a’yunin waj’alnaa lilmuttaqiina imaaman (QS Al-furqon : 74 ) artinya: Ya Tuhan kami, anu-gerahkanlah kepada kami dari istri kami dan keturunan kami yang menyejukkan hati kami dan jadikanlah kami pemuka bagi orang-orang yang bertakwa.
6. Bacaan ketika akan melahirkan memperbanyak membaca do’a antara lain:
* ayat kursi (QS. Al Baqoroh ayat: 255 )
* surat Al A’raf (surat 7) ayat 54
* surat Al Falaq (surat 113) ayat 1 – 5
* surat An Naas (surat 114) ayat 1 – 6 (hadith riwayat Ibnus Sunni)
7. Bacakan adzan ditelinga kanan dan iqomat ditelinga kiri ketika bayi telah lahir, agar jin yang mengganggu kanak-kanak ( ummush shibyan ) tidak akan mengganggu ( hadith riwayat Ibnus Sunni ).
8. Ketika melihat anak yang baru lahir baca do’a ini: Innii u’iidzuka bikalimaatillahit taammati min kulli syaythoonin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin (hadith riwayat Bukhari) artinya : Aku berlindung untuk anak ini dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala gangguan syaitan dan gangguan binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat buruk bagi apa yang dilihatnya.

(5)
KISAH KEPOMPONG

Seorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Suatu hari lubang kecil muncul.
Dia duduk dan mengamati dalam beberapa jam kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.
Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk memban-tunya, dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.
Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang dalam waktu.
Semuanya tak pernah terjadi.
Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak disekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepom-pong tersebut.
Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.
Saya memohon Kekuatan ..Dan Tuhan memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.
Saya memohon Kebijakan ... Dan Tuhan memberi saya persoalan untuk diselesaikan.
Saya memohon Kemakmuran .... Dan Tuhan memberi saya Otak dan Tenaga untuk bekerja.
Saya memohon Keteguhan hati ... Dan Tuhan memberi saya Bahaya untuk diatasi.
Saya memohon kebahagiaan dan cinta kasih...Dan Tuhan memberikan kesedihan- kesedihan untuk dilewati.
Saya memohon Cinta .... Dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong.
Saya memohon Kemurahan/kebaikan hati.... Dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan.
Saya tidak memperoleh yang saya inginkan, saya mendapatkan segala yang saya butuhkan.

(6)
LIMA WASIAT DARI ALLAH SWT.
KEPADA RASULULLAH SAW

Dari Nabi SAW., “Pada waktu malam saya diisra’ kan sampai ke langit, Allah SWT telah memberikan lima wasiat, antaranya :
1) Janganlah engkau gantungkan hatimu kepada dunia karena sesungguhnya Aku tidak menjadikan dunia ini untuk engkau.
2) Jadikan cintamu kepada-Ku sebab tempat kembalimu adalah kepada-Ku.
3) Bersungguh-sungguhlah engkau mencari sorga.
4) Putuskan harapan dari makhluk karena sesungguhnya mereka itu sedikitpun tidak ada kuasa di tangan mereka.
5) Rajinlah mengerjakan sholat tahajjud karena sesung-guhnya pertolongan itu berserta qiamullail.

Ibrahim bin Adham berkata, “Telah datang kepadaku beberapa orang tetamu, dan saya tahu mereka itu adalah wakil guru tariqat. Saya berkata kepada mereka, berikanlah nasihat yang berguna kepada saya, yang akan membuat saya takut kepada Allah SWT
Lalu mereka berkata, “Kami wasiatkan kepada kamu 7 perkara, yaitu :
1) Orang yang banyak bicaranya janganlah kamu harapkan sangat kesedaran hatinya.
2) Orang yang banyak makan janganlah kamu harapkan sangat kata-kata hikmah darinya.
3) Orang yang banyak bergaul dengan manusia janganlah kamu harapkan sangat kemanisan ibadahnya.
4) Orang yang cinta kepada dunia janganlah kamu harapkan sangat khusnul khatimahnya.
5) Orang yang bodoh janganlah kamu harapkan sangat akan hidup hatinya.
6) Orang yang memilih berkawan dengan orang yang dzalim janganlah kamu harapkan sangat kelurusan agamanya.
7) Orang yang mencari keredhaan manusia janganlah harapkan sangat akan keredhaan Allah daripadanya.”

(7)
MABUK DALAM CINTA TERHADAP ALLAH

Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Gha-zali, bahwa pada suatu hari Nabi Isa a.s berjalan di hadapan seorang pemuda yang sedang menyiram air di kebun. Tatkala pemuda yang sedang menyiram air itu melihat Nabi Isa a.s berada di hadapannya maka dia berkata, “Wahai Nabi Isa a.s, kamu mintalah dari Tuhanmu agar Dia memberi kepadaku se-berat semut Jarrah cintaku kepada-Nya.”
Berkata Nabi Isa a.s, “Wahai saudaraku, kamu tidak akan berdaya untuk seberat Jarrah itu.”
Berkata pemuda itu lagi, “Wahai Isa a.s, kalau aku tidak berdaya untuk satu Jarrah, maka kamu mintalah untukku setengah berat Jarrah.”
Oleh karena keinginan pemuda itu untuk mendapatkan ke-cintaannya kepada Allah, maka Nabi Isa a.s pun berdoa, “Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat Jarrah cintanya kepada-Mu.” Setelah Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun berlalu dari situ.
Selang beberapa lama Nabi Isa a.s datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya berdoa, tetapi beliau tidak dapat berjumpa dengan pemuda itu. Kemudian Nabi Isa a.s bertanya kepada orang yang lalu-lalang di tempat tersebut, dan berkata kepada salah seorang yang berada di situ bahwa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas gunung.
Setelah Nabi Isa a.s mendengar penjelasan orang-orang itu beliau berdoa kepada Allah SWT, “Wahai Tuhanku, tun-jukkanlah kepadaku tentang pemuda itu.” Selesai Nabi Isa a.s berdoa maka tak lama kemudian beliau dapat melihat pemuda itu yang berada di antara gunung-gunung dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit.
Nabi Isa a.s menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa a.s, lalu Nabi Isa berkata, “Aku ini Isa a.s.”
Kemudian Allah swt menurunkan wahyu yang berbunyi, “Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya terdapat kadar setengah berat Jarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya.”
Barangsiapa yang mengakui tiga perkara tetapi tidak menyucikan diri dari tiga perkara yang lain, dia adalah orang yang tertipu.
1. Orang yang mengaku kemanisan berzikir kepada Allah, tetapi dia mencintai dunia.
2. Orang yang mengaku cinta ikhlas di dalam beramal, tetapi dia ingin mendapat sanjungan dari manusia.
3. Orang yang mengaku cinta kepada Tuhan yang mencip-takannya, tetapi tidak berani merendahkan dirinya.
Rasulullah saw telah bersabda, “Akan datang waktunya umatku akan mencintai lima lupa kepada yang lima :
1. Mereka cinta kepada dunia. Tetapi mereka lupa kepada akhirat.
2. Mereka cinta kepada harta benda. Tetapi mereka lupa kepada hisab.
3. Mereka cinta kepada makhluk. Tetapi mereka lupa kepada al-Khaliq.
4. Mereka cinta kepada dosa. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat.
5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah. Tetapi mereka lupa kepada kubur.”

(8)
MEMBUKA PINTU SORGA

Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang asar. Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.
Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun. "Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta'ala." "Terima kasih," jawab Ali. Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukkan sikap kecewa atau sedih.
Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan shalat berjama'ah. Sepulang dari sholat, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?"
Áli menjawab heran. "Ya betul. Ada apa, Tuan?''
Orang tua itu merogoh kantungnya seraya menjawab, "Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya."
Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.
Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.
Ali pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, "Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan." Tanpa pikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.
Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya. Fatimah, masih dalam senyum, berkata, "Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita."

(9)
BANYAKLAH BER-DZIKIR

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.. Ia berkata bahwa Rasulullah Saw. Bersabda, "Sesungguhnya Allah SWT memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di jalan-jalan guna mencari hamba ahli berdzikir.
Jika mereka mendapati kaum yang selalu berzikir kepada Allah SWT, mereka menyerunya, `Serukanlah kebutuhan ka-lian.' Kemudian mereka membawanya dengan sayap-sayapnya ke atas langit bumi.
Lalu mereka ditanya oleh Rabb-nya (Dia Maha Menge-tahui), `Apa yang dikatakan oleh hamba-hamba-Ku?' Para ma-laikat menjawab, `Mereka menyucikan dan mengagungkan Engkau, memuji dan memuliakan Engkau.' Allah berfirman, `Apakah mereka melihat-Ku?'
Para malaikat menjawab, `Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat-Mu.' Allah berfirman, `Bagaimana kalau mereka melihat Aku?' Para malaikat berkata, `Kalau mereka melihat-Mu, tentunya ibadah mereka akan bertambah, tambah menyucikan dan memuliakan Engkau.' Allah SWT berfirman, `Apa yang mereka minta?' Para malaikat berkata, `Mereka memohon surga kepada-Mu.'
Allah berfirman, `Apakah mereka pernah melihatnya?' Para malaikat berkata, `Tidak, demi Allah, mereka tidak pernah melihatnya.' Allah SWT berfirman, `Bagaimana kalau mereka melihatnya?' Para malaikat berkata, `Kalau mereka melihatnya, niscaya mereka akan semakin berhasrat serta tamak dalam memohon dan memintanya.'
Allah SWT berfirman, `Pada apa mereka memohon per-lindungan?' Para malaikat berkata, `Mereka memohon per-lindungan dari neraka-Mu.' Allah SWT berfirman, `Apakah mereka pernah melihatnya?' Para malaikat berkata, `Kalau mereka melihatnya, niscaya mereka akan semakin berlari menjauhinya dan semakin takut.'
Allah SWT berfirman, `Kalian Aku jadikan saksi bahwa Aku telah mengampuni mereka.' Salah seorang dari malaikat itu berkata, `Di dalam kelompok mereka terdapat si Fulan yang bukan bagian dari mereka. Ia datang ke sana hanya untuk suatu keperluan.' Allah SWT berfirman, `Anggota majelis itu tidak menyengsarakan orang yang duduk bergabung dalam majelis mereka.'"

(10)
LIMA BELAS BUKTI KEIMANAN

Al-Hakim meriwayatkan Alqamah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah saw dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya, "Siapakah kamu ini ?"
Jawab kami, "Kami adalah orang beriman." Kemudian baginda bertanya, "Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimanan kamu ?" Jawab kami, "Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami terbiasakan sejak zaman jahiliyyah "
Tanya Nabi saw, "Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kamu itu ?"
Jawab mereka, "Kamu telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah, percaya kepada Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah yang baik mau-pun yang buruk."
Selanjutnya tanya Nabi saw, "Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu ?"
Jawab mereka, "Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan sholat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu."
Tanya Nabi saw selanjutnya, "Apakah lima perkara yang kamu masih terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?" Jawab me-reka, "Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesu-sahan, berani di waktu perang, redha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh."
Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Nabi saw berkata, "Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai dalam agama maupun dalam tatacara berbicara, hampir saja kamu ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi."
Kemudian Nabi saw selanjutnya, "Maukah kamu aku tunjukkan kepada lima perkara amalan yang akan menyem-purnakan dari yang kamu punyai ? Janganlah kamu me-ngumpulkan sesuatu yang tidak akan kamu makan. Janganlah kamu mendirikan rumah yang tidak akan kamu tempati, ja-nganlah kamu berlumba-lumba dalam sesuatu yang bakal kamu tinggalkan,, berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat."

(11)
RAHASIA
KHUSYUK DALAM SHOLAT

Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk sholatnya. Namun dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk.
Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Isam dan bertanya: “Wahai Aba Abdur-rahman, bagaimanakah caranya tuan sholat?”
Hatim berkata : “Apabila masuk waktu sholat aku berwudhu’ zahir dan batin.”
Isam bertanya, “Bagaimana wudhu’ zahir dan batin itu?”
Hatim berkata, “Wudhu’ zahir sebagaimana biasa, iaitu membasuh semua anggota wudhu’ dengan air. Sementara wu-dhu’ batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara:
1. bertaubat
2. menyesali dosa yang dilakukan
3. tidak tergila-gilakan dunia
4. tidak mencari / mengharap pujian orang (riya’)
5. tinggalkan sifat berbangga
6. tinggalkan sifat khianat dan menipu
7. meninggalkan sifat dengki
Seterusnya Hatim berkata, “Kemudian aku pergi ke mas-jid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat.
Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayang-kan Allah ada di hadapanku, sorga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahwa aku seolah-olah berdiri di atas titian ‘Sirratul Mustaqim’ dan aku menganggap bahwa sholatku kali ini adalah sholat terakhirku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.
Setiap bacaan dan doa dalam sholat kufaham maknanya, kemudian aku ruku’ dan sujud dengan tawadhu’, aku berta-syahhud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersholat selama 30 tahun.”
Setelah Isam mendengar, menangislah dia karena mem-bayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

(12)
PERCAKAPAN ANTARA
RASULULLAH SAW DENGAN IBLIS

Telah diceritakan bahwa Allah SWT telah menyuruh iblis mendatangi Nabi Muhammad saw agar menjawab segala pertanyaan yang baginda tanyakan padanya. Pada suatu hari Iblis pun mendatangi baginda dengan menyerupai orang tua yang baik lagi bersih, sedang ditangannya memegang tongkat.
Bertanya Rasulullah saw, “Siapakah kamu ini ?”
Orang tua itu menjawab, “Aku adalah iblis.”
“Apa maksud kamu datang menjumpai aku ?”
Orang tua itu menjawab, “Allah menyuruhku datang kepadamu agar kau bertanya kepadaku.”
Baginda Rasulullah saw lalu bertanya, “Hai iblis, berapa ba-nyakkah musuhmu dari kalangan umat-umatku ?”
Iblis menjawab, “Lima belas.”
1. Engkau sendiri hai Muhammad.
2. Imam dan pemimpin yang adil.
3. Orang kaya yang merendah diri.
4. Pedagang yang jujur dan amanah.
5. Orang alim yang mengerjakan sholat dengan khusyuk.
6. Orang Mukmin yang memberi nasihat.
7. Orang Mukmin yang berkasih-sayang.
8. Orang yang tetap dan cepat bertaubat.
9. Orang yang menjauhkan diri dari segala yang haram.
10. Orang Mukmin yang selalu dalam keadaan suci.
11. Orang Mukmin yang banyak bersedekah dan berderma.
12. Orang Mukmin yang baik budi dan akhlaknya.
13. Orang Mukmin yang bermanfaat kepada orang.
14. Orang yang hafal al-Qur’an serta selalu membacanya.
15. Orang yang berdiri melakukan sholat di waktu malam sedang orang-orang lain semuanya tidur.
Kemudian Rasulullah saw bertanya lagi, “Berapa banyak-kah temanmu di kalangan umatku ?”
Jawab iblis, “Sepuluh golongan :-
1. Hakim yang tidak adil.
2. Orang kaya yang sombong.
3. Pedagang yang khianat.
4. Orang pemabuk/peminum arak.
5. Orang yang memutuskan tali persaudaraan.
6. Pemilik harta riba’.
7. Pemakan harta anak yatim.
8. Orang yang selalu lengah dalam mengerjakan sholat/-sering meninggalkan sholat.
9. Orang yang enggan memberikan zakat/kedekut.
10. Orang yang selalu berangan-angan dan khayal dengan tidak ada faedah.
Mereka semua itu adalah sahabat-sahabatku yang setia.”
Itulah di antara perbualan Nabi dan iblis. Memang kita maklum bahwa sesungguhnya Iblis itu adalah musuh Allah dan manusia. Maka dari itu hendaklah kita selalu berhati-hati jangan sampai kita menjadi kawan iblis, karena barangsiapa yang menjadi kawan iblis bermakna menjadi musuh Allah. Demikianlah sebaliknya, barangsiapa yang menjadi musuh iblis berarti menjadi kawan kekasih Allah.

(13)
DIPOTONG TANGANNYA
KARENA MEMBERI SEDEKAH

Dikisahkan bahwa semasa berlakunya kekurangan maka-nan dalam kalangan Bani Israel, maka lalulah seorang fakir menghampiri rumah seorang kaya dengan berkata, "Sedekahlah kamu kepadaku dengan sepotong roti dengan ikhlas karena Allah swt"
Setelah fakir miskin tadi berkata demikian, maka keluar-lah anak gadis orang kaya itu, lalu memberikan roti yang masih panas kepadanya. Baru saja gadis itu memberikan roti-nya, keluarlah bapanya yang bakhil itu dan terus memotong tangan kanan anak gadisnya hingga putus. Semenjak dari peristiwa itu Allah SWT pun mengubah kehidupan orang kaya itu dengan menarik kembali harta kekayaannya, sehingga dia menjadi seorang fakir miskin dan akhirnya dia meninggal dunia dalam keadaan yang paling hina.
Anak gadisnya menjadi pengemis dan meminta-minta dari satu rumah ke rumah. Pada suatu hari anak gadis itu menghampiri rumah seorang kaya sambil meminta sedekah, maka keluarlah seorang ibu dari rumah tersebut. Ibu itu sangat kagum dengan kecantikannya dan mempelawa anak gadis itu masuk ke rumahnya. Ibu itu sangat tertarik dengannya dan dia berhajat untuk mengawinkan anaknya dengan gadis itu. Setelah acara perkawinan selesai, maka si ibu itu memberikan pakaian dan perhiasan bagi menggantikan pakaiannya.
Pada suatu malam ketika sudah dihidangkan makan ma-lam, si suami juga hendak makan bersamanya. Oleh karena anak gadis itu kudung tangannya dan suaminya juga tidak tahu bahwa dia kudung, sedangkan ibunya juga telah merahasiakan tentang keadaan tangan gadis tersebut, maka tatkala suaminya menyuruh dia makan, lalu dia makan dengan tangan kiri. Ketika suaminya melihat keadaan isterinya itu dia berkata, "Aku mendapat tahu bahwa orang fakir tidak tahu dalam tatacara harian, oleh karena itu makanlah dengan tangan kanan dan bukan dengan tangan kiri."
Walaupun si suami berkata demikian, namun isterinya tetap makan dengan tangan kiri, meskipun suaminya berulang kali memberitahunya. Dengan tiba-tiba terdengar suara dari sebelah pintu, "Keluarkanlah tangan kananmu itu wahai hamba Allah, sesungguhnya kamu telah mendermakan sepotong roti dengan ikhlas karena Ku, maka tidak ada halangan bagi-Ku memberikan kembali akan tangan kananmu itu."
Setelah gadis itu mendengar suara tersebut, dia pun mengeluarkan tangan kanannya, dan dia mendapati tangan kanannya berada dalam keadaan asalnya, dan dia pun makan bersama suaminya dengan menggunakan tangan kanan.
Hendaklah kita senantiasa menghormati tetamu kita, walaupun dia fakir miskin apabila dia telah datang ke rumah kita maka sesungguhnya dia adalah tetamu kita. Rasulullah SAW telah bersabda yang artinya, "Barangsiapa menghormati tetamu, maka sesungguhnya dia telah menghormatiku, dan barangsiapa menghormatiku, maka sesungguhnya dia telah memuliakan Allah SWT Dan barangsiapa telah menjadi kemarahan tetamu, dia telah menjadi kemarahanku. Dan barang-siapa menjadikan kemarahanku, sesungguhnya dia telah menjadikan murka Allah SWT"
Sabda Rasulullah SAW yang artinya, "Sesungguhnya tetamu itu apabila dia datang ke rumah seseorang mukmin, maka dia masuk bersama dengan seribu berkah dan seribu rahmat."

(14)
CINTA SEJATI SEORANG IBU
TERHADAP ANAK-ANAKNYA

Dia seorang wanita yang sudah tua, namun semangat perjuangannya tetap menyala seperti wanita masih muda. Setiap tutur kata yang dikeluarkannya selalu menjadi pendorong dan bualan orang sekitarnya. Maklumlah ia memang seorang penyair dua zaman, maka tidak kurang pula bercakap dalam bentuk syair. Al-Khansa binti Amru demikianlah nama wanita itu. Dia merupakan wanita yang terkenal cantik dan pandai di kalangan orang Arab.
Dia pernah bersyair mengenang kematian saudaranya yang bernama Sakhr:
“Setiap mega terbit, dia mengingatkan aku pada si Sakhr, malang.
Aku pula masih teringatkan dia setiap mega hilang di ufuk barat.
Kalaulah tidak karena terlalu ramai orang menangis di sampingku ke atas mayat-mayat mereka, niscaya aku bunuh diriku.”
Setelah Khansa masuk Islam, keberanian dan kepandaiannya bersyair telah digunakannya untuk menyemarakkan semangat para pejuang Islam. Ia mempunyai empat orang putera yang kesemuanya telah diajar ilmu bersyair dan dididik berjuang dengan berani. Kemudian kesemua puteranya itu telah dise-rahkannya untuk berjuang demi kemenangan dan kepentingan Islam.
Khansa telah mengajar anaknya sejak kecil agar jangan takut menghadapi peperangan dan cabaran.
Pada tahun 14 Hijrah, Khalifah Umar Ibnul Khattab menyediakan satu pasukan tempur untuk menentang Parsi. Semua umat Islam dari berbagai kabilah telah dikerahkan untuk menuju ke medan perang, maka terkumpullah seramai 41,000 orang tentera. Khansa telah mengerahkan keempat-empat puteranya agar ikut mengangkat senjata dalam perang suci itu. Khansa sendiri juga ikut ke medan perang dalam kumpulan pasukan wanita yang bertugas merawat dan menaikkan semangat pejuang tentera Islam.
Dengarlah nasihat Khansa kepada putera-puteranya yang sebentar lagi akan mara ke medan perang:
“Wahai anak-anakku! Kamu telah memilih Islam dengan rela hati. Kemudian kamu berhijrah dengan suka rela pula. Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya kamu sekalian adalah putera-putera dari seorang lelaki dan seorang wanita. Aku tidak pernah mengkhianati ayahmu, aku tidak per-nah memburuk-burukkan saudara maramu, aku tidak pernah merendahkan keturunan kamu, dan aku tidak pernah mengu-bah perhubungan kamu. Kamu telah tahu tentang pahala yang disediakan oleh Allah kepada kaum muslimin dalam meme-rangi kaum kafir itu. Ketahuilah bahwasanya kampung yang kekal itu lebih baik daripada kampung yang binasa.”
Kemudian Khansa membacakan satu ayat dari surah Ali Imran yang artinya: “Wahai orang yang beriman! Sabarlah, dan sempurnakanlah kesabaran itu, dan teguhkanlah kedudukan kamu, dan patuhlah kepada Allah, moga-moga kamu menjadi orang yang beruntung.” Putera-putera Khansa tertunduk khusyuk mendengar nasihat bunda yang disayanginya.
Seterusnya Khansa berkata: “Jika kalian bangun esok pagi, insya Allah, dalam keadaan selamat, maka keluarlah untuk berperang dengan musuh-musuh kamu. Gunakanlah semua pengalamanmu dan mohonlah pertolongan dari Allah. Jika kamu melihat api pertempuran semakin hebat dan kamu dikelilingi oleh api peperangan yang sedang bergejolak masuklah kamu ke dalamnya. Dan dapatkanlah puncanya ketika terjadi perlagaan pertempurannya, semoga kamu akan berjaya mendapatkan balasan di sampingnya yang abadi, dan tempat tinggal yang kekal.”
Subuh esoknya semua tentera Islam sudah berada di tikar sholat masing-masing untuk mengerjakan perintah Allah yaitu sholat Subuh, kemudian berdoa moga-moga Allah memberikan mereka kemenangan atau sorga. Kemudian Saad bin Abu Waqas panglima besar Islam, telah memberikan arahan agar bersiap sedia setelah semboyan perang berbunyi. Perang satu lawan satupun bermula sampai dua hari. Pada hari ketiga bermulalah pertempuran besar-besaran. 41,000 orang tentera Islam melawan tentera Parsi yang berjumlah 200,000 orang. Pasukan Islam mendapat tentangan hebat, namun mereka tetap yakin akan pertolongan Allah.
Putera-putera Khansa maju untuk merebut peluang me-masuki sorga. Berkat dorongan dan nasihat dari bundanya, mereka tidak sedikitpun merasa takut. Sambil mengibas-ngi-baskan pedang, salah seorang di antara mereka bersyair:
“Hai saudara-saudaraku!
Ibu tua kita yang banyak pengalaman itu, telah memanggil kita semalam dan membekali nasihat.
Semua mutiara yang keluar dari mulutnya bernas dan ber-faedah.
Insya Allah akan kita buktikan sedikit masa lagi.”
Kemudian ia maju menetak setiap musuh yang datang. Se-terusnya disusul pula oleh anak kedua maju dan menentang setiap musuh yang mencabar. Dengan semangat yang berapi-api ia bersyair:
“Demi Allah!
Kami tidak akan melanggar nasihat ibu tua kami
Nasihatnya wajib ditaati dengan ikhlas dan rela hati
Segeralah bertempur, segeralah bertarung dan menggempur musuh bersama-sama
Sehingga kau lihat keluarga Kaisar musnah.
Anak Khansa yang ketiga pun segera melompat dengan bera-ninya sambil bersyair:
“Sungguh ibu tua kami kuat keazamannya, tetap tegas dan tidak goncang.
Beliau telah menggalakkan kita agar bertindak cekap dan berakal cemerlang
Itulah nasihat seorang ibu tua yang mengambil berat terhadap anak-anaknya sendiri
Mari! Segera memasuki medan tempur dan segeralah untuk mempertahankan diri
Dapatkan kemenangan yang bakal membawa kegembiraan di dalam hati.
Atau tempuhlah kematian yang bakal mewarisi kehidupan yang abadi.”
Akhir sekali anak keempat menghunus pedang dan melompat menyusul abang-abangnya. Untuk menaikkan semangatnya ia pun bersyair:
“Bukanlah aku putera Khansa’, bukanlah aku anak jantan
Dan bukan pula karena Amru yang pujiannya sudah lama terkenal,
Kalau aku tidak membuat tentera asing yang berkelompok-kelompok itu terjunam ke jurang bahaya, dan musnah dimangsa oleh senjataku.”
Bergelutlah keempat-empat putera Khansa dengan tekad bulat untuk mendapatkan sorga diiringi oleh doa munajat ibundanya yang berada di garis belakang. Pertempuran terus hebat. Tentera Islam pada mulanya kebingungan dan kacau balau karena pihak Parsi menggunakan tentera bergajah di barisan depan, sementara tentera pejalan kaki berlindung di belakang binatang tahan lasak itu. Namun tentera Islam dapat mencederakan gajah-gajah itu dengan memanah mata dan bahagian-bahagian lainnya. Gajah yang cedera itu marah de-ngan menghempaskan tuan yang menungganginya, menginjak-injak tentera Parsi lainnya. Mereka jadi mangsa gajah sendiri. Kesempatan ini dipergunakan oleh pihak Islam untuk me-musnahkan mereka.
Panglima perang bermahkota Parsi dapat dipenggal ke-palanya, akhirnya merekapun lari lintang pukang menyeberangi sungai dan dipanah oleh pasukan Islam hingga air sungai menjadi merah. Pasukan Parsi kalah teruk, dari 200,000 tenteranya hanya sebahagian kecil saja yang dapat menye-lamatkan diri. Umat Islam lega. Kini mereka mengumpul dan mengira tentera Islam yang gugur. Ternyata yang beruntung menemui syahid di medan Kadisia itu berjumlah lebih kurang 7,000 orang. Dan dari 7,000 orang syhuhada itu terbujur empat orang adik beradik anak Khansa.
Seketika itu juga ramailah tentera Islam yang datang me-nemui Khansa memberitahukan bahwa keempat empat anaknya telah menemui syahid. Al-Khansa menerima berita itu dengan tenang, gembira dan hati tidak bergoncang. Al-Khansa terus memuji Allah dengan ucapan:
“Segala puji bagi Allah, yang telah memuliakanku dengan ke-syahidan mereka, dan aku mengharapkan dari Tuhanku, agar Dia mengumpulkan aku dengan mereka di tempat tinggal yang kekal dengan rahmat-Nya!”
Al-Khansa kembali ke Madinah bersama para perajurit yang masih hidup dengan meninggalkan mayat putera-pute-ranya di medan pertempuran Kadisia. Dari peristiwa pepe-rangan itu pula wanita penyair ini mendapat gelaran kehor-matan ‘Ummu syuhada’ yang artinya ibu kepada orang-orang yang mati syahid.

(15)
MANGKUK YANG CANTIK,
MADU DAN SEHELAI RAMBUT

Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abubakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan ‘Ali r.a., bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Sayidatina Fathimah r.ha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di da-lam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kepada semua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).
Abubakar r.a. berkata, “iman lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman lebih susah dari meniti sehelai rambut”.
Umar r.a. berkata, “kerajaan lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja lebih manis dari madu, dan me-merintah dengan adil lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Utsman r.a. berkata, “ilmu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
‘Ali r.a. berkata, “tamu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Fatimah r.ha. berkata, “seorang wanita lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang berpurdah lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Rasulullah SAW berkata, “seorang yang mendapat taufiq untuk ber’amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber’amal dengan ‘amal yang baik lebih manis dari madu, dan berbuat ‘amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Malaikat Jibril AS berkata, “menegakkan pilar-pilar aga-ma lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Allah swt berfirman, “ Sorga-Ku lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

(16)
KISAH YUSUF DAN ZULAIHA

Sungguh berat malam yang panas itu dirasakan oleh Ra’il, wanita cantik yang biasa dipanggil dengan nama Zulaiha. Ia senantiasa mempercantik paras, menghias diri, dan memakai wangi-wangian. Kemudian berdiri, pagi dan petang, di beranda istananya di atas Sungai Nil, dalam kegelisahan yang tak jelas penyebabnya.
Angin sepoi bertiup tenang dan halus, seakan enggan mengusik ranting-ranting pohon bunga yang mengelilingi be-randa istana itu, Zulaiha memandangi sungai dan airnya yang tenang, dan sesekali wajahnya menoleh ke atas, melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit nan tinggi, mengelilingi bulan yang sebagian sinarnya terhalang oleh awan.
Sesaat kemudian, seorang pelayan menghampiri dengan segelas sari buah dingin untuknya, tetapi sang puteri menolak dan malah memerintahkan pelayan itu untuk kembali. Nafasnya semakin menyesakkan, serasa hampir-hampir mencekik lehernya.
Sebenarnya ia dapat saja mengambil anak angkat yang disukainya, sebab ia orang terkaya di negeri itu. Tapi naluri keibuannya ternyata menentang niatnya. Dia ingin mengandung dan melahirkan puteranya sendiri, sebagaimana wanita-wanita lain. Tapi suratan takdir menghendaki lain, suaminya tidak kuasa mengubah impiannya menjadi kenyataan.
Berkecamuklah semua fikiran di kepalanya. Ia terlena dalam lamunannya, sampai suara halus suaminya tiba-tiba mengejutkan hatinya.
“Ra’il, isteriku yang cantik, bergembiralah!” Kata suaminya sambil menunjukkan sesuatu.
Zulaiha menoleh kepada suaminya, dan betapa terkejut ketika ia lihat suaminya datang bersama seorang anak kecil.
“Siapa namamu?” tanya Zulaiha. Dengan suara yang datang-hampir tidak terdengar, anak itu menjawab, “Yusuf”.
Al-Aziz, suami Zulaiha, kemudian mengikutinya dari belakang serta berkata, “Telah kubeli ia dari kafilah yang kutemui di-sebuah telaga di padang pasir. Berikanlah kepadanya tempat dan layanan yang baik, boleh jadi ia bermanfaat bagi kita, atau kita pungut ia sebagai anak”.
Isteri al-Aziz tidak mengetahui takdir apa yang bakal terjadi antara dia dan anak itu di hari-hari yang akan datang. Yang jelas ia merasa senang atas kedatangan anak itu, dan hilanglah kesedihan yang selama ini menghimpit dadanya. Hari-hari berlalu. Yusuf semakin besar dan menjadi dewasa. Wajahnya tampak semakin tampan. Isteri Aziz tidak mengerti kebahagiaan apa yang meresap di hatinya setiap kali ia me-mandang Yusuf, dan kesedihan yang menghantuinya ketika Yusuf hilang dari pandangannya.
Setiap kali malam tiba, dan Yusuf pergi ke kamar tidur-nya, Zulaiha merasa ada sesuatu yang mengusik lubuk jiwanya, sehingga kadang kala ia bangun meninggalkan suaminya yang sedang tidur, kemudian pergi ke pintu kamar Yusuf. Zulaiha berdiri di pintu kamar Yusuf beberapa saat. Dalam hatinya timbul keraguan: apakah sebaiknya ia masuk menemui Yusuf seperti yang diinginkannya, ataukah ia kembali ke tempatnya sendiri di samping suaminya.
Fikiran seperti itu selalu mengganggu hatinya semalaman, sampai cahaya matahari pagi terlihat masuk melalui jendela-jendela kamarnya. Jika sudah demikian, ia kembali ke kamar suaminya.
Setiap kali pandangannya bertemu dengan pandangan Yusuf, ia merasakan keinginan yang kuat untuk selalu berada dekat pemuda itu, dan tak ingin rasanya berpisah untuk selama-lamanya. Namun, hati kecilnya berkata bahwa Yusuf tidak memendam perasaan yang sama seperti perasaannya. Perta-nyaan yang selalu mengusik kalbunya adalah: Apakah Yusuf mencintainya sebagaimana ia mencintai Yusuf? Apakah Yusuf memendam perasaan seperti yang dipendamnya? Meskipun hati kecilnya berkata bahwa Yusuf tidak menampakkan sikap seperti itu, ia tidak mau mendengar jawaban itu.
Pada suatu petang, isteri Aziz merasa tidak kuasa lagi hanya berdiri di ambang cinta yang disimpannya kepada Yusuf. Ia kemudian berdiri dimuka cermin, mengagumi kecantikan parasnya, seraya berkata kepada dirinya sendiri, “Adakah, diseluruh Mesir ini, wanita yang kecantikannya melebihi kecantikanku, sehingga Yusuf menghindar dariku? Tidak boleh tidak, wahai, Yusuf, hari ini aku akan menjumpaimu dengan segala macam bujukan dan rayuan, sampai engkau tunduk kepadaku”.
Kemudian ia membuka lemari, dan matanya mengamati setumpuk pakaian di dalamnya. Dipilihnya salah satu gaunnya yang paling indah, berwarna merah dengan model yang mem-bangkitkan gairah laki-laki. Manakala gaun itu dikenakan, maka sebahagian auratnya yang seharusnya tersembunyi akan tampak.
Itulah yang justru dikehendakinya. Kemudian ia memakai wangi wangian disekujur tubuhnya, yang menyebabkan seorang lelaki akan bergairah karena baunya.
Setelah itu, ia atur rambutnya seindah-indahnya dimalam yang sunyi itu. Setelah menyelesaikan dan menyempurnakan dan-danannya, Zulaiha mengamati sekelilingnya, hingga ia benar-benar yakin bahwa tidak ada seorang pun pelayannya yang masih menunggunya di situ; semuanya sudah lelap di kamarnya masing-masing di kegelapan malam itu. Ia pun tahu bahwa suaminya sedang memenuhi panggilan seorang hakim Mesir dan sibuk dengan urusan-urusannya, sehingga tidak mungkin ia akan kembali sebelum fajar pagi tiba.
Setelah segalanya beres, pergilah ia menuju kamar Yusuf. Di-dapatinya pintu kamar itu tertutup dan lampunya sudah dima-tikan. Dengan perlahan ia mengetuk; satu kali, dua kali … dan tiga kali. Tak lama kemudian, Yusuf pun bangun menyalakan lampu dan membukakan pintu. Alangkah terkejutnya Yusuf ketika ia melihat isteri al-Aziz sudah berada di hadapannya. Tapi ia tidak berkata apa-apa kecuali hanya diam menunduk.
Tiba-tiba Zulaiha masuk ke dalam, mendekatinya dengan ramah, dan memegang tangannya sambil menutup pintu kamar. Zulaiha merasakan kegelisahan, ketakutan, dan tak kuasa menatap pandangan kedua mata Yusuf. Ia lalu berpaling dari pandangan Yusuf, sedangkan Yusuf selalu berusaha menjauh darinya.
Isteri al-Aziz kemudian berkata, “Apakah maksud semua ini, hai, Yusuf? Janganlah engkau menjauh dariku, sehingga aku binasa karena rindu kepadamu”. Yusuf diam tanpa jawaban.
Isteri al-Aziz mendekatinya lagi seraya berkata, “Aduhai, Yusuf, betapa indahnya rambutmu!”
Yusuf menjawab, “Inilah sesuatu yang pertama kali akan berhamburan dari tubuhku setelah aku mati”.
“Aduhai, Yusuf, betapa indahnya kedua matamu!” Bujuk isteri al-Aziz lagi.
“Keduanya ini adalah benda yang pertama kali akan lepas dari kepalaku dan akan mengalir di muka bumi!”
Isteri al-Aziz berkata lagi, “Betapa tampannya wajahmu, hai, Yusuf”.
“Tanah kelak akan melumatnya,” Jawab Yusuf.
Kemudian Zulaiha berkata kepadanya, “Telah terbuka tubuhku karena ketampanan wajahmu”.
“Syaitan menolongmu untuk berbuat hal itu!” Kata Yusuf.
“Yusuf! Bagaimanapun aku harus mendapatkan apa yang selama ini kudambakan, dan kini aku datang karenanya”. Kata Zulaiha.
Yusuf menjawab: “Ke manakah aku akan lari dari murka Allah jika aku mendurhakai-Nya?”
Isteri al-Aziz sadar bahwa Yusuf benar-benar tidak mau memenuhi apa yang ia inginkan.
Maka, ia pun lebih mendekat lagi, dan meletakkan badan Yusuf di atas dadanya. Ia berharap Yusuf akan tertarik kepa-danya dan mau memenuhi keinginannya. Akan tetapi, di luar dugaannya, Yusuf malah menghindar darinya dan segera berlari hendak keluar dari kamar itu.
Isteri al-Aziz tak habis berfikir mengapa Yusuf sedemikian ke-ras mempertahankan kesuciannya di hadapan wanita cantik yang telah siap melayaninya, bahkan lari menjauh darinya. Ia lalu mengejar Yusuf dari belakang untuk memaksanya. Ketika sudah sangat dekat, dipegangnyalah bahagian belakang baju Yusuf dan ditariknya kuat-kuat. Dengan penuh kemarahan, ia melarang Yusuf keluar dari kamar.
Akhirnya, Koyaklah bagian belakang baju Yusuf. Pada saat yang sama, tiba-tiba al-Aziz sudah berada dihadapan me-reka berdua, bersama saudara sepupu Zulaiha.
Dengan serta merta isteri al-Aziz berkata: “Apakah hukuman bagi orang yang akan berbuat serong kepada isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksaan yang pedih?” Dengan perkataan itu, Zulaiha bermaksud menyatakan bahwa Yusuf telah berbuat yang melampaui batas atas dirinya.
Al-Aziz sangat marah atas terjadinya peristiwa mema-lukan itu. Karena tidak menduga hal itu dilakukan oleh Yusuf, seorang anak terlantar yang telah dibelinya, dipeliharanya, dan dikasihinya seperti kasih sayang seorang ayah kepada puteranya sendiri. Tidak mungkin hal itu bisa terjadi?
Yusuf sadar bahwa isteri al-Aziz telah berkata dusta tentang dirinya dan menuduhnya dengan tuduhan palsu. Maka, sege-ralah Zulaiha berkata kepada al-Aziz: “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)”.
Allah ternyata menghendaki bebasnya Yusuf dari tuduhan wanita itu. Seorang bayi yang masih menyusu, anak salah seorang keluarga Zulaiha yang ketika itu datang ke istana, tiba-tiba berkata, “Jika bajunya koyak di bagian muka, maka wanita itulah yang benar dan Yusuf termasuk orang-orang dusta. Dan jika bajunya koyak di bahagian belakang, maka wanita itulah yang dusta dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar”.
Mendengar itu, segeralah al-Aziz menghampiri Yusuf untuk melihat bajunya. Ketika didapatinya baju Yusuf koyak di bagian belakang (karena tarikan isterinya), mengertilah al-Aziz akan pengkhianatan isterinya dan bersihnya Yusuf dari tuduhan itu. Kemudian ia berkata: “Sungguh, inilah tipu muslihatmu. Sungguh dahsyat tipu muslihatmu!”
Kemudian ia memandang Yusuf seraya berkata: “Hai, Yusuf, berpalinglah dari ini!” Maksud perkataan itu adalah agar Yusuf tidak memberitakan aib yang terjadi atas diri isterinya itu, sehingga tidak terdengar oleh orang ramai. Sedangkan kepada isterinya ia berkata: “Dan (kamu, hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang berbuat salah”. “Celakalah kamu, Yusuf!” Kata isteri al-Aziz dengan kemarahan yang memuncak, karena Yusuf menolak kecantikan dan kebesarannya.
“Tidak! Aku tak akan membiarkanmu, Yusuf. Bagaimana pun akan kucari jalan lain yang dapat mempedayakanmu, hingga kamu memenuhi apa yang kukehendaki…”
Hari-hari pun berlalu, dan al-Aziz yang kalah dalam urus-an itu berusaha memohon kerelaan isterinya menghadapi kenyataan itu, sementara sang isteri menyanggahnya dengan dalih bahwa suaminya telah menjatuhkan martabat dan kemuliaannya.
Zulaiha tahu benar bahwa setiap kali ia menampakkan keben-ciannya kepada suaminya, sang suami benar-benar berusaha mendekati dan membujuknya karena ia sangat mencintainya dan merasa lemah di hadapan kecantikan wajahnya dan ketinggian peribadinya, yang sebenarnya bersifat mulia.
Yusuf sendiri akhirnya berdiam sepanjang hari di dalam kamarnya, karena peristiwa aib itu terjadi di situ. Ia tidak keluar dari kamarnya kecuali ada suatu pekerjaan penting yang ditugaskan oleh tuannya, al-Aziz.
Hari-hari yang berat datangnya selalu menghantui isteri al-Aziz. Ia menanti datang suatu peluang untuk kembali melakukan tipu dayanya atas diri Yusuf, sebab apa yang baru terjadi itu justru menambah rasa cinta dan keinginan untuk berhubungan dengan Yusuf, meskipun secara terang-terang ia telah berdusta atas diri Yusuf untuk menghilangkan keraguan suaminya terhadapnya.
Hari demi hari dirasakan oleh isteri al-Aziz dengan berat dan terasa lambat berjalan. Di kota, beberapa peristiwa yang tak terduga telah terjadi.
Wanita-wanita di Mesir, ketika itu, tidak ada pembicaraan lain kecuali tentang peristiwa aib antara isteri al-Aziz dan Yusuf. Yang sungguh mengherankan, bagaimana peristiwa itu dapat tersebar di seluruh kota, padahal semua pihak di istana al-Aziz berusaha merahasiakannya.
Dugaan sementara dialamatkan kepada pelayan laki-laki istana dan sebahagian pelayan wanita yang masih ada hubungan keluarga dengannya. Besar kemungkinan, merekalah yang membocorkan rahasia itu.
Langit ibu kota Mesir penuh dengan gema kisah sekitar ke-jadian itu. Dalam setiap kelompok wanita, tidak ada masalah lain yang dibicarakan kecuali tentang isteri al-Aziz dan Yusuf, semuanya dicurahkan tanpa segan lagi. Akhirnya, sampailah berita yang menyakitkan itu ke telinga isteri al-Aziz. Dan tentu saja hal itu menimbulkan kemarahannya yang luar biasa.
Akan tetapi, apa hendak dikata, ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menerima kenyataan itu dengan hati yang semakin pedih.
“Betapa perjalanan hidupku menjadi sepotong roti dalam mulut wanita-wanita kota yang dipenuhi cemoohan dan eje-kan.” Keluhnya dalam hati, “padahal, di hari-hari kemarin, tak seorangpun dari mereka berani menyebut namaku kecuali dengan segala penghormatan dan kemuliaan”.
Kemudian ketenangan mulai meresap di hati isteri al-Aziz, se-telah jiwanya tergoncang karena kemarahan. Mulailah ia ber-bicara kepada dirinya sendiri:” Aku wanita, dan mereka pun wanita. Harus mereka terima hinaan sebagaimana hinaan yang mereka tujukan kepadaku. Jika mereka memperolok-olokku dengan lidahnya, maka sesungguhnya olok-olokku nanti lebih keras atas diri mereka…” Maka, keluarlah dia dari kamarnya menuju beranda istananya yang menghadap Sungai Nil. Di tepian sungai itu, ia mulai berfikir, sementara angin lembut menerpa pepohonan bunga yang mengelilingi istana, membuat harum udara di sekitarnya. Isteri al-Aziz mulai merenung; fikirannya berputar ke sana ke mari, mengikuti alunan ombak sungai yang tenang.
Tak lama kemudian, wajahnya tampak sedikit berseri, ke-mudian mulutnya tersenyum. Telah ditemukan satu cara untuk membereskan masalah itu. Ya, mengapa ia tidak menghentikan cemoohan wanita-wanita itu tentang dirinya dan Yusuf dalam suatu pertemuan terbuka? Mengapa ia tidak memanggil wanita-wanita itu untuk duduk bercakap-cakap seperti biasa ia lakukan sebelum ini, lalu ia perintahkan Yusuf keluar (menampakkan diri di hadapan mereka)? Nanti mereka akan sadar dan mengerti mengapa isteri al-Aziz jatuh hati kepada anak angkatnya.
Kemudian dipanggilnya semua wanita itu ke istana untuk bersukaria. Kepada mereka dipersembahkan berbagai macam buah-buahan, dan masing-masing diberi sebilah pisau sebagai alat pemotongnya. Akan dilihat oleh isteri Al-Aziz apa yang nanti bakal terjadi ketika Yusuf muncul secara tiba-tiba di-tengah-tengah mereka.
Heranlah kebanyakan wanita bangsawan terhadap pang-gilan isteri al-Aziz itu. Mereka menyaksikan suasana yang lain dari biasanya. Ruangan istana, ketika itu, dihiasi dengan penuh kemegahan. Wanita-wanita yang hadir duduk di kursi yang indah. Di hadapan mereka masing-masing terdapat sepinggan buah segar dan sebilah pisau pemotongnya.
Semua pandangan hadirin ditujukan kepada barang-barang yang ada dalam ruangan istana itu. Semuanya diam membisu, tak ada yang berani berbicara dengan jelas tentang apa yang tersimpan di dada dan mulailah isteri Aziz membuka acara. Pembicaraan hanya berkisar tentang buah dan masalah-masalah tentang hal itu, sama sekali jauh dari masalah peristiwa dirinya dengan Yusuf. Ia berkata bahwa segala yang disediakannya kali ini dimaksudkan sebagai kejutan bagi wanita-wanita itu.
Di antara wanita-wanita yang hadir dalam jamuan itu, ada salah seorang yang menyindir. Dengan cara yang cerdik, ia berkisah kepada hadirin tentang seorang pemudi yang jatuh cinta, dan mati dalam kesedihan karena laki-laki yang memi-nangnya tewas di medan perang melawan musuh-musuh negerinya. Tetapi isteri al-Aziz, dengan lebih cerdik, menga-lihkan pembicaraan ke masalah-masalah lain.
Kemudian ia berkata kepada Yusuf, “Keluarlah (tampakkanlah dirimu) kepada mereka.”
Maka, keluarlah Yusuf dari tempatnya menuju jamuan wanita-wanita itu. Betapa terkejutnya wanita-wanita itu demi melihat ketampanan Yusuf. Mereka pada tercengang dan keheranan. Dan tanpa disadari, mereka memotong jari-jari mereka sendiri dengan pisau. Mereka mengira sedang memotong buah, pa-dahal tidak dirasakan darah mengalir dari tangan mereka. Lama-kelamaan mereka baru ingat dan menyadari apa yang telah mereka lakukan, kemudian berkata, “Maha Besar Allah. Ini bukanlah manusia. Ia tiada lain adalah malaikat yang mulia”.
Ketika itu wajah isteri al-Aziz menahan sedih dan duka. Berubahlah wajah nan cantik itu menjadi marah. Ia berkata seraya menunjuk kepada Yusuf: “Itulah orang yang menye-babkan aku di cela karena (tertarik) kepadanya, dan sesung-guhnya aku telah menginginkan dirinya, tetapi ia menolak. Dan (sekarang) jika dia tidak mentaati apa yang kuperintahkan, niscaya ia akan dipenjarakan dan dia akan menjadi orang yang hina”.
Yusuf mendengar apa yang dikatakan oleh isteri Aziz dengan sikap yang tenang dan tabah, di hadapan wanita-wanita kota. Ia pun mendengar keinginan setiap wanita yang hadir, sebagaimana keinginan isteri al-Aziz terhadapnya. Sambil berlindung kepada Allah, Yusuf berkata, “Tuhanku! Penjara lebih kusukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Allah hindarkan aku dari tipu daya mereka, tentulah aku tertarik kepada mereka. Dan tentulah aku termasuk orang yang jahil”. Allah meneguhkan hamba-hamba-Nya yang mukmin serta berlindung dan berpegang dengan kebenaran yang diperintahkan oleh-Nya Maka, Tuhan memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka.
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar dan Yang Maha Mengetahui”. Pulanglah wanita-wanita kota itu dengan tangan mereka berlumuran darah. Mereka semua akhirnya sedar bahwa Zulaiha, isteri al-Aziz, terhalang cintanya kepada Yusuf. Yusuf kemudian meninggalkan ruangan itu dan pergi ke kamarnya. Isteri al-Aziz tampak duduk sambil berfikir. Ia memang menghendaki kehinaan atas wanita-wanita yang menghina dirinya dengan Yusuf, dan hal itu telah selesai ia lakukan. Menanglah ia dengan suatu kemenangan yang dapat menyembuhkan sakit hatinya.
Akan tetapi, setelah ia lebih dalam berfikir, ia sadari bahwa perasaan yang ditanggungnya selama ini adalah suatu sebab yang berat baginya. Ia berbicara dengan dirinya sendiri: “Yusuf telah menghindar dariku dua kali; sekali dikamarnya dan sekali di hadapan wanita-wanita kota. Sesungguhnya wanita-wanita kota itu pun mencintai Yusuf sebagaimana aku, tetapi semuanya tidak memperoleh sesuatu darinya. Ancamanku kepadanya tidak ditakutinya. Celakalah kamu meskipun aku mencintaimu.”
Pergilah isteri al-Aziz menemui suaminya. Al-Aziz kemu-dian bertanya tentang jamuan yang diadakannya. Isterinya menjelaskan bahwa jamuan itu hanya menambah keburukan baginya.
“Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Tanya Al-Aziz. “Jika Yusuf tidak disembunyikan dari seisi istana dan kota, dia akan selalu berbicara tentang apa yang memburukkanku…” Jawabnya.
Maka, mendekatlah al-Aziz kepada isterinya seraya berkata. “Bagaimana engkau bisa rela dengan apa yang memburuk-kanmu?”
Gemetarlah badan wanita itu, dan kemudian berkata: “Kalau begitu, masukkanlah Yusuf ke dalam penjara, sehingga semua orang akan melupakannya”.
Al-Aziz menyetujui usul isterinya itu. Tak lama kemudian, be-berapa pengawal istana membawa Yusuf ke penjara. Tatkala Yusuf keluar dari pintu istana, isteri al-Aziz berdiri di belakang jendela kamarnya sambil memandanginya. Ia merasa seolah-olah sebagian dari hatinya tercabut, meskipun dialah yang mendesak suaminya agar memasukkan Yusuf ke dalam penjara.
Tiap hari berlalu, dan kesedihan selalu mewarnai wajah isteri al-Aziz, sementara suaminya hanya bisa melihat hal itu dengan sikap diam dan tidak kuasa berbuat sesuatu. Wanita itu bertanya kepada dirinya sendiri: “Salahkah aku tatkala menyuruh al-Aziz memasukkan Yusuf ke dalam penjara? Ya, kuharamkan diriku melihat Yusuf… “Sekali lagi ia berfikir dalam kegelisahannya: “Tetapi, apakah aku bersalah dalam urusan itu?” Ia menyanggah dirinya sendiri untuk lepas dari azab, seperti seorang dermawan yang haus, tetapi tidak sang-gup menjangkau air yang dipikul di bahunya sendiri.
Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun berjalan tanpa sepi dari cerita isteri al-Aziz dengan Yusuf. Pada suatu hari, datanglah utusan raja, memerintahkannya untuk datang keistana. Isteri al-Aziz sangat heran, sebab hal itu belum terjadi sebelumnya. Ia bertanya kepada suaminya apa kira-kira yang menyebabkan sang raja memanggilnya ke istana. Al-Aziz menjawab, “Mungkin ada urusan yang berhubungan dengan Yusuf.”
Mendengar nama Yusuf disebut lagi, lenyaplah segala dugaan. Tetapi, benarkah raja hanya berkehendak untuk ber-bicara dengannya tentang Yusuf?
Dengan penuh pertanyaan di benaknya, pergilah isteri al-Aziz menuju istana raja. Di sana didapatinya wanita-wanita yang telah memotong tangannya beberapa waktu yang lalu, semuanya menghadap Raja Mesir. Sementara itu, sang raja memandangi wajah para wanita itu satu persatu, kemudian mengajukan pertanyaan singkat kepada wanita-wanita itu: “Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?” Mereka menjawab serentak: “Kami tiada mendapati suatu keburukan padanya (Yusuf)”.
Tiba-tiba, tanpa diminta oleh Raja, isteri al-Aziz berbi-cara. Ia merasa telah tiba saatnya untuk berbicara terus terang perihal itu, agar hilang semua beban dosa karena tindakan aniayanya terhadap Yusuf. Di hadapan Raja, wanita-wanita kota, dan seluruh yang hadir di situ, ia menerangkan: “Sekarang jelaslah kebenaran itu. Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar”. (Yusuf berkata), “Yang demikian itu agar dia (al-Aziz) mengetahui bahwa sesung-guhnya aku tidak berkhianat kepadanya dan bahwasanya Allah tidak merestui tipudaya orang-orang yang berkhianat. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang”.
Terjadi perbedaan pendapat tentang kehidupan perem-puan itu selanjutnya. Sebahagian orang berpendapat bahwa sejak itu isteri al-Aziz hidup bersama kesedihan dan putus asa karena ingatannya kepada Yusuf.
Sebahagian yang lain berpendapat bahwa isteri al-Aziz itu akhirnya pindah ke suatu tempat yang jauh, dan tiada kabar beritanya sama sekali. Yang jelas, kehidupan wanita itu menjadi terganggu, karena cintanya kepada Yusuf.
Namun ada yang mengisahkan setelah peristiwa itu Zulaiha bertaubat kepada Allah SWT Ketika Yusuf diutus menjadi Rasul dan penguasa menggantikan Al-Aziz, Nabi Yusuf berjumpa dengan Zulaiha yang ketika itu keadaannya sudah tua. Akhirnya Allah menjadikan Zulaiha muda remaja dan berkawin dengan Nabi Yusuf. Maka jadilah Zulaiha sebagai seorang wanita yang solehah yang senantiasa beramal kepada Allah SWT (Kisah Zulaiha ini dapat di baca dalam Al-Quran surah Yusuf ayat: 21-53)

(17)
PANDANGAN YANG JERNIH

Pada suatu malam Shafiyah mengunjungi Rasulullah Saw. yang sedang beriktikaf di masjid dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ia terpaksa mendatangi suaminya itu karena ada masalah penting yang harus segera dibicarakan. Menjelang masuk waktu isa, ia berdiri hendak pulang dan Nabi mengantarkannya sampai ke pintu masjid.
Mereka berpapasan dengan dua orang sahabat Anshar yang akan melaksanakan shalat jamaah. Kedua sahabat itu memberi salam, lantas berlalu dengan cepat. Rasulullah menegur, "Berhentilah sebentar. Yang di sampingku ini Shafiyah, istriku." Kedua orang sahabat Anshar itu bahkan mengucap, Subhanallah, janda Huyai bin Ka'ab."
Nabi tahu ke arah mana isi perkataan mereka itu. Ia hanya berdiam diri seraya berpikir. Kalau mereka saja tidak memahami tujuan perkawinannya, apakah lagi umat di kemudian hari? Padahal Khadijah meninggal, tiga tahun lamanya ia menduda. Semua istri berikutnya dinikahi berdasarkan perintah wahyu dan untuk tujuan-tujuan kemanusiaan sehingga seluruhnya adalah janda-janda yang terlunta-lunta kecuali seorang saja, Aisyah. Oleh karena itu dengan sedih Nabi berkata: "Setan itu mengalir di dalam diri manusia mengikuti aliran darahnya. Malahan dijadikannya dada manusia sebagai tempat tinggalnya kecuali orang yang dilindungi Allah."
Tatkala pada kali yang lain Rasulullah ditanya siapa yang dilindungi Allah, ia menjawab, "Mereka yang selalu memohon perlindungan Allah."
"Siapakah gerangan?" tanya para sahabat pula."Orang itu adalah yang banyak melakukan kebajikan, ikhlas amalnya dan bersih hatinya."
Dari kedua peristiwa terpisah yang rasanya saling berkaitan itu, yang perlu kita ketahui adalah, ada hubungan apa antara sabda Nabi yang terakhir tersebut, dengan ucapan kedua sahabat Anshar mengenai Ummul Mukminin, Shafiyah? Untuk itu perlu kita singkap, siapa sebetulnya Shafiyah, yang dinikahi Nabi mendampingi istri-istrinya yang lain itu. Dalam Perang Khaibar, guna menghancurkan kekuatan tentara Yahudi yang selalu melakukan makar jahat terhadap umat Islam dan pemerintahan Madinah, salah seorang korban yang tewas adalah Huyai bin Ka'ab, pemimpin kaum pemberontak itu. Dan Shafiyah adalah istri Huyai. Tidak seorangpun yang bersedia memelihara Shafiyah, padahal nasibnya terlunta-lunta karena waktu itu, masyarakat luas menganggap Yahudi sama najisnya dengan anjing-anjing buduk, akibat kedegilan mereka sendiri. Jadi, tatkala Nabi mengambil Shafiyah menjadi istrinya, hal itu semata-mata untuk memberi keteladanan, betapa seharusnya umat Islam di dalam memandang manusia jangan hanya dengan sebelah mata. Artinya, dengan niat berbuat baik, dengan keikhlasan yang tuntas, dan dengan kebersihan hati yang tulus, manusia harus dilihat secara utuh. Sebab berdasarkan ajaran Islam, tidak ada manusia yang baik secara sempurna sebagaimana tidak ada yang seluruhnya buruk. Dibalik kekuatan ada kelemahan, dibalik kebaikan ada kekurangan. Begitu juga disela-sela kelemahan dan kejelekan, pasti tersimpan pula segi-segi kebajikan pada diri setiap orang.
Jelas bahwa dari satu sisi, pelacur adalah pelacur, pencuri adalah pencuri. Mereka telah melakukan perbuatan yang melanggar susila, norma-norma agama, dan hukum negara. Akan tetapi, jika kita masuk ke dalam bathin mereka, tidak selamanya pelacur sama jahatnya dengan pelacur, pencuri sama jahatnya dengan pencuri, bergantung pada sebabnya. Boleh jadi seorang pencopet yang mati dikeroyok massa, ditangisi anak-anaknya sebagai pahlawan keluarga karena ia melakukan perbuatan buruk itu untuk membeli obat bagi anaknya yang sakit, membeli makanan untuk anak-anaknya yang kelaparan.
Oleh karena itu, meskipun ada ancaman hukum potong tangan bagi para pencuri dan rajam bagi pezina, dalam hidup Nabi belum pernah satupun yang dilaksanakan kecuali atas seorang perempuan Yahudi yang minta diadili berdasarkan hukum Taurat. Untuk itu Nabi bersabda, "Kemiskinan itu mendekatkan manusia pada kekafiran."
Lima tahun yang lalu, saya kehilangan sebuah mobil, satu-satunya kendaraan saya, pada waktu mengantarkan anak ke stasiun Gambir karena hendak berangkat ke pesantren. Hanya lima belas menit saya berada di peron. Ketika keluar ke pelataran parkir, mobil saya sudah raib. Hari itu juga saya mengirimkan surat pembaca ke tiga surat kabar Ibu Kota.
Saya tulis begini: "Mobil itu saya beli dengan uang tabungan saya dan istri saya. Dan mobil itu saya gunakan untuk berdakwah kemana-mana. Tidak serupiah pun uang haram terdapat dalam pembelian mobil itu. Sengaja saya beli dengan susah payah karena dokter melarang saya menunggang sepeda motor akibat jantung dan paru-paru saya yang sudah rapuh. Jadi, tolong kembalikanlah mobil saya, mudah-mudahan Anda diberkati Allah."
Tiga hari kemudian ada seseorang yang menelepon saya bahwa mobil itu bisa diambil di belakang Hotel Indonesia pukul tiga petang. Alhamdulilah, telepon itu tidak berdusta. Dan kembalilah mobil saya dalam keadaan `segar bugar'. Saya pun lantas menulis surat pembaca lagi ke tiga surat kabar yang bersangkutan, menyampaikan rasa terima kasih saya setulus-tulusnya kepada pencuri yang `baik hati' itu.
Bukankah kejadian kecil ini membuktikan bahwa seorang penjahat pun, apabila disentuh hati nuraninya akan tergetar juga? Bahwa suara Tuhan masih mampu menembus tabir dosa yang menyelimuti dada manusia? Sebab setiap malam, Tuhan turun ke langit dunia dan berseru-seru, memanggil para hamba-Nya yang bersedia berlindung dalam pelukan-Nya. Suara-Nya mendayu bersama angin yang semilir, meningkahi titik-titik air yang menetes dari sela-sela jari-jemari kaum Muslimin yang sedang mengambil air wudu.
Dalam hadis Qudsi, firman Allah berbunyi, "Barang siapa mencari Aku, akan Kucari dia. Barang siapa mencintai Aku, akan Kucintai dia. Dan barang siapa meminta ampun kepada-Ku pasti akan Kuampuni dia"
"Oleh sebab itu, tataplah dunia ini dengan hati putih. Pandanglah manusia dengan jiwa bersih. Kadang-kadang yang kauanggap buruk sebetulnya justru baik untuk engkau, sementara yang kaukira baik malahan amat buruk untuk engkau," ucap Imam Abu Laits, seorang sufi tua kepada para muridnya. Lalu ia pun membacakan sebuah firman Allah tentang keharusan orang beriman untuk memandang sampai jauh ke seberang, di balik yang terlihat, yang teraba, dan yang terasa.
Firman Allah: "Jangan-jangan kamu membenci sesuatu, ternyata ia baik bagimu. Atau mungkin saja kamu mencintai sesuatu, padahal buruk untukmu." (Al-Baqarah:216)

(18)
TSA’LABAH BIN ABDURRAHMAN RA

Seorang pemuda dari kaum anshar yang bernama Tsa’labah bin Abdurrahman telah masuk Islam. Dia sangat setia melayani Rasulullah Saw. Dan cekatan. Suatu ketika Rasulullah Saw. Mengutusnya untuk suatu keperluan. Dalam perjalanannya dia melewati rumah salah seorang dari Anshar, maka terlihat dirinya seorang wanita Anshar yang sedang mandi. Dia takut akan turun wahyu kepada Rasulullah Saw. Menyangkut perbuatannya itu. Maka dia pun pergi kabur. Dia menuju ke sebuah gunung yang berada diantara Mekkah dan Madinah dan terus mendakinya.
Selama empat puluh hari Rasulullah Saw. Kehilangan dia. Lalu Jibril alaihissalam turun menemui Nabi Saw. Dan berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam buatmu dan berfirman kepadamu, `Sesungguhnya seorang laki-laki dari umatmu berada di gunung ini sedang memohon perlindungan kepada-Ku.’”
Maka Nabi Saw. Berkata, “Wahai Umar dan Salman! Per-gilah cari Tsa’laba bin Aburrahman, lalu bawa kemari.” Ke-duanya pun lalu pergi menyusuri perbukitan Madinah. Dalam pencariannya itu mereka bertemu dengan salah seorang penggembala Madinah yang bernama Dzufafah. Umar bertanya kepadanya, “Apakah engkau tahu seorang pemuda di antara perbukitan ini?” Penggembala itu menjawab, “Jangan-jangan yang engkau maksud seorang laki-laki yang lari dari neraka Jahanam?””Bagaimana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka Jahanam?” tanya Umar.
Dzaufafah menjawab, “Karena, apabila malam telah tiba, dia keluar dari perbukitan ini menuju ke rumah kami dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, “Mengapa tidak cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti keputusan!” “Ya, dialah yang kami maksud,” tegas Umar. Akhirnya mereka ber-tiga pergi bersama-sama.
Ketika malam menjelang, keluarlah dia dari antara per-bukitan itu dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, “Wahai, seandainya saja Engkau cabut nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti-nanti keputusan!” Lalu Umar menghampirinya dan mendekapnya. Tsa’labah berkata, “Wahai Umar! Apakah Rasulullah telah mengetahui dosaku?” “Aku tidak tahu, yang jelas kemarin beliau menyebut-nyebut namamu lalu mengutus aku dan Salman untuk mencarimu.” Tsa’labah berkata, “Wahai Umar! Jangan kau bawa aku menghadap beliau kecuali dia dalam keadaan shalat”
Ketika mereka menemukan Rasulullah Saw. Tengah me-lakukan shalat, Umar dan Salman segera mengisi shaf. Tatkala Tsa’laba mendengar bacaan Nabi Saw, dia tersungkur pingsan. Setelah Nabi mengucapkan salam, beliau bersabda, “Wahai Umar! Salman! Apakah yang telah kau lakukan Tsa’-labah?” Keduanya menjawab, “Ini dia, wahai Rasulullah Saw!” Maka Rasulullah berdiri dan menggerak-gerakkan Tsa’labah yang membuatnya tersadar. Rasulullah Saw. Berkata kepadanya, “Mengapa engkau menghilang dariku?” Tsa’labah menjawab, “Dosaku, ya Rasulullah!” Beliau mengatakan, “Bukankah telah kuajarkan kepadamu suatu ayat yang dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan?” “Benar, wahai Rasulullah.” Rasulullah Saw. Bersabda, “Katakan… Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka.” (QS al-Baqarah:201)
Tsa’labah berkata, “Dosaku, wahai Rasulullah, sangat besar.” Beliau bersabda,”Akan tetapi kalamullah lebih besar.” Kemudian Rasulullah menyusul agar pulang kerumahnya. Di rumah dia jatuh sakit selama delapan hari. Mendengar Tsa’-labah sakit, Salman pun datang menghadap Rasulullah Saw. Lalu berkata, “Wahai Rasulullah! Masihkah engkau mengingat Tsa’labah? Dia sekarang sedang sakit keras.” Maka Rasulullah Saw. datang menemuinya dan meletakkan kepala Tsa’-labah di atas pangkuan beliau. Akan tetapi Tsa’labah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau.
“Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pangkuanku?” tanya Rasulullah Saw.
“Karena penuh dengan dosa.” Jawabnya
Beliau bertanya lagi, “Bagaimana yang engkau rasakan?”
“Seperti dikerubuti semut pada tulang, daging, dan kulitku.” Jawab Tsa’labah.
Beliau bertanya, “Apa yang kau inginkan?”
“Ampunan Tuhanku.” Jawabnya.
Maka turunlah Jibril as. Dan berkata, “Wahai Muham-mad! Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, `Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula.’ Maka segera Rasulullah Saw. membertahukan hal itu kepadanya. Mendengar berita itu, terpekiklah Tsa’labah dan langsung ia meninggal.
Lalu Rasulullah Saw. Memerintahkan agar Tsa’labah se-gera dimandikan dan dikafani. Ketika telah selesai menyalatkan, Rasulullah Saw. berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah selesai pemakamannya, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah! Kami lihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat.” Beliau bersabda, “Demi Zat yang telah mengutus aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya! Karena, banyaknya malaikat yang turut melayat Tsa’labah.”

(19)
“MAAFKAN IBU, ANAKKU”
( PUISI SEORANG IBU )

Saat pulas tidurmu kucium lembut pipi mungilmu dan kuusap rambutmu
sungguh anakku, ibu mencintaimu
Maafkan ibu, anakku ketika tadi siang
engkau kubentak karena adik baru tidur dalam pelukanku
sedangkan badanku penat bukan main lantas engkau menjauh
sambil tetap memandangku
Maafkan ibu, anakku ketika jari ibu
meninggalkan bekas merah di pahamu
hanya karena engkau makan sembari bermain-main
lalu nasimu tumpah ke lantai tapi engkau tak menangis,
hanya mata beningmu menatapku dengan takut-takut
Maafkan ibu, anakku yang menolak bercerita saat engkau ingin mendengar kisah
yang bisa membuatmu tertawa gembira atau menitikkan air mata,
hanya karena ibu sedang lelah....
atau ibu sedang sibuk dengan pekerjaan lainnya
Maafkan ibu, anakku yang tidak lebih awal menjumpaimu untuk sekedar
duduk dan bermain bersama hanya karena ibu ingin
melakukan sesuatu untuk diri ibu...
anakku,
betapa ibu merasa bersalah
begitu ibu tahu engkau sangat dan sangat rindu duduk dipangkuanku
Maafkan ibu, anakku yang marah kepadamu
hanya karena kesalahan yang sebenarnya bukan kesalah-anmu...
ibu marah hanya karena ibu letih mengerjakan pekerjaan seorang ibu
Maafkan ibu, anakku
terkadang ibu ingin bisa membagi tubuhku agar segala ke-inginanmu terpenuhi...
sedang sebagian tubuhku yang lain mengerjakan tugas dan pekerjaan yang lain lagi..
Maafkan ibu, anakku
yang tidak mampu memberikan seluruh waktuku untukmu...
andai engkau tahu sayangku...
betapa ibu sangat mencintaimu,
betapa ibu terkadang bisa begitu ketakutan akan kehilanganmu,
betapa ibu bisa tertawa hanya karena tingkahmu,
betapa ibu bisa menangis tatkala melihatmu kecewa,
betapa ibu khawatir ketika engkau sakit..
Anakku,
sungguh ibu tak mengharap apa-apa
tatkala ibu berjuang menghadirkanmu ke dunia,
mendengar engkau sehat... itu saja telah mampu
menghilangkan seluruh derita
Sering ibu bertanya,
marahkah engkau pada ibu yang telah
marah kepadamu..
gelengan kepalamu membuat ibu lega,
walau tetap tak akan mampu menghapus rasa sesal dihatiku
Sungguh anakku,
cinta ibu padamu hanya Tuhan yang tahu...
tak pernah seseorang bisa mengukur dalamnya
cinta seorang ibu pada anaknya,
sampai ia kelak menjadi seorang ibu.
Maafkan ibu, anakku...
yang tak mampu menjadi ibu sebagaimana
seharusnya seorang ibu yang sempurna
Anakku...
ridha ibu adalah milikmu
agar kelak engkau mudah memasuki surga-Nya
(hanya itu mungkin, yang mampu ibu berikan untukmu, duhai permata hatiku......)

(20)
KEPADA ANAK PEREMPUANKU

Semoga DIA menjadikanmu manusia yang halus pera-saannya sedemikian halus, hingga dapat kaurasakan derita orang-orang yang terlunta di lorong-lorong peradaban dan dapat kau jelang mereka dengan penuh kasih sayang karena mereka adalah bagian dari dirimu juga, perempuan.
Semoga DIA menjadikanmu manusia yang tajam pemi-kirannya sedemikian tajam, hingga dapat kau pecahkan buih-buih kebencian yang meracuni pengetahuan dan jernihlah muara sejernih hulunya karena abadinya nilai-nilai kesempurnaan tak dapat digantungkan kepada apa pun lagi selain kepada bening cintamu, perempuan.
Semoga DIA menjadikanmu manusia yang kuat sendirian sedemikian kuat, hingga ketika kau telah mampu hidup tanpa bergantung kau pun mampu memilih untuk seutuhnya ter-gantung kepada siapa pun yang dihadirkan-NYA untukmu, karena kau sadar bahwa kau memang tercipta untuk dinikahi, perempuan.
Semoga DIA menjadikanmu manusia yang tinggi marta-batnya sedemikian tinggi, hingga dapat kau rendahkan hatimu serendah-rendahnya dan tangguhlah azab bagi mereka yang belum ridho mengesakan-NYA sungguh esalah sucimu hanya dengan DIA sebagai saksi karena kenyataanmu memanglah tersembunyi, perempuan.
Semoga DIA menjadikanmu manusia yang dapat menahan pandangan sedemikian tahan, hingga ingatanmu kepada-NYA mampu menghanguskan setiap nafsu yang menyerang dari dalam dan luar dirimu dan menjadi cahayalah wajahmu bagi pencari kebenaran serta hanya cadar hitamlah rupamu bagi pencari pembenaran karena hanya DIA lah yang kau jumpa dan hanya wajah NYA yang kau damba setiap kau temukan dirimu dalam cinta…dan…....... DIA lah hijab dihadapan siapa pun kau berada.

(21)
KISAH LIMA PERKARA ANEH

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyhur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahwa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.
Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya."
Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumah-nya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan."
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Ketika ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia mengucapkan syukur 'Alhamdulillah'.
Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu berte-mu dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu menggali sebuah lubang lalu ditanam mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu keluar seperti ke-adaannya semula. Nabi itu pun menanamnya kembali hingga tiga kali berturut-turut.
Berkatalah Nabi itu, "Aku telah melaksanakan perintah-Mu." Lalu dia meneruskan perjalanannya, dan tanpa disadari olehnya mangkuk emas itu keluar lagi di tempat semula di mana ia ditanam.
Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba terlihatlah dia seekor burung elang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, "Wahai Nabi Allah, to-longlah aku."
Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu di-ambilnya burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Meli-hat keadaan itu, maka burung elang pun datang menghampiri Nabi sambil berkata, "Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh karena itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku."
Nabi itu teringat akan pesan arahan dalam mimpinya yang keempat, yaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu me-motong sedikit daging pahanya dan diberikan kepada elang itu. Setelah mendapat daging itu, elang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya.
Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia bergegas lari dari situ karena tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, kembalilah Nabi ke rumahnya.
Pada malam harinya, Nabi berdoa. Dalam doanya dia berkata, "Ya Allah, aku telah melaksanakan perintah-Mu seba-gaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku arti semuanya ini."
Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah SWT bahwa, "Yang pertama engkau makan itu ialah kemarahan. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka kemarahan itu pun akan menjadi lebih manis dari madu.
Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disem-bunyikan, ia tetap akan nampak jua. Ketiga; jika sudah mene-rima amanah seseorang, janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (men-ceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah."
Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini se-nantiasa saja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah menceritakan hal orang, memang menjadi tabiat seseorang suka menceritakan hal orang lain. Haruslah kita ingat bahwa kata-mengata hal seseorang akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadith mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kau berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu."
Maka berkata Allah SWT, "Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu." Dengan ini haruslah kita sadar bahwa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh karena itu, hendaklah kita jangan menceritakan hal orang walaupun ia benar.

(22)
TUJUH MACAM PAHALA
YANG DAPAT DINIKMATI SELEPAS MATINYA

Dari Anas r.a. berkata bahwa ada tujuh macam pahala yang dapat diterima seseorang selepas matinya.
1) Barangsiapa yang mendirikan masjid maka ia tetap pahalanya selagi masjid itu digunakan oleh orang untuk beramal ibadat di dalamnya.
2) Barangsiapa yang mengalirkan air sungai selagi ada orang yang meminumnya.
3) Barangsiapa yang menulis mushaf ia akan mendapat pahala selagi ada orang yang membacanya.
4) Orang yang menggali perigi selagi ada orang yang menggunakannya.
5) Barangsiapa yang menanam tanam-tanaman selagi ada yang memakannya baik oleh manusia atau burung.
6) Mereka yang mengajarkan ilmu yang berguna selama ia diamalkan oleh orang yang mempelajarinya.
7) Orang yang meninggalkan anak yang sholeh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya dan beristighfar baginya yakni anak yang selalu diajari ilmu Al-Qur’an maka orang yang mengajarnya akan mendapat pahala selagi anak itu mengamalkan ajaran-ajarannya tanpa mengurangi paha-la anak itu sendiri.
Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah SAW. telah ber-sabda : “Apabila telah mati anak Adam, maka terhentilah amalnya melainkan tiga macam :
1. Sedekah yang berjalan terus (Sedekah Amal Jariah)
2. Ilmu yang berguna dan diamalkan.
3. Anak yang soleh yang mendoakan baik baginya.”

(23)
KITA BERHADAPAN DENGAN
ENAM PERSIMPANGAN

Abu Bakar r.a. berkata, " Sesungguhnya iblis berdiri di depanmu, jiwa di sebelah kananmu, nafsu di sebelah kirimu, dunia di sebelah belakangmu dan semua anggota tubuhmu berada di sekitar tubuhmu. Sedangkan Allah di atasmu. Se-mentara iblis terkutuk mengajakmu meninggalkan agama, jiwa mengajakmu ke arah maksiat, nafsu mengajakmu memenuhi syahwat, dunia mengajakmu supaya memilihnya dari akhirat dan anggota tubuh mengajakmu melakukan dosa. Dan Tuhan mengajakmu masuk Sorga serta mendapat ampunan-Nya, se-bagaimana firmannya yang artinya, "....Dan Allah mengajak ke Sorga serta menuju ampunan-Nya..."
Siapa yang memenuhi ajakan iblis, akan hilang agama dari dirinya. Barangsiapa yang memenuhi ajakan jiwa, akan hilang darinya nilai nyawanya. Barangsiapa yang memenuhi ajakan nafsunya, akan hilanglah akal dari dirinya. Siapa yang memenuhi ajakan dunia, maka hilang akhirat dari dirinya. Dan siapa yang memenuhi ajakan anggota tubuhnya, maka hilang sorga dari dirinya.
Dan siapa yang memenuhi ajakan Allah SWT, akan hilang dari dirinya semua kejahatan dan ia memperolehi semua kebaikan."
Iblis adalah musuh manusia, sementara manusia adalah sasaran iblis. Oleh karena itu, manusia hendaklah senantiasa waspada, sebab iblis senantiasa melihat tepat pada sasarannya.

(24)

MISTERI DALAM MELAKSANAKAN
IBADAH HAJI
(Dikisahkan oleh: HESSAM,KDU)

badah haji adalah Rukun Islam yang kelima yang diwajibkan bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan yang mampu, dan hanya sekali dalam seumur hidup, ikhlas karena Allah semata.
Firman Allah Saw (QS Ali Imran: 97 yang artinya): “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (diantaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasuki (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; barang siapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
Jika ada tanda-tanda panggilan untuk menunaikan ibadah haji, maka berangkatlah dan tinggalkan urusan dunia untuk sementara. ”Dari Ibnu Abbas ra. Bahwasanya Rasulullah Saw bersabda (artinya): “Barang siapa ingin berhaji, hendaklah disegerakannya, karena kemungkinan tertunda karena jatuh sakit, hilang kendaraan atau hajat lainnya.” (HR Ahmad, Baihaqi, Thahawi, dan Ibnu Majah).
Maka dari itu bagi yang berkesempatan menunaikan ibadah haji, manfaatkan peluang itu sebaik-baiknya, karena tidak semua orang dapat meraihnya.
Panggilan dan Ridla Allah Swt dapat melakukan ibadah haji tidak selalu tertuju kepada muslimin-muslimat yang berusia lanjut. Bisa jadi panggilan itu tertuju kepada seseorang yang masih muda belia, bahkan tidak sedikit tertuju kepada kanak-kanak. Berbagai macam kasus yang dialami , baik oleh para calon jemaah selama masih dalam perjalanan, maupun para jemaah selama berada di tanah suci, benar-benar merupakan misteri yang tidak dapat diketahui, bahkan tidak dapat direncanakan sebelumnya oleh mereka. Beberapa misteri dalam melaksanakan ibadah haji antara lain sebagai dikisahkan berikut ini :


( 1 )
“P” yang tekun dalam menunaikan tugasnya sebagai pegawai negeri dan tekun pula menunaikan ibadah agamanya sebagai seorang muslim, hingga tiba masa pensiun belum mampu melaksanakan ibadah rukun Islam yang kelima. Mungkin belum mendapatkan Ridlo Allah? Wallahu a’lam bishshowab!. Namun keinginannya tiada pudar.
Beternak sapi perah merupakan usaha “P” untuk meraih ridlo Allah Swt dapatnya melakukan ibadah haji. Karena ketekunan usahanya itu, rupanya Allah Swt meridloi keinginannya. Dengan serta merta “P” bersama isterinya memenuhi segala persyaratan sebagai calon jemaah haji.
Suatu misteri yang tidak disangka-sangka, sebulan sebelum keberangkatan mereka ke tanah suci Makkah, isterinya jatuh sakit dan Tuhan memanggilnya kembali ke Hadirat-Nya. Apa mau dikata. Anak pun tiada. Kepada siapa jatah qouta yang sudah positif itu akan diberikan? Itulah misteri ridlo Allah Swt, yang tertuju kepada (sebut saja namanya Siman).
“Siman, kau mau naik haji?” Siman, seorang pembantu rumah tangga yang telah mengabdi “P” puluhan tahun itu, laksana diguyur hujan es mendengar tawaran tuannya. “Eee... eee…yaa, mau tuan.” Begitu jawabnya dengan gugup, disertai 1001 perasaan hati yang tak terkatakan.
Untuk menyatakan sukur atas nikmat Allah Swt yang tak ternilai besarnya itu, Siman langsung mengambil air wudlu dan melakukan sujud (shalat) sukur.
Selama berada di tanah suci Siman menerima banyak pengalaman yang sangat menakjubkan. Karena nuansa hidupnya selama bekerja di rumah tangga P, Siman banyak sekali menolong tetangga-tetangga yang memerlukan bantuan, dan pertolongannya biasanya dilakukan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan.
Rupanya kebiasaan hidup di tanah air itu tetap dibawa ke sana (tanah suci). Hanya perbedaannya, kalau kebiasaan di tanah air dilakukan tanpa pamrih apapun, sebaliknya orang-orang yang mendapatkan pertolongannya (di tanah suci) tidak segan-segan memberikan imbalan jasa berupa uang. “Sepulangnya di tanah air, ia mengantongi banyak uang reyal”, demikian P menceritakan misteri pengalaman Siman.


( 2 )
“Sn” disamping tugasnya sebagai pegawai negeri, juga memiliki kepiawaian di bidang da’wah. Rencana melakukan rukun Islam kelima, menurut perhitungannya, baru dapat dilaksanakan dua tahun mendatang setelah cukup terkumpulnya dana. “Dua tahun lagi” demikian jawabnya atas pertanyaan pimpinan sebuah pondok pesantren, “Kapan anda akan naik haji?”. “Kalau sekarang saja bagaimana?”, tanyanya lagi.”Tapi dananya belum cukup”, jawab Sn. “Kalau begitu siap saja berangkat sekarang.” Demikian “perintah” pimpinan pondok pesantren tersebut.
Betapa bahagianya Sn, karena dana yang ditunggu dua tahun lagi, sudah tercukupi sekarang.oleh pimpinan pondok tersebut Pimpinan pondok tadi mengetahui bahwa Sn sering memberikan da’wah di beberapa majelis taklim, maka dari itu Sn sangat dibutuhkan sebagai pembimbing kelompok jemaah haji yang akan diberangkatkan dalam musim haji tahun itu. Kepiawaiannya sebagai da’i diamalkan dalam membimbing calon jemaah haji.


( 3 )
Seorang ibu ketua pengurus sebuah Yayasan Sosial (Panti Asuhan) mengalami “nasib” yang sama dengan SN, hanya dia lebih ekstreem dibandingkan dengan SN, karena dia sama sekali belum mempunyai persiapan, dan belum ada gambaran tentang kemampuannya untuk dapat melaksanakan ibadah rukun Islam yang kelima ini. Satu dan lain memang belum adanya kemampuan dana.
Pada suatu hari dia menerima telepon supaya datang ke suatu kantor Bimbingan Haji. Setibanya di sana ia terperanjat, karena langsung didaftar sebagai calon peserta seklaigus selaku pembimbing jamaah haji. “Saya tidak punya uang”, begitu ucapnya kepada petugas pendaftar. “Ini perintah pimpinan, Bu. Ibu sudah disediakan satu quota sebagai calon jemaah.”
Hari-hari berikutnya pada jadual yang telah ditentukan ibu itu datang untuk mengikuti manasik (penerangan mengenai tata-cara melakukan ibadah haji) dan pemeriksaan kesehatan. Betapa rasa sukurnya atas nikmat Allah Swt yang terlimpahkan kepadanya. Benar-benar ini dirasakan sebagai misteri yang tidak disangka-sangka sebelumnya.


( 4 )
Seorang ibu rumah tangga mengajak bibinya (bulik) untuk bersama-sama pergi melaksanakan ibadah haji. Perjalanan dari tempat tinggal ke Tanjung Priuk (Jakarta) dilakukan dengan menumpang kendaraan umum bus. Na’as tak dapat dihindari. Di tengah perjalanan bus yang ditumpangi mengalami kecelakaan, menyebabkan bibi (bulik)-nya batal meneruskan perjalanan panjang, karena menurut nasehat dokter ia harus istirahat di rumah sakit.
Untuk menggantikan quotanya, ibu tadi menelpon adiknya di Jakarta, yang statusnya masih mahasiswa tingkat satu, untuk berangkat. Tanpa persiapan apapun adik tadi (sebut saja “F”) segera berangkat menemani kakak perempuannya naik kapal laut (waktu itu perjalanan jemaah haji masih dilakukan dengan kapal laut).
Sekali lagi Ridlo Allah Swt merupakan misteri terhadap F maupun bibinya. Bibi yang batal meneruskan perjalanan tersebut, hingga lanjut usia dan sampai saat meninggal dunia belum sempat menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Namun demikian karena niatnya sudah dijalankan, konon menurut hukumnya ia sudah mendapat pahala seperti naik haji.

( 5 )
Sepuluh tahun lebih “ES” menjalani pensiun sebagai pegawai negeri, belum juga mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji, walau keinginannya sudah terukir 30 tahun sebelumnya, namun fasilitas dana belum juga mencukupi dan panggilan / ridho Allah belum juga datang.
Sebagai seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil, setiap bulan mengambil gaji pensiunnya di bank untuk biaya hidupnya sehari-hari. Konon pada salah satu saat pengambilan gaji sangat mengejutkan hatinya, karena pada rekening tabungannya terisi transfer dana yang cukup besar.
Kejadian ini diberitahukan kepada isterinya. Isterinya yang sudah haji dua puluh tahun sebelumnya (1982), berusaha menambah dana itu agar mencukupi besarnya dana ONH. Rupanya panggilan / ridho Allah baru datang? Selanjutnya ES bersama isterinya datang ke kantor Bimbingan Haji untuk mendaftarkan ES sebagai calon jemaah haji. Tak diduga tak di sangka, isteri ES pun oleh petugas pendaftaran didaftar juga sebagai calon jemaah.”Saya hanya mengantar suami saya, tidak ikut mendaftar, karena saya sudah haji, tidak perlu naik haji kedua kalinya.” Demikian penjelasan isteri ES.”Dan untuk berangktat lagi saya tidak sukup mempunyai dana.” Tambahnya. “Tapi pempinan kami sudah menyediakan satu quota untuk ibu, agar ibu dapat mendampingi bapak ES. Dengan demikian berarti ES dengan isterinya akan berangkat bersama-sama. Sungguh satu misteri.
Memang sebenarnya isterinya ingin sekali mendampingi suaminya bersama-sama pergi ke tanah suci, tetapi fasilitas dana tidak mencukupi. Selanjutnya segala urusan dan persyaratan telah dipenuhi. Upacara pemberangkatan diadakan di Mesjid Gede. Usai acara sambutan-sambutan para calon jemaah meninggalkan ruangan pendapa mesjid menuju bus yang telah siap mengantar mereka menuju bandara Adisuciptto.
Lagi-lagi na’as menimpa isterinya. Dia terpelanting waktu menuruni trap pendapa mesjid yang menuju halaman mesjid hingga pingsan. Oleh pimpinan rombongan ES dipersilakan berangkat duluan, sedang isterinya akan dirawat beberapa hari di sebuah rumah sakit. Dengan lain perkataan ES berangkat sendiri, sedang isterinya batal berangkat.
Setelah kesehatannya membaik, isterinya bersukur kepada Allah Swt karena musibah tadi terjadi masih di tanah air, Seandainya terjadinya di negeri orang, betapa repotnya. Tuhan telah mengatur dengan yang terbaik.

( 6 )
Kisah ini terjadi sekitar 20 (dua puluh ) tahun yang lalu, dimana dua orang jemaah calon haji wanita sudah tiba di Madinah. Keberangkatan mereka dalam keadaan segar bugar. Sejak dari kampung halaman hingga tiba di tempat tujuan nampak tidak ada sesuatu yang ganjil. Sama dengan jemaah-jemaah lainnya, mereka pun bercerita bermacam-macam pengalaman.
Setibanya di Jedah masih tenang-tenang, tidak ada gejala yang aneh-aneh. Suasana di dalam bus yang mengangkut mereka menuju Madinah, umumnya para penumpang tertidur lelap. Keganjilan terjadi setibanya para jemaah di Madinah.
Dalam salah satu kamar hotel terdengar tangisan yang memilukan. Ternyata tangisan itu adalah tangisnya kedua orang wanita tadi. Pertanyaan bertubi-tubi diajukan oleh pembimbing “Apakah anda sakit?”, “Ada keluhan apa.” “Apakah anda lapar.” Dsb. Dsb. Tetapi semua pertanyaan dijawab “Tidak” “Lalu apa yang menyebabkan anda menangis?” tanyanya lagi.
Jawabnya sangat aneh, dan selamanya jawaban seperti ini belum pernah terjadi. “Kami mau pulang !” Mendengar jawaban ini pembimbing dan beberapa jemaah lainnya berusaha membujuknya agar tetap melaksanakan ibadah haji sampai selesai. Bujukan demi bujukan tidak merobah jawaban mereka, kecuali bersikeras mau pulang saja.
Apa mau dikata, ibadah hajinya pun batal, karena belum ada satupun acara yang dilaksanakan. Besok harinya pembimbing disibuki oleh pekerjaan yang selama ini belum pernah dialami. Na’Udzubillahi min dlolik.

( 7 )
“Pondok Bimbingan Haji dimana yang masih menerima pendaftaran calon jemaah haji?” Demikian tanya AB kepada SS. “Oo yaa, nanti saya tanyakan. Atau sekalian ikut saya, kebetulan hari Ahad nanti ada pengajian disana. Saya tunggu anda di rumah saya, nanti kita bisa berangkat bersama-sama.” Jawab dan janji SS. Besok paginya SS dan isterinya sudah siap mau berangkat sambil menunggu AB.Tunggu punya tunggu, sampai waktu yang dijanjikan AB tidak datang, maka SS dengan isterinya berangkat sendiri ke tempat pengajian.
Dua hari berikutnya AB baru memberi kabar bahwa hari itu tidak dapat datang, disebabkan karena orang yang berjanji akan mengantarnya ada kesulitan kendaraan. “Baiklah, masih ada waktu. Nanti saja hari Ahad berkutnya saya antar kesana.” Jawab SS dengan nada penuh kesabaran. “Terima kasih, kalau begitu sebaiknya nanti saya tidak perlu singgah ke rumah anda. Saya nanti langsung saja berangkat sendiri dan kita ketemu di tempat pengajian.” Demikian janji AB kepada SS.
Pada hari yang telah ditetapkan SS berangkat tepat waktu seperti biasanya, bahkan lebih dini. Setibanya di tempat tujuan tidak langsung mengambil tempat duduk, tetapi menunggu di pintu masuk halaman (sedang isterinya masuk duluan), kalau-kalau AB juga akan muncul.
“Assalamu’alaikum ... ... ...” Melalui pengeras suara pembawa acara sudah memberi salam, pertanda acara akan segera dimulai. Dengan serta merta SS meninggalkan “tempat tunggu” untuk mengambil tempat duduk di ruangan, karena orang yang ditunggu (AB) belum juga datang.
Siang harinya AB memberi kabar melalui telepon, mengatakan bahwa sebenarnya pagi tadi ia sudah berangkat, tetapi tersesat jalan tidak sampai ke tempat tujuan. Alhasil sampai SS berangkat Umroh Awal Romadhon, AB pun belum terlaksana niatnya untuk mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji.
SS dengan isterinya mengadakan penelitian kecil, menelusuri apakah sebabnya AB selalu menemui hambatan atau gagal dalam usaha mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji. Adapun data keterangan dari sumber yang cukup dapat dipercaya, menerangkan bahwa kuantitas dana AB cukup memadai. Hanya sumber perolehan dana itu konon berasal dari pengembalian hutang dengan bunga yang besarnya melebihi bunga yang biasa ditetapkan oleh bank. Subhanallah.

( 8 )
Aku tertarik untuk meminta doa kepada seorang Ustadz yang materi khutbah Jumatnya sangat menyentuh. Aku menandai Ustaz itu. Sebab, pernah tiga kali sholat Jumat secara berturut-turut, di kota yang berbeda, surat Al A'laa dan Ghaasyiyah dibacakan dalam sholat. Dan Ustadz itu imam sholat yang ketiga dengan bacaan serupa. Sembari memberi salam, aku mengulurkan jabat tangan, "Pak Ustadz, saya ingin sekali naik haji. Tolong doakan saya."
Wajah Ustadz itu nampak teduh saat memejamkan matanya. Berdoa. Tiba-tiba kurasakan tangannya tersentak hingga jabat tangan kami terlepas. "Rezekimu untuk berangkat haji telah disiapkan. Nanti juga semua pengeluaranmu akan diganti" Ustadz itu nampak demikian yakin. Tetapi tak urung keraguan meliputiku. Bagaimana mungkin dengan kondisi bisnis di kantor yang sedang menurun? Aku hanya terdiam. Kupikir ada cara untuk menguji ucapannya bahkan untuk membuktikan apakah agama dan Tuhan yang selama ini kupercaya bukanlah dusta: Akan kukatakan kepada banyak orang bahwa aku akan berangkat haji. Tahun ini! "Ramalan" Ustaz itu tidak hanya kusampaikan kepada istriku, tetapi juga kepada mertua, sanak saudara dan teman-teman. Aku sengaja mengikat diriku dengan beban. Dan aku ingin menyaksikan bagaimana beban yang melilitku itu dilepaskan.
Sebagaimana karyawan lain, 23 Desember 2000 adalah hari yang menegangkan bagiku. Sebab pada hari itu akan diumumkan keputusan manajemen perusahaan terkait dengan THR dan bonus.
Aku gelisah sejak dini hari dan selama makan sahur. Biaya ONH harus segera dilunasi dalam beberapa hari kemudian. Setelah subuh aku tidak ingin tidur. Istriku memahami kegelisahanku. Kami harus rela menjual mobil untuk menutupi ongkos haji. Akhirnya kami putuskan untuk pasrah saja. Kami isi waktu dengan jalan-jalan pagi di sekitar kompleks sambil mengarang lagu Islami untuk anak-anak. Aneh, inspirasi mengarang lagu demikian lancar mengalir. Setiba kembali di rumah aku menulis bait-bait itu dengan komputer dan mencetaknya untuk dibagi kepada teman-teman.
Aku terlambat tiba di kantor. Tidak sempat ikut rapat pagi. Melewati ruangan atasan dengan sungkan. Terbersit prasangka negatif saat tangannya melambai memanggilku. Duh, mau diapain aku?
Rupanya ia ingin mengajakku bicara mengenai hal yang paling ditunggu semua orang hari itu. Atasanku belum lama mengisi jabatan di bagianku. Aku dimintai saran sebab menurutnya aku staff paling senior. Dia belum tahu cara menyampaikan kepada bawahannya keputusan manajemen perusahaan mengenai THR dan bonus serta pesan pimpinan tertinggi.
Kepadanya kusarankan untuk memanggil karyawan satu demi satu masuk ke dalam ruangannya untuk diberikan penjelasan secara pribadi. Atasanku mengganguk setuju. Karena aku sudah berada di ruangannya, dia memutuskan menjadikanku bawahan pertama yang menerima penjelasan. Kepuasan hakikatnya adalah posisi relatif antara harapan dan kenyataan. Aku tidak berharap banyak. Takut kecewa.
Lega rasanya hati ini saat atasanku menyampaikan keputusan rapat pimpinan untuk tetap memberikan bonus meski kondisi bisnis saat itu kurang menggembirakan. Suka cita itu bertambah setelah mengetahui besar bonus sebanding dengan tahun sebelumnya. Alharndulillah, terbayang bonus itu melebihi ongkos haji kami. Pak Ustadz itu benar!!!
Ya Allah, telah Engkau cukupkan rezeki untuk biaya perjalanan haji kami. Maka karuniakan pula kepada kami keselamatan dalam perjalanan, kelancaran segala urusan, dan yang terpenting karuniakan kepada kami kekhusyukan selama peribadatan. Lindungi pula harta dan keluarga yang kami tinggalkan.****
Ada enam tanda-tanda orang hidup barokah :(At-Thalaq: 2 – 5)
a. Diberi mahroja;
b. Diberi rizeki yang tidak disangka-sangka;
c. Diberi cukup kebutuhannya;
d. Diberi mudah segala urusan;
e. Terhapus dosanya;
f. Dilipatgandakan pahalanya.
“… … barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya, dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)-nya. … … dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. … … dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.

<<<<<@>>>>>

"Jika kau sampaikan rahasiamu pada angin,
jangan salahkan angin bila ia kabarkan pada pepohonan."

Semoga apa yang telah saya sampaikan ini ada manfaatnya,
Bila ada salah kata mohon dimaafkan, yang benar itu pasti datangnya dari Allah SWT
Wallahù'alam bíshawab Wabíllahí taùfík walhídayah,
Wassalamù'alaíkùm warahmatùllahí wabarakatùh.

<<<<<@>>>>>


HESSAM.KDU’s COLLECTION
Jln Wulung 5-A
Yogyakarta
Drs.H. Sudibya Samiyana, KDU

Kisah Penuh Hikmah (5)



“ Bísmíllaahírrahmaanírrahím ”


" Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar
dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman, beramal-saleh,
saling menasehati dalam kebenaran dan
saling menasehati dengan kesabaran." (QS. 103:1~3)
***

"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku." (Hadith)
***

Ilmu yang bermanfaat ialah salah satu amal
yang berkekalan bagi orang yang mengajarnya
meskipun dia sudah mati.
***

Ya Allah kalau Engkau masukkan aku ke dalam sorga, rasanya tidaklah pantas aku berada di dalam sorga …
Tetapi kalau aku Kau masukkan ke dalam neraka,
aku tidak akan tahan,
aku tidak akan kuat ya Allah,
maka terimalah saja taubatku ini….…

***

( 1 )
RAHMAT ALLAH

Salah satu sifat yang dimiliki Allah SWT dari 99 nama-Nya adalah Ar Rahman yang mengandung makna kelemah-lembutan, kasih sayang dan kehalusan. Kalau kita sebut mendapat rahmat Allah, itu berarti seseorang memperoleh kasih sayang dari Allah SWT. Dengan kata lain, rahmat Allah adalah karunia Allah berupa kenikmatan, rizki, kebahagiaan dan ketentraman hidup di dunia maupun di akhirat.
Sebagai manusia apalagi sebagai muslim, kita tentu amat mengharapkan rahmat dari Allah SWT sehingga kita selalu ber-do’a, baik di dalam shalat maupun di luar shalat untuk bisa memperoleh rahmat Allah. Hal ini karena orang yang mendapat rahmat Allah tentu saja tergolong kedalam kelompok orang yang beruntung sebagaimana firman Allah yang artinya: “Kemu-dian engkau berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmt-Nya atasmu, niscaya engkau tergolong orang-orang yang rugi ( Al Baqarah: 64).
Bahkan di dalam ayat lain, keuntungan orang yang mendapat rahmat Allah itu akan dijauhkan dari azab-Nya, Allah berfirman yang artinya: “Barangsiapa yang dijauhkan azab daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata” (Al An’am:16).

KIAT MERAIH RAHMAT
Untuk memperoleh rahmat Allah, tentu saja tak cukup hanya sekedar berdo’a. Ada sejumlah usaha yang harus kita lakukan dan sifat yang harus kita miliki, kesemuanya itu berkisar pada kebajikan, ini sekaligus menunjukkan kepada kita bahwa rahmat yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya amat terkait dengan apakah mereka melaksanakan dan memper-juangkan tegaknya nilai-nilai kebajikan atau tidak..
Pertama, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, baik dalam keadaan susah maupun senang, berat maupun ringan, waktu sendiri atau bersama orang lain. Tegasnya, kalau mau mem-peroleh rahmat Allah kita harus taat kepada Allah dan rasul-Nya dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga, hal ini terdapat dalam firman Allah yang artinya: ‘Dan taatilah Allah dan Rasul supaya engkau diberi rahmat’ (Ali mran:132).
Kedua, harus tolong menolong dalam kebaikan, melak-sanakan amar ma’ruf dan nahi munkar, mendirikan shalat sehingga memberi pengaruh yang besar dalam bentuk meng-hindari perbuatan keji dan munkar serta menunaikan zakat agar menjadi suci jiwa kita, terjembatani hubungan antara yang kaya dengan yang miskin serta kemiskinan bisa diatasi secara ber-tahap. Perbuatan yang disebutkan ini bisa menjadi sebab sese-orang memperoleh rahmat Allah karena perbuatan semacam itu tergolong kedalam kelompok perbuatan yang bajik dan Allah amat menyenangi segala bentuk kebajikan, karenanya wajar saja kalau rahmat Allah akan diberikan kepada orang yang mela-kukan hal-hal semacam itu, hal ini difirmankan Allah yang arti-nya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesung-guhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana “(At Taubah:71)
Ketiga, Iman yang kokoh sehingga bisa dibuktikan dengan amal shaleh yang sebanyak-banyak meskipun hambatan, tan-tangan dan rintangan selalu menghadang, namun dia tetap Isti-qomah dalam keimanannya sehingga dengan keimanannya yang mantap itu, kesusahan hidup tidak membuatnya harus berputus asa, sedang kesenangan hidup tidak membuatnya menjadi lupa diri, inilah yang kita maksud dengan istiqomah, dan iman serta istiqomah seperti itulah yang kelak akan membuat seorang mu’min memperoleh rahmat dari Allah SWT. Hal ini difirman-kan Allah yang artinya: “Adapun orang-orang yang beriman dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka kedalam rahmat yang besar dari-Nya (sorga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjukkan mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya” (An Nisaa’: 175).
Disamping itu, iman dan istiqomah harus disertai dengan hijrah, yakni meninggalkan segala bentuk larangan Allah dan berjihad dalam arti bersungguh-sungguh dalam perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam dalam segala aspeknya, hal ini difir-mankan Allah yang artinya: “Orang-orang yang beriman, ber-hijrah dan berjihad adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padaNya, keridhaan dan sorga, mereka memperoleh dida-lamnya kesenangan yang kekal” (At Taubah:20-21, Al Baqarah: 218)
Ke-empat; mengikuti Al Qur’an dan selalu bertaqwa kepada Allah serta menunaikan zakat, hal ini karena Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia apabila ia ingin memperoleh ketaqwaan kepada Allah SWT, karenanya untuk meraih rahmat Allah manusia harus bertaqwa kepada-Nya, sedang untuk bisa bertaqwa harus mengikuti petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Ini berarti, amat mustahil bagi manusia untuk bisa bertaqwa kepada Allah apabila Al-Qur’an tidak diikutinya. Dalam kaitan ini Allah berfirman yang artinya: “Dan Al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikuti-lah dia dan bertakwalah agar engkau diberi rahmat.” (Al An’aam: 155).
Pada ayat lain, disamping harus mengikuti Al-Qur’an sebagai aktualisasi dari keimanan kepada-Nya dan bertaqwa. Untuk memperoleh rahmat Allah, seorang muslim juga harus berzakat dan memantapkan iman kepada ayat-ayat Allah. Zakat merupa-kan kewajiban kaum muslimin yang memiliki kemampuan dan Allah amat senang kepada orang yang menunaikannya dan selalu memperkokoh keimanan kepada Al-Qur’an yang berisi ayat-ayat Allah menjadi keharusan untuk bisa memahami dan mengikuti petunjuk yang terdapat di dalamnya, Allah berfirman yang artinya: “Maka Aku akan tetapkan rahmatKu untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami “ (Al A’raaf: 156)
Kelima, berbuat baik, yakni perbuatan apa saja yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang datang dari Allah dan Rasul-Nya serta tidak mengganggu orang lain, bahkan orang lain bisa merasakan manfaat baiknya, sekecil apapun manfaat yang bisa dirasakannya. Allah berfirman yang artinya: “Dan janganlah engkau membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepadanya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (Al A’raaf:56).
Ke-enam, mendengarkan bacaan Al-Qur’an apabila sedang dibacakan, hal ini karena, Al-Qur’an merupakan kala-mullah atau perkataan Allah, sebab jangankan Allah, pembi-caraan sesama manusia saja harus kita dengarkan atau kita perhatikan, apalagi kalau ucapan Allah yang tentu harus lebih kita perhatikan. Manakala seorang muslim telah mendengarkan Al-Qur’an bila dibacakan, maka Allah senang pada orang terse-but sehingga Allah mau memberi rahmat kepadanya. Allah berfirman yang artinya: “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar engkau mendapat rahmat (Al A’raaf:204).
Ketujuh, taubat dari segala dosa yang telah dilakukan, hal ini karena secara harfiyah, taubat berarti kembali, yakni kem-bali kepada Allah. Orang yang berbuat dosa adalah orang yang menjauhi Allah sehingga karena sudah merasa jauh dari Allah dia merasa leluasa untuk melanggar ketentuan yang selama ini ditaatinya. Dengan taubat, manusia berarti mau mendekati Allah lagi dan Allah senang kepada siapa saja yang mau bertaubat, sebanyak apapun dosa yang sudah dilakukannya.
Namun taubat itu bukanlah sekedar mengucapkan istigh-far, tapi menyadari terhadap kesalahan yang dilakukan. Menye-sali, bertekad untuk tidak mengulanginya dan membuktikan bahwa dia betul-betul telah meninggalkan segala perbuatan salahnya dengan menggantinya dengan segala kebaikan, inilah yang membuat Allah cinta kepadanya sehingga rahmat Allah akan diberikan kepadanya, hal ini difirmankan Allah yang ar-tinya: “Dia (Nabi Shaleh) berkata: Hai kaumku mengapa engkau minta disegerakan keburukan sebelum (engkau minta) kebaik-an?. Hendaklah engkau minta ampun kepada Allah, agar engkau mendapat rahmat (An Naml: 46).
Ayat yang menyebutkan kecintaan Allah kepada orang yang bertaubat adalah yang artinya: “Sesungguhnya Allah men-cintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang membersihkan diri.” (Al Baqarah: 222).
Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita bahwa Allah akan memberikan rahmat-Nya kepada siapa saja yang dikehen-daki-Nya, sedang Allah baru menghendaki memberikan rahmat kepada seseorang, manakala orang tersebut telah melakukan atau memiliki sifat-sifat yang membuatnya pantas memperoleh rahmat dari Allah SWT.
Persoalan sekarang adalah, apakah kita mau atau tidak dengan rahmat Allah itu, bila mau maka keharusan bagi kita untuk berusaha dengan usaha yang telah digariskan oleh Allah sendiri di dalam Al-Qur’an sebagaimana yang kita bahas dalam tulisan yang singkat ini..

( 2 )
HUKUMAN SEBAGAI TANDA CINTA
"Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia menyegerakan hukuman di dunia. Jika Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, maka Dia menahan hukuman kesa-lahannya sampai disempurnakannya pada hari qiamat." (HR. Imam Ahmad, At-Turmidzi, Al-hakim, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi). Hadith di atas bersumber dari Abdullah bin Mughaffal. Menurut Al-Haitsami, periwayatan hadith ini shahih.
Diriwayatkan bahwa salah seorang lelaki telah bertemu dengan seorang wanita yang disangkanya pelacur. Lelaki itu menggoda sampai-sampai tangannya menyentuh tubuhnya. Atas perlakuan itu, sang wanita berkata, "Cukup!" Lantaran terkejut, lelaki ini menoleh ke belakang, namun terbentur tembok dan terluka.
Lelaki usil itu pergi menemui Rasulullah dan menceritakan pe-ngalaman yang baru saja dialaminya. Komentar Rasulullah? "Engkau seorang yang masih dikehendaki oleh Allah menjadi
baik." Selanjutnya beliau bersabda, sebagaimana dalam hadith di atas.
Dalam riwayat At-Turmidzi, hadith itu disempurnakan dengan lafadz sebagai berikut, "Dan sesungguhnya Allah, jika Dia mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Jika mereka ridha, maka Allah ridha kepadanya. Jika mereka benci, Allah membencinya."
Kecintaan Allah kepada hamba-Nya di dunia tidak selalu diwu-judkan dalam bentuk pemberian materi atau kenikmatan lainnya. Kecintaan itu justru sering berbentuk --oleh sebagian orang disebut-- adzab. Sebenarnya bukan adzab, tapi yang tepat adalah ujian. Berat ringannya ujian tergantung kepada kuat tidaknya iman seseorang.
Orang yang paling disayangi dan dikasihi Allah adalah para Nabi dan Rasul. Justru mereka adalah orang yang paling berat mene-rima ujian semasa hidupnya di dunia. Ujian mereka sangat berat melebihi ujian yang diberikan kepada siapapun juga. Demikian secara berurutan, para syuhada' dan kemudian shalihin. Yang jelas bahwa setelah orang menyatakan. "Kami beriman", Allah langsung menyiap-kan ujian baginya.
Allah berfirman: "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan 'Kami telah beriman,' lantas tidak diuji lagi? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. al-Ankabut: 2-3)
Selain ujian demi ujian diberikan kepada orang yang beriman, maka teguran demi teguran juga diberikan kepadanya. Teguran itu kadang halus, tapi sering-sering kasar. Bagi yang kepekaan imannya tinggi, teguran halus saja sudah cukup untuk menyadarkannya. Akan tetapi bagi mereka yang telah hilang kepekaannya, teguran yang keras sekalipun tak bisa menyadar-kannya.
Apa yang dialami oleh lelaki yang datang kepada Rasulullah sebagaimana hadith di atas merupakan teguran Allah secara langsung agar ia sadar atas kekeliruannya, dan tidak mengulang kesalahannya. Lelaki itu sangat bersyukur atas kecelakaan yang menimpa dirinya. Wajah yang benjol dan darah yang mengalir di wajahnya tidak seberapa dibandingkan dengan nilai kesadaran yang baru dirasakannya.
Kecelakaan itu semakin tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan siksa yang bakal diterimanya di akhirat kelak. Bukankah setiap dosa akan ditimbang dan dibalas sesuai dengan bobotnya? Dengan kecelakaan itu ia bertobat. Dengan bertobat, maka terhapuslah dosanya. Tentang hal ini Rasulullah bersabda, "Tiada suatupun yang menimpa seorang mukmin, baik berupa kepayahan, sakit, sedih, susah, atau perasaan murung, bahkan duri yang mengenai diri-nya, kecuali Allah akan melebur kesalahan-kesalahannya lantaran kesusahan-kesusahan tersebut." (HR Bukhari dan Muslim)
Karena itu, jika mengalami suatu musibah, jangan cepat-cepat mengeluh. Cari dulu sebab musababnya. Jangan-jangan musibah itu merupakan teguran dari Allah SWT atas berbagai kesalahan yang telah kita lakukan. Mungkin saja musibah itu nampak tidak ada kait-annya sama sekali, tapi cobalah untuk mengurut-urut beberapa lang-kah yang pernah kita lakukan sebelumnya.
Kasih sayang Allah tidak selalu berwujud kesenangan, melimpahnya harta, tercapainya segala keinginan, dan jauh dari berbagai musibah. Justru bisa jadi sebaliknya. Orang yang mendapatkan berbagai kesenangan itulah yang tidak dicintai-Nya. Orang tersebut dibiarkan tenggelam dalam kesenangan dunia sampai tiba ajalnya. Pada saat itu semua kesenangan dicabut dan diganti dengan berbagai siksa yang mengerikan, baik ketika di kubur, di padang mahsyar, maupun di neraka.


( 3 )
PEMUDA BURUK RUPA

Kisah ini terjadi pada zaman Nabi Daud. Nabi Daud adalah seorang nabi yang sangat menyayangi kaum muda, karena ia beranggapan bahwa pemudalah yang mampu merubah keadaan menjadi lebih baik.
Nabi Daud mempunyai sebuah majelis, dan disanalah Ia menga-jarkan risalah dan tuntunan wahyu yang diturunkan Allah kepa-danya. Di majelis tersebut, sering datang seorang pemuda yang berwajah tak sedap dipandang mata.
Pokoknya dilihat darimana saja, wajahnya tetap saja tak menye-jukkan mata. Pemuda ini seringkali duduk berjam-jam. Tak jarang ketika semua orang telah bubarpun ia masih mere-nung seoang diri. Tapi ada yang aneh dengan pemuda tersebut. Meski sering datang dan duduk lama, ia tak pernah mengu-capkan sepatah kata pun, baik untuk bertanya maupun untuk mengemukakan pendapatnya.
Suatu hari, datang ke majelis tersebut malaikat Izrail sang pencabut nyawa. Ia memandang pemuda itu dengan tatapan mata yang tajam. Nabi Daud merasakan ada yang tak beres, kemudian nabi Daud bertanya. “Aku diutus Allah untuk menca-but nyawanya minggu depan,” kata Izrail sambil menunjuk ke-pada sang pemuda. Kontan, setelah mendengar penjelasan ter-sebut nabi Daud pun jatuh iba pada sang pemuda. Kemudian dengan penuh kasih ia mendekati pemuda tersebut dan bertanya. “Hai pemuda, sudahkah kau menikah?” tanya nabi Daud pada sang pemuda. “Belum,” jawabnya jujur.
Setelah mendengar pengakuan sang pemuda maka ber-tambah ibalah nabi Daud pada pemuda tersebut. Ditulisnya surat untuk seorang pemuka kaum Bani Israil dengan maksud memi-nang salah satu putrinya untuk dinikahkan dengan pemuda tersebut. Nabi Daud meminta sang pemuda untuk mengantarkan suratnya, dan alhamdulillah, pinangan tersebut langsung diterima. Betapa gembiranya hati sang pemuda kala itu.
Maka pernikahan pun dilangsungkan dengan semua biaya ditanggung nabi Daud. Setelah berbulan madu, sang pemuda yang kini telah beristri itu datang lagi ke majelis nabi Daud. “Hai pemuda, bagaimana bulan madumu selama seminggu,” sapa nabi Daud ketika melihat pemuda itu di dalam majelis. “Aku belum pernah merasakan nikmat Allah yang sedahsyat itu,” jawab sang pemuda. Nabi Daud teringat, bahwa hari itu telah dijanjikan malaikat Izrail untuk mencabut nyawa sang pemuda. Namun anehnya, malaikat Izrail tak nampak. Nabi Daud pun meminta kepada sang pemuda untuk datang ke majelisnya minggu depan. Tapi kejadian serupa terulang, Izrail tak menampakkan diri bahkan sampai delapan minggu.
Pada suatu saat datanglah malaikat Izrail ke majelis nabi Daud. Pada saat yang bersamaan pemuda itupun hadir pula. Nabi Daud pun langsung menegur malaikat Izrail. “Mengapa engkau tak menepati janjimu padahal beberapa minggu telah berlalu ?” tanya nabi Daud as. “Wahai Daud Allah telah mengasihi pemuda itu karena kasih sayangmu padanya dan menyuruhnya menikah. Maka Allah memanjangkan umurnya sampai tiga puluh tahun lagi,” Jelas Izrail.
( 4 )
JIBRIL BERDOA
MUHAMMAD MENG-AMINKAN

Kisah ini terjadi pada diri Rasulallah dan para sahabatnya. Saat itu malam hari raya iedul fitri seperti biasanya Rasul dan para sahabat membaca Takbir,Tahmid dan Tahlil di Masjidil Haram.
Saat sedang bertakbir, tiba-tiba rasulallah keluar dari kelompok dan menepih kearah dinding. Kemudian Rasullah mengangkat kedua tangannya (layaknya orang berdoa) saat itu Rasul mengatakan amin sampai tiga kali.
Setelah Rasul mengusapkan kedua tangan diwajahnya (layaknya orang selesai berdoa) para sahabat mendekat dan bertanya : Ya Rasul apa yang terjadi sehingga engkau meng-angkat kedua belah tanganmu sambil mengatakan ‘amien’ sampai tiga kali ?
Jawab Rasul : Tadi saya didatangi Jibril dan meminta saya mengamin-kan doanya.? Apa gerangan doa yang dibacakan Jibril itu ya Rasul ? tanya sahabat kemudian Rasul menjawab : Kalau kalian ingin tahu inilah doa yang disampaikan Jibril dan saya mengaminkan? :
1. Ya Allah ya Tuhan kami; Janganlah diterima amal Ibadah kaum Muslimin selama bulan Ramadhan apabila dia masih bersalah kepada orang tuanya dan belum dimaafkan?. Rasul mengatakan ‘Amien’
2. Ya Allah ya Tuhan kami; Janganlah diterima amal ibadah kaum muslimin selama bulan Ramadhan apabila suami isteri masih berselisih dan belum saling memaafkan.? Rasul mengatakan ‘amien’
3. Ya Allah ya Tuhan kami; janganlah diterima amal Ibadah kaum Muslimin selama bulan Ramadhan apabila dia dengan tetangga dan kerabatnya masih berselisih dan belum saling Memaafkan.? Rasul mengatakan ‘amien’
Demikianlah doa yang dibaca Jibril sehingga Rasul mengaminkan sampai tiga kali. Namun disini ada 4 Faktor yang membuat doa tersebut pasti dikabulkan Allah yaitu:
1. Yang berdoa Jibril Mahluk yang sejak diciptakan tidak pernah membantah dan berbuat dosa kepada Allah
2. Yang mengaminkan doa tersebut Muhammad manusia Ma’sum yang telah diampuni semua dosanya
3. Tempat berdoa adalah Masjidilharam tempat yang mendapat berkah dari Allah
4. Waktu berdoa adalah malam iedul fitri yaitu satu diantara sepuluh malam jika kita berdoa langsung di ijabah oleh Allah.
Jadi jika kita ingin Amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini diterima Allah maka hindarilah tiga yang diatas. Karena selama tiga persoalan diatas belum diselesaikan maka amal ibadah kita selama bulan ramadhan masih dipending oleh Allah sam-pai kita menyelesaikannya. Dikisahkan oleh Buhari Muslim dari Huzaifah dan Anas r.a Rasulullah SAW. bersabda yang artinya: “Barang siapa yang menjurusi satu jalan untuk mencari ilmu niscaya Allah akan mempermudahkan padanya jalan ke sorga.” (Sahih Muslim)

( 5 )
DZIKIR HARIAN
ANJURAN IMAM AL GHAZALI

Jumaat -Ya Allah
Sabtu -Laa ila ha il lallah (Tiada Tuhan melainkan Allah)
Ahad -Yaa Hayyu Yaa Qayyum (Ya Allah yang maha hidup lagi berdiri dengan sendirinya)
Isnin -La hawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim (Tidak ada upaya dan kekuatan melainkan dengan kuasa Allah yang maha tinggi dan maha besar)
Selasa -Allahumma shalli ‘ala saiyidina Muhammad (Ya Allah rahmatilah ke atas Nabi Muhammad saw)
Rabu -Astaghfirullahal-‘azhim (Aku mohon ampun kepada Allah yang maha besar)
Khamis -Subhanallahil-‘azhimi wa bihamdih (Maha suci Allah yang maha besar dan pujian kepadaNya)

( 6 )
C I N T A

“Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya karena Allah, lalu Allah mengutus malaikat untuk mengawasi-nya. Kemudian malaikat bertanya,” Engkau hendak kemana?” Ia menjawab,”Saya hendak mengunjungi saudara saya si Fulan.” Malaikat bertanya lagi, “Apakah ada suatu keperluan un-tukmu?” Ia menjawab,”Tidak.” Malaikat bertanya lagi,”Apakah karena engkau ingin mendapatkan kesenangan (suatu kenik-matan) darinya?” Ia menjawab, “Tidak.” “Saya mencintainya karena Allah.” Malaikat berkata,” Sesungguhnya Allah telah menyuruhku datang kepadamu untuk memberitahukan kepada-mu bahwa Dia mencintaimu seperti engkau mencintainya karena Allah.”(HR Muslim) “Apabila Allah mencintai hamba-Nya, maka malaikat Jibril berseru, “Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, karena itu cintailah dia!” Maka seluruh penghuni langit mencintai orang tersebut kemudian cinta itu pun diterima dibumi. “(HR Muslim)
“Demi Dia yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, eng-kau tidak akan masuk surga hingga engkau beriman, dan engkau tidak akan beriman sehingga engkau saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang jika engkau lakukan pasti engkau saling mencintai? Sebarkan salam di antara engkau. “(HR Muslim)
“Orang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, maka ia tidak boleh menganiaya dan menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa menolong kebutuhan saudaranya, maka Allah akan menolongnya untuk memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa melepaskan suatu kesusahan dari seorang muslim (saudaranya), maka Allah akan menghilangkan kesusahannya dari bermacam-macam kesusahan di hari qiamat. Dan barang-siapa menutupi kekurangan seorang muslim (saudaranya), maka Allah akan menutup kekurangannya pada hari qiyamat. “(HR Bukhori dan Muslim)
“Tidak sempurna iman salah seorang diantara engkau sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.”(HR Bukhori dan Muslim)

( 7 )
T A K U T

Rasa takut (khauf) selalu ada pada diri manusia. Ia muncul silih berganti dengan perasaan-perasaan lainnya. Meski keberadaannya wajar, namun umumnya manusia selalu berusaha menghilangkan rasa takut.
Bahkan, sebisa mungkin menggantikannya dengan kebera-nian (saja’ah). Maka, tak berlebihan bila Ibnu Hazm, dalam al-Akhlaq washiyar mengatakan, "Tak ada satu tujuan pun yang dicari manusia dalam hidup ini kecuali untuk menghilangkan perasaan takut dan duka cita."
Memang, usaha menghilangkan perasaan ini menjadi tuju-an inti, bahkan merupakan motif utama yang mendasari seluruh perbuatan dan aktivitas manusia. Orang mencari kekayaan dan harta sebanyak-banyaknya pada hakekatnya berusaha untuk menghilangkan ketakutan dan kemiskinan. Orang mencari popu-laritas merupakan usaha menolak ketertindasan dan perbudakan. Orang mencari ilmu pengetahuan karena takut akan bodoh dan dungu. Orang mencari kawan karena ingin membuang kesunyian dan keterasingan. Sejarah mencatat bagaimana Qarun tamak menimbun harta, karena takut akan kemiskinaan dan kehilangan harta. Fir’aun la’natullah ‘alaihi, juga takut jabatan dan kekua-saan tercabut dari genggamannya. Maka ia bunuh setiap bayi laki-laki yang lahir.
Tapi, cukupkah manusia dengan rasa takut seperti itu? Tidak. Ia membutuhkan dimensi lain dari rasa takutnya. Yaitu rasa takut ukhrawi. Rasa takut seperti inilah sebenarnya yang bisa mendatangkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan hidup. Karena ia bermuara pada maghfirah Allah. Begitulah para salafushalih mencontohkan.
Umar bin Abdul Aziz, sewaktu kecil sangat peka dan mudah berurai air mata karena rasa takutnya kepada Allah SWT. Suatu hari, ibunya menjumpai Umar kecil sedang mena-ngis di kamar. Melihat itu, ibunya menghampiri dan merengkuh puteranya ke dalam pelukan. Sang ibunda lalu menanyakan perihal kesedihannya. "Tiada sesuatu pun wahai Ibunda, hanya saja ananda takut karena teringat akan mati," jawab Umar tulus.
Shalih Ibnu Kaisan, seorang ulama besar Madinah (guru dari Umar bin Abdul Aziz), mengisahkan masa kecil Umar. "Saya belum pernah mendengar seseorang yang demikian besar rasa takutnya kepada Allah SWT melebihi Umar." Sedangkan Fatimah, istri Umar mengatakan, "Ia selalu mengingat Allah meskipun di tempat tidurnya, tubuhnya gemetar laksana seekor burung pipit yang kedingingan karena rasa takutnya. Bahkan aku sering berkata dalam hati, jangan-jangan esok hari, saat semua orang bangun dari tidurnya, mereka telah kehilangan khalifah mereka." Sementara Ali bin Zaid memberitahukan, Umar bin Abdul Aziz selalu ketakutan seakan-akan neraka itu diciptakan untuk dirinya saja."
Takut seperti ini akan melahirkan jiwa-jiwa muttaqin. Bu-kan seperti takutnya manusia kepada sesamanya, binatang atau sesuatu lainnya. Namun takut yang diliputi oleh hati yang khusyu’ dan menerima ketentuan qadar-Nya. Takut kalau dijauhkan rahmat dan barakah-Nya. Seperti ditulis Najati dalam Al-Qur’an wa ‘ilmun nafs, bahwa takut kepada Allah di samping melahirkan sikap muttaqin, juga dapat menghindarkan diri dari bahaya. Sebab, rasa takut membuat orang selalu berfikir dan berhati-hati dalam melangkah, serta mempertimbangkan segala kemungkinan yang terjadi.

( 8 )
PRASANGKA

Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (At Taubah : 12)
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda “Jauhilah oleh kalian berprasangka, karena berpra-sangka merupakan seburuk-buruk pembicaraan, serta janganlah kalian meraba-raba dan mencari-cari kesalahan orang lain.
Janganlah kalian saling berdebat, saling hasut-menghasut, saling benci-membenci dan saling belakang-membelakangi, tetapi jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan kepada kalian. Orang Islam adalah saudara bagi orang Islam yang lain, tidak boleh saling menganiaya, mem-biarkan, mendustakan, dan saling menghina. Takwa itu disini dan (sambil) beliau mengisyaratkan (menunjuk) ke dadanya tiga kali. Cukuplah seseorang dikatakan orang jahat (buruk perangai) apabila dia menghina saudaranya yang Islam. Setiap orang Islam terhadap orang Islam yang lain adalah haram darahnya, kehor-matannya, dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak memandang tubuh, rupa, dan amal-amal perbuatanmu, tetapi Allah meman-dang kepada hatimu.” (HR.Bukhari & Muslim)
“Gossip” mungkin kata ini bisa mewakili sebagian dari gambaran diatas. Ia sudah tidak asing lagi di telinga kita & se-ringkali menjadi tema pembicaraan sehari-hari, dan bahkan men-jadi acara TV yang digemari. Dengan atau tanpa disadari, se-ringkali kita terperangkap didalamnya. Awalnya mungkin hanya sekilas mendengar, lalu menyimak, dan akhirnya ‘urun rembug’. “Seru” memang kala bergossip ria, tapi apakah kita sadar sebagian besar gossip itu adalah prasangka, dan kemungkinan besar orang yang menjadi objek gossip itu akan sakit hati atau bahkan menimbulkan fitnah, apakah kita mau, jika suatu saat, kitalah yang menjadi objek..?
Pada hadith yang lain, dari Ibnu Mas’ud ra, bahwasanya ada seseorang yang dihadapkan kepadanya, kemudian dikatakan bahwa si Fulan itu jenggotnya masih meneteskan minuman keras, kemudian Ibnu Mas’ud berkata : “Sesungguhnya kami telah dilarang untuk mencari-cari kasalahan, tetapi kalau kami benar-benar mengetahui adanya suatu penyelewengan, maka kami pasti akan menghukumnya.” (HR. Abu Dawud)
Dan surat Al Hujurat : 11, Allah berfirman : “Hai Orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan), dan janganlah pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (ka-rena) boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olokkan), lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan), dan janganlah engkau mencela dirimu sendiri dan janganlah engkau panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan itulah orang-orang yang dzlim.”

( 9 )
DAPAT PAHALA HAJI MABRUR,
TAPI TIDAK HAJI

Sa’id Ibnu Muhafah, Tukang Sol sepatu yang menda-patkan pahala haji mabrur, padahal ia tidak haji, suatu ketika Hasan Al-Basyri menunaikan ibadah haji. Ketika beliau sedang istirahat, beliau bermimpi. Dalam mimpinya beliau melihat dua Malaikat sedang membicarakan sesuatu.
“Rasannya orang yang menunaikan haji tahun ini, banyak sekali” Komentar salah satu Malaikat
“Betul” Jawab yang lainya.
“Berapa kira-kira jumlah keseluruhan?”
“Tujuh ratus ribu”
“Pantas”
“Eh, engkau tahu tidak, dari jumlah tersebut berapa kira-kira yang mabrur”,
Selidik Malaikat yang mengetahui jumlah orang-orang haji tahun itu
“Wah, itu sih urusan Allah”
“Dari jumlah itu, tak satupun yang mendapatkan haji Mabrur”
“Kenapa?”
“Macam-macam, ada yang karena riyak, ada yang tetangganya lebih memerlukan uang tapi tidak dibantu dan dia malah haji, ada yang hajinya sudah berkali-kali, sementara masih banyak orang yang tidak mampu, dan berbagai sebab lainnya’
“Terus?”
“Tapi Masih ada, orang yang mendapatkan Pahala haji mabrur tahun ini”
“Lho katannya tidak ada”
“Ya, karena orangnya tidak naik haji”
“Kok bisa”
“Begitulah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq”
Mendengar ucapan itu, Hasan Al-Basyri langsung terba-ngun. Sepulang dari Makkah, ia tidak langsung ke Mesir, Tapi langsung menuju kota Damsyiq (Siria). Sesampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.
“Ada, ditepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana Hasan Al-Basyri mene-mukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,
“Benarkah engkau bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Hasan Al-Basyri
“Betul, kenapa?”
Sejenak Hasan Al-Basyri kebingungan, dari mana ia me-mulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mim-pinya. “Sekarang saya anya, adakah sesuatu yang telah engkau perbuat, sehingga engkau berhak mendapatkan pahala haji ma-brur, barang kali mimpi itu benar” selidik Hasan Al-Basyri sam-bil mengakhiri ceritanya.
“Saya sendiri tidak tahu, yang pasti sejak puluhan tahun yang lalu saya memang sangat rindu Makkah, untuk menunaikan ibadah haji. Mulai saat itu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Dan pada tahun ini biaya itu sebenarnya telah terkumpul”
“Tapi engkau tidak berangkat haji”
“Benar”
“Kenapa?”
“Waktu saya hendak berangkat ternyata istri saya hamil, dan saat itu dia ngidam berat”
“Terus?”
“Ngidamnya aneh, saya disuruh membelikan daging yang dia cium, saya cari sumber daging itu, ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh, disitu ada seorang janda dan enam anak-nya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia bilang tidak boleh, hingga
saya bilang bahwa dijual berapapun akan saya beli, dia tetap mengelak.
Akhirnya saya tanya kenapa?.. “daging ini halal intuk kami dan haram untuk tuan” katanya
“Kenapa?” tanyaku lagi ,
“Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakanya tentulah kami akan mati kelaparan,”
Jawabnya sambil menahan air mata.
Mendengar ucapan tersebut sepontan saya menangis, lalu saya pulang, saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun me-nangis, akhirnya uang bekal hajiku kuberikan semuanya untuk dia”
Mendengar cerita tersebut Hasan Al-Basyripun tak bisa mena-han air mata. “Kalau begitu anda memang patut mendapat-kanya” Ucapnya.
Kisah ini diceritakan oleh Imam dan Khotib Masjid Rohmah, Cairo Egypt. Shahih tidaknya tidak disebutkan. Meski demikian kisah ini perlu menjadi renungan.

( 10 )
I K H L A S (1)

Ikhlas. Inilah kata yang mudah sekali diucapkan -saya rela kok, saya ikhlas kok- tetapi sangat susah diaplikasikan dalam perbuatan sehari-hari. Karena ikhlas adalah amalan hati. Karena ikhlas tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Kita hanya dapat melihat dari tanda-tandanya. Itupun tidak pasti. Inilah (mungkin) sebagian makna dari keikhlasan:
Ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata tidak menda-pat pujian dari orang lain, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata tidak diekspos oleh media massa/elektronik, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata mendapat tanggapan yang negatif oleh orang lain, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata tidak dicatat oleh sejarah, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata merugikan diri kita sendiri secara lahiriah, disitulah makna keikhlasan; dan seterusnya.
Ada ataupun tidak ada orang lain kita tetap melakukan kebaik-an; dicatat ataupun tidak dicatat oleh sejarah kita tetap melakukan kebaikan; diekspos ataupun tidak oleh media mas-sa/elektronik kita tetap melakukan kebaikan; Ada ataupun tidak ada orang lain kita tetap melakukan kebaikan; mendapat pujian ataupun tidak kita tetap melakukan kebaikan; mendapat tang-gapan positif ataupun negatif kita tetap melakukan kebaikan; dan seterusnya.
Sehingga dalam Al Qur'an Surat Shaad: 83 disebutkan salah satu kejujuran dari iblis/syetan bahwa dia tidak dapat menggoda orang-orang yang ikhlas.

( 11 )
I K H L A S (2)

Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia lima tahun. Pada suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket.
Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, ter-gantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya.
Tapi… Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji: Tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki berrenda yang cantik.
Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya: “Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini ? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi“ Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung mem-belikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten
“Oke … Anisa, anda boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?”
Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengem-balikan kaos kaki ke raknya.”Terimakasih…, Ibu”
Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya.Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau…
Setiap malam sebelum tidur, Ayah Anisa akan memba-cakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya “Anisa…, Anisa sayang tidak pada Ayah ?” “Tentu dong… Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah !”
“Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu…”
“Yah…, jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil “si Ratu” boneka kuda dari nenek… ! Itu kesayanganku juga”
“Ya sudahlah sayang,… tidak apa-apa !”. Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.
Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membaca-kan cerita, Ayah bertanya lagi, “Anisa, Anisa sayang Ayah tidak sih,?”
“Yah, Ayah tahu kan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah ?”.
“Kalau begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu.”
“Jangan Ayah… Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini.. “
Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.
Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk kekamar-nya, Anisa sedang duduk diatas tempat tidurnya. Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam.
Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. Dari matanya, mengalir bulir-bulir air mata membasahi pipinya…
“Ada apa Anisa, kenapa Anisa ?”
Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya “ Kalau Ayah mau… ambillah kalung Anisa”
Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih,sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa…
“Anisa… ini untuk Anisa. Sama bukan ? Memang begitu nam-paknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau”
Ya…, ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa.
Demikian pula halnya dengan Allah SWT.. Terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggan-tikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naïf dari Anisa : Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan…
Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Allah mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan meng-gantinya dengan yang lebih baik.

(12)
PUASA :
MENUJU MAKAN YANG SEJATI

"Makan hanya ketika lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang" adalah formula tentang kesehatan hidup. Tidak hanya menyangkut tubuh, tapi juga keseluruhan mental sejarah. Ia adalah contoh soal lebih dari sekadar teori keilmuan tentang keefektifan dan efisiensi.
Selama ini pemahaman-pemahaman nilai budaya kita cen-derung mentabukan perut. Orang yang hidupnya terlalu profe-sional dan hanya mencari uang, kita sebut "diperbudak oleh perut". Para koruptor kita gelari "hamba perut" yang mengor-bankan kepentingan negara rakyat demi perutnya sendiri.
Padahal ia bukanlah hamba perut. Sebab, kebutuhan perut amat sederhana dan terbatas. Ia sekadar penampung dan distri-butor sejumlah zat yang diperlukan untuk memelihara kesehatan tubuh. Perut tidak pernah mempersoalkan, apakah kita memilih nasi pecel atau pizza, lembur kuring atau masakan Jepang.
Yang menuntut lebih pertama-tama adalah lidah. Perut tidak menolak untuk disantuni dengan jenis makanan cukup se-harga seribu rupiah. Tetapi lidah mendorong kita harus menge-luarkan sepuluh ribu, seratus ribu atau terkadang sejuta rupiah.
Mahluk lidah termasuk yang menghuni batas antara jas-mani dengan rohani. Satu kaki lidak berpijak di kosmos jasmani, kaki lainnya berpijak di semesta rohani. Dengan kaki yang per-tama ia memanggul kompleks tentang rasa dan selera; tidak cukup dengan standar 4 sehat 5 sempurna, ia membutuhkan va-riasi dan kemewahan. Semestinya cukup di warung pojok pasar, tapi bagian lidah yang ini memperkuda manusia untuk mencari berbagai jenis makanan, inovasi, dan paradigma teknologi ma-kanan, yang dicari ke seantero kota dan desa. Biayanya menjadi ratusan kali lipat.
Dengan kaki lainnya lidah memikul penyakit yang berasal dari suatu dunia misterius yang bernama mentalitas, nafsu, serta kecenderungan-kecenderungan aneh yang menyilati budaya ma-nusia. Makan yang dalam konteks perut hanya berarti menjaga kesehatan, di kaki lidah itu diperluas menjadi bagian dari kompleks kultur, status sosial, gengsi, feodalisme, kepriyayian, serta penyakit-penyakit kejiwaan komunitas manusia lainnya.
Kecenderungan ini membuat makan tidak lagi sejati de-ngan konteks perut dan kesehatan tubuh, melainkan dipalsukan, dimani-pulir atau diartifisialkan menajadi urusan kultur dan pera-daban yang biayanya menjadi sangat mahal.
Budaya artifisialisasi makan ini dieksploitasi dan kemu-dian dipacu oleh etos industrialisasi segala bidang kehidupan, serta disahkkan oleh kepercayaan budaya makan, pembaruan teknologi konsumsi, jenis makanannya, panggung tempat ma-kannya, nuansanya, lagu-lagu pengiringnya, pewarnaan meja kursi, dindingnya hingga karaokenya.
Artifisialisasi budaya makan itu akhirnya menciptakan ber-bagai ketergantungan manusia, sehingga agar selamat sejahtera dalam keterlanjuran ketergantungan itu, manusia bernegosiasi di bursa efek, menyunat uang proyek, memborong barang-barang, bahkan berperang membunuh satu sama lain. Padahal perut hanya membutuhkan "makan ketika lapar dan berhenti makan sebelum kenyang".
Maka yang bernama "makan sejati" ialah makan yang sungguh-sungguh untuk perut. Adapun yang pada umumnya kita lakukan selama ini adalah "memberi makan kepada nafsu". Perut amat sangat terbatas dan Allah mengajarinya untuk tahu membatasi diri. Sementara nafsu adalah api yang tiada terhingga skala pembesaran atau pemuaiannya. Jika filosofi makan dirobek dan dibocorkan menuju banjir bandang naf-su tidak terbatas, jika ia diartifisialkan dan dipalsukan dan tampaknya itulah satu bahan utama berbagai konflik dan ketidakadilan sejarah ummat ma-nusia, maka sesungguhnya itulah contoh paling konkret dari ter-bunuhnya efisiensi dan keefektifan.
Rekayasa budaya makan pada masyarakat kita, dari naluri sehari-hari hingga aplikasinya di pasal-pasal rancangan pemba-ngunan jangka pendek dan jangka panjang, mengandung inefi-siensi atau keborosan dan keserakahan, yang terbukti meng-ancam alam dan kehidupan manusia sendiri, di-samping sangat tidak efektif mencapai hakikat tujuan makan itu sendiri.

(13)
KEADILAN RASULULLAH

Tatkala Nabi Muhammad SAW merasa ajalnya sudah dekat, beliau mengumpulkan para sahabat. Kemudian, beliau menyampai-kan pidatonya: “Sahabat-sahabatku sekalian! Ajalku mungkin sudah dekat, dan aku ingin menghadap Allah dalam keadaan suci bersih. Mungkin selama bergaul dengan Anda sekalian, ada yang pernah aku pinjam uangnya atau barangnya dan belum aku kembalikan atau belum aku bayar, sekarang ini juga aku minta ditagih. Mungkin ada di antara kalian yang pernah aku sakiti, sekarang ini juga aku minta dihukum qishos (hukuman balasan). Mungkin ada yang pernah aku singgung perasaannya, sekarang ini juga aku minta maaf.”
Para sahabat hening, karena merasa tidak mungkin hal itu akan terjadi. Tapi, tiba-tiba seorang sahabat mengangkat tangan dan melaporkan satu peristiwa yang pernah menimpa dirinya.
“Ya Rasulullah! Saya pernah terkena tongkat komando Rasulullah SAW. pada saat Perang Badar. Ketika Rasulullah SAW. mengayunkan tongkat komandonya, kudaku menerjang ke depan dan aku terkena tongkat Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Aku merasa sakit sekali, apakah hal ini ada qishos-nya!”
Nabi Muhammad SAW. menjawab, “Ya, ini ada qishosnya jika anda merasa sakit.” Rasul pun menyuruh Ali bin Abi Tholib mengambil tongkat komandonya yang disimpan di rumah Fatimah. Setelah Ali bin Abi Thalib tiba kembali membawa tongkat komando, Rasulullah SAW Sallam menyerahkan kepada sahabatnya untuk melaksanakan qishosh.
Seluruh sahabat yang hadir di majelis itu hening, apa kira-kira yang akan terjadi jika Rasulullah dipukul dengan tongkat itu. Di tengah keheningan itu, Ali bin Abi Tholib tampil ke depan:
“Ya Rasulullah! Biar kami saja yang dipukul oleh orang ini. Abu Bakar dan Umar bin Khattab juga ikut maju. Tetapi, Rasulullah memerintahkan, Ali, Abu Bakar, dan Umar agar mundur, sambil berkata, “Saya yang berbuat, saya yang dihukum, demi keadilan”.
Situasi tambah hening. Tetapi, di tengah-tengah kehe-ningan itu tiba-tiba sahabat yang siap jadi algojo itu berkata,: “Tapi di saat saya terkena tongkat komando, saya tidak pakai baju.” Mendengar itu langsung Rasulullah membuka bajunya di depan para sahabat. Kulit Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam tampak bercahaya, tetapi ciri ketuaan sudah terlihat jelas.
Menyaksikan hal ini para sahabat tambah khawatir, Ali bin Abi Tholib tampil lagi ke depan memohon kepada Rasul agar dia saja yang diqishos. Tapi, Rasulullah SAW. langsung memerin-tahkan agar Ali mundur, karena hukuman itu harus dijalankan sendiri demi keadilan.
Tiba-tiba sahabat ini menjatuhkan tongkatnya langsung merang-kul dan mencium Rasulullah SAW. dan berkata: ‘Ya Rasulullah! Saya tidak bermaksud melaksanakan qishos, saya hanya ingin melihat kulit Rasulullah SAW. menyentuh dan menciumnya. Sahabat-sahabat yang lain tersentak, gembira’.
Rasulullah langsung berkata, “Siapa yang ingin melihat ahli surga, lihatlah orang ini.” Kisah itu menunjukkan betapa Rasulullah sangat menjunjung nilai keadilan.
Beliau, sebagai kepala Negara sekaligus Nabi, sangat ikhlas mene-rima hukuman qishos dari rakyatnya sendiri".

(14)
SUDAHKAH ANDA MELAKUKAN ?

Abu Lait berkata, "Siapa yang dapat menjaga dan mengingat tujuh kalimah ini, maka mulia di sisi Allah SWT dan malaikat serta diampunkan dosanya walaupun dosanya sebanyak buih lautan.
1. Apabila hendak memulai sesuatu maka mulailah dengan Bismillah.
2. Apabila telah selesai dari mengerjakan sesuatu yang baik hendaklan membaca Alhamdulillah.
3. Kalau terlanjur mengatakan sesuatu yang tidak baik, maka hendaklah segera menyatakan Astaghfirullah.
4. Kalau hendak melakukan sesuatu pada esok hari hendaklah berkata Insya Allah.
5. Kalau menghadapi kesukaran hendaklah selalu membaca Laa haulawalla quwwata illa billahilaliyyil azim.
6. Apabila kita ditimpa bala musibah hendaklah selalu membaca Inna lillahi wa inna ilahi raajiunn.
7. Setiap siang dan malam hendaklah membaca Laa ilaha illallah.

(15)
KIAT RASULULLAH SAW.
Petikan dari buku Cara Rasulullah SAW. Menghindari dan menyembuhkan Penyakit
(Disusun Oleh : Ibnu Qaiyum)

PENYEBAB RUSAKNYA BADAN, Perkara yang menyebabkan rusaknya badan yaitu perasaan cemas, gelisah, lapar dan tidak tidur malam (bukan tujuan qiyamullail)
MENERANGKAN PENGLIHATAN, Perkara yang bisa menerangkan pandangan dan menyejukkan hati yaitu melihat pada warna hijau, melihat air yang mengalir, melihat orang / barang yang disayangi dan melihat dedaunan.
Perkara yang bisa menggelapkan pandangan yaitu berjalan tanpa alas kaki (berkaki ayam), menyambut waktu pagi dengan wajah murka (masam), banyak menangis dan banyak membaca tulisan yang kecil-kecil.
PENYEBAB WAJAH BERSINAR, Perkara yang bisa me-nyebabkan wajah kelihatan kering (hilang cahaya) yaitu berdusta, tidak mempunyai perasaan malu, banyak bertanya tanpa ilmu dan banyak berbuat dosa.
Perkara yang bisa menyebabkan wajah bersinar yaitu menjaga marwah, jujur, dermawan dan takwa.
PERASAAN BENCI, Perkara yang menyebabkan perasa-an benci yaitu sombong, dengki, berdusta dan suka mengadu domba.
PERKARA YANG MENDATANGKAN DAN MENG-HALANGI REZEKI, Perkara yang bisa menyebabkan datang-nya rezeki yaitu Qiyamullail (beribadah di waktu malam setelah tidur), banyak membaca istighfar di waktu sahur (waktu sebelum masuk waktu subuh), bersedekah dan berdzikir di waktu pagi dan petang.
Perkara yang menyebabkan rezeki terhalang yaitu tidur di waktu pagi, sedikit mengerjakan sholat, malas dan khianat.
KEFAHAMAN DAN DAYA INGAT, Perkara yang bisa menyebabkan rusaknya ingatan dan kefahaman yaitu senantiasa makan buah yang masam, tidur pada tengkuk (belakang kepala), hati sedih dan fikiran cemas.
Perkara yang menyebabkan bertambahnya daya ingatan dan kefahaman yaitu kegembiraan hati, sedikit makan dan sedikit minum, mengawali makanan dengan sesuatu yang manis dan berlemak serta mengurangi kelebihan yang memberatkan badan.

(16)
BAGAIMANAKAH RASULULLAH SAW.

1. MAKAN
Nabi SAW. makan menggunakan tangan kanan. Sewaktu makan, baginda menggunakan 3 jari dan sesudah makan jari-jarinya dihisap sebelum membersihkannya.
Baginda makan menggunakan suapan yang kecil, berhati-hati hingga makanan tidak terjatuh dari dulang atau tempat hidangan.
Baginda sering bertanya apakah hidangan makanan itu berbentuk hadiah atau sedekah. Bila makanan itu berbentuk sedekah, baginda tidak memakannya dan menyuruh sahabat makan, tetapi bila makanan itu berbentuk hadiah, baginda akan turut makan bersama. (Riwayat Bukhari, Muslim, Nasaai dari Abu Hurairah)
2. TIDUR
Apabila Nabi SAW. merebahkan diri di tempat tidur, baginda sering berdoa yang artinya : "Alhamdulillah yang telah memberi kami makan, minum, tempat perlindungan dan keperluan hidup karena masih banyak yang kurang makan, minum dan tidak mempunyai tempat tidur." (Riwayat Bukhari Muslim, Abu Daud, Termizi dan Nasaai dari Anas).
Di waktu Nabi SAW. hendak tidur, baginda meletakkan tangan kanannya dibawah pipi kanan baginda. (Riwayat Thabarany dari Hafshah)
Sebelum Nabi SAW. memejamkan mata, baginda berdoa yang artinya : "Ya Allah, dengan namaMu aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati. "
Bila bangun dari tidur, baginda mengucapkan: "Alhamdulillah yang menghidupkan kami sesudah kami dimatikan dan kepada-Nya kami akan kembali berkumpul, " (Riwayat Ahmad, Muslim dan Nasaai dari al-Barraaq).
3. MARAH
Kemarahan Nabi SAW. adalah karena kebenaran, artinya karena kebenaranlah baginda melahirkan kemarahannya.
Nabi SAW. marah dengan cara sopan, sesuai dengan do'anya ini, yaitu: "Aku mohonkan kepada Anda kalimat kebenaran pada saat marah dan suka. "
Maksudnya, Rasulullah SAW. tidak berkata kecuali yang benar saja, begitu juga waktu marah atau waktu tidak marah. Kemarahan Rasulullah SAW. karena ada perkara yang tidak disukai yang menyalahi dari yang benar sebagaimana yang diajarkan agama atau yang terang-terangan dilarang oleh agama.
[Kitab Matan al-Arba'in - Sheikh Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfuan-Nawawi]. Imam Ghazali berkata: "Kemarahan manusia bermacam-macam. Setengahnya lekas marah, lekas tenang dan lekas hilang. setengahnya lambat marah, lambat pula redanya. Setengahnya lambat akan marahnya dan lekas pula hilangnya. Yang akhir inilah yang terpuji. "
4. KETAWA
Bila nabi SAW. ketawa, baginda akan meletakkan tangan di mulut baginda dan bila terjadi sesuatu yang menggembirakan, baginda akan mengucap syukur kepada Allah. Bila bercakap-cakap, bagin-da senantiasa tersenyum. (Riwayat Abu Daud dan Abu Musa)
5. WARNA dan PAKAIAN KESUKAAN
Warna yang disukai nabi SAW. ialah hijau dan pakaian yang digemari ialah habarah seperti kemeja panjang berwarna putih. (Riwayat Bukhari Muslim)

(17)
HARI-HARI TERAKHIR ROSULULLAH
Detik-detik Rasulullah SAW. Menjelang sakratul maut

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur’an.
Barang siapa mencintai sunnahku, ating mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.“ Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya.
Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepa-lanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua, “ desah hati semua saha-bat kala itu. Manusia tercinta itu, datang usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Ra-sulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang ter-baring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pe-lepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru me-ngucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam, “ kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya, “ tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pan-dangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan se-mentara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.
Dialah malakul maut, “ kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasu-lullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian di-panggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti diha-dapan Allah? “Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat te-lah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti keda-tanganmu, “kata jibril.
Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Anda tidak senang mendengar kabar ini? “Tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharam-kan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya, “ kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasu-lullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini. “ Lirih Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril? “Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “
“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,“ kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, tim-pakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “ Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu. “
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku” Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wasalim ‘alaihi.

(18)
TEMAN

Salah satu doa Nabi Muhammad SAW. Yang sering kita ucapkan adalah agar kita di akhirat kelak dihimpun bersama para nabi, syuhada, dan orang-orang saleh. Ini, karena sesungguhnya merekalah sebaik-baik teman dan pendamping.
Teman, menurut petuah orang-orang tua, sering lebih ber-guna daripada saudara. Alasannya, kebanyakan problem yang di-hadapi seseorang, sering kali ditolong dan diselesaikan dengan bantuan teman. Namun, seorang teman bukan hanya dapat me-nolong dan bermanfaat bagi seseorang, tetapi sering kali lan-taran teman pula seseorang dapat terjerumus ke lembah nista. Seorang ahli hikmah mengatakan, ‘Barangsiapa yang berteman dengan delapan jenis manusia, maka akan bertambah pula delapan akibatnya :
Pertama, barang siapa yang berteman dengan orang-orang kaya, maka akan bertambahlah cintanya kepada dunia.
Kedua, barang siapa yang berteman dengan orang-orang miskin, maka akan bertambahlah rasa syukur dan ridho akan rezeki yang diberikan kepadanya.
Ketiga, barang siapa yang bersahabat dengan para penguasa, maka akan bertambahlah kecongkakan dan kesombongannya.
Ke-empat, barang siapa yang banyak berteman dengan wanita, maka akan bertambahlah kebodohan dan nafsu syahwatnya.
Kelima, barang siapa yang bergaul dengan anak-anak, maka akan bertambahlah sifat suka bermain dan bercandanya.
Ke-enam, barangsiapa yang bersahabat dengan orang-orang fasik, maka akan bertambahlah keberaniannya untuk berbuat dosa dan melambat-lambatkan tobat.
Ketujuh, barangsiapa yang bergaul dengan orang yang saleh, maka akan bertambahlah keinginannya untuk taat kepada Allah.
Kedelapan, barangsiapa yang berkawan dengan ulama, maka akan bertambahlah ilmu dan kehati-hatiannya (waro’).’
Banyak orang yang menyimpulkan bahwa teman yang paling baik adalah teman sejati. Teman sejati adalah teman yang mau tetap bersama di kala suka maupun duka. Pada dasarnya Islam tidak menolak konsep ini, namun suka dan duka dalam Islam, tetap mempunyai dua sisi, dunia dan akhirat. Persa-habatan yang sejati dalam konsep yang utuh ini, akan mungkin tercipta jika dilandasi karena cinta kepada Allah. Semoga kita dapat mempunyai teman dengan landasan mulia ini, amin.

(19)
TANTANGAN IMAN

“Wahai manusia, siapakah makhluk Allah yang imannya paling menakjubkan (man a’jabul khalqi imanan) ?” Demikian pertanyaan Nabi Muhammad kepada sahabatnya “Malaikat!”. Nabi menukas, “Bagaimana para malaikat tidak beriman sedangkan mereka pelaksana perintah Allah?” para Nabilah yang imannya paling menakjubkan!”: “Bagaimana para Nabi tidak beriman, padahal wahyu turun kepada mereka, “ sahut Nabi. Sahabat-sahabatmu ya Rasul. “
Nabi pun menolak jawaban itu dengan berkata, “Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman, sedangkan mereka menyak-sikan apa yang mereka saksikan. “
Rasul yang mulia meneruskan kalimatnya, “Orang yang imannya paling menakjubkan adalah kaum yang datang sesudah kalian. Mereka beriman kepadaku, walaupun mereka tidak melihatku. Mereka benarkan aku tanpa pernah melihatku. Me-reka temukan tulisan dan beriman kepadaku. Mereka amalkan apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka bela aku seperti kalian membela aku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan ikhwanku itu!”
Kita bukanlah sahabat Nabi yang menyaksikan secara langsung betapa mulianya akhlak junjungan kita itu; kita juga bukan malaikat yang tidak memiliki hawa nafsu; kita juga bukan waliyullah yang telah merasakan manisnya kasih sayang Allah. Kita adalah manusia biasa yang penuh dengan kelemahan.
Dalam kelemahan itulah kita masih beriman kepada Allah. Dalam ketidakhebatan kita itulah kita selalu berusaha mendekati Allah. Di tengah kesibukan dan beban ekonomi yang semakin mening-kat, kita tetap mengeluarkan zakat dan sedekah. Tak sedikitpun kita akan gadaikan iman kita.
Di tengah dunia yang semakin kompetitif, kita masih sempatkan untuk shalat. Di tengah godaan duniawi yang luar biasa, kita tahan nafsu kita di bulan Ramadhan.
Di tengah kumpulan manusia yang putus asa dengan krisis moneter ini, kita masih bisa mensyukuri sejumput ni’mat yang diberikan Allah.
Nabi Muhammad menghibur kita, “Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku, “ Nabi ucapkan kalimat ini satu kali. “Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku. “ Nabi ucapkan kalimat terakhir ini tujuh kali.

(20)
KERUDUNG WANITA ( JILBAB )
PERINTAH ALLAH YANG SUDAH DILUPAKAN UMAT ISLAM

Ada satu peribahasa pendek, sederhana, tetapi dalam artinya, yang berbunyi sebagai berikut: "Tak Kenal Maka Tak Sayang" Sesuai dengan peribahasa diatas, ada satu perintah Allah yang penting yang hampir tak dikenal atau dianggap enteng oleh umat Islam, yaitu keharusan wanita memakai kerudung kepala.
Keharusan kaum wanita memakai kerudung kepala tertera dalam surat An Nur ayat 31 yang cukup panjang, yang penulis kutip satu baris saja, yang berbunyi sebagai berikut.: "Katakanlah kepada wanita yang beriman. Dan hendaklah mereka menu-tupkan kerudung kepalanya sampai kedadanya"... .
Dan seperti yang tercantum dalam surat Al Ahzab ayat 59 yang artinya sebagai berikut.: "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isteri anda, anak-anak perempuan anda dan isteri-isteri orang mu'min, supaya mereka menutup kepala dan badan mereka dengan jilbabnya supaya mereka dapat dikenal orang, maka tentulah mereka tidak diganggu (disakiti) oleh laki-laki yang jahat. Allah pengampun lagi pengasih".
Perintah Allah diatas adalah jelas dan tegas yang wajib hokum-nya bagi kaum wanita sebagaimana dinyatakan Allah pada pembu-kaan surat An Nur yaitu : "Inilah satu surah yang Kami turunkan kepada rasul dan Kami wajibkan menjalankan hukum-hukum syariat yang tersebut didalamnya. Dan Kami turunkan pula didalamnya keterangan-keterangan yang jelas, semoga anda dapat mengingatnya".
Dari bunyi ayat diatas jelaslah wanita yang tidak mema-kai kerudung telah melakukan dosa yang besar karena ingkar kepada hukum syariat Islam yang diwajibkan oleh Allah.
Perintah Allah diatas ditegaskan lagi oleh Nabi Muhammad SAW. dalam hadith beliau yang artinya: "Wahai Asma! Sesung-guhnya seorang perempuan apabila sudah cukup umur, tidak boleh dilihat seluruh anggota tubuhnya, kecuali ini dan ini, (sambil rasulullah menunjuk muka dan kedua tapak tangannya)".
Sekarang kalau kita keliling diseluruh Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei, sedikit sekali kaum wanita Islam yang mema-kai kerudung kepala, umumnya hanya anak-anak gadis pesantren. Jumlah kaum wanita yang memakai kerudung kepala bisa dihitung dengan jari, tidak ada artinya dari jumlah penduduk Islam yang lebih kurang 180 juta.
Kalau begitu gambarannya, banyak sekali kaum wanita yang masuk neraka, cocok sekali dengan bunyi hadith dibawah ini, yang artinya sebagai berikut. : "Saya berdiri dimuka pintu sorga, tiba-tiba umumnya yang masuk ke sorga orang-orang miskin, sedangkan orang yang kaya-kaya masih ter-tahan, hanya saja bahagian mereka telah diperintahkan masuk neraka, dan aku berdiri di pintu neraka maka kebanyakan yang masuk neraka wanita.
Banyak kaum wanita yang masuk neraka, semata-mata karena didalam hidupnya tak mau memakai kerudung kepala atau Jilbab, didalam neraka akan mendapat siksaan yang berat sekali sebagai mana diceritakan Nabi Muhammad dalam hadith beliau yang artinya sebagai berikut ; "Wanita yang akan di-gantung dengan rambutnya, sampai mendidih otak dikepalanya didalam neraka, ialah wanita-wanita yang memperlihatkan ram-butnya kepada laki-laki yang bukan muhrimnya" Hadith diatas adalah bahagian akhir dari hadith nabi Muhammad yang cukup panjang, yang menceritakan berbagai macam siksa neraka yang diperlihatkan Allah waktu beliau pergi mikraj. Waktu beliau menceritakan nasib kaum wanita yang berat siksanya didalam neraka karena tak mau memakai kerudung kepala atau jilbab didalam hidupnya, beliau meneteskan air mata.
Begitulah Nabi Muhammad SAW. menangisi nasib kaum wanita dari ummatnya nanti di akherat, tetapi sekarang kalau kaum wanita Islam disuruh memakai kerudung kepala, banyak alasannya ada yang mengatakan fanatika agama, sudah kuno tidak cocok dengan zaman, panas dan lain sebagainya. Sikap kaum wanita di zaman sekarang sungguh bertolak belakang dengan sikap kaum wanita di zaman dahulu diwaktu ayat keru-dung kepala itu turun, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW. berikut ini : "telah berkata Aisyah : Mudah-mudahan Allah memberi rahmat atas perempuan-perempuan Muhajirat yang dahulu. Diwaktu Allah menurunkan ayat kerudung itu, mereka koyak kain-kain berlukis mereka yang belum dijahit, lalu mereka jadikan kerudung".
Sikap wanita Islam di Medinah pada waktu turunnya ayat kerudung itu, betul-betul cocok dengan seorang pribadi ber-iman, sebagai yang digambarkan Allah didalam Al Qur'an, yaitu jika mereka mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, mereka lalu berkata :"Kami mendengar dan kami patuh".
Tetapi sekarang sikap sebagian wanita Islam, jika dibacakan ayat mengenai keharusan memakai Jilbab, mereka berkata :"Kami mendengar tetapi kami ingkar. " Kalau begitu sikap kaum wanita Islam terhadap ayat Jilbab ini, betul tidak cocok dengan pengakuannya kepada Allah didalam shalat yang berbunyi sebagai berikut:
"La syarikallahu wabidzalika ummirtu wa anna minal muslimin. " Yang artinya "Tiada syarikat bagi Anda dan aku mengaku seorang muslimah"
Seorang wanita yang mengaku dirinya seorang muslimah, yaitu tunduk dan patuh kepada seluruh perintah Allah, harus berpakaian muslimah didalam hidupnya, yaitu terdiri dari jilbab dan pakaian yang menutup seluruh anggota tubuhnya, berlengan panjang sampai pergelangan tangannya dan memakai rok yang menutup sampai mata kakinya. Kalau mereka tidak berpakaian seperti diatas, mereka bukan disebut wanita muslimah. Jadi pengakuannya didalam shalat yang berbunyi :"Aku mengaku seorang muslimah" adalah kosong, dusta kepada Allah.
Seseorang yang bersumpah palsu saja dimuka pengadilan berat hukumannya, apalagi seseorang yang berjanji palsu diha-dapan Allah, tentu berat hukumannya didalam neraka, yaitu sampai digantung dengan rambutnya hingga mendidih otaknya.
Kaum wanita menyangka bahwa tidak memakai jilbab adalah dosa kecil yang tertutup dengan pahala yang banyak dari shalat, puasa, zakat dan haji yang mereka lakukan. Ini adalah cara berpikir yang salah harus diluruskan. Kaum wanita yang tak memakai jilbab, tidak saja telah berdosa besar kepada Allah, tetapi telah hapus seluruh pahala amal ibadahnya sebagai bunyi surat Al Maidah ayat 5 baris terakhir yang artinya :"... Barang siapa yang mengingkari hukum-hukum syariat islam sesudah beriman, maka hapuslah pahala amalnya bahkan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.

(21)
PRIBADI WANITA SHOLEHAH
Shalehah Wanita Sebagai Ibu

Kemuliaan Ibu Dalam Islam
Dua rakaat shalat wanita yang hamil lebih baik dari 80 rakaat shalat wanita yang tidak hamil. Wanita yang hamil dapat pahala puasa disiang hari dan pahala ibadat dimalam hari. Wanita yang bersalin dapat pahala 70 tahun shalat dan puasa serta setiap kesakitan pada satu uratnya, Allah bagi satu pahala haji. Sekiranya wanita meninggal dunia dalam masa 40 hari selepas bersalin ia dikira sebagai mati syahid.
Wanita yang memberi minum susu badannya kepada anaknya akan dapat 1 pahala dari tiap titik susu yang diberi-kannya. Wanita yang memberi minum susu badannya kepada anaknya yang menangis maka Allah berikan pahala satu tahun pahala shalat dan puasa.
Kalau wanita menyusui anaknya hingga cukup tempoh 2,5 tahun maka malaikat dilangit khabarkan berita bahwa sorga wajib baginya.
Seorang ibu yang menghabiskan masa malamnya dengan tidur yang tidak selesai karena menjaga anaknya yang sakit mendapat pahala seperti membebaskan 20 orang ham-ba.
Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari karena men-jaga anaknya yang sakit akan di ampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan bila dia hiburkan hati anaknya Allah berikan 12 tahun pahala ibadat.
Kelebihan Wanita
Allah Yang Maha Bijaksana telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik kejadian. Dan Dia telah menjadikan ham-banya itu berpasang-pasangan. Lelaki dan wanita yang saling memerlukan. Sebahagiannya menjadi pembantu kepada sebaha-gian yang lain. Kemuliaan manusia hanyalah dalam agama sejauh mana mereka dapat mentaati perintah Allah dengan cara Nabi SAW. Allah telah mengurniakan kepada wanita dengan berbagai kelebihan.
Syarat untuk wanita masuk sorga begitu mudah. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi SAW. Bersabda: “Seorang wanita yang mengerjakan shalat 5 waktu, berpuasa wajib sebu-lan, memelihara kemaluannya serta taat kepada suaminya, maka pasti dia akan masuk sorga dari pintu mana saja yang dike-hendakinya. “ (HR Abu Nuaim)
Ab. Rahman bin Auf meriwayatkan bahwa Nabi SAW. Ber-sabda : “Seorang wanita sholehah lebih baik dari 1000 lelaki yang tak soleh. Dan seorang wanita yang melayani suaminya selama seminggu, maka ditutupkan baginya 7 pintu neraka dan dibuka 8 pintu sorga yang mana dia dapat masuk dari pintu mana saja tanpa hisab. “
Siti Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi SAW. Bersabda: “Tidaklah seorang wanita yang haidh kecuali haidhnya meru-pakan kifarah bagi dosa2nya yang telah lalu. Dan pada hari pertama haidhnya membaca “Alhamdulillahi ‘ala kulli hal wa astaghfirullaha min kulli zanbin” maka Allah menetapkan baginya bebas dari neraka, dengan mudah melalui sirat, aman dari siksa bahkan Allah mengangkat ke atasnya derajat 40 orang syuhada apabila dia selalu berdzikir kepada Allah selama haidhnya. “
Wanita yang mulia dalam pandangan Allah, Abu Hurairah meriwa-yatkan bahwa Nabi SAW. Bersabda: “Sebaik-baik wanita adalah apabila anda pandang dia maka dia meng-gembirakan, bila anda perintah dia taat, bila anda tiada dia men-jaga hartamu dan menjaga pula kehormatan dirinya. “
Ada sebuah riwayat bahwa pada zaman Nabi SAW. Ada seorang lelaki yang akan berangkat untuk berperang dijalan Allah. Dia berpesan kepada isterinya, “Wahai isteriku, janganlah sekali-kali anda meninggalkan rumah ini sehingga aku kembali.
“Secara kebetulan ayahnya menderita sakit, maka wanita tadi mengutus seorang lelaki menemui Rasulullah SAW. Ba-ginda bersabda kepada utusan itu, “Agar dia taati suaminya. “ Demikian pula wanita itu mengutus utusannya bukan hanya sekali sehingga akhirnya dia mentaati suaminya dan tidak berani keluar rumahnya.
Maka ayahnya meninggal dunia tetapi dia tetap tidak melihat mayat ayahnya. Dia tetap sabar sehingga suaminya pulang. Maka Allah memberi wahyu kepada Nabi yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah telah mengampuni wanita tersebut dise-babkan ketaatannya kepada suaminya. Dalam riwayat yang lain mengatakan bahwa Allah turut mengampuni dosa ayahnya dise-babkan ketaatan anaknya itu.
Inilah sebenarnya perkara yang menyebabkan wanita diredhai oleh Allah bukannya dalam persamaan hak yang seperti dituntut oleh penjahil agama. Sedangkan dalam peristiwa Israk Mikraj, Nabi telah melihat ke dalam sorga yang mana Allah masuk wanita ke dalam sorga 500 tahun lebih awal dari suami mereka dan bila melihat ke dalam neraka Nabi dapati 2/3 dari penghuninya adalah wanita. Oleh karena itu takutlah kita semua akan ALLAH… .
Kelebihan Wanita,
Abdullah bin Masud meriwayatkan bahwa Nabi SAW. Bersabda : “Apabila seorang wanita mencuci pakaian suaminya maka Allah mencatat baginya 1000 kebaikan, di ampunkan 2000 kesalahan bahkan segala sesuatu yang disinari matahari akan memohon ampun baginya dan Allah mengangkat 1000 derajat untuknya. “ Maulana Syed Ahmad Khan dalam bayannya menceritakan kelebihan yang dimiliki oleh wanita. Katanya: Seorang wanita yang solehah lebih baik dari seorang wali Allah.
Wanita yang menguli tepung dengan membaca Bismillah akan diberkati Allah rezekinya.
Wanita yang menyapu lantai dengan berdzikir dapat pahala seperti membersihkan Baitullah. Wanita yang sholehah lebih baik dari 70 orang lelaki yang soleh. Allah akan berkati rezeki apabila wanita memasak dengan dzikir. Seorang wanita yang menutup auratnya dengan purdah ditingkatkan oleh Allah nur wajahnya 13 kali dari wajah asal.
Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah yang Maha Indah di akhirat nanti, tetapi bagi Allah sendiri akan datang untuk berjumpa dengan wanita yang memberati auratnya, yaitu yang memakai purdah dengan istiqamah.
Pengorbanan seorang wanita amat dihargai oleh Allah dan rasulnya. Cuma kita kurang mengetahui kelebihan yang dikur-niakan kepada kita semua. Sehingga hari ini manusia Islam men-cari sesuatu selain dari agama karena merasa pengorbanan mere-ka tidak dihargai. Dan mereka turut meluangkan persamaan hak seperti di barat. Ini semua bukanlah salah mereka,… tetapi kitalah yang bersalah karena kita lupa bahwa kita ini umat yang dianugerahkan dengan tugas kenabian. Memberi harapan dan bimbingan kepada manusia…
Wanita Sholehah Sebagai Anak
Allah SWT telah berfirman yang maksudnya : “Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya engkau jangan beribadah selain kepada-Nya, dan hendaklah engkau berbuat baik kepada ibu-bapa mu. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah engkau mengata-kan kepada keduanya perkataan “ah” dan jangan engkau membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucap-kanlah : “Ya Rabbi, kasihanilah mereka kedua-duanya, sebagai-mana mereka berdua telah menyantuni aku waktu kecil. “ Al Isra’ 23-24.
Allah memerintahkan agar manusia berbakti kepada kedua ibu bapa mereka dan mentaati mereka. Bagi wanita ketaatan mereka sebelum mereka berkawin adalah kepada kedua ibu-bapa mereka dan selepas berkawin, kepada suami mereka. Menyakiti hati kedua mereka adalah merupakan dosa yang amat besar.
Ismail Ibnu Umayyah telah berkata : Seorang lelaki me-minta nasihat : “Wahai Rasulullah, berilah aku wasiat. “ Rasul menjawab “Janganlah engkau menyekutukan Allah dengan se-suatupun, sekalipun engkau dibakar atau dibelah dua. “
Ia berkata “Wahai Rasulullah, tambahkanlah.“ Rasulullah men-jawab, “Berbaktilah kepada kedua ibu-bapamu, jangan sekali-kali engkau meninggikan suara di hadapannya. Jika keduanya memerintahkan engkau untuk mengeluarkan hartamu, maka ke-luarkanlah bagi keduanya. Lelaki itu meminta kembali: “Wahai Rasulullah, tambah lagi selain itu.“ Rasu-lullah menjawab, “Ja-ngan engkau meminum khamar (arak), sebab khamar itu adalah kunci segala kejahatan.“ Lelaki itu meminta kembali, “Wahai Rasulullah, tambahkanlah untukku selain itu. “ Rasulullah SAW. Menjawab, “Didiklah keluargamu dan berilah mereka nafkah sesuai dengan kemampuanmu, dan janganlah engkau mengangkat tongkat (lisan)mu namun berbuatlah agar mereka takut kepada Allah. “ HR Imam Ibnu Majah.
Adab anak terhadap kedua ibu-bapanya :
Berbuat baik dan berlemah lembut terhadap mereka.
1. Mentaati perintah kedua mereka selagi tidak bertentangan dengan perintah Allah.
2. Melihat wajah mereka dengan kasih sayang merupakan ibadah.
3. Mendoakan mereka berdua dengan doa yang baik.
4. Menjaga hati mereka berdua dan menggembirakan mereka.
5. Menjalinkan silaturrahim dengan sahabat-sahabat mereka.
6. Menziarahi kubur ibu-bapa jika mereka telah meninggal dunia.
Wanita Yang Dimurkai Allah (perkara yang amat dibenci Allah pada seorang wanita)
Kepada wanita yang tidak menutup aurat Allah berfirman, “Hiduplah dengan apa yang kau suka.“ Allah melaknati wanita yang sengaja mendedahkan auratnya kepada lelaki yang bukan muhrim.
Perempuan yang memakai kain yang tipis dan jarang untuk menarik perhatian lelaki bukan muhrim atau memakai segala yang mendatangkan keghairahan kepada orang lain maka dia tidak akan mencium bau sorga.
Wanita yang jahat lebih buruk dari 1000 orang lelaki yang jahat.
Wanita yang dimurkai oleh Allah
Sebagaimana Allah suka dengan wanita yang sholehah, Allah juga sangat murka kepada beberapa jenis wanita. Oleh karena itu sangat perlu bagi kita mengetahui perkara yang boleh me-nyebabkan kebencian-Nya supaya kita terhindar dari kemur-kaan-Nya.
Kemurkaan Allah pada hari kiamat sangat dahsyat sehingga nabi-nabi pun sangat takut. Bahkan Nabi Ibrahim pun lupa bahwa dia mempunyai anak yang bernama Nabi Ismail karena ketakutan yang amat sangat. Abu Zar R.A meriwa-yatkan bahwa Nabi SAW. Bersab-da: “Seorang wanita yang berkata kepada suaminya, “semoga engkau mendapat kutukan Allah” maka dia dikutuk oleh Allah dari atas langit yang ke-7 dan mengutuk pula segala sesuatu yang dicipta oleh Allah kecuali 2 jenis makhluk yaitu manusia dan jin. “
Ab. Rahman bin Auf meriwayatkan bahwa Nabi SAW. Bersab-da : “Seorang yang membuat susah kepada suaminya dalam hal belan-ja atau membebani sesuatu yang suaminya tidak mampu maka Allah tidak akan menerima amalannya yang wajib dan sunnatnya. “
Abdullah bin Umar r.a meriwayatkan bahwa Nabi SAW. Bersabda: “Kalau seandainya apa yang ada dibumi ini meru-pakan emas dan perak serta dibawa oleh seorang wanita ke rumah suaminya. Kemudian pada suatu hari dia terlontar kata2 angkuh, “engkau ini siapa? Semua harta ini milikku dan engkau tidak punya harta apapun. “ Maka hapuslah semua amal kebaikannya walaupun banyak.
Nabi SAW. Adalah seorang yang sangat kasih pada um-matnya dan terlalu menginginkan keselamatan bagi kita dari azab Allah. Beliau menghadapi segala rupa penderitaan, kesa-kitan, keletihan dan tekanan. Begitu juga air mata dan darah ba-ginda telah mengalir semata-mata karena kasih-sayangnya terhadap kita. Maka lebih-lebih lagi kita sendirilah yang wajar berusaha untuk menyelamatkan diri kita, keluarga kita dan se-luruh ummat baginda. Sebagai penutup ikutilah kisah seterus-nya ini sebagai iktibar bagi kita.
Ali r.a. meriwayatkan sebagai berikut: “Saya bersama Fatimah berkunjung kerumah Rasulullah dan kami temui beliau sedang mena-ngis. Kami bertanya kepada beliau, “mengapa tuan menangis wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “pada malam aku di Isra’kan kelangit, daku melihat orang sedang mengalami berbagai penyiksaan, maka bila teringat akan mereka aku menangis. “ Saya bertanya lagi, “wahai Rasulullah apakah yang tuan lihat?”
Beliau bersabda: Wanita yang digantung dengan rambut-nya dan otak kepalanya mendidih. Wanita yang digantung dengan lidahnya serta tangannya dipaut dari punggungnya se-dangkan aspal yang mendidih dari neraka dituangkan ke kerong-kongnya.
Wanita yang digantung dengan buah dadanya dari balik punggungnya sedangkan air getah kayu zakum dituang ke kerongkongnya.
Wanita yang digantung, diikat kedua kaki dan tangannya ke arah ubun-ubun kepalanya serta dibelit dibawah kekuasaan ular dan kalajengking. Wanita yang memakan badannya sendiri serta dibawah-nya tampak api yang menyala-nyala dengan hebatnya.
Wanita yang memotong badannya sendiri dengan gunting dari neraka. Wanita yang bermuka hitam dan memakan ususnya sendiri. Wanita yang tuli, buta dan bisu dalam peti neraka, se-dang darahnya mengalir dari rongga badannya (hidung, telinga, mulut) dan badannya membusuk akibat penyakit kulit dan lepra.
Wanita yang berkepala seperti kepala babi dan keledai yang mendapat berjuta jenis siksaan. Maka berdirilah Fatimah seraya berkata, “Wahai ayahku, cahaya mata kesayanganku… cerita-kanlah kepadaku apakah amal perbuatan wanita2 itu.“
Rasulullah SAW. Bersabda, “Wahai Fatimah, adapun ten-tang : Wanita yang digantung dengan rambutnya karena dia tidak menjaga rambutnya (di jilbab) dikalangan lelaki.
Wanita yang digantung dengan lidahnya karena dia menya-kiti hati suaminya dengan kata Kemudian Nabi SAW. Bersabda: “Tidak seorang wanita yang menyakiti hati suaminya melalui kata-katanya kecuali Allah akan membuatnya mulutnya kelak dihari kiamat, selebar 70 zira’ kemudian akan mengikatnya dibelakang lehernya.
Adapun wanita yang digantung dengan buah dadanya karena dia menyusui anak orang lain tanpa izin suaminya. Adapun wanita yang diikat dengan kaki dan tangannya itu karena dia keluar rumah tanpa izin suaminya, tidak mandi wajib dari haidh dan nifas.
Adapun wanita yang memakan badannya sendiri karena suka bersolek untuk dilihat lelaki lain serta suka membicarakan keaiban orang. Adapun wanita yang memotong badannya sendiri dengan gunting dari neraka karena dia suka menonjolkan diri (ingin terkenal) dikalangan orang yang banyak dengan maksud supaya orang melihat perhiasannya dan setiap orang jatuh cinta padanya karena melihat per-hiasannya.
Adapun wanita yang diikat kedua kaki dan tangannya sampai ke ubun-ubunnya dan dibelit oleh ular dan kalajengking karena dia mampu mengerjakan shalat dan puasa. Tetapi dia tidak mau berwudhu dan tidak shalat serta tidak mau mandi wajib.
Adapun wanita yang kepalanya seperti kepala babi dan badannya seperti keledai, karena dia suka mengadu-domba (melaga-lagakan orang) serta berdusta.
Adapun wanita yang berbentuk seperti anjing karena dia ahli fitnah serta suka marah-marah pada suaminya.
Dan ada diantara isteri nabi-nabi yang mati dalam keadaan tidak beriman karena mempunyai sifat yang buruk. Walaupun mereka adalah isteri manusia yang terbaik dizaman itu. Diantara sifat buruk mereka : Isteri Nabi Nuh suka mengejek dan mengutuk suaminya.
Isteri nabi Lut suka bertandang ke rumah orang. Semoga Allah beri kita kekuatan untuk mengamalkan kebaikan dan me-ninggalkan keburukan. Kalau kita tidak berasa takut atau rasa perlu berubah, maka kita kena khuatir. Takut kita tergolong dalam mereka yang tidak diberi petunjuk oleh Allah. Nauzubillahi min zalik.

(22)
CIRI-CIRI WANITA SHOLEHAH

Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita untuk menerima gelar sholehah, dan seterusnya menerima pahala sorga yang penuh kenikmatan dari Allah SWT . Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat saja yaitu:
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami
Perincian dari dua syarat di atas adalah sebagai berikut:
1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah SWT ?
i) Mencintai Allah SWT dan Rasulullah SAW. melebihi dari segala-galanya.
ii) Wajib menutup aurat
iii) Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
iv) Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa ke-cuali ada bersamanya mahramnya.
v) Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebaji-kan dan taqwa
vi) Berbuat baik kepada ibu dan bapa
vii) Senantiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
viii) Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
ix) Bersikap baik terhadap tetangga
2. Taat kepada suami
i) Memelihara kewajiban terhadap suami
ii) Senantiasa menyenangkan suami
iii) Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah.
iv) Tidak cemberut di hadapan suami.
v) Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
vi) Tidak keluar tanpa izin suami.
vii) Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
viii) Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
ix) Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya.
x) Senantiasa memelihara diri, kebersihan fisik dan kecan-tikannya serta kebersihan rumahtangga.

(23)
FAKTOR YANG MERENDAHKAN
MARTABAT WANITA

Sebenarnya puncak rendahnya martabat wanita adalah datang dari factor dalam. Bukanlah factor luar atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita. Faktor-faktor tersebut ialah:
1. Lupa mengingat Allah
Karena terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka tidak heran jika banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya telah lalai dari mengingat Allah.
Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang paling berbahaya bagi diri mereka, di mana syetan akan mengarahkan hawa nafsu agar memainkan peranannya. Firman Allah SWT di dalam surah al-Jathiah, ayat 23: artinya: “Maka sudahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.”
Sabda Rasulullah SAW. : artinya: “Tidak sempurna iman sese-orang dari engkau, sehingga dia merasa cenderung kepada apa yang telah aku sampaikan. “ (Riwayat Tarmizi). Mengingati Allah SWT bukan saja dengan berdzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-majlis ilmu.
2. Mudah tertipu dengan keindahan dunia
Keindahan dunia dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya. Bukan itu saja, malahan syetan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik kaum lelaki agar sama-sama bergelimang dengan dosa dan noda. Tidak sedikit yang sanggup durhaka kepada Allah SWT hanya karena kenikmatan dunia yang terlalu sedikit.
Firman Allah SWT di dalam surah al-An’am: artinya:” Dan tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh karena itu tidakkah engkau berfikir. “
3. Mudah terpedaya dengan syahwat
4. Lemah iman
5. Bersikap suka menunjuk-nunjuk.
Ad-dunya mata’, khoirul mata’ al mar’atus sholihah Dunia adalah perhiasan, perhiasan dunia yang baik adalah Wanita sholihah.

(24)
ISTRI SHOLEHAH
YANG SENANTIASA BERSYUKUR

Saya ingin menyingkap kembali sejarah Nabi Ibrahim sewaktu baginda menziarahi menantunya. Pada waktu itu, puteranya, Nabi Ismail tidak di rumah sedangkan isterinya belum pernah bertemu bapak mertuanya, yaitu Nabi Ibrahim. Setelah sampai di rumah anaknya, terjadilah dialog antara Nabi Ibrahim dan menantunya.
Nabi Ibrahim : Siapakah engkau?
Menantu : Aku isteri Ismail.
Nabi Ibrahim : Di manakah suamimu, Ismail?
Menantu : Dia pergi berburu.
Nabi Ibrahim : Bagaimana keadaan hidupmu sekeluarga?
Menantu : Oh, kami semua dalam kesempitan dan (mengeluh) tidak pernah senang dan santai.
Nabi Ibrahim : Baiklah! Jika suamimu pulang, sampaikan salamku padanya. Katakan padanya, tukar tiang pintu rumahnya (sebagai kiasan supaya menceraikan istrinya).
Menantu : Ya, baiklah.
Setelah Nabi Ismail pulang dari berburu, isterinya terus menceritakan tentang orang tua yang telah singgah di rumah mereka.
Nabi Ismail : Adakah yang ditanya oleh orang tua itu?
Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.
Nabi Ismail : Apa jawabanmu?
Isteri : Aku ceritakan kita ini orang yang susah. Hidup kita ini selalu dalam kesempitan, tidak pernah senang.
Nabi Ismail : Adakah dia berpesan apa-apa?
Isteri : Ya ada. Dia berpesan supaya aku menyam-paikan salam kepadamu serta meminta engkau menukar tiang pintu rumahmu.
Nabi Ismail : Sebenarnya dia itu ayahku. Dia menyuruh kita berpisah. Sekarang kembalilah kau kepada keluargamu.
Ismail pun menceraikan isterinya yang suka menggerutu, tidak bertimbang rasa serta tidak bersyukur kepada takdir Allah SWT. Sanggup pula menceritakan rahasia rumah tangga kepada orang luar.
Tidak lama sesudah itu, Nabi Ismail kawin lagi. Setelah sekian lama, Nabi Ibrahim datang lagi ke Makkah dengan tujuan menziarahi anak dan menantunya. Terjadi lagi pertemuan antara mertua dan menantu yang saling tidak mengenali.
Nabi Ibrahim : Dimana suamimu?
Menantu : Dia tidak dirumah. Dia sedang berburu.
Nabi Ibrahim : Bagaimana keadaan hidupmu sekeluarga? Mudah-mudahan dalam kesenangan?
Menantu : Syukurlah kepada Tuhan, kami semua dalam keadaan sejahtera, tiada kekurangan.
Nabi Ibrahim : Baguslah kalau begitu.
Menantu : Silakan duduk sebentar. Boleh saya hidang-kan sedikit makanan.
Nabi Ibrahim : Apa pula yang ingin engkau hidangkan?
Menantu : Ada sedikit daging, tunggulah saya sediakan minuman dahulu.
Nabi Ibrahim : (Berdoa) Ya Allah! Ya Tuhanku! Berkatilah mereka dalam makan minum mereka.
(Berdasarkan peristiwa ini, Rasulullah beranggapan keadaan mewah negeri Makkah adalah berkat doa Nabi Ibrahim).
Nabi Ibrahim : Baiklah, nanti apabila suamimu pulang, sampaikan salamku kepadanya. Suruhlah dia menetapkan tiang pintu rumahnya (sebagai kiasan untuk melanggengkan isteri Nabi Ismail).
Setelah Nabi Ismail pulang dari berburu, seperti biasa dia bertanya sekiranya siapa yang datang mencarinya.
Nabi Ismail : Ada, siapa yang datang sewaktu aku tidak di rumah?
Isteri : Ya, ada. Seorang tua yang baik rupanya dan perwatakannya sepertimu.
Nabi Ismail : Apa katanya?
Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.
Nabi Ismail : Apa jawabanmu?
Isteri : Aku nyatakan kepadanya hidup kita dalam keadaan baik, tidak kekurangan apapun, Aku ajak juga dia makan dan minum.
Nabi Ismail : Adakah dia berpesan apa-apa?
Isteri : Ada, dia berkirim salam buatmu dan menyuruh engkau melanggengkan tiang pintu rumahmu.
Nabi Ismail : Oh, begitu. Sebenarnya dialah ayahku. Tiang pintu yang dimaksudkannya itu ialah dirimu yang dimintanya untuk aku langgengkan.
Isteri : Alhamdulillah, syukur.
Bagaimana pandangan pembaca tentang petikan sejarah ini? Saya rasa sejarah ini sungguh menyentuh jiwa. Anda juga tentu merasa dan mengalami sendiri ujian hidup berumahtangga yang senantiasa memerlukan kesabaran.
Berpandukan sejarah tersebut, saya tegaskan kepada diri sendiri bahwa isteri sholehah itu sepatutnya ? sabar di hati dan syukur pada wajah?. Dari sini akan terpancar ketenangan setiap kali suami berhadapan dengan isteri shalehah. Isteri shalehah tidak cerewet dan tidak mudah menggerutu. Isteri shalehah hendaklah senantiasa bersyukur dalam keadaan senang maupun susah supaya Allah tambahkan lagi rahmat-Nya seperti firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya jika engkau bersyukur, pasti Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu. Dan jika engkau mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih. “ (Surah Ibrahim, ayat 7)
Untuk menambahkan kegigihan kita berusaha menjadi isteri shalehah, ingatlah hadith Rasulullah yang artinya: “Sampaikanlah kepada siapa saja yang engkau temui dari kaum wanita, bahwasanya taat kepada suami serta mengakui haknya adalah menyamai pahala orang yang berjihad pada jalan Allah, tetapi sangat sedikit sekali golongan engkau yang dapat mela-kukan demikian. “ (Riwayat Al-Bazzar dan Ath-Thabrani)
Begitulah, untuk menyiapkan diri sebagai isteri shalehah, hati kita hendaklah senantiasa dipenuhi dengan kasih sayang rabbani. Contoh teladan yang sepatutnya jadi rujukan kita ialah sejarah kehidupan nabi serta orang shaleh.

(25)
EMPAT KURNIA ILAHI

Berkata Imam Abu Muhammad Abdullah bin Fadhal ; Barangsiapa yang dikurniakan dengan empat perkara, maka tidak terhalang baginya empat perkara :-
1. Barangsiapa yang dikaruniakan keinginan BERDOA maka tidak terhalang doanya DIKABULKAN.
2. Barangsiapa yang dikurniakan keinginan memohon AMPUN maka tidak terhalang baginya akan KEAMPUNAN.
3. Barangsiapa yang dikurniakan keinginan BERSYUKUR maka tidak terhalang baginya akan tambahan NIKMAT.
4. Barangsiapa yang dikurniakan keinginan BERTAUBAT maka tidak terhalang taubatnya dari DITERIMA.
Yakinlah... Allah Maha Pemurah Lagi Maha Mengasihani.
Imam Al-Ghazali telah menggolongkan ragam manusia kepada beberapa bagian yaitu :
1. Seseorang yang mengetahui dan mengerti bahwa dirinya itu mengetahui, itulah dia seorang yang alim. Maka ikutlah mereka.
2. Seseorang yang mengetahui tetapi tidak tahu dirinya itu tahu, itulah orang yang tidur. Maka bangunkanlah dia.
3. Seseorang yang tidak mengetahui dan mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui, itulah dia orang yang meminta petunjuk. Maka berikanlah dia petunjuk.
4. Seseorang yang tidak mengetahui dan tidak mengerti bahwa dirinya tidak mengetahui itulah dia orang yang bodoh.

(26)
TAQWA TEMPATNYA DI HATI

Seperti kata pepatah ‘rambut bisa sama hitam, hati bisa lain-lain’. Perangai dan sikap manusia juga berbeda. Ada yang hidup baik-baik, seperti suka bersedekah, menolong orang susah dan memberi nasehat kepada insan yang memerlukan. Ada juga yang berpura-pura alim, memakai kopiah, berkelakuan sopan dan bercakap lemah lembut di khayalak ramai, tetapi di lubuk hatinya, tersirat maksud tersendiri yang orang lain tidak tahu. Niat dan perbuatan tidak sama, seolah-olah ada udang di balik batu.
Walaupun orang lain tidak tahu, setiap mukmin harus insaf dan sadar bahwa Allah Maha Mengetahui setiap apa yang kita lakukan. Sebagai insan lemah, kita tidak lari dari bersikap taqwa sepanjang masa. Taqwa bertujuan memelihara diri dari azab Allah dengan mengerjakan apa yang diperintah dan meninggalkan apa yang dilarang.
Hadith Rasulullah: “Taqwa itu berpuncak disini (sambil baginda menepuk dadanya tiga kali).“ Jelaslah, apa yang dimaksudkan Rasulullah ialah taqwa itu tempatnya di lubuk hati, bukan di ujung lidah, sebab apa yang diucapkan oleh lidah belum tentu sama dengan apa yang bersemayam di hati.
Sabda baginda lagi: “ Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa engkau, akan tetapi Allah melihat kepada apa yang tersemat di dalam hati engkau. “Hadith ini bermaksud segala amal lahiriah manusia harus diliputi taqwa, bertempat di lubuk hati, seperti meninggikan syiar agama Allah, menyimpan perasaan takut kepada Allah, menjaga diri dari kemurkaan-Nya.
Rasulullah bersabda:” sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh itu. Jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh itu. Ketahuilah Ia adalah hati. “
Ulama sufi Hasan al-Basri ketika ditanya mengenai kebaikan budi pekerti, menerangkan: “Kebaikan budi pekerti ialah berwajah manis (tidak cemberut), bermurah hati dan berhenti menyakiti orang lain. “
Ulama Abu Bakar Muhammad bin Musa Al-Wasiti pula berkata: “kebaikan budi pekerti ialah seseorang itu tidak memusuhi siapapun dan tidak pula dimusuhi. “
Kata Syah bin Syujak Al-Karmani: “Kebaikan budi pekerti ialah berhenti menyakiti orang lain dan tabah menanggung kesusahan. “ sebagai isane bertaqwa, seseorang perlu baik pergaulannya, menyenangkan orang lain ketika senang atau susah.

(27)
MALAM SERIBU BULAN

Sungguh telah aku turunkan dia (Al Qur'an) dalam Lailatul Qodar. Tahukah engkau apa itu Lailatul Qodar. Lailatul Qodar itu lebih menjadi pilihan ketimbang seribu bulan. Para malaikat dan (Jibril yang menjadi Ruh), turun di malam itu atas izin Tuhan mereka (mengurai) segala (belitan) urusan. Mereka menyapa "salam" (selamat bagi semua, hamba Allah yang teguh). Malam seribu bulan itu (menebarkan berkahnya) sampai fajar menyingsingkan pijar.
Ketika datang Lailatul Qodar, Nabi sedang sujud. Bersamaan dengan datangnya, hujan turun dengan derasnya. Air hujan yang pelanpelan menggenangi tempat sujud Nabi, yang dengan lembut menyapu kulit muka beliau, sama sekali tak mengurangi keasyikan beliau menikmati prosesi malaikat yang dipimpin Jibril turun membelai dan menebar al qadar di muka bumi. Nabi yang tenggelam dalam keasyikannya.
Keasyikan berbeda yang tak ada seorang perawi pun mengisahkannya secara imajiner, dilukiskan seorang ulama sebagai yang tiada taranya. Terbukti dengan sujud Nabi yang sangat panjang, sangat lama dan tidak mempedulikan bagian gemercik air hujan yang makin lama membasahi pipi-mulia Nabi. Beliau sama sekali tidak bergeming. Tenggelam dalam keasyik-an mendalam mengikuti prosesi malaikat dalam tabuh merdu segala merdu. Dalam kidung kesela-matan membuluh perindu, yang didendangkan tak henti sampai fajar menyapa semesta. Malaikat pun menorehkan keindahan di mana-mana. Di hati pemburu Laialtul Qodar. Di hati kita. Wao! Betapa!
Kita telah melakukan ancang-ancang sejak awal Ramadhan dan nafsu selama dua puluh hari penuh telah kita latih menyabari amal yang paling membosankan sekalipun. Kita lakukan amal yang di luar Ramadhan tidak pernah kita kerjakan. Tarawih, tadarrus, dan sedekah.
Kita telah melatih hati dan nafsu kita untuk memiliki ketahanan dan daya tahan kuat demi pahala yang terhitung kelipatannya. Di antara kita bahkan ada yang sudah memulai I’tikaf sejak tanggal sebelas, lalu meneruskannya dengan lebih intens hingga Ramadhan berakhir. I'tikaf adalah bagian dari ibadah yang paling ringan. Hanya thenguk-thenguk, duduk diam di masjid, tanpa bacaan, tanpa mengge-rakkan anggota badan, bahkan terkantuk-kantuk, namun punya nilai dan berpahala.
Nabi menganjurkan kepada kita menangguk datangnya Lailatul Qodar dengan ber i'tikaf itu, dengan ibadah paling ringan itu. Agar semua kita bisa melaksanakan dan memperoleh keunggulan malam seribu bulan yang dahsyat itu, yang setiap mukmin pasti mendam-bakannya itu. Allah menggambarkan, Lailatul Qodar (seharusnya) menjadi pilihan ketimbang seribu bulan. Artinya, dia sangat diikh-tiarkan sungguh-sungguh oleh setiap shaim. Dan itu tidaklah terlalu berat. Dia berada dalam satu malam pada lima malam (saja) yang dijanjikan pasti datang, yaitu pada malam-malam tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan.
Begitu menurut Nabi. Di antara kita (dari sekian Muslim yang berpuasa) telah memanjakan nafsu dan keinginan untuk lebih suka bersantai sebelum malam-malam itu menjelang. Tidur dan merenung. Setelah malam-malam itu lewat, kita berbuat sesuka nafsu keinginan kita. Sepanjang tahun. Allah dan Nabi menginginkan agar orang-orang beriman dapat menikmati pemandangan sangat indah, prosesi malaikat yang dipimpin Jibril turun ke bumi dengan gebyar warna-warni indah pelangi yang serasi. Sambil menebar janji pahala tak terhingga kelipatannya, hanya satu malam saja ditangguk oleh shaim yang berlega hati "thaharri berupaya bersungguh-sungguh "menemukannya". Sungguh.
Kita semua percaya itu, karena kita mukmin yang beriman pada yang ghaib. Prosesi malaikat Laialatul Qodar itu ghaib dan hanya bisa disaksikan dengan mata hati yang tajam, bening, dan bersih dari "roin" (cemar duniawi yang menyaput nurani karena perbuatan tak bermutu yang dilakukan sehari-hari). Selama dua puluh hari kita telah mengelap gemerlap hari kita, member-sihkannya dari "roin" sehingga manakala kita berlega hati mene-guhkan konsentrasi penuh mencegat iring-iringan prosesi malai-kat dan Ruh di malam al-qadar itu, dengan mata hati kita yang telah bening, niscaya kita akan dapat menyaksikan keindahan tiada tara itu. Keindahan malam seribu bulan.
Mudah-mudahan di malam itu kita sempat menggu-mamkan doa "Rabbana Inna Ka 'Afuwun Karim, Tuhibbul 'afwa fa'fu anna". "Duh Gusti, Paduka Maha Pengampun lagi Maha Pemurah, Paduka menyukai pengampunan, ampunkan dosa kami." Kembalikan Gusti, perekat kebangsaan kami, perekat keindonesiaan kami. Amin.

(28)
SEJARAH RAMADHAN

1) Ramadhan: artinya panas terik
2) Bulan diturunkan Al-Quran dan disebut (syahru rama-dhana)
3) Terjadinya perang Badar Kubra dan mendapat kemenangan.
4) Bulan dimana nabi mengambil alih Mekah dari tangan Musyrikin dan berakhirnya penyembahan berhala.
5) Didalamnya dipilih ada malam al-qadar yakni lebih baik daripada 1000 bulan.
6) Dipilih untuk ibadat puasa.
7) Dipilih untuk ibadat-ibadah lain (tadarus Al Quran)

KELEBIHAN BULAN RAMADHAN
1) Engkau akan di naungi Ramadhan. (bagi yang telah meninggal dunia terlepas dr siksa kubur)
2) Bulan penuh keberatan
3) Di malamnya ada lebih baik daripada 1000 bulan
4) Amal sunat sama dengan shalat fardhu
5) Manakala shalat fardhu mendapat 70 kali lipat ganda
6) Bulan sabar dan pahalanya adalah sorga
7) Bulan menambah rezeki
8) Memberi buka puasa banyak pahala
9) Bulan ampunan – doa yang paling makbul iaitu doa sebe-lum berbuka puasa. – juga doa pada sepertiga malam.
10) 10 hari pertama adalah mulanya rahmat, 10 hari perte-ngahan – pengampunan, 10 hari terakhir – kemerdekaan api neraka.


AMALAN-AMALAN DI BULAN RAMADHAN
1) Mengucapkan Selamat Menyambut Bulan Ramadhan
2) Menyiapkan pakaian untuk Ramadhan [untuk shalat]
3) Niat puasa sebulan pada permulaan Ramadhan [dikawa-tirkan ada hari yang terlewat tanpa niat]
4) Hendak tidur bacalah 4 ayat terakhir Surah Al Kahfi supaya dapat bangun malam
5) Berazam melakukan Terawih
6) Bertadarus secara bersemak (bukan sendirian)
7) Shalat berjemaah setiap waktu
8) Shalat jemaah di masjid/surau
9) Amalkan Qiyamulail walaupun pendek
10) Sahur diwaktu akhir
11) Sahur untuk mengelakkan pada siang tidak terlalu payah, elakkan makanan pedas dan tutup sahur dengan air susu
12) Mandi Janabat sebelum Imsak
13) Kurangi tidur
14) Tunaikan Shalat sunat fajar (Shalat Sunat Subuh)
15) Tunaikan Shalat Dhuha
16) Tidur waktu luang (satu jam sebelum Zohor)
17) Tunaikan shalat Rawatib
18) Jaga pancaindera
19) Elakkan gosok gigi pada waktu petang
20) Hadiri majlis ilmu
21) Berbuat baik pada ibu-bapa
22) Isteri hendaklah taat pada suami
23) Banyakkan bersedekah
24) Berbuka dengan 3 biji kurma dan air yang belum dipanas-kan oleh api
25) Berbuka bersama orang tua
26) Undang tamu berbuka
27) Kurangi berat badan
28) Banyakkan i’tikaf di masjid (lelaki saja)
29) Perbaiki hubungan suami isteri
30) Perbaiki hubungan dengan tetangga
31) Isteri jauhi dari keluar memakai make up dan perhiasan
32) Elakkan berbelanja berlebihan
33) Kuatkan kesabaran
34) Banyakkan selawat, istighfar, bertasbih
35) Berazam beramal (pada malam Lailatul Qadar)
36) Membangunkan anak dan isteri di malam Lailatul Qadar
37) Elakkan menonton TV yang mengandung nafsu
38) Elakkan mendengar radio berunsur hiburan
39) Berdoa dengan nada lembut dan khusu’
40) Jauhkan bercumbu dengan suami/isteri siang hari
41) Mendoakan ibu-bapa baik yang hidup atau yang meninggal dunia
42) Melazimkan shalat tepat waktu
43) Elakkan sebelum berbuka berjalan jalan yang menjadikan pandangan liar
44) Elakkan banyak berhutang
45) Melepaskan perasaan sedih melepaskan Ramadhan ditakuti tidak bertemu lagi dengan Ramadhan akan ngina
46) Tunaikan zakat fitrah
CARA BERAMAL DI MALAM LAILATUL QADAR (Mlm 21-30):
1) Kepada Orang Tua Lemah
Cara beramal shalat Maghrib, Isyak dan Tarawih berjemaah di masjid/surau, ini sudah dikira beramal Al Qadar
2) Orang yang tidak sanggup shalat malam yang panjang
- Baca ayat akhir surah Al Baqarah
- Baca ayat Kursi
- Baca surah Yaasin
- Baca surah Al Zalazah
- Baca surah Al Qafirun
- Baca surah Al Ikhlas
3) Bagi orang yang kuat dan cergas
- Bangunkan isteri dan anak
- Mandi
- Shalat malam – Tahajjud, Taubat, Tasbih, Hajat, Istikha-rah, dan baca Al-Quran
NUZUL Al QURAN ( 17 Ramadhan ):
- Tanggal turunnya Al Quran
- Beramallah di malamnya dengan shalat malam dan amal2 yang baik
CARA MENYAMBUT HARI RAYA
- Jangan sekali-kali di sambut dengan hiburan, mercon, pesta lampu dan berbagai kemungkaran dan kemaksiatan
- Pada petang akhir Ramadhan orang-orang yang meninggal mena-ngis karena peluang untuk berehat telah berakhir. Adalah dianjur-kan keluarga menziarahi kubur pada petang akhir Ramadhan atau jika kuburnya jauh, hendaklah
Dibaca doa Tahlil selepas shalat Asar. Semoga mereka diampuni.
- Ibnu Abbas r.a pernah mengatakan bahwa roh orang yang me-ninggal dunia dibenarkan pulang ke rumah anak-anaknya dan ber-diri di pintu rumah memohon belas kasihan dari anak-anak mengi-rimkan bacaan doa, sekurang-kurangnya Al Fatihah sekali untuk mereka
- Oleh karena itu janganlah terlalu gembira dan ingatlah orang-orang tua yang sudah meninggal, semoga nanti sam-pai giliran kita maka anak-anak akan ingat kepada kita.
TAKBIR DI MALAM HARI RAYA
Takbir sebenarnya mempunyai cerita. Menurut riwayat, bermu-la dari peperangan Ahzab. Peperangan terjadi di musim dingin, kemudian Salman Al Farisi menganjurkan supaya di gali parit (Khandak) di akhirnya peperangan ini diberi pertolongan oleh Allah dan kemudian direkamkan di dalam Takbir.
Kesimpulannya, Bulan Ramadhan datang setahun sekali dan ia sebaik-baik bulan, penuh keberkatan, pengajaran, men-didik mempunyai ketahanan dan penuh dengan amalan-amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan hubungan sesama manusia. Oleh karena itu bersiap sedialah dari awal supaya benar-benar mengubah sikap yang baik dan seterusnya menjadi insan yang sholeh /sholehah. Semoga dipertemukan di Ramadhan yang akan datang.
Do’a untuk menghilangkan panas badan/masuk angin, maklumlah waktu lapar memang mudah masuk angina.. Rujuk pada Surah Al-Anbiyak ayat ke 69. Sebelum minum baca doa dan tiupkan pada air (untuk diri sendiri, anak, istri, suami dll). Insyaallah, coba amalkan.

(29)
DIALOG ABU DZAR
DENGAN ROSULULLAH SAW.

1. Abu Dzar bertanya, “Ya Rasulullah, engkau memerin-tahkan aku bersholat?”
Rasulullah menjawab: “Sholat adalah sebaik-baik per-buatan, maka perbanyakkanlah atau sedikit. “
2. Aku tanya, “Amal apakah yang paling afdhal?”
Beliau jawab: ”Beriman kepada Allah dan berjihad fi sabiilillah
3. Aku tanya, “Mu’min yang bagaimanakah yang paling afdhal?”
Beliau jawab: “ialah yang terbaik akhlaknya. “
4. Tanya, “Muslim yang bagaimanakah yang paling selamat?”
Jawab: “ialah yang menyelamatkan orang-orang dari gangguan lidahnya dan tangannya.”
5. Tanya, “Hijrah yang bagaimanakah yang afdhal, ya Rasu-lullah?”
Jawab: “ialah hijrah dari (meninggalkan) perbuatan maksiat. “
6. Tanya, “Sholat yang bagaimanakah yang afdhal, ya Ra-sulullah?”
Jawab: ”Berkhusyu’ yang panjang (lama berdiri). “
7. Tanya, “Hamba-hamba sahaya manakah yang paling afdhal untuk dimerdekakan?”
Jawab: ”Hamba yang paling mahal harganya dan yang paling disayang oleh pemiliknya. “
8. Tanya, “Sedekah yang bagaimanakah yang paling afdhal, ya Rasulullah?”
Jawab: ”Pemberian dari orang yang masih kekurangan (tidak kaya) dan pemberian secara rahasia kepada fakir miskin. “
9. Tanya, “Ayat apakah di antara ayat-ayat yang diturunkan kepadamu yang paling besar?”
Jawab: ”Ayat Kursi, dan tujuh langit itu jika dibandingkan dengan Kursi, adalah seperti sebuah cincin (atau lingkaran besi) yang berada di tengah-tengah padang pasir, dan perbandingan Arasy terhadap Kursi adalah perbandingan padang pasir itu terhadap cincin tadi. “
10. Tanya, “Berapakah bilangan Nabi-Nabi, ya Rasulullah?”
Jawab:”Seratus dua puluh empat ribu. “ (124,000)
11. Tanya, “Berapakah yang menjadi Rasul di antara mereka, ya Rasulullah?”
Jawab:”Sebanyak tiga ratus tiga belas. “ (313)
12. Tanya, “Siapakah yang pertama, ya Rasulullah?”
Jawab: ”Adam. “
13. Tanya, “Apakah dia seorang Nabi yang diutus ?”
Jawab: ”Benar, dia diciptakan oleh Allah dengan tangan-NYA, ditiupkan ruh ke dalam tubuhnya yang disempur-nakan. “
Dan selanjutnya Rasulullah bersabda : Hai Abu Dzar, empat dari mereka adalah dari golongan Siryaniun, yaitu Adam, Syith, Nuh, dan Idris, yaitu Nabi pertama yang dapat menulis dengan pensil. Dan empat Nabi dari keturunan Arab, yaitu Hud, Syuaib, Saleh, dan Nabimu, hai Abu Dzarr. “
14. Abu Dzarr bertanya, “Berapa kitab yang telah diturunkan Allah, ya Rasulullah?”
Beliau menjawab: ”Seratus empat kitab (104). Kepada Syith telah diturunkan lima puluh halaman, Idris tiga puluh halaman, Ibrahim sepuluh halaman, Musa sebelum
Taurat ada sepuluh halaman, disamping kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an.”
15. Tanya, “Ya Rasulullah, apakah isi lembaran yang diturunkan kepada Ibrahim?”
Jawab: ”Isinya ialah: Hai Raja yang berkuasa, dipuji dan sombong, sesungguhnya AKU tidak mengutusmu untuk mengumpulkan dunia, melonggokkan sebagian di atas sebagian, akan te-tapi AKU mengutusmu untuk menerima doanya orang yang teraniaya agar tidak sampai kepada-KU, karena AKU tidak akan mengembalikannya walaupun ia datang dari seorang yang kafir.
Seorang yang bijaksana akan membagi waktunya menjadi bebe-rapa waktu untuk bermunajat kepada Tuhannya, beberapa waktu untuk bertanya pada dirinya sendiri (muhasabah), beberapa waktu untuk merenungkan ciptaan Allah, dan beberapa waktu lagi untuk mengurus keperluan makan dan minumnya.
Seorang yang bijaksana tidak akan meributkan (menyi-bukkan) diri melainkan untuk tiga Tujuan: mencari bekal untuk hari kemudian (Akhirat), mencari nafkah hidup, dan mencari rizqi yang halal.
Seorang yang bijaksana hendaklah mengenal zamannya, tekun mengurus urusannya, dan menjaga lidahnya. Barang-siapa yang menyesuaikan bicaranya dengan perbuatan, maka akan jarang berbicara melainkan dalam hal-hal yang mengenai dirinya. “
16. Tanya, “Apakah isi lembaran-lembaran yang diturunkan kepada Musa, ya Rasulullah?”
Jawab: “Isinya adalah semua peringatan dan ibarat; aku heran dari orang yang yakin akan mati bagaimana ia dapat bersuka-ria, aku heran dari orang yang yakin dengan adanya takdir bagaimana ia membanting tulang be-
kerja, aku heran dari orang yang melihat keadaan dunia yang selalu berubah bagaimana ia dapat tenang memper-cayainya dan aku heran dari orang yang yakin adanya hari hisab besok, bagaimana ia enggan beramal. “
17. Tanya, “Ya Rasulullah, apakah ada yang sampai kepada kita sesuatu yang dulu ada di tangan Ibrahim dan Musa, dan apakah yang diturunkan Allah kepadamu?”
Jawab: ”Ada, cobalah baca hai Abu Dzarr, ‘Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman) dan ia ingat akan nama Tuhannya, lalu ia bersholat. Tetapi engkau (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. “Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa. “
18. Abu Dzarr bertanya, “Apakah wasiatmu kepadaku, ya Rasulullah?”
Ar-Rasul SAW. Menjawab: ”Hendaklah engkau bertaqwa kepa-da Allah, karena itu (taqwa) adalah pokok segala urusanmu. “
19. Abu Dzarr bertanya lagi, “Apa lagi ya Rasulullah?”
Rasulullah SAW. Menjawab: ”Bacalah Al-Qur’an dan berdzi-kirlah kepada Allah, karena itu akan menjadi dzikir buatmu di langit dan cahaya bagimu di dunia. “
20. Tanya, “Apa lagi, ya Rasulullah?”
Jawab: ”Hindarilah banyak ketawa, karena itu mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah. “
21. Tanya, “Apa lagi, ya Rasulullah?”
Jawab: ”Laksanakanlah kewajiban berjihad, karena itu meru-pakan kerahiban perjuangan bagi umatku. “
22. Tanya, “Apa lagi, ya Rasulullah?”
Jawab: ”Hendaklah engkau selalu diam (tidak bercakap) melainkan untuk kebaikan, karena itu dapat mengusir syaitan dan da-pat menolongmu dalam urusan agamamu.”
23. Tanya, “Apa lagi, ya Rasulullah?”
Jawab: ”Lihatlah kepada orang yang di bawahmu dan janganlah melihat orang yang berada di atasmu, agar engkau tidak memandang rendah akan nikmat yang Allah berikan kepadamu.“
24. Abu Dzarr bertanya, “Apa lagi, ya Rasulullah?”
Jawab: ”Cintailah orang-orang fakir miskin dan duduklah bersama-sama mereka, agar engkau tidak memandang rendah dan kecil nikmat Allah kepadamu. “
25. Bertanya Abu Dzarr, “Apa lagi, ya Rasulullah?”
Rasulullah SAW. Menjawab: ”Hubungilah kerabatmu, wa-laupun mereka memutuskan hubungannya denganmu.”
26. Tanya Abu Dzarr, “Apa lagi ya Rasulullah?”
Jawab Rasululllah: ”Katakanlah apa yang haq (yang benar) walaupun itu merupakan hal yang pahit. “
27. Tanya, “Apa lagi ya Rasulullah?”
Jawab: ”Janganlah engkau takut dicerca orang karena membela agama Allah. “
28. Tanya, “Apa lagi ya Rasulullah?”
Jawab: ”Apa yang engkau ketahui tentang dirimu akan mencegahmu mencampuri urusan orang lain dan janganlah engkau sesalkan bahwa orang tidak melakukan apa yang engkau sukai. Dan cukup sebagai aib bahwa engkau mengetahui ten-tang orang lain apa yang engkau tidak mengetahui tentang dirimu sendiri. “
Kemudian Rasulullah SAW. Memukul dadaku dengan tangannya seraya bersabda: “Tiada akal seperti kebijaksanaan, tiada wara’ seperti memahami diri dan tiada kebanggaan seperti akhlak yang baik.“


(30)
WUDHU’
Banyak diantara kita yang kurang sadar akan hakekat bahwa setiap yang dituntut dalam Islam mempunyai hikmah tersendiri.
1. Ketika berkumur, berniatlah engkau dengan, “Ya Allah, ampunilah dosa mulut dan lidahku ini”.
Komentar : Terkadang kita banyak bercakap akan hal hal yang tidak berguna / berfaedah.
2. Ketika membasuh muka, berniatlah engkau dengan, “Ya Allah, putihkanlah mukaku di akhirat kelak, Janganlah Kau hitamkan mukaku ini”.
Komentar : Ahli sorga mukanya putih berseri-seri.
3. Ketika membasuh tangan kanan, berniatlah engkau dengan, “Ya Allah, berikanlah hisab-hisabku di tangan kananku ini.”
Komentar : Ahli sorga diberikan hisab-hisabnya di tangan kanan.
4. Ketika membasuh tangan kiri, berniatlah engkau dengan, “Ya Allah, janganlah Kau berikan hisab-hisabku di tangan kiriku ini”.
Komentar: Ahli neraka diberikan hisab-hisabnya di tangan kiri.
5. Ketika membasuh kepala, berniatlah engkau dengan, “Ya Allah, lindungilah aku dari terik matahari di padang Mahsyar dengan Arasy Mu”
Komentar: Panas di Padang Mahsyar dikisahkan matahari hanya sejengkal diatas kepala.
6. Ketika membasuh telinga, berniatlah engkau dengan, “Ya Allah, ampunilah dosa telingaku ini”
Komentar : Terkadang kita sering mendengar hal-hal yang buruk diantaranya mendengar orang mengumpat, mem-fitnah, lagu-lagu bernuansa maksiat
7. Ketika membasuh kaki kanan, berniatlah engkau dengan. “Ya Allah, permudahkanlah aku melintasi titian Siratul Mustaqqim”.
Komentar: Ahli sorga melintasi titian dengan mudah sekali
8. Ketika membasuh kaki kiri, berniatlah engkau dengan, “Ya Allah, bawalah kaki kiriku pergi ke masjid-masjid, surau-surau dan bukan tempat-tempat maksiat”
Komentar : Qada’ dan Qadar kita di tangan Allah.
Pernahkah kita terfikir mengapa kita mengambil wudhu sedemikian rupa?
Pernahkah kita terfikir segala hikmah yang kita peroleh dalam menghayati Islam?
Pernahkah kita terfikir mengapa Allah lahirkan kita sebagai umat Islam?
Bersyukurlah dan bertaubatlah setiap saat.

(31)
MEMAAFKAN,
ATAU MEMBALAS SECUKUPNYA

Suatu hari ‘Aisyah yang tengah duduk santai bersama suaminya, Rasulullah SAW., dikagetkan oleh kedatangan seorang Yahudi yang minta izin masuk ke rumahnya dengan ucapan assamu’alaikum (kecelakaan bagimu) sebagai ganti ucapan assalamu’alaikum kepada Rasulullah.
Tak lama kemudian datang lagi Yahudi yang lain dengan perbuatan yang sama. Ia masuk dan mengucapkan assamu- ‘alaikum. Jelas sekali bahwa mereka datang dengan sengaja untuk mengganggu ketenangan Rasulullah.
Menyaksikan polah tingkah mereka ‘Aisyah gemas dan berteriak: Kalianlah yang celaka!. Rasulullah tidak menyukai reaksi keras istrinya. Beliau menegur, “Hai ‘Aisyah, jangan kau ucapkan sesuatu yang keji. Seandainya Allah menampakkan gambaran yang keji secara nyata, niscaya dia akan berbentuk sesuatu yang paling buruk dan jahat. Berlemah lembut atas semua yang telah terjadi akan menghias dan memperindah perbuatan itu, dan atas segala sesuatu yang bakal terjadi akan menanamkan keindahannya. Kenapa engkau harus marah dan berang?”
“Ya Rasulullah, apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka ucapkan secara keji sebagai pengganti dari ucapan salam?”
“Ya, aku telah mendengarnya. Aku pun telah menjawabnya wa’alaikum (juga atas kalian), dan itu sudah cukup.”
Manusia agung, Muhammad SAW. Ini lagi-lagi memberi-kan pelajaran yang sangat berharga kepada istrinya, yang tentu saja berlaku pula bagi segenap kaum muslimin. Betapa beliau telah menunjukkan suatu kepribadian yang amat matang dan sangat dewasa dalam menghadapi berbagai keadaan.
Begitu kokoh pertahanan dirinya, sehingga tidak mudah terpancing amarahnya. Suatu pengendalian emosi yang luar biasa. Sebagai istri, ‘Aisyah tentu tidak rela manakala suami tercintanya menerima ucapan keji dan busuk sebagaimana yang diucapkan oleh orang Yahudi. Darahnya segera mendidih, dan tanpa kendali keluarlah dari kedua bibirnya kata-kata keji pula sebagai balasan atas mereka.
Apa yang dikatakan oleh ‘Aisyah sebenarnya dalam batas kewajaran. Ia tidak berlebihan dalam mengumpat dan mengata-katai mereka. Ia hanya membalas secara setimpal apa yang mereka ucapkan. Akan tetapi Rasulullah belum berkenan terhadap ucapan istrinya. Beliau ingin agar ‘Aisyah mengganti ucapannya dengan satu kata yang lugas tapi tetap sopan. Rasulullah berkata, “Wa ‘alaikum, itu sudah cukup.” Urusan salam ini nampaknya sederhana, tapi dalam Islam mendapatkan porsi perhatian yang cukup besar. Salam merupakan pembuka kata dalam setiap perjumpaan, baik perjumpaan di udara maupun di darat (tatap muka). Salam bahkan menunjukkan kepribadian seseorang.
Orang yang secara tiba-tiba berkata-kata tanpa didahului oleh salam bisa dianggap kurang etis atau tidak sopan. Apa-lagi jika akan memasuki rumah orang. Bahkan nada suara, ekspresi wajah dan gaya penampilan ketika mengucapkan sa-lam menjadi perhatian yang sangat besar. Lebih dari itu, orang bisa langsung mengetahui identitas agama seseorang dari salamnya. Jika ada penyiar televisi atau nara sumber yang di-wawancarai mengu-capkan assalaamu’alaikum, segera kita ketahui bahwa orang tersebut beragama Islam. Demikian juga bila menggunakan salam yang lain.
Masalahnya kemudian, bagaimana jika assalamu ‘alai-kum sudah menjadi tradisi nasional, sehingga warga non-muslim juga mengucapkan hal yang sama? Banyak di antara kita yang gelagapan menerima ucapan assalamu’alaikum dari kawan atau kenalan yang nyata-nyata bukan muslim. Ada yang menjawab dengan wa ‘alaikum salam, tapi ada yang justru tidak menjawab sama sekali.
Urusan salam ternyata telah diajarkan oleh Islam sangat rinci. Termasuk jika kita mendapatkan ucapan assalamu’ alikum dari orang non-muslim. Dalam hal ini kita cukup menjawab mereka dengan ucapan: wa ‘alikum. Kenapa demikian?
Ada dua alas an: Yang pertama, menjaga hubungan baik dan kesopanan. Dengan ucapan wa ‘alaikum mereka merasa mendapatkan respon baik dari kita. Mereka tidak merasa diacuhkan. Sebaliknya mereka merasa dihormati dan diterima.
Alasan kedua, dengan hanya menjawab wa ‘alaikum, maka berarti kita tidak mendoakan kepada mereka. Sebab doa seorang muslim kepada non-muslim tidak diterima. Kecuali mendoakan agar mereka mengikuti jalan kebenaran, yaitu Islam. Dengan Islam mudah-mudahan mereka selamat di dunia dan di akhirat.
Nabi Ibrahim adalah seorang anak yang sangat mencintai dan menghormati ayahnya. Itulah sebabnya ia berdoa agar Allah menyelamatkan bapaknya.
Akan tetapi perbuatan Ibrahim itu mendapat teguran dari Allah, karena bapaknya masih musyrik, menyembah berhala.
Demikian juga Nabi Muhammad SAW. Beliau sangat mencintai Abu Thalib, pamannya. Lewat perlindungan paman-nya inilah jiwanya selamat dan misinya berhasil. Tapi karena sampai akhir hayatnya Abu Thalib belum juga menyatakan beriman kepada Allah, maka Muhammad SAW. terhalang mendoakannya.
Inilah adat kesopanan yang diajarkan Islam. Kepada orang yang tidak seagama, kita tetap harus berbuat baik. Apalagi jika orang tersebut telah berjasa kepada kita. Kepada orang tua yang non-muslim misalnya, kita harus berbuat baik. Termasuk jika mereka memerintahkan berbuat maksiat, kita harus tetap berbuat baik kepada mereka, walaupun perin-tahnya tidak boleh kita jalankan. Demikian juga kepada orang yang jelas-jelas menunjukkan permusuhannya, kita tidak boleh terpancing berbuat keji dan kotor. Sebisa mungkin kita me-ngendalikan diri.
Jika kita berniat membalasnya, maka balasan itu hendaknya setimpal, tidak boleh berlebihan. Pilihlah kata-kata yang tegas, lugas, tapi tetap sopan.
Dalam ajaran Islam, membalas itu tidak terlarang, akan tetapi memaafkan lebih baik. Jika benar-benar kita ingin mem-balas, balasan itu hendaknya tidak lebih dari yang ia terima. Berlebih-lebihan dalam pembalasan merupakan tindak kedza-liman. Allah berfirman:
“Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishash. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang engkau, maka seranglah ia seimbang dengan serangan terhadapmu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahui-lah, bahwa Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (QS al-Baqarah: 194)
Tidak seperti agama lain yang mengajarkan bahwa bila pipi kananmu dipukul berikan pipi kirimu. Bila jubahmu diminta berikan bajumu.
Ajaran ini justru tidak manusiawi, sebab sangat mem-beratkan mereka yang didzalimi. Islam mengajarkan agar sese-orang bisa memberi balasan setimpal dengan apa yang telah diterimanya. Meskipun demikian, memaafkan jauh lebih baik.
Seperti dalam kasus ‘Aisyah di atas, jelas bahwa ‘Aisyah sangat bisa membalas ucapan keji orang Yahudi. Apalagi saat itu Rasulullah bukan saja sebagai pemimpin ruhani, tapi sekaligus merupakan kepala Negara yang berkuasa. Apa susahnya mem-balas orang yang menghinanya, sedang menjebloskan mereka ke tahanan saja merupakan haknya. Tapi Rasulullah sebagai manu-sia agung memilih untuk memberi balasan yang secukupnya.
Keperkasaan seseorang tidak bisa diukur dari kekuatan fisiknya. Orang yang jantan, bukan mereka yang ahli bertinju, bukan mereka yang disetiap pertandingan tak terkalahkan. Menurut determinasi Islam orang yang kuat adalah mereka yang di kala marah bisa menahan dirinya. Rasulullah bersabda, “Bukan dikatakan pemberani karena seseorang cepat meluapkan amarahnya. Seorang pemberani adalah mereka yang dapat menguasai diri (nafsu)-nya sewaktu marah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Menahan marah bukan pekerjaan mudah. Menuntut perjuangan yang amat berat lagi susah, apalagi bagi mereka yang sedang mempunyai kemampuan dan kekuasaan untuk me-luapkan kemarahannya. Akan tetapi justru di sinilah seseorang itu dinilai, apakah layak disebut ksatria atau tidak. Seorang ksatria adalah yang mampu menahan marahnya, akan tetapi jika kedzaliman sudah melampaui batas, ia mampu membalasnya, setimpal dengan perlakuan orang tersebut. Orang yang seperti ini akan mendapat jaminan dari Allah, berupa kecintaan yang mendalam.
Rasulullah bersabda: “Ada tiga hal yang jika dimiliki seseo-rang, ia akan mendapatkan pemeliharaan dari Allah, akan dipenuhi dengan rahmat-Nya, dan Allah akan senantiasa mema-sukkannya dalam lingkungan hamba yang mendapatkan cinta-Nya, yaitu:
(1) seseorang yang selalu bersyukur manakala mendapat nikmat dari-Nya;
(2) seseorang yang mampu meluapkan amarahnya tetapi mampu memberi maaf atas kesalahan orang;
(3) seseorang yang apabila sedang marah, dia meng-hentikan marahnya.” (HR Hakim)
Dalam menghadapi situasi yang cenderung memancing emosi, manusia dapat dibedakan dalam tiga tipe.
Pertama, orang yang tidak merasa marah padahal penyebabnya ada. Kedua, orang yang merasa marah tetapi mampu menahan amarahnya dan mau memaafkan. Sedang
Ketiga, mereka yang merasa marah, mampu menahan marah, tapi tidak bisa memaafkannya.
Dari ketiga kategori ini tentu saja golongan pertama yang lebih utama. Mereka disebut telah memiliki hilm, sifat sabar yang sangat besar. Sabar di atas sabar. Sifat ini telah dimiliki Rasu-lullah SAW., dan telah dibuktikan dalam berbagai peristiwa.
Tentang sifat hilm ini Rasulullah bersabda, “Maukah aku ceri-takan kepadamu tentang sesuatu yang menyebabkan Allah memulia-kan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab, tentu. Rasul bersabda, ‘Engkau bersikap sabar (hilm) kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadmu, memberi kepada orang yang memusuhimu, dan menghubungi orang yang telah memutuskan silaturrahim denganmu.’” (HR Thabrani)_

(32)
FATHIMAH AZ-ZAHRA RHA
DAN GILINGAN GANDUM

Suatu hari masuklah Rasulullah SAW. menemui anandanya Fathimah az-zahra rha. Didapatinya anandanya sedang meng-giling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis.
Rasulullah SAW. bertanya pada anandanya, "apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis". Fathimah rha. berkata, "ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumah tanggalah yang menyebabkan ananda menangis".
Lalu duduklah Rasulullah SAW. di sisi anandanya. Fathimah rha. melanjutkan perkataannya, "Ayahanda sudikah kiranya Ayahanda meminta 'aliy (suaminya) mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah".
Mendengar perkataan anandanya ini maka bangunlah Ra-sulullah SAW. mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair (sejenis gandum) dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan-tangan itu seraya diucapkannya "Bismillaahirrahmaanirrahiim". Penggilingan ter-sebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah SWT. Rasulullah SAW. meletakkan syair ke dalam penggilingan-tangan itu untuk anandanya dengan tangannya, sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa, se-hingga habislah butir-butir syair itu digilingnya.
Rasulullah SAW. berkata kepada gilingan tersebut, "Ber-hentilah berputar dengan izin Allah SWT", maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin Allah SWT yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, "ya Rasulullah SAW., demi Allah Tuhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalau-lah baginda menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT suatu ayat yang berbunyi : (artinya) "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan".
Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah SAW. kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, "bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az-zahra di dalam sorga". Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.
Rasulullah SAW. bersabda kepada anandanya, "Jika Allah SWT menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu ber-putar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT meng-hendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat.
Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah SWT menu-liskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.
Ya Fathimah, perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya, maka Allah SWT men-jadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit.
Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang telanjang.
Ya Fathimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat.
Ya Fathimah, yang lebih utama dari itu semua adalah ke-ridhaan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridha denganmu tidaklah akan aku do'akan engkau. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah, bahwa ridha suami itu dari Allah SWT dan kemarahannya juga dari kemarahan Allah SWT?.
Ya Fathimah, apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah SWT akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu keja-hatan. Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan, maka Allah SWT mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil. Apabila ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meniinggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga, dan Allah SWT akan mengaruniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat.
Perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar, maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah SWT akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah.
Ya Fathimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya, maka Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat. Ya Fathimah, perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati, maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), "Terus-kanlah 'amalmu maka Allah SWT telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang".
Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyaki rambut suaminya dan janggutnya dan memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka Allah SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai sorga dan Allah SWT akan meringankan sakarotulmautnya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga serta Allah SWT akan menyela-matkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di atas titian Shirat".

(33)
MEDALI EMAS
MENUJU SURGA
( Dikisahkan Oleh: Hessam.KDU )

“Mari Pak, kita pulang. Waktu Maghrib sudah hampir tiba. Nanti kita terlambat sembahyang maghrib.” Demikian ajakan anakku Mina mengajakku segera pulang. Aku terperanjak dari lamunan panjang, ketika menziarahi makam isteriku bersama anak-anak. Dalam lamunanku terbayang perjalanan panjang, ketika aku masih kanak-kanak menjelang dewasa. Ketika itu aku masih duduk di sebuah sekolah SMP Muhammadiyah di kota ini.
Mungkin karena disebabkan oleh keinginan yang lebih cepat dewasa, atau mungkin karena sebab tidak mau menyusahkan orang lain, atau mungkin karena keinginan untuk mampu berdiri sendiri, maka pada masa akhir-akhir tahun di sekolah itu dibenakku selalu timbul dorongan untuk dapatnya mengurus diri sendiri. Bukan berarti tidak mau bergaul dengan orang lain, atau tidak mau menerima bantuan orang lain, atau menganggap remeh kemampuan orang tua Sebaliknya justru andaikata sudah mampu, ingin rasanya sedapat dapatnya membantu orang lain.
Waktu itu aku belum mengerti bahwa itu sebenarnya adalah salah satu tuntunan agama. Tahunya baru akhir-akhir ini bahwa agama mengajarkan, lebih baik tangan di atas daripada di bawah menengadahkan telapak ke atas.
Terdorong oleh keinginan hati untuk dapat mengurusi diri sendiri itu, maka seusai sekolah SMP saya nekat tidak meneruskan ke SMA, tetapi mencari jalan pintas, mengikuti kursus mengetik dan stenografi, yang pada masa itu memang belum ada alat perekam, apalagi komputer. Ternyata keinginanku mendapat ridha Allah Saw, karena kursus itu dapat kuselesaikan dalam waktu hanya 3 bulan dan hasilnya termasuk ranking atas.
Kubawa ijazah-ijazahku ke kantor Kementerian Pekerjaan Umum. Waktu itu pemerintahan pusat masih berada di kota Yogya. “Saudara mau bekerja sebagai apa?” Tanya seorang kepala Bagian dari Biro Personalia. “Jadi juru ketik Pak.” Jawabku. Bapak kepala Biro menanyakan kepada kepala Bagian itu “Perlu ditest?” “Tidak perlu” jawabnya. Hatiku merasa bersukur, walaupun belum dapat mengucapkan “alhamdulillah”.
Dengan mengenakan celana pendek dan sepatu bobrok, esok paginya aku mulai masuk kantor dan ditempatkan di Bagian Pengetikan. Ada terselinap rasa bangga pada pekerjaan itu, karena ternyata kecepatan pengetikanku lebih cepat dari pengetik-pengetik lain yang sudah lebih senior. Apalagi dengan menggunakan sistim menutup mata (tidak melihat mesin tiknya). Tambah berbahagia lagi karena mereka mengetahui bahwa aku dapat menulis cepat dengan stenografi, maka setiap ada rapat Kepala-kepala Bagian, aku diperintahkan untuk mengambil notulen. Dan untuk ini aku memperoleh honorarium tersendiri.
Memang betul nasehat orang tua, bahwa perjuangan hidup perlu pengorbanan, perlu kesabaran, perlu ketabahan, tidak boleh lekas putus asa. Empat hari lamanya, karena belum menerima gaji, yang namanya perut ini tidak kemasukan makanan sama sekali. Segelas air panas waktu pagi di tempat aku menumpang dipondokan temanku yang penjual pakaian rombengan, dan segelas minum teh di kantor. Sorenya lagi cukup meneguk air hangat bersama temanku itu. Anehnya badan tetap bugar, tak ada rasa kelaparan sedikitpun. Barangkali karena didorong oleh rasa bahagia dengan memperolehnya pekerjaan di sebuah kantor Kementerian?.
“Tolong nanti kerja lembur bantu saya mengetik daftar gaji”, begitu ajakan pegawai setengah tua yang tugasnya membuat daftar gaji. Akupun menyanggupi ajakannya, walaupun seharian sama sekali tidak makan. Dari kesanggupanku membantu mengetik daftar gaji itu dia memberikan uang 25 sen. Sejak itu pula aku dapat makan pagi dengan sepotong ubi goreng dan segelas teh panas. Maklum gaji belum keluar, tetapi beruntunglah Tuhan memberikan rezeki 25 sen setiap hari sebagai pengganjel perut.
......................................................................
“Sri, coba sekarang bikin surat jurnal”, demikian perintah guru kursus kami. Gadis yang dipanggil Sri itu rupanya yang duduknya tepat disamping kananku. Tahulah aku bahwa gadis itu namanya Sri. Jadi tidak perlu mengenalkan diri. Tambah hari tambah kenal. Tambah hari tambah akrab. Mulai dari pinjam meminjam setip, pinjam meminjam karbon, kadang-kadang juga pinjam meminjam buku catatan nyanyian. Asyiknya lagi kalau pada waktu mengembalikan buku ada terselip sepucuk surat. Suratnya biasa saja, belum dapat dikatagorikan sebagai surat cinta. Belum ada atau memang tidak ada ungkapan atau pernyataan cinta. Tetapi yang jelas perkenalan itu tambah hari tambah akrab, tambah karib, sehingga merupakan teman karib yang sangat akrab.
Mungkin ini yang dinamakan cinta monyet?, cintanya anak-anak yang sedikitpun belum ada terpikir akan kehidupan sebagai suami isteri. Dalam pergaulanpun tidak pernah terjadi hal-hal yang aneh-aneh. Selama tiga bulan duduk berdampingan di tempat kursus selama dua jam, makin menambah keakraban kami berdua. Anehnya waktu dua jam itu rasanya makin pendek. Rasanya baru sepuluh menit tahu-tahu lonceng pergantian peserta kursus sudah berbunyi.
......................................................................
Pergolakan politik terjadi. Masa clash kedua. Aku bersama teman-teman lain bergabung dalam kelompok Tentara Pelajar (TP). Persahabatanku dengan Sri terputus. Tidak pernah ketemu dan tidak tahu satu sama lain dimana berada, karena semua penduduk kota mengungsi ke desa-desa. Pernah pada waktu tidur, karena sedang kena serangan malaria dengan demam yang cukup tinggi, katanya teman-teman, aku mengigau memanggil-manggil namanya (Sri)…………..
Yogya kembali … … suasana kembali aman.
“Dik Jon”, demikian sapa kakak sepupunya ketika aku berkunjung ke rumah Sri bersama-sama beberapa TP temanku. “Ya mbak”, jawabku. Aku dipanggil sendiri ke belakang, sedang Sri menemani teman-teman ngobrol di ruang tamu. “Persahabatan dik Jon dengan Sri kelihatannya sudah sangat akrab. Bagaimana kalau persahabatan ini diabadikan menjadi hubungan keluarga?” Aku mengerti maksud kakak sepupunya ini, yaitu kira-kira aku dan Sri disuruh menikah. Maklumlah, kondisi lingkungannya masih agak kental dengan suasana kampung. Jadi pantas saja kalau persahabatan antara seorang laki-laki dengan perempuan nampak sudah begitu akrab, maka sindiran-sindiran dari tetangga cukup membuat rasa risi. Walaupun Sri dan aku tidak pernah pergi berdua-duaan, tetapi kalaupun pergi sudah pasti bersama beberapa kawan, baik pria maupun wanita.
Aku tidak menjawab apa-apa, hanya terdiam seribu bahasa. Tetapi sikap diamku itu rasanya sudah begitu dimengerti oleh kakaknya. Dan aku kembali lagi ke ruang tamu, ngobrol bersama taman-teman lainnya. Biasa silaturohmi kami memang tidak pernah lama-lama. Bahkan tidak sampai disuguhi minum kami sudah berpamitan pulang ke asrama. Kali inipun kami segera berpamitan, seperti tidak ada hal-hal yang aneh. ….. ….. ….. ….. …..
“Masih berapa lembar lagi undangan yang harus kita tulis Sri?”.Tanyaku kepada Sri yang sibuk membantu menggunting kertas dari buku tulis untuk kutulis menjadi surat undangan. Maklumlah, tahun limapuluhan, masa paceklik, belum ada percetakan pembuat undangan. Mesin ketik pun belum banyak yang punya, kecuali di kantor-kantor dan orang-orang yang empunya. Undangan yang kami tulis tidak banyak, hanya beberapa lembar saja, itupun hanya ditujukan kepada para sepuh, sekedar mohon doa restu, sedang kenalan-kenalan atau kawan-kawan tidak ada yang kami beri undangan. Kalau pun mereka hadir pada acara sukuran yang diadakan malam harinya di rumah Sri dan di halaman depan itu hanya karena mendengar kabar. Sembilanpuluh persen yang hadir adalah famili sendiri.
Akad nikah dilakukan dengan sangat-sangat sederhana. Kami berjalan kaki dari rumah Sri ke mesjid besar -- dengan jarak sekitar 800 meter -- bersama 4 orang, yaitu dua orang saksi, seorang wali dan seorang sesepuh.
Pernikahan kami ini nampaknya kurang mendapat restu dari orang tuaku. Hal ini baru aku ketahui beberapa tahun kemudian, yang konon kabarnya aku sebelumnya telah dijodohkan dengan seorang puteri camat. Dan inipun baru diketahui oleh Sri ketika dia berkunjung agak lama (lebih kurang tiga bulan) di rumah mertua (waktu itu aku sedang mendapat tugas belajar di kota lain), maksudnya untuk mendekatkan diri dengan mertua. Dua orang anaknya yang masih kecil-kecil diajak serta. Pengalaman yang sangat menyedihkan dialami oleh Sri. Betapa tidak. Selama disana dia dianggap sebagai pelayan rumah tangga. Setiap hari mencuci pakian dua ember besar. “Ini dicuci semua, kalau tidak mau, akan kuceraikan kamu dengan mas Jon, dasar orang tak tahu diri”, Demikian antara lain perintah serta ancaman yang dilontarkan anggota keluargaku kepada Sri. Diapun melakukan semua perintah yang diberikan dan menelan semua bentakan-bentakan dengan hati berserah diri dan ikhlas.
Setahun sudah tugas belajarku selesai dengan hasil termasuk ranking yang baik. Dari kota tempatku belajar aku langsung menuju ke desa orang tuaku, yang waktu itu sudah menjalani pensiun. Agak janggal juga rasanya, mengapa demikian. Mengapa justru tidak menemui anak isteri dulu di rumah orang tuanya. Entahlah, rasanya seperti ada kekuatan dari dalam yang membuatku berlaku demikian. “Lho Sri, kamu sudah ada di sini?”, tanyaku dengan tercengang, karena sebenarnya aku tidak mengerti bahwa Sri dan anak-anaknya sudah mendahului datang ke kampung. “Ya mas, sudah lebih tiga bulan saya disini, ibu yang menyuruhku kesini, supaya anak-anak lebih akrab dengan eyangnya disini.” Berkata begitu Sri kelihatan matanya agak merah seperti mau menangis, tetapi cepat dia menguasai diri, kemudian menceritakan kelucuan-kelucuan anak-anaknya yang nampak sangat sehat. Suasana di rumah itu cerah dan gembira, seperti tidak pernah terjadi hal-hal yang menyedihkan.
Selang beberapa hari kami berempat kembali ke kota, ke rumah orang tua Sri untuk berpamitan dan mohon doa restu akan menuju ke tempat tugas yang baru di luar Jawa. Beberapa kota propinsi kujelajahi demi tugas. Pada salah satu hari di salah satu kota, Sri mendekatiku dengan berceritera pelahan-lahan. Menceritakan pengalamannya waktu tinggal tiga bulan di rumah mertua (rumah orang tuaku). Pengalaman yang sangat mengharukan, tetapi merupakan gemblengan mental yang sangat kuat. “Ini sengaja tidak kuceritakan kepada mas, sebelum mas merasa tabah mendengarnya. Mudah-mudahan mas tidak marah.”
Mendengar cerita isteriku itu, aku sangat terharu bercampur kagum dan memuji ketabahan hatinya. Aku hanya bisa bersukur kepada Tuhan yang telah mengatur semuanya ini dengan sebaik-baiknya. Timbul pertanyaan dalam hati kecilku: mengapa aku selalu mendapat atau memilih tugas di luar Jawa, jauh dari kampung halaman. Semua itu Tuhan yang mengatur, manusia tinggal menjalankan apa Kehendak-Nya. Aku lalu teringat pada waktu ‘nderek’ di rumah rama bekel (abdi kraton). “Jon, menungsa kuwi mung sadrema nglakoni, ibarat wayang hanya mengikuti apa maunya dalang.” Manusia hanya sekedar mematuhi apa kodradnya Tuhan, ibarat wayang dengan dalang. Tentu saja ibarat itu tidak persis 100%.
Dalam perjalanan hidup berkeluarga kami selalu mendapatkan kebahagiaan, walaupun dalam suasana sederhana. Dengan tidak disangka-sangka pernikahan kami sudah dianugerahi anak sebanyak sembilan orang yang hidup. Semuanya sudah membentuk keluarga. Anak yang sulung meninggal karena serangan malaria, yang menyerang lambung sehingga menyebabkan leukemia. Sedang yang bungsu meninggal sesaat sesudah lahir, karena pada waktu dalam kandungan, ibunya menderita sakit malaria…… ….. …..
“Apa acara kita nanti memperingati limapuluh tahun pernikahan kita Sri?”. Begitu pertanyaanku kepada Sri, karena enam bulan lagi kami sudah akan mencapai limapuluh tahun pernikahan. Orang biasanya menamakan “pernikahan-emas”. Acara peringatan pernikahan-emas sudah tergambar sangat indah dalam angan-angan. Dalam acara nanti akan kubuat atraksi yang lucu-lucu dan menarik. Acara untuk mendapatkan “medali perkawinan-emas”. Tetapi Tuhan Maha menentukan. Isteriku tidak menerima medalinya di dunia ini, tetapi diterima nanti di alam baqa, karena dia sudah dipanggil terlebih dahulu kehadirat-Nya. Semoga semua amalnyalah yang menggantikan medali emasnya menuju ke Surga.
“Pak, kita pulang, waktu Maghrib sudah hampir tiba.” Aku terhenti dari lamunanku dan meninggalkan makam isteriku untuk pulang.
oooooOOOoooo

Jika kau sampaikan rahasiamu pada angin,
jangan salahkan angin bila ia kabarkan pada pepohonan."

Semoga apa yang telah saya sampaikan ini ada manfaatnya,
Bila ada salah kata mohon dimaafkan. Yang benar itu pasti datangnya dari Allah SWT Wallahù'alam bíshawab
Wabíllahí taùfík walhídayah,
Wassalamù'alaíkùm warahmatùllahí wabarakatùh.

……… Insya Allah Bersambung ………


HESSAM COLECTIONS
Jln.Wulung 5-a Papringan
550 275 - 621128

Drs.H. Sudibya Samiyana, KDU

Kisah Penuh Hikmah (4)

( BUKU: 4 )

Disusun Oleh :
Edi S. Kurniawan
e-mail : Edieskurniawan@yahoo.com

Dimodifikasi Oleh:
S. Samiyana, KDU
NPV. 20.003.357

(Dipersembahkan untuk semua Ikhwan-Akhwat Muslim
dimana saja berada)



“ Bísmíllaahírrahmaanírrahím ”

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan
ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya."

***
"Dan sesungguhnya akan Kami berikan
cobaan kepadamu,
dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.
Dan berilah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar."

***
Qulil Haq Walau Kaana Murro
"katakanlah kebenaran itu walaupun pahit"

***
Ya Allah kalau Engkau masukkan aku ke dalam sorga,
rasanya tidaklah pantas aku berada di dalam sorga
Tetapi kalau aku Kau masukkan ke dalam neraka,
aku tidak akan tahan, aku tidak akan kuat ya Allah,
maka terimalah taubatku ini……
***

( 1 )
MENGAPA MENUNDA MENIKAH ?

Rasulullah pernah berkata kepada Ali RA : Hai Ali, ada tiga perkara yang jangan kamu tunda-tunda pelak-sanaannya, yaitu shalat apabila tiba waktunya, jenazah apabila sudah siap penguburannya, dan wanita bila me-nemukan pria sepadan yang meminangnya (HR. Ahmad)
Kalau kita tanya seseorang pemuda/pemudi, Mengapa belum menikah? Maka jawabanya antara lain :
1. Masih kuliah/menuntut ilmu
Dikhawatirkan bila menikah akan mempengaruhi prestasi belajar dan mempengaruhi persiapan masa depan.
Hal ini sesungguhnya tergantung dari manajemen waktu, waktu yang biasanya dipakai untuk hura-hura setelah waktu kuliah, diganti dengan mencari nafkah atau ber-cengkerama dengan keluarga.
Disisi lain, bisa menghemat sewa kamar (kost-kostan), dapat saling membantu mengerjakan tugas (kalau satu bidang studi) atau dapat memperluas wawasan diskusi interdisipliner misalnya suami studi ilmu komputer dan istri akuntansi maka diskusi komputasi akuntansi akan nyambung, atau biologi dengan kimia diskusi tentang biokimia
2. Bila menikah akan terkekang
Tidak bisa bebas lagi, tidak bisa kongkow-kongkow di mal setelah pulang kuliah atau kerja, bertambah beban tanggung jawab untuk memberi nafkah istri dan anak. Sedangkan Rosul bersabda : "Bukan golonganku orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya kare-na menikah kemudian ia tidak menikah" (HR Thabrani)
3. Belum siap dalam hal materi/rezeki.
Banyak yang beranggapan kalau mau menikah harus siap materi, yang berarti harus punya jabatan yang mapan, rumah minimal BTN, kendaraan dll, sehingga bila belum terpenuhi semua itu, takut untuk "maju". Sedangkan Allah menjamin akan memberikan rizki bagi yang menikah seperti dalam firmanNYA: "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba saha-yamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memam-pukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pem-berian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nur:32).
Rasulullah SAW bersabda :
"Carilah oleh kalian rezeki dalam pernikahan (dalam kehidupan berkeluarga) "(HR Imam Dailami dalam musnad Al Firdaus).
4. Tidak ada/belum ada jodoh
Masalah memilih jodoh telah di jelaskan pada taz-kiroh 2 pekan yang lalu, dibawah ini adalah pesan Rosul SAW: Imam Thabrani meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasu-lullah SAW bersabda :"Barang siapa me-nikahi wanita karena kehormatannya (jabatan), maka Allah SWT hanya akan menam-bah kehinaan; barang siapa menikah karena hartanya, maka Allah tidak akan menambah kecuali kefakiran; barang siapa me-nikahi wa-nita karena hasab (kemuliaannya), maka Allah hanya akan menambah kerendahan. Dan barang siapa yang menikahi wanita karena ingin menutupi (kehormatan) matanya, memben-tengi farji (kemaluan) nya, dan memper-erat silaturahmi, maka Allah SWT akan memberi bara-kah-Nya kepada suami-istri tersebut"
Imam Abu Daud & At Tirmidzi meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Tetapi nikahilah wanita itu karena agamanya. Sesungguhnya budak wanita yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik (dari pada wanita kaya & cantik tapi tidak taat bera-gama)"
Bukan berarti Rasulullah SAW mengabaikan penampilan fisik dari pasangan kita, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda : "Kawinilah wanita yang subur rahimnya dan pecinta "(HR Abu Daud, An Nasai & Al Hakim) "Tiga kunci kebahagiaan suami adalah: Istri yang solehah: yang jika dipandang membuat sema-kin sayang, jika kamu per-gi membuat tenang karena bisa men-jaga kehormatannya dan taat pada suami"
5. Mungkin masih ada alasan lainnya, yang tidak akan dibahas disini misalnya:
* Karena kakak (apalagi wanita) belum menikah
* Karena orang tua terlalu selektif pilih calon menantu.
* dan lain lain
Manfaat menikah di usia muda :
1. Menjaga kesucian fajr (kemaluan) dari perzinaan serta men-jaga pandangan mata. (QS 24: 30-31)
2. Dapat melahirkan perasaan tentram (sakinah), cinta (mawad-dah) dan kasih sayang (rahmah) dalam hati. (QS 30:21).
3. Segera mendapatkan keturunan, dimana anak akan menjadi Qurrata A'yunin (penyejuk mata, penyenang hati) (QS 25:74) Karena usia yang baik untuk melahirkan bagi wanita antara 20-30 tahun, diatas umur tersebut akan beresiko baik bagi ibu maupun sang baby.
4. Memperbanyak ummat Islam. Seperti yang dipesankan Rosul, beliau akan membanggakan jumlah ummatnya yang banyak nanti di akhirat.
Kemuliaan menikah :
"Barang siapa menggembirakan hati istri, (maka) seakan-akan menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan mere-ka berdua dengan penuh rahmat.
Manakala suami merengkuh telapak tangan istri (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jarinya." (HR Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Al-Khudzri r.a.)
Juga dapat ditambahkan, bahwa Islam memberi nilai yang tinggi bagi siapa yang telah menikah, dengan meni-kah berarti sese-orang telah melaksanakan SEPARUH dari agama Islam!, tinggal orang tersebut berhati-hati melaksanakan yang separuhnya lagi agar tidak sesat.
Rosul SAW bersabda : Barang siapa menikah, maka dia telah menguasai separuh agamanya, karena itu hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi (HR Al Hakim).
Kehinaan melajang/membujang : "Orang yang paling buruk di-antara kalian ialah yang melajang (membujang) dan seburuk-buruk mayat (diantara) kalian ialah yang melajang (membujang)" (HR Imam, diriwayatkan juga oleh Abu Ya'la dari Athiyyah bin Yasar). Sebagai penutup, silahkan pertanyaan di bawah ini dijawab di dalam hati saja:

MENGAPA SAYA MENUNDA UNTUK MENIKAH ?

( 2 )
ETIKA DALAM BERTENGKAR
(JIKA TERPAKSA HARUS)

Bismillah walhamdulillah walaa hawla walaa Quwwata Illaa billah, Shahabat Islam yang berbahagia, kita bersyukur kepada Allah bahwa hingga hari ini Allah masih mengulur waktu buat kita. Berbicara soal vonis, sebenarnya setiap kita telah dijatuhi hukuman mati (S.21:35), hanya jadwal eksekusi yang berbeda beda, ada yang minggu lalu, kemarin, tadi pagi, dan saya? Anda? Entah kapan, yang jelas waktu yang tersisa, harus kita maksimalkan untuk berbuat baik. Diantara kebaikan itu adalah: membangun sinergi yang baik antar dua kekasih yang diikat erat janji suci, suami dengan isteri.
Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata : "Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya !" Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah berdusta. Yang jelas saya dengan Ummu Naila sering menikmati sa'at-sa'at bertengkar, se-bagaimana lebih menikmati lagi sa'at-sa'at tidak ber-tengkar
Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah, beta-pa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa ken-tal, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi. Baik-lah, hari ini saya ingin paparkan resep keluarga kami dalam me-langsungkan sebuah pertengkaran, alhamdulillah telah saya jalani selama 13 tahun, dan ber-hasil membangun keadaan yang senan-tiasa lebih asyik daripada sebelum terjadi pertengkaran. Tulisan ini murni Non Politik, jadi tolong Uni Ranti jangan tergesa gesa menghapusnya
Ketika saya dan si pencuri [hati saya] -- eh enggak koq dia tidak mencuri hati saya, malah saya kasihkan dengan ikhlas dibarter hatinya yang tulus—
Awal bertemu, setelah saya tanya apakah ia bersedia berbagi masa depan dengan saya, dan jawabannya tepat seperti yang di-harap, kami mulai membicarakan seperti apa suasana rumah tangga ke depan. Salah satu di-antaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita bertengkar, dari beberapa per-bincangan via tulisan plus waktu yang mematangkannya, tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar maka :


1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama'ah
Cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama'ah, seorangpun su-0dah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia marah dan saya mau menyela, segera ia berkata "STOP" ini giliran saya !
Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan se-nyum saya berkata dalam hati : "Kamu makin cantik kalau marah, makin energik " Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi "duh kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu "
Demikian juga kalau pas kena giliran saya "yang olah raga otot muka", saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah pada sia-pa-siapa kecuali pada isteri saya, maka kini giliran dia yang ha-rus bersedia jadi keranjang sampah. Pokoknya khusus untuk ma-rah, meus berjama'ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama'ah selain marah.

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa.
Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti ter-pojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke de-pan. Dalam ber-tengkar pun kita perlu menjaga harapan, bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradab-an cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya. (sampai hari ini, biaya pernikahan saya masih harus terus saya cicil, sayang kan kalau di delete begitu saja ...
Kalau saya terlambat pulang dan ia marah, maka kema-rahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah "ungkapan rindu yang keras". Tapi bila itu dikaitkan dengan seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh. Bila teh yang di-sajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas apapun saya marah, maka itu adalah "harapan ingin disayangi lebih tinggi". Tapi kalau itu dihubungkan dengan ke-salahannya kemarin dan tiga hari lewat, plus tuduhan "Sudah tidak suka lagi ya dengan saya", maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya.
Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah ... OK, ma-rahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini .....

3. Kalau Marah jangan bawa-bawa keluarga !
Saya dengan isteri saya terikat masa 13 tahun, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir dua kali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan kon-sep Al-Quran, seseorang tidak menanggung kesalahan fihak lain (S.53:38-40). Saya tidak akan terpantik marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba-co-ba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya menga-pa harus bawa-bawa orang lain kekancah "awal cinta yang panas ini". Kata ayah saya : "Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu ba-nyak". Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mu-dah dicari ma'afnya dari pada ngambek pada yang tidak me-ngenal hati dan diri saya.."
Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah tam-bah dengan memusuhi mertua!
4. Kalau marah jangan di depan anak-anak !
Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tuanya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Mem-bela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu-kan bapak saya ... ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :
Ibu : "Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!"
Bapak : "Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda ????!!!!
Anak :"...... Yaaa ...ibu saya babu, bapak saya kuda .... terus saya ini apa ?"
Kita harus berani berkata : "Hentikan pertengkaran !" ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binaryyannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia men-dengar kata basi hati kita ???
5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu sholat
Pada setiap tahiyyat kita berkata : "Assalaa-mu 'alaynaa wa 'alaa 'ibaadil- ahis holiihiin" Ya Allah damai atas kami, demi-kian juga atas hamba-hambamu yang sholeh .... Nah andai sete-lah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah. Maka kita telah mendustaiNya, padahal nyawa-mu ditanganNya ...... OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi ..... Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau Maghrib sebatas isya’ ... Atau habis isya sebatas .... ??? Nnnng .. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar .....
6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema'afkan
{hikmah yang ini saya dapat belakangan, ketika baca di-koran resensinya film Demi Moore [judulnya saya lupa ....]} Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar ha-nyalah "proses belajar untuk mencintai lebih intens" Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki. Ini saja, semoga bermanfa'at, "Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi"


( 3 )
INDAHNYA MENAHAN MARAH

“Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuas-kannya (melampiaskannya), maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, di-suruhnya memilih bidadari seke-hendaknya.” (HR. Abu Dawud – At-Tirmidzi)
Tingkat keteguhan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup memang berbeda-beda. Ada yang mampu menghadapi persoalan yang sedemikian sulit dengan perasaan tenang. Na-mun, ada pula orang yang menghadapi persoalan kecil saja di-tanggapinya dengan begitu berat. Semuanya bergantung pada kekuatan ma’nawiyah (keimanan) seseorang.
Pada dasarnya, tabiat manusia yang beragam: keras dan te-nang, cepat dan lambat, bersih dan kotor, berhubungan erat de-ngan keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan iman akan menye-lurusi lorong-lorong hati orang lain dengan respon pemaaf, tenang, dan lapang dada.
Adakalanya, kita bisa merasa begitu marah dengan sese-orang yang menghina diri kita. Kemarahan kita begitu memun-cak seolah jiwa kita terlempar dari kesadaran. Kita begitu mera-sa tidak mampu menerima penghinaan itu. Kecuali, dengan ma-rah atau bahkan dengan cara menumpahkan darah. Na’u-dzubillah.
Menurut riwayat, ada seorang Badwi ank e meng-hadap Nabi SAW. dengan maksud ingin meminta sesu-atu pada beliau. Beliau memberinya, lalu bersabda, “Aku berbuat baik padamu.” Badwi itu berkata, “Pemberianmu tidak bagus.” Para sahabat merasa tersinggung, lalu mengerumuninya dengan kemarahan. Namun, Nabi memberi isyarat agar mereka bersabar.
Kemudian, Nabi SAW. pulang ke rumah. Nabi kembali dengan membawa barang tambahan untuk diberikan ke Badwi. Nabi bersabda pada Badwi itu, “Aku berbuat baik padamu?” Badwi itu berkata, “Ya, semoga Allah membalas kebaikan Tuan, kelu-arga dan kerabat.”
Keesokan harinya, Rasulullah SAW. bersabda kepada para sa-habat, “Nah, kalau pada waktu Badwi itu berkata yang sekasar engkau dengar, kemudian engkau tidak bersabar lalu membu-nuhnya. Maka, ia pasti masuk neraka. Namun, karena saya bina dengan baik, maka ia selamat.”
Beberapa hari setelah itu, si Badwi mau diperintah untuk melaksanakan tugas penting yang berat sekalipun. Dia juga turut dalam medan jihad dan melaksanakan tugasnya dengan taat dan ridha.
Rasulullah SAW. memberikan contoh kepada kita tentang berlapang dada. Ia tidak ank menghadapi kekasaran seorang Badwi yang memang demikianlah ka-rakternya. Kalaupun saat itu, dilakukan hukuman ter-hadap si Badwi, tentu hal itu bukan kezhaliman. Namun, Rasulullah SAW. tidak berbuat demikian. Beliau tetap sa-bar menghadapinya dan memberikan sikap yang ramah dan lemah lembut. Pada saat itulah, beliau SAW. ingin menunjukkan pada kita bahwa kesabaran dan lapang dada lebih tinggi nilainya daripada harta benda apa pun. Harta, saat itu, ibarat sampah yang bertumpuk yang dipakai untuk suguhan unta yang ngamuk. Tentu saja, unta yang telah mendapatkan kebu-tuhannya akan dengan mudah dapat dijinakkan dan bisa diguna-kan untuk me-nempuh perjalan jauh.
Adakalanya, Rasulullah SAW. juga marah. Namun, ma-rahnya tidak melampaui batas kemuliaan. Itu pun ia lakukan bu-kan karena masalah pribadi. Melainkan, ka-rena kehormatan agama Allah.
Rasulullah SAW. bersabda, “Memaki-maki orang muslim adalah fasik (dosa), dan memeranginya adalah kufur (keluar dari Islam).” (HR. Bukhari)
Sabdanya pula, “Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor.” (HR. Tur-mudzi).
Seorang yang mampu mengendalikan nafsu ketika marahnya berontak, dan mampu menahan diri di kala mendapat ejekan. Maka, orang seperti inilah yang diharapkan mengha-silkan kebaikan dan kebajikan bagi di-rinya maupun masya-rakatnya.
Seorang hakim yang tidak mampu menahan marah-nya, tidak akan mampu memutuskan perkara dengan adil. Dan, seorang pemimpin yang mudah tersulut nafsu marahnya, tidak akan mampu memberikan jalan keluar bagi rakyatnya. Justru, ia akan senantiasa memunculkan permusuhan di masyarakatnya. Begitu pun pasangan suami-isteri yang tidak memiliki kete-nangan jiwa. Ia tidak akan mampu melayarkan laju bahtera hidupnya. Karena, masing-masing tidak mampu memejamkan mata atas kesalahan kecil pasangannya.
Bagi orang yang imannya telah tumbuh dengan suburnya dalam dadanya. Maka, tumbuh pula sifat-sifat jiwa besarnya. Subur pula rasa kesadarannya dan kemurahan hatinya. Kesa-barannya pun bertambah besar dalam menghadapi sesuatu masa-lah. Tidak mudah memarahi seseorang yang bersalah dengan begitu saja, seka-lipun telah menjadi haknya.
Orang yang demikian, akan mampu menguasai dirinya, menahan amarahnya, mengekang lidahnya dari pembicaraan yang tidak patut. Wajib baginya, melatih diri dengan cara mem-bersihkan dirinya dari penyakit-penyakit hati. Seperti, ujub dan takabur, riya, sum’ah, dusta, pengadu domba dan lain seba-gainya. Dan menyertainya dengan amalan-amalan ibadah ank e-taatan kepada Allah, demi meningkatkan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT
Dari Abdullah bin Shamit, Rasulullah SAW. bersabda, “Apakah tiada lebih baik saya beritahukan tentang sesuatu yang dengannya Allah meninggikan gedung-gedung dan mengangkat derajat seseorang?” Para sahabat menjawab, “Baik, ya Rasu-lullah.” Rasulullah saw bersabda, “Berlapang dadalah kamu ter-hadap orang yang membodohi kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya kamu. Engkau suka memberi kepada orang yang tidak pernah memberikan sesuatu kepadamu. Dan, engkau mau bersilaturahim kepada orang yang telah memutuskan hubu-ngan dengan engkau.” (HR. Thabrani).
Sabdanya pula, “Bahwasanya seorang hamba apabila me-ngutuk kepada sesuatu, naiklah kutukan itu ke langit. Lalu, di-kunci pintu langit-langit itu buatnya. Kemudian, turunlah kutu-kan itu ke bumi, lalu dikunci pula pintu-pintu bumi itu baginya. Kemudian, berkeliaranlah ia kekanan dan kekiri. Maka, apabila tidak mendapat tempat baru, ia pergi kepada yang dilaknat. Bila layak dilaknat (artinya kalau benar ia berhak mendapat laknat), tetapi apabila tidak layak, maka kembali kepada orang yang mengutuk (kembali ke alamat si pengutuk).” (HR. Abu Dawud).

( 4 )
KEISTIMEWAAN WANITA

1. Doa wanita lebih makbul daripada lelaki karena sifat penya-yangnya yang lebih kuat dari lelaki.
2. Wanita yang Sholihah lebih baik daripada 1000 orang lela-ki yang sholeh.
3. Barang siapa yang menggembirakan anak wanitanya, dera-jatnya seumpama orang yang senantiasa menangis karena takutkan Allah.
4. Barang siapa yang membawa hadiah (oleh-oleh) lalu dibe-rikan kepada keluarganya, hendaklah mendahulukan anak wanitanya dari anak laki-laki
5. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama Rasulullah SAW didalam Sorga.
6. Barang siapa mempunyai 2 atau 3 anak wanita, atau 2 atau 3 saudara wanita lalu dia bersikap ichsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik me-reka dengan penuh rasa taqwa dan tanggung jawab maka baginya adalah Sorga.
7. Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak wanitanya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang ba-ginya dari api neraka (Aisyah r.a.).
8. Sorga dibawah telapak kaki Ibu ( Hadith )
9. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan ter-tutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu Sorga, maka masuklah dari pintu yang dikehendaki.
10. Wanita yang taat akan suaminya serta menjaga sholat dan puasanya, semua ikan-ikan dilaut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama dia taat pada suaminya dan direlakanya.
11. Apabila memanggil akan engkau dua orang Ibu Bapakmu, maka jawablah panggilan Ibumu dahulu.
12. Aisyah r.a. berkata “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita ?“ Jawab Baginda, “Suaminya “ Siapa pula berhak terhadap lelaki ? Jawab Rasulullah “ Ibunya “
13. Wanita apabila sholat 5 waktu, puasa 1 bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, ma-suklah dia dari pintu Sorga mana saja yang dia kehendaki.
14. Tiap wanita yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT memasukkan dia kedalam Sorga 10.000 tahun lebih dahulu dari suaminya.
15. Apabila seorang wanita mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuk-nya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1000 kejahatan.
16. Apabila seorang wanita mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya pahala orang yang berji-had pada jalan Allah.
17. Apabila seorang wanita melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya
18. Apabila telah lahir anaknya lalu disusuinya, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan dari susunya diberi satu kebajikan.
19. Apabila ibu semalaman tidak tidur karena memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah.

( 5 )
WASIAT RASULULLOH SAW
KEPADA AISYAH

Saiyidatuna ‘Aisyah r.a meriwayatkan: Rasulullah SAW bersabda “Hai Aisyah, aku berwasiat kepada engkau.
Hendaklah engkau senantiasa mengingat wasiatku ini. Sesung-guhnya engkau akan senantiasa di dalam kebajikan selama eng-kau mengingat wasiatku ini...”
Intisari wasiat Rasulullah Saw tersebut dirumuskan seperti berikut: Hai, Aisyah, peliharalah diri engkau. Ketahuilah bahwa sebagian besar dari kaum engkau (kaum wanita) adalah menjadi kayu api di dalam neraka.
Diantara sebab-sebabnya ialah mereka itu :
(a) Tidak dapat menahan sabar dalam menghadapi kesakitan (kesusahan), tidak sabar apabila ditimpa musibah
(b) Tidak memuji Allah Ta’ala atas kemurahan-Nya, apabila dikaruniakan nikmat dan rahmat tidak bersyukur.
(c) Mengkufurkan nikmat; menganggap nikmat bukan dari Allah
(d) Memperbanyak kata-kata yang sia-sia, banyak bicara yang tidak bermanfaat.
Wahai, Aisyah, ketahuilah :
(a) Bahwa wanita yang mengingkari kebajikan (kebaikan) yang diberikan oleh suaminya maka amalannya akan digugurkan oleh Allah.
(b) Bahwa wanita yang menyakiti hati suaminya dengan lidah-nya, maka pada hari kiamat, Allah menjadikan lidahnya tujuh puluh hasta dan dibelitkan di tengkuknya.
(c) Bahwa isteri yang memandang jahat (menuduh atau mena-ruh sangkaan buruk terhadap suaminya), Allah akan meng-hapuskan muka dan tubuhnya pada hari kiamat.
(d) Bahwa isteri yang tidak memenuhi kemauan suaminya di tempat tidur atau menyusahkan urusan ini atau meng-khianati suaminya, akan dibangkitkan Allah pada hari kia-mat dengan muka yang hitam, matanya kelabu, ubun-ubun-nya terikat pada dua kakinya di dalam neraka.
(e) Bahwa wanita yang mengerjakan sholat dan berdoa untuk dirinya, tetapi tidak untuk suaminya, akan dipukul mukanya dengan sholatnya.
(f) Bahwa wanita yang dikenakan musibah ke atasnya lalu dia menampar-nampar mukanya atau merobek-robek pakaian-nya, dia akan dimasukkan ke dalam neraka bersama dengan Isteri nabi Nuh dan isteri nabi Luth dan tiada harapan mendapat kebajikan syafaat dari siapa pun;
(g) Bahwa wanita yang berzina akan dicambuk dihadapan semua makhluk didepan neraka pada hari kiamat, tiap-tiap perbuatan zina dengan delapan puluh cambuk dari api.
(h) Bahwa isteri yang mengandung (hamil) baginya pahala seperti berpuasa pada siang harinya dan mengerjakan qia-mul-lail pada malamnya serta pahala berjuang fi sabilillah.
(i) Bahwa isteri yang bersalin (melahirkan), bagi tiap-tiap kesakitan yang dideritainya diberi pahala memerdekakan seorang budak. Demikian juga pahalanya setiap kali menyu-sukan anaknya.
(j) Bahwa wanita apabila bersuami dan bersabar dari menyakiti suaminya, maka diumpamakan dengan titik-titik darah da-lam perjuangan fisabilillah.

( 6 )
WANITA PENGHUNI SORGA

Ketika Baginda Rasul SAW mengatakan Penghuni Neraka kelak lebih banyak kaum wanita, maka salah satu sahabat bertanya, ya Rasulullah Apakah mereka tidak gemar beribadah kepada Allah bukan jawab rasulullah SAW, lalu kenapa ?
Mereka bahkan lebih taat menjalankan Sholat, puasa dan hadir dalam majlis ta'lim tapi mereka tidak bisa menjaga kehormatan suaminya. Diantaranya :
1. Mengeluhkan uang belanja yang diberikan suaminya (tidak mensyukurinya)
2. Menceritakan kekurangan suaminya (tidurnya mendengkur dan lain sebagainya)
3. Tidak dapat menjaga harta suaminya
Dalam hadith lain disebutkan :
1. Ya Rasulullah siapakah yang berhak atas diriku tanya seorang muslimah? Suamimu, lalu siapa lagi Ibumu jawab Rasulullah
2. Rasulullah bersabda " Seandainya Allah Mengizinkan Manu-sia menyembah manusia Maka aku suruh seorang istri me-nyembah suaminya.
Lalu siapakah wanita penghuni Sorga ?
1. Wanita yang menegakkan Sholat
2. Wanita yang menjalankan Puasa dibulan Ramadhan
3. Wanita yang menjaga kehormatan dirinya (diantaranya menutup aurat)
4. Patuh pada suami, dan suaminya ikhlas kepadanya

( 7 )
MENGUBAH DENGAN KEKUATAN TAULADAN

Rasulullah SAW gemilang menyeru ummat ke jalan-Nya, mengubah karakter ummat dari zaman kegelapan menuju jalan penuh cahaya yang ditempuh hampir 23 tahun. Salah satu pilar strategi keberhasilannya adalah karena Rasul memiliki kekuatan suri tauladan yang sungguh luar biasa. Yakinlah bahwa cara pa-ling gampang mengubah orang lain sesuai keinginan kita adalah dengan cara menjadikan diri kita sebagai media atau contoh yang layak ditiru.
Karenanya, jangan bercita-cita memiliki anak yang santun, lembut, kalau kesantunan dan kelembutan itu tidak ada dalam diri orang tuanya. Jangan bercita-cita punya anak yang tahu etika, kalau cara mendidik yang dilakukan orang tuanya tidak menggunakan etika. Sangat mustahil akan terwujud ketika para pimpinan ingin anggotanya berdisiplin, padahal disiplin itu bukan bagian dari diri pimpinannya. Contoh sederhana, mengapa P4 gagal menjadi pedoman hidup yang jadi acuan bangsa Indo-nesia? Karena tidak ada contoh tauladannya. Siapa sekarang pemimpin bangsa ini yang paling Pancasilais ? Susah menca-rinya. Seumpama mata air di pegunungan yang sudah keruh tercemar. Kalau dari sumbernya sudah keruh, walau yang di bawah di bening-beningkan juga tidak akan bisa. Di hilir menjadi keruh karena di hulunya juga keruh.
Orang tua ingin anak-anaknya tidak merokok padahal ter-nyata orang tuanya perokok berat, bagaimana mungkin ? Para guru ingin murid-muridnya tidak mengganja, padahal ganja itu awalnya dari rokok, dan ternyata para guru merokok di depan murid-muridnya. Jangan-jangan kita yang menjerumuskan mere-ka ?
Di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta ada sebuah contoh menarik tentang mengapa anak-anak menjadi seorang perokok atau pengganja. Di salah satu dindingnya ter-gantung sebuah potret seorang ibu yang sedang menimang-nimang bayinya, dan ternyata si ibu ini melakukannya sambil merokok. Tidak bisa tidak. Perilaku si Ibu ini merupakan contoh bagi si bayi yang ada dipangkuannya.

( 8 )
PANCARAN PRIBADI BERSIH HATI

Yakinlah bahwa jikalau hati kita jernih, bening, dan tulus maka wajah juga akan enak dipandang, akan ada suatu kesan tersendiri yang lain dari yang lain. Mungkin wajahnya tidak cakep, tidak jelita, mungkin kulitnya hitam, mungkin hidungnya tidak begitu mancung, mungkin alisnya kurang begitu simetris, mungkin di wajahnya ada kekurangan, katakanlah ada cacatnya tapi tidak bisa di-pungkiri bahwa kalau hatinya bening, jernih, dan tulus ia akan senantiasa memancarkan sinar keindahan, kese-jukan dan kenyamanan.
Orang yang hatinya bersih akan tercermin pula dari kerapihan dan kebersihan di lingkungan sekitarnya. Kita sepakat bahwa kumal, kusut, kotor, dan bau adalah perilaku yang tidak kita sukai. Kenapa sih tidak kita sisir rambut kita dengan rapi, padahal bisa lebih rapih dan lebih tertib ?! Bukan tidak boleh punya rambut bermode, tapi yang lebih penting adalah bagai-mana ketika orang lain melihat penampilan kita pikirannya tidak menjadi jelek.
Ketika suatu waktu lewat di depan Taman Kota, terlihat ada sekelompok pemuda dengan potongan rambut landak gaa Duran-Duran, Punk, dan ada juga yang dicat pirang. Tentu saja ini akan membuat orang lain berpikir jelek tentang mereka.
Maka pastikan rambut kita selalu tersisir rapih. Pada kaum laki-laki, tidak usah diperbudak oleh mode. Intinya, kalau orang lain melihat penampilan kita, orang itu men-jadi cerah, tentram, senang, dan merasa aman. Tidak usah pula centil dengan me-nempelkan segala atribut, gambar anic, atau juga tanda jasa supaya orang lain tahu siapa kita. Buat apa? Semuanya harus wajar, proporsional, dan tidak berlebih-lebihan.
Bagi seorang wanita yang memiliki hati bersih akan ter-pancar pula dari penampilannya yang tidak over acting, tidak berdandan mencolok, semuanya serba wajar dan proporsional. Hal ini menjadikan orang yang melihatnya juga menjadi enak, wajar dan normal, walaupun tidak dipungkiri bahwa setiap orang punya standard penilaian yang berbeda-beda. Namun yang terpenting adalah penilaian menururt ALLAH SWT Kalau orang-orang yang berpenyakit hati kadang-kadang penilaiannya selalu negatif, walau sebenarnya kita sudah melakukan yang terbaik.
Pancaran bersih hati lainnya akan tampak terealisasikan pula dari struktur bibir atau senyuman. Pastilah kita akan enak kalau melihat orang lain senyum kepada kita dengan tulus, wajar dan proporsional. Dan senyum itu bukanlah perkara mengangkat ujung bibir — itu perkara tipu-menipu — tapi yang paling penting adalah keinginan dari dalam diri untuk membahagiakan orang yang ada di sekitar kita, minimal dengan sesungging senyuman. Dan tentu saja dilanjutkan dengan sapaan tulus, ucapan salam “Assalaamu’alaikum”, menyembul dari hati yang ikhlas, insya-allah ini akan membuat suasana menjadi lebih enak, tentram, dan menyenangkan.
Suatu yang patut kita renungkan, saat duduk di mesjid sewaktu shalat berjemaah atau juga acara majelis taklim, ka-dangkala kita suka enggan menyapa orang di samping kita, se-pertinya ada tabir atau benteng yang kokoh menghalang. Pada-hal yakin sama-sama umat Islam, yakin sama-sama mau sujud kepada ALLAH. Kalau kita ada dalam kondisi seperti ini seha-rusnya tidak usah berat untuk menyapa duluan. Kenapa kita ini ingin disapa lebih dulu? Etikanya memang, yang muda kepada yang tua, yang berdiri kepada yang duduk, yang datang kepada yang diam. Namun sebaiknya mumpung kita punya kesempatan, lebih baik kita duluan yang menyapa.
Kalau kita sebagai bapak, saat pulang kerja ke rumah co-balah terbarkan salam, “Assalaamu’alaikum anak-anakku seka-lian!” dibarengi senyuman ramah dan belaian sanyang daripada marah-marah, “Anak-anak diam, Bapak lagi capek! Seharian Bapak membanting tulang memeras keringat, tiada lain hanya untuk meng-hidupi kalian tahu?”.
Wah, kalau begini pastilah anak-anak tidak akan merasa aman.
Juga para bos, pimpinan, direktur, manager, ketua kelas, wali kelas, atau siapa saja yang jadi atasan, jangan sampai se-perti monster. Apa itu monster? Yaitu makhluk yang keha-dirannya ditakuti. Kalau kita dating orang jadi tegang, panik, jantung berdebar-debar kencang, dibarengi badan yang ber—guncang hebat, ini berarti ada yang salah dalam diri kita. Maka, sudah seharusnya sapaan kita itu tidak hanya mengoreksi, meng-kritik, tapi juga berupa penghargaan, pujian, ucapan-ucapan doa yang tidak harus ada hubungannya dengan masalah pekerjaan. Artinya kalau orang lain bertemu kita, haruslah orang lain itu merasa aman.
Kalau mau bicara, sapaan kita juga harus aman, harus bersih dari membuat orang lain terluka. Pokoknya kalau orang lain datang, orang itu harus merasa aman. Ini ciri-ciri orang yang pengelolaan Qalbunya sudah bagus. Kata-kata, lirikan mata, sikap diri kita harus kita atur sedemikian rupa sehingga mampu memberikan kebahagiaan bagi orang lain, sebab hati tidak bisa disentuh kecuali oleh hati lagi.
Cobalah Bapak-bapak dan Ibu-ibu, anak-anak kita harus merasa aman dekat dengan kita. Jangan sampai ketika dekat ki-ta, mereka merasa ketakutan, tidak aman, hingga akhirnya mere-ka mencari rasa aman dengan orang-orang di luar kita, yang belum tentu berperilaku baik. Para guru jangan sampai membuat panik para muridnya. Ketika lonceng tanda masuk berdentang, haruslah murid merasa bahagia. Itu sukses. Jangan sampai seba-liknya, ketika kita masuk semua menjadi panik.
Sudah seharusnya menjadi cita-cita jauh di lubuk hati kita yang terdalam untuk menekadkan diri menjadi seorang pribadi bersih hati yang selalu dicintai dan di-nanti kehadirannya. Karena sungguh akan sangat berbahagia bagi orang-orang yang sikapnya, tingkah lakunya, membuat orang disekitarnya merasa aman. Karena perilaku kita adalah juga cerminan kondisi Qalbu kita. Qalbu yang bening, maka tingkah lakunya akan bening menyenangkan pula. Hal ini tiada lain buah dari pengelolaan Qolbu yang benar, Insyaallah.

( 9 )
KISAH RAHASIA
DI SEBALIK SHALAT LIMA WAKTU

Ali bin Abi Talib r.a. berkata, "Sewaktu Rasullullah SAW duduk bersama para sahabat Muhajirin dan Ansar, maka dengan tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi lalu berkata, 'Ya Muhammad, kami hendak bertanya kepada kamu kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa A.S. yang tidak diberikan kecuali kepada para Nabi utus-an Allah atau malaikat muqarrab.'
Lalu Rasullullah SAW bersabda, 'Silahkan bertanya.'
Berkata orang Yahudi, 'Coba terangkan kepada kami ten-tang 5 waktu yang diwajibkan oleh Allah ke atas umatmu.'
Sabda Rasullullah saw, 'Shalat Zuhur jika tergelincir mata-hari, maka bertasbihlah segala sesuatu kepada Tuhannya. Shalat Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Shalat Maghrib itu adalah saat Allah menerima taubat Nabi Adam a.s. Maka setiap mukmin yang bershalat Maghrib dengan ikhlas dan kemudian dia berdoa meminta sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan mengkabulkan permintaannya. Shalat Isyak itu ialah shalat yang dikerjakan oleh para Rasul sebe-lumku. Shalat Subuh adalah sebelum terbit matahari. Ini karena apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan di situ sujudnya setiap orang kafir.'
Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasul-lullah saw, lalu mereka berkata, 'Memang benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakanlah kepada kami apakah pahala yang akan diperoleh oleh orang yang shalat.'
Rasullullah SAW bersabda, 'Jagalah waktu-waktu shalat terutama shalat yang pertengahan. Shalat Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam. Orang-orang mukmin yang menger-jakan shalat pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya uap api neraka Jahanam pada hari Kiamat.'
Sabda Rasullullah saw lagi, 'Manakala shalat Asar, adalah saat di mana Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.'
Selepas itu Rasullullah saw membaca ayat yang bermaksud, 'Jagalah waktu-waktu shalat terutama sekali shalat yang perte-ngahan. Shalat Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam a.s. diterima. Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan shalat Maghrib kemudian meminta sesuatu daripada Allah, maka Allah akan perkenankan.'
Sabda Rasullullah saw, 'Shalat Isya’ (atamah). Katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan shalat Isyak berjamaah, Allah SWT haramkan dirinya daripada terkena nyala api neraka dan dibe-rikan kepadanya cahaya untuk menyeberangi Titian Sirath.'
Sabda Rasullullah saw seterusnya, 'Shalat Subuh pula, seseorang mukmin yang mengerjakan shalat Subuh selama 40 hari secara berjamaah, diberikan kepadanya oleh Allah SWT dua kebebasan iaitu:
1. Dibebaskan daripada api neraka.
2. Dibebaskan dari nifaq.
Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan Rasulullah saw, maka mereka berkata, 'Memang benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad (saw). Kini katakan pula kepada kami semua, kenapakah Allah SWT mewajibkan puasa 30 hari ke atas umatmu?'
Sabda Rasullullah saw, 'Ketika Nabi Adam memakan buah pohon khuldi yang dilarang, lalu makanan itu tersangkut dalam perut Nabi Adam a.s. selama 30 hari. Kemudian Allah SWT mewajibkan ke atas keturunan Adam a.s. berlapar selama 30 hari.
Sementara diizinkan makan di waktu malam itu adalah sebagai kurnia Allah SWT kepada makhluk-Nya.'
Kata orang Yahudi lagi, 'Wahai Muhammad, memang be-narlah apa yang kamu katakan itu. Kini terangkan kepada kami mengenai ganjaran pahala yang diperoleh dari berpuasa itu.'
Sabda Rasullullah saw, 'Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Ramadhan dengan ikhlas kepada Allah SWT, dia akan diberikan oleh Allah SWT 7 perkara:
1. Akan dicairkan daging haram yang tumbuh dari badannya (daging yang tumbuh daripada makanan yang haram).
2. Rahmat Allah senantiasa dekat dengannya.
3. Diberi oleh Allah sebaik-baik amal.
4. Dijauhkan dari rasa lapar dan dahaga.
5. Diringankan baginya siksa kubur (siksa yang amat mengerikan).
6. Diberikan cahaya oleh Allah SWT pada hari Kiamat untuk menyeberang Titian Sirath.
7. Allah SWT akan memberinya kemudian di Sorga.'
Kata orang Yahudi, 'Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakan kepada kami kelebihanmu di antara semua para nabi.'
Sabda Rasullullah saw, 'Seorang nabi menggunakan doa mus-tajabnya untuk membinasakan umatnya, tetapi saya tetap me-nyimpankan doa saya (untuk saya gunakan memberi syafaat ke-pada umat saya di hari kiamat).'
Kata orang Yahudi, 'Benar apa yang kamu katakan itu Muham-mad. Kini kami mengakui dengan ucapan Asyhadu Alla illaha illallah, wa annaka Rasulullah (kami percaya bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan engkau utusan Allah).'
Sedikit peringatan untuk kita semua: "Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (Surah Al-Baqarah: ayat 155)
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diu-sahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang diker-jakannya." (Surah Al-Baqarah: ayat 286)


( 10 )
GUGURNYA DOSA
BERSAMA TETESAN AIR WUDHU

“Abu Nadjih (Amru) bin Abasah Assulamy r.a berkata: Pada masa Jahiliyah, saya merasa bahwa semua manusia dalam kesesatan, karena mereka menyembah berhala. Kemudian saya mendengar berita ; Ada seorang di Mekkah memberi ajaran-ajar-an yang baik. Maka saya pergi ke Mekkah, di sana saya dapat-kan Rasulullah SAW masih sembunyi-sembunyi, dan kaumnya sangat congkak dan menentang padanya.
Maka saya berdaya-upaya hingga dapat menemuinya, dan ber-tanya kepadanya : Apakah kau ini ?
Jawabnya : Saya Nabi.
Saya tanya : Apakah nabi itu ?
Jawabnya : Allah mengutus saya.
Diutus dengan apakah ?
Jawabnya : Allah mengutus saya supaya menghubungi famili dan menghancurkan berhala, dan meng-Esa-kan Tuhan dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
Saya bertanya : Siapakah yang telah mengikuti engkau atas ajaran itu ?
Jawabnya : Seorang merdeka dan seorang hamba sa-haya ( Abubakar dan Bilal ).
Saya berkata: Saya akan mengikuti kau. Jawabnya: Tidak dapat kalau sekarang, tidakkah kau perhatikan keadaan orang-orang yang menentang kepadaku, tetapi pulanglah kembali ke kampung, kemudian jika telah mendengar berita kemenanganku, maka datanglah kepadaku. Maka segera saya pulang kembali ke kampung, hingga hijrah Rasulullah SAW ke Madinah, dan saya ketika itu masih terus mencari berita, hingga bertemu beberapa orang dari familiku yang baru kembali dari Madinah, maka saya bertanya : Bagaimana kabar orang yang baru datang ke kota Madinah itu ? Jawab mereka : Orang-orang pada menyambutnya dengan baik, meskipun ia akan dibunuh oleh kaumnya, tetapi tidak dapat. Maka berangkatlah saya ke Madinah dan bertemu pada Rasulullah SAW. Saya berkata : Ya Rasulullah apakah kau masih ingat pada saya ?
Jawabnya : Ya, kau yang telah menemui saya di Mekkah. Lalu saya berkata : Ya Rasulullah beritahukan kepada saya apa yang telah diajarkan Allah kepadamu dan belum saya ketahui. Beritahukan kepada saya tentang shalat ? Jawab Nabi : Shalatlah waktu Shubuh, ke-mudian hentikan shalat hingga matahari naik tinggi sekadar tombak, karena pada waktu terbit matahari itu se-olah-olah terbit di antara dua tanduk syaitan, dan ketika itu orang-orang kafir menyembah sujud kepadanya.
Kemudian setelah itu kau boleh shalat sekuat tenagamu dari sunnat, karena shalat itu selalu disaksikan dan dihadiri Ma-laikat, hingga matahari tegak di tengah-tengah, maka di situ hen-tikan shalat karena pada saat itu dinyalakan Jahannam, maka bila telah telingsir dan mulai ada bayangan, shalatlah, karena shalat itu selalu disaksikan dan dihadiri Malaikat, hingga shalat Asar. Kemudian hentikan shalat hingga terbenam matahari, karena ketika akan terbenam matahari itu seolah-olah terbenam dian-tara dua tanduk syaithan dan pada saat itu bersujudlah orang-orang kafir.
Saya bertanya : Ya Nabiyullah : Ceriterakan kepada saya tentang wudhu’ ! Bersabda Nabi : Tiada seorang yang berwudhu’ lalu berkumur dan menghirup air, kemudian mengeluarkannya dari hidungnya melainkan ke-luar semua dosa-dosa dari mulut dan hidung. Kemudian jika ia membasuh mukanya menurut apa yang diperintahkan Allah, jatuhlah dosa-dosa mukanya dari ujung jenggotnya bersama tetesan air. Kemudian bila memba-suh kedua tangan sampai kedua siku, jatuhlah dosa-dosa dari ujung jari-jarinya bersama tetesan air. Kemudian mengusap ke-pala maka jatuh semua dosa dari ujung rambut bersama tetesan air, kemudian membasuh dua kaki ke mata kaki, maka jatuhlah semua dosa kakinya dari ujung jari bersama tetesan air. Maka bila ia shalat sambil memuja dan memuji Allah menurut lazim-nya, dan membersihkan hati dari segala sesuatu selain Allah, maka keluar dari semua dosanya bagaikan lahir dari perut ibunya “ ( HR. Muslim )
“Ketika Amru bin Abasah menceritakan hadith ini kepada Abu Umamah, oleh Abu Umamah ditegur : Hai Amru bin Aba-sah perhatikan keteranganmu itu, masakan dalam satu perbuatan orang diberi ampun demikian rupa. Jawab Amru : Hai Abu Umamah, telah tua usiaku, dan rapuh tulangku, dan amper ajalku, dan tiada kepentingan bagiku untuk berdusta terhadap Allah atau Rasu-lullah SAW.
Andaikan saya tidak mendengar dari Rasulullah, hanya satu dua atau tiga empat kali, atau lima enam tujuh kali tidak akan saya ceritakan, tetapi saya telah mendengar lebih dari itu “ ( HR. Muslim )

( 11 )
AKU HANYALAH SEORANG HAMBA

Pada masa Rasulullah memimpin masyarakat Madinah, selaku orang besar ia justru paling melarat, walaupun warga Madinah hidup berkecukupan.
Kalau ada pakaian yang robek, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memeras susu kam-bing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.
Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang su-dah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyinsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.
Sayidatina 'Aisyah menceritakan "Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumah-tangga. Jika men-dengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai shalat."
Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina 'Aisyah belum ke pasar.
Maka Nabi bertanya, "Belum ada sarapan ya Khumaira?" (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina 'Aisyah yang berarti 'Wahai yang kemerah-merahan')
'Aisyah menjawab dengan agak serba salah, "Belum ada apa-apa wahai Rasulullah."
Rasulullah lantas berkata, "Jika begitu aku puasa saja hari ini." Tanpa sedikit tergambar rasa kesal diwajahnya.
Sebaliknya baginda sangat marah tatkala melihat seorang suami memukul isterinya. Rasulullah menegur, "Mengapa engkau me-mukul isterimu?" Lantas dijawab dengan agak gementar, "Is-teriku sangat keras kepala. Sudah diberi nasehat dia tetap ban-del, jadi aku pukul dia."
"Aku tidak bertanya alasanmu," sahut Nabi Saw. "Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu bagi anak-anakmu ?"
Pernah baginda bersabda, "sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya."
Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda dalam menjadi kepala keluarga tidak menampakkan kedudukannya sebagai pemimpin umat.
Pada suatu hari, ketika Rasulullah mengimami Shalat Isya berjamaah, para sahabat yang jadi makmum dibuat cemas oleh keadaan nabi yang agaknya sedang sakit payah. Buktinya, setiap kali ia menggerakkan tubuh untuk rukuk, sujud dan sebagainya, selalu terdengar suara keletak-keletik, seakan-akan tulang-tulang Nabi longgar semuanya.
Maka, sesudah salam, Umar bin Khatab bertanya,"Ya, Rasullullah, apakah engkau sakit?".
"Tidak, Umar, aku sehat," jawab Nabi.
"Tapi mengapa tiap kali engkau menggerakkan badan dalam shalat, kami mendengar bunyi tulang-tulangmu yang berke-retakan?".
Mula-mula, Nabi tidak ingin membongkar rahasia. Namun, kare-na para sahabat tampaknya sangat waswas memperhatikan kea-daannya, Nabi terpaksa membuka pakaiannya.
Tampak oleh para sahabat, Nabi mengikat perutnya yang kempis dengan selembar kain yang didalamnya diiisi batu-batu kerikil untuk mengganjal perut untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kerikil itulah yang berbunyi keletak-keletik sepanjang Nabi memimpin shalat berjamaah.
Serta merta Umar pun memekik pedih, "Ya, Rasulullah, apakah sudah sehina itu anggapanmu kepada kami? Apakah engkau me-ngira seandainya engkau menga-takan lapar, kami tidak bersedia memberimu makan yang paling lezat ?
Bukankah kami semuanya hidup dalam kemakmuran ?".
Nabi tersenyum ramah seraya menyahut, "Tidak, Umar tidak. Aku tahu, kalian, para sahabatku, adalah orang-orang yang setia kepadaku. Apalagi sekedar makanan, harta ataupun nyawa akan kalian serahkan untukku sebagai rasa cintamu terhadapku, tetapi dimana akan kuletakkan mukaku dihadapan pengadilan Allah kelak di Hari Pembalasan, apabila aku selaku pemimpin justru membikin berat dan menjadi beban orang-orang yang aku pimpin?".
Para sahabat pun sadar akan peringatan yang terkandung dalam ucapan Nabi tersebut, sesuai dengan tindakannya yang senantiasa lebih mementingkan kesejahteraan umat daripada dirinya sendiri.
Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.
Baginda hanya diam dan bersabar ketika kain rida'nya ditarik dengan kasar oleh seorang Arab Baduwi hingga berbekas merah di lehernya.
Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencingi si Baduwi di dalam masjid sebelum menegur de-ngan lembut perbuatan itu.
Mengenang pribadi yang amat halus ini, timbul persoalan dalam diri kita... adakah lagi bayangan pribadi baginda Rasulullah Saw. hari ini?
Apakah rahasia yang menjadikan jiwa dan akhlak baginda begitu indah? Apakah yang menjadi rahasia kehalusan akhlaknya hingga sangat memikat dan menjadikan mereka begitu tinggi ke-cintaan padanya.
Apakah kunci kehebatan peribadi baginda yang bukan saja sa-ngat bahagia kehidupannya walaupun di dalam kesusahan dan penderitaan, bahkan mampu pula membahagiakan orang lain tatkala di dalam derita.
Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH SWT dan rasa ke-hambaan yang sudah menyatu dalam diri Rasulullah saw meno-lak sama sekali rasa ketuanan.
Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam kesendirian.
Seorang tabib yang dikirim oleh penguasa Mesir, Mu-qauqis, sebagai tanda persahabatan, selama dua tahun di Madi-nah sama sekali menganggur.
Menandakan betapa kesehatan penduduk Madinah betul-betul berada pada tingkatan yang tinggi. Sampai tabib itu bosan dan bertanya kepada Nabi, "Apakah masyarakat Madinah takut kepada tabib?"
Nabi menjawab, "Tidak. Terhadap musuh saja tidak takut, apalagi kepada tabib".
"Tapi mengapa selama dua tahun tinggal di Madinah, tidak ada seorang pun yang pernah berobat kepada saya?"
"Karena penduduk Madinah tidak ada yang sakit," jawab Nabi.
Tabib itu kurang percaya, "Masak tidak ada seorang pun yang mengidap penyakit?".
"Silakan periksa ke segenap penjuru Madinah untuk membukti-kan ucapanku,"ujar Nabi.
Maka tabib Mesir itu pun melakukan perjalanan kelililng Madi-nah guna mencari tahu apakah benar ucapan Nabi tersebut. Ternyata memang di seluruh Madinah ia tidak menjumpai orang yang sakit-sakitan. Akhirnya, ia berubah menjadi kagum dan bertanya kepada Nabi, "Bagai-mana resepnya sampai orang-orang Madinah sehat-sehat semuanya ?"
Rasulullah menjawab, "Kami adalah suatu kaum yang tidak akan makan kalau belum lapar. Jika kami makan, tidaklah sampai ter-lalu kenyang. Itulah resep untuk hidup sehat, yakni makan yang halal dan baik, dan makanlah untuk takwa, tidak sekedar memu-askan hawa nafsu".
Ketika pintu Sorga telah terbuka seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih lagi berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah hingga pernah baginda terjatuh lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. ketika dita-nya oleh Sayidatina 'Aisyah, "Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin masuk Sorga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini ?"
Jawab baginda dengan lunak, "Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi ham-ba-Nya yang bersyukur."

( 12 )
KETIKA TIRAI TERTUTUP

Ketika mendengar sebuah berita “miring” tentang saudara kita, apa reaksi kita pertama kali ? Kebanyakan dari kita dengan sadarnya akan menelan berita itu, bah-kan ada juga yang dengan semangat meneruskannya ke-mana-mana.
Kita ceritakan aib saudara kita, sambil berbisik, “sst! Ini rahasia lho!”. Yang dibisiki akan meneruskan berita tersebut ke yang lainnya, juga sambil berpesan, “ini rahasia lho!”
Kahlil Gibran dengan baik melukiskan hal ini dalam kalimatnya, “jika kau sampaikan rahasiamu pada aying, jangan salahkan aying bila ia kabarkan pada pepohonan.”
Inilah yang sering terjadi. Saya memiliki seorang rekan musli-mah yang terpuji akhlaknya. Ketika dia menikah saya mengha-diri acaranya. Beberapa minggu kemudian, seorang sahabat me-ngatakan, “saya dengar dari si A tentang “malam pertamanya” si B.” Saya kaget dan saya ayin, “darimana si A tahu?” Dengan enteng rekan saya menjawab, “ya dari si B sendiri! Bukankah mereka kawan akrab…”
Masya Allah! Rupanya bukan saja “rahasia” orang lain yang kita umbar kemana-mana, bahkan “rahasia kamar” pun kita ceritakan pada sahabat kita, yang sayangnya juga punya sahabat, dan sahabat itu juga punya sahabat.
Saya ngeri mendengar Hadith Nabi : “Barang siapa yang membongkar-bongkar aib saudaranya, Allah akan membongkar aibnya. Barangsiapa yang dibongkar aibnya oleh Allah, Allah akan mempermalukannya, bahkan di tengah keluarganya.”
Fakhr al-Razi dalam tafsirnya menceritakan sebuah riwayat bahwa para malaikat melihat di lauh al-mahfudz akan kitab catatan manusia. Mereka membaca amal saleh manusia. Ketika sampai pada bagian yang berkenaan dengan kejelekan manusia, tiba-tiba sebuah tirai jatuh menutupnya. Malaikat berkata, “Ma-ha Suci Dia yang menampakkan yang indah dan menyembu-nyikan yang buruk.”
Jangan bongkar aib saudara kita, supaya Allah tidak mem-bongkar aib kita. “Ya Allah tutupilah aib dan segala kekurangan kami di mata penduduk bumi dan langit dengan rahmat dan kasih aying-Mu, Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah”

( 13 )
MENGUBAH DENGAN KEKUATAN TAULADAN

Mudah-Mudahan kita semua tidak menjadi contoh kebu-rukan bagi orang lain. Mudah-mudahan anak-anak kita tidak mencontoh perilaku buruk yang pernah khilaf kita, para orang tuanya lakukan. Dan mudah-mudahan pula anggota lingkungan masyarakat kita tidak menjadikan kita sebagai salah satu igure keburukan, akibat perilaku buruk yang kita lakukan.
Alangkah ruginya dalam hidup yang Cuma sekali-kalinya ini dan orang lain meniru keburukan kita, naudzubillah. Ingatlah bahwa jika kita berperilaku buruk dan tidak bermoral, maka ke-tika orang berbicara, akan berbicara tentang keburukan kita. Apalagi jika orang lain mencontoh perilaku buruk itu, berarti kita juga akan memikul dosanya.
Namun seandainya justru orang atau masyarakat di sekitar kita yang berperilaku kurang baik, maka sudah sewajarnya bila kita menekadkan diri untuk mengu-bahnya menuju arah kebaik-an. Lalu, bagaimana cara mengubah orang menjadi lebih baik secara efektif ?
Salah satu caranya adalah dengan kekuatan suri tauladan atau menjadi contoh terlebih dahulu. Jika ingin mengubah orang lain, maka pertanyaan pertama yang harus dilakukan adalah su-dah pantaskah kita menjadi contoh kebaikan akhlak bagi orang lain ? Sudahkah kita menjadi suri tauladan bagi apa yang kita inginkan ada pada diri orang lain itu ?

( 14 )
KEJUJURAN

Kejujuran, betapa langkanya kata ini!
Mencari orang yang jujur saat ini egara sama mustahilnya dengan mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Jujur bukanlah semata-mata tidak berkata dusta. Ketika Nabi bersabda : Qulil Haq Walau Kaana Murro “katakanlah kebenaran itu walupun pahit”, sebenarnya Nabi memerintahkan kita untuk berlaku jujur dengan lidah kita. Ketika Nabi bersabda, “andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangan-nya,”
Sesungguhnya Nabi mengajarkan kita untuk bertindak jujur dalam penegakkan egar meskipun terhadap keluarga sendiri. Ketika Al-Qur’an merekam kalimat suci, “sampaikanlah amanat kepada yang berhak,” sesungguhnya Allah menyuruh kita bersikap jujur ketika memegang amanah, baik selaku dosen, pejabat, ataupun pengusaha. Sewaktu Allah menghancurkan harta si Karun karena Karun bersikukuh bahwa harta itu di-raihnya karena kerja kerasnya semata, bukan karena anugerah Allah, sebenarnya Allah sedang memberi peringatan kepada kita bahwa itulah azab Allah terhadap mereka yang tidak berlaku jujur akan rahmat Allah.
Tengoklah diri kita sekarang.. Masihkah tersedia kejujuran di dalam segala tindak tanduk kita? Ketika anda terima uang sogokan sebenarnya anda telah berlaku tidak jujur. Ketika anda enggan menolong rekan anda, meskipun anda sadar anda mam-pu menolongnya, saat itu anda telah menodai kejujuran.
Ketika di sebuah pengajian anda ditanya jama’ah sebuah pertanyaan yang sulit, dan anda tahu bahwa anda tak mampu menjawabnya, tapi anda jawab juga dengan “putar sana-sini”, maka anda telah melanggar sebuah kejujuran (orang kini menye-butnya “kejujuran ilmiah”).

Adakah orang jujur saat ini?
Bahkan Yudhistira yang dalam kisah Mahabharata terkenal jujur pun sempat berbohong dihadapan Resi Durna saat perang Bharata Yudha. Dewa dalam kisah tersebut menghukum Yu-dhistira dengan membenamkan roda keretanya ke dalam tanah beberapa senti. Anda boleh tak percaya cerita Mahabharata ini, tapi jangan bilang bahwa anda meragukan Allah mampu menghukum kita akibat ketidakjujuran kita dengan lebih dahsyat lagi. Kalau Dewa mampu menghukum Yudhistira seperti itu, jangan-jangan Allah akan membenamkan seluruh yang kita banggakan ke dalam tanah hanya dalam kejapan mata saja.
Guru saya pernah bercerita ketika ada orang yang baru masuk Islam bertanya kepada Rasul bahwa ia belum mampu untuk mengikuti gerakan sholat dan kewajiban lainnya, konon, Rasul hanya memintanya untuk berlaku jujur. Ketika ada seo-rang warga egara Ing-gris yang masuk Islam, dan belum bisa sholat serta puasa, saya minta dia untuk berlaku jujur saja da-hulu. Orang asing itu terperanjat. Boleh jadi dia kaget bahwa betapa Islam memandang tinggi nilai kejujuran. Kini, saya yang terperanjat dan terkaget-kaget menyaksikan perilaku kita semua yang sudah bisa sholat dan puasa namun tidak mampu berlaku jujur.
Duh Gusti..betapa jauh prilaku kami dari contoh yang diberikan Nabi-Mu…!?!

( 15 )
SAYIDATINA FATIMAH R.HA

Dia besar dalam suasana kesusahan. Ibundanya pergi keti-ka usianya terlalu muda dan masih memerlukan kasih sayang seorang ibu. Sejak itu, dialah yang mengambil alih tugas mengu-rus rumahtangga seperti memasak, mencuci dan menguruskan keperluan ayahandanya.
Di balik kesibukan itu, dia juga adalah seorang yang paling kuat beribadah. Keletihan yang ditanggung akibat seharian bekerja menggantikan tugas ibunya yang telah pergi itu, tidak pula menghalang Sayidatina Fatimah daripada bermunajah dan ber-ibadah kepada Allah SWT Malam-malam yang dilalui, diisi de-ngan tahajud, zikir dan siangnya pula dengan sholat, puasa, membaca Al Quran dan lain-lain. Setiap hari, suara halusnya me-ngalunkan irama Al Quran.
Di waktu umurnya mencapai 18 tahun, dia dikawinkan dengan pemuda yang sangat miskin hidupnya. Bahkan karena kemiskinan itu, untuk membayar mas kawin pun suaminya tidak mampu lalu dibantu oleh Rasulullah SAW.
Setelah berkawin kehidupannya berjalan dalam suasana yang amat sederhana, gigih dan penuh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Digelari Singa Allah, suaminya Sayidina Ali me-rupakan orang kepercayaan Rasulullah SAW yang diamanahkan untuk berada di barisan depan dalam tentera Islam. Maka dari itu, seringlah Sayidatina Fatimah ditinggalkan oleh suaminya yang pergi berperang untuk berbulan-bulan lamanya. Namun dia tetap ridho dengan suaminya. Isteri mana yang tidak mengha-rapkan belaian mesra daripada seorang suami. Namun bagi Sayidatina Fatimah r.ha, saat-saat berjauhan dengan suami adalah satu kesempatan berdampingan dengan Allah SWT untuk mencari kasih-Nya, melalui ibadah-ibadah yang dibangunkan.
Sepanjang kepergian Sayidina Ali itu, hanya anak-anak yang masih kecil menjadi temannya. Nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya Hassan, Hussin, Muhsin, Zainab dan Umi Kalsum diusahakan sendiri. Untuk men-dapatkan air, berjalanlah dia sejauh hampir dua batu dan mengambilnya dari sumur yang 40 hasta dalamnya, di tengah teriknya matahari padang pasir.
Kadangkala dia lapar sepanjang hari. Sering dia berpuasa dan tubuhnya sangat kurus hingga menampakkan tulang di dadanya.
Pernah suatu hari, ketika dia sedang tekun bekerja di sisi batu pengisar gandum, Rasulullah datang berkunjung ke rumahnya. Sayidatina Fatimah yang amat keletihan ketika itu lalu meceri-takan kesusahan hidupnya itu kepada Rasulullah SAW. Betapa dirinya sangat letih bekerja, mengangkat air, memasak serta me-rawat anak-anak. Dia berharap agar Rasulullah dapat menyam-paikan kepada Sayidina Ali,kalau mungkin boleh disediakan untuknya seorang pembantu rumah. Rasulullah saw merasa ter-haru terhadap penanggungan anaknya itu.
Namun baginda amat tahu, sesungguhnya Allah memang menghendaki kesusahan bagi hamba-Nya sewaktu di dunia un-tuk membeli kesenangan di akhirat. Mereka yang rela bersusah payah dengan ujian di dunia demi mengharapkan keridhoan-Nya, mereka inilah yang mendapat tempat di sisi-Nya. Lalu dibujuk-nya Fatimah r.ha sambil memberikan harapan dengan janji-janji Allah. Baginda mengajarkan zikir, tahmid dan takbir yang apa-bila diamalkan, segala penanggungan dan bebanan hidup akan terasa ringan.
Ketaatannya kepada Sayidina Ali menyebabkan Allah SWT mengangkat derajatnya. Sayidatina Fatimah tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemis-kinan keluarga mereka. Tidak juga dia meminta-minta hingga menyusah-nyusahkan suaminya.
Dalam pada itu, kemiskinan tidak menghilangkan Sayida-tina Fatimah untuk selalu bersedekah. Dia tidak sang-gup untuk kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Dia tidak rela hidup senang dikala orang lain menderita. Bahkan dia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa memberikan sesuatu meskipun dirinya sendiri sering kela-paran. Memang cocok sekali pasangan Sayidina Ali ini karena Sayidina Ali sendiri lantaran kemurahan hatinya sehingga digelar sebagai 'Bapa bagi janda dan anak yatim di Madinah’.
Namun, pernah suatu hari, Sayidatina Fatimah telah me-nyebabkan Sayidina Ali tersentuh hati dengan kata-katanya. Me-nyadari kesalahannya, Sayidatina Fatimah segera meminta maaf berulang-ulang kali.
Ketika dilihatnya raut muka suaminya tidak juga berubah, lalu dengan berlari-lari bersama anaknya mengelilingi Sayidina Ali. Tujuh puluh kali dia 'tawaf' sambil merayu-rayu memohon dimaafkan. Melihat aksi Sayi-datina Fatimah itu, tersenyumlah Sayidina Ali lantas memaafkan isterinya itu.
"Wahai Fatimah, kalaulah dikala itu engkau mati sedang Ali tidak memaafkanmu, niscaya aku tidak akan menyembah-yangkan jenazahmu," Rasulullah SAW mem-beri nasehat kepada puterinya itu ketika masalah itu sampai ke telinga baginda.
Begitu tinggi kedudukan seorang suami yang ditetapkan Allah SWT sebagai pemimpin bagi seorang isteri. Betapa seorang isteri perlu berhati-hati dan sopan di saat berhadapan dengan suami. Apa yang dilakukan Sayidatina Fatimah itu bukanlah disengaja. bukan juga dia membentak-bentak, marah-marah, me-ninggikan suara, bermasam muka, atau lain-lain yang menyu-sahkan Sayidina Ali k.w. meskipun demikian Rasulullah SAW berkata begitu terhadap Fatimah.
Ketika perang Uhud, Sayidatina Fatimah ikut merawat luka Rasulullah. Dia juga turut bersama Rasulullah semasa peristiwa penawanan Kota Makkah dan ketika ayahandanya mengerjakan 'Haji Wada' pada akhir tahun 11 Hijrah. Dalam perjalanan haji terakhir ini Rasulullah SAW telah jatuh sakit. Sayidatina Fatimah tetap di sisi ayahandanya. Ketika itu Rasu-lullah membisikkan sesuatu ke telinga Fatimah r.ha membuatnya menangis, kemudian Nabi SAW membisikkan sesuatu lagi yang membuatnya tersenyum.
Dia menangis karena ayahandanya telah membisikkan kepadanya berita kematian baginda. Namun, sewaktu ayahan-danya menyatakan bahwa dialah orang pertama yang akan ber-kumpul dengan baginda di alam baqa', gembiralah hatinya. Sayi-datina Fatimah meninggal dunia enam bulan setelah kewafatan Nabi SAW, dalam usia 28 tahun dan dimakamkan di Perkuburan Baqi', Madinah.
Demikianlah wanita utama, agung dan namanya harum tercatat dalam al-Quran, disusahkan hidupnya oleh Allah SWT Sengaja dibuat begitu oleh Allah karena Dia tahu bahwa dengan kesusahan itu, hamba-Nya akan lebih hampir kepada-Nya. Begi-tulah juga dengan kehidupan wanita-wanita agung yang lain. Mereka tidak sempat berlaku sombong serta membangga diri atau bersenang-senang. Sebaliknya, dengan kesusahan-kesusah-an itulah mereka dididik oleh Allah untuk senantiasa merasa sabar, ridho, takut dengan dosa, tawadhuk (merendahkan diri), tawakkal dan lain-lain.
Ujian-ujian itulah yang sangat mendidik mereka agar ber-taqwa kepada Allah SWT Justru, wanita yang sukses di dunia dan di akhirat adalah wanita yang hatinya dekat dengan Allah, merasa terhibur dalam melakukan ketaatan terhadap-Nya, dan amat bersungguh-sungguh menjauhi larangan-Nya, biarpun diri mereka menderita.

( 16 )
EMPAT PERKARA SEBELUM TIDUR

Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra :“Ya Aisyah jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu :
1. Sebelum khatam Al Qur’an,
2. Sebelum membuat para nabi memberimu syafaat di hari akhir,
3. Sebelum para muslim meridloi kamu,
4. Sebelum kaulaksanakan haji dan umroh….
“Bertanya Aisyah :“Ya Rasulullah…. Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?”
Rasul tersenyum dan bersabda : “Jika engkau tidur bacalah : Al Ikhlas tiga kali seakan-akan kau mengkhatamkan Al Qur’an.
Membacalah sholawat untukKu dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberi syafaat di hari kiamat.
Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meredloi kamu.
Dan,perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka seakan-akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh”
Sekian untuk ingatan kita bersama.

( 17 )
TIPU DAYA SYETAN

Ada kaidah bahwa sesuatu yang tidak terlihat tidak lantas disebut tidak ada. Contoh sederhananya adalah elektron, udara, jin. Seorang Profesor elektro pun pasti belum pernah melihat elektron dengan kasat mata, atau melihat arus listrik yang me-ngalir pada kabel. Bila tidak percaya pegang saja kabel listrik kalau tidak kabel itu "menggigit" alias nyetrum. Tapi jangan coba-coba mengetesnya sendiri pokonya percaya saja. Udara juga kita pasti tidak dapat melihatnya. Yang terlihat hanyalah gerakan benda-benda yang terhempas oleh udara contohnya de-daunan yang bergoyang terhempas udara.
Begitu juga jin. Dan untuk masalah jin ini, walaupun tidak terlihat dia pasti ada. Jin itu sendiri ada yang muslim dan ada yang kafir. Dan yang mengajak kejahatan itu disebut dengan syetan dan nenek moyangnya adalah iblis laknatulloh.
Mengapa kita harus percaya bahwa sesuatu yang tidak ter-lihat belum tentu tidak ada? Itu karena manusia sendiri dicipta-kan sempurna oleh Allah. Manusia diciptakan dengan keterba-tasan. Dengan keterbatasannya itu sesungguhnya adalah rahmat bagi manusia itu sendiri. Manusia diciptakan dengan kemam-puan melihat pergerakan benda yang kecepatannya terbatas. Juga manusia diciptakan dengan kemampuan mendengar yang terba-tas. Coba kita lihat baling-baling pesamat, pasti bila pu-taran baling-baling itu kecepatannya makin tinggi maka tidak akan kelihatan anak baling-baling tersebut. Coba kita bisa mendengar semua frekuensi suara bisa stress jadinya bila setiap hari mendengar suara kelelawar, suara gelombang radio atau suara semut. Maha suci Allah yang telah menciptakan keter-batasan pada diri manusia.
Manusia diciptakan dari tanah/sari pati tanah. Tapi bukan berarti kalau kita ditimpuk oleh tanah langsung bersenyawa, ha-silnya yang pasti adalah benjol. Begitu juga dengan jin yang di-ciptakan dari panas api dan itu tidak berati jin tidak bisa mera-sakan panasnya api (neraka).
Menurut sejarahnya iblis/syetan selalu akan berusaha membuat manusia menyimpang dari jalan yang lurus.Dan itu dilakukan dalam ukuran detik atau bahkan bila ada yang lebih kecil dari detik maka begitu gencarlah syetan berusaha menye-satkan manusia.
Kita yang tidak bisa melihat jin kafir/syetan suka terlena akan godaan syetan ini. Kita suka tidak sadar bahwa mereka selalu mengintai dan menyesatkan manu-sia seperti halnya aliran darah dalam tubuh manusia yang terus bersirkulasi begitu juga syetan, terus menyesatkan manusia tanpa henti.
Oleh sebab itu yakini sesungguhnya kita sedang berperang antara manusia dengan syetan. Dan syetan adalah musuh yang nyata bagi manusia walaupun tidak terlihat mata. Dan alangkah aneh kita manusia tetapi tidak tahu atau tidak awas siapa musuh kita, bagaimana musuh kita.
Syetan itu bekerja sama antara syetan dari golongan jin dengan syetan dari golongan manusia. Con-tohnya adalah: mela-lui desainer pakaian syetan membisik-bisikan agar si desainer menghasilkan desain pakaian yang mini-mini yang membuka aurat. Juga syetan memberikan ide-ide kepada para pembuat iklan untuk membuat iklan yang menghasilkan kesan mesum dan juga para penggubah lagu juga dibisik-bisiki supaya menghasil-kan lagu yang mengundang syahwat. Kesemuanya bermuara ke-pada melalaikan untuk mengingat Allah!
Bila melihat sinetron jaman sekarang, pasti bapak-bapak/-ibu-ibu juga anak laki-laki/perempuan suka nonton sinetron bukan karena jalan ceritanya yang bagus tapi cenderung karena pemainnya yang muda-muda cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Dan ini tanpa disadari bisa menjadi sumber ketidak harmonisan rumah tangga. Coba saja lihat "habis lihat sinetron dengan pemainnya wanita-wanita cantik lalu setelah itu lihat wajah istri sendiri", pasti akan kelihatan lebih tua.
Karena apa,.karena baru saja melihat wanita-wanita mu-da dan cantik disinetron. Begitu juga dengan ibu-ibu "habis lihat pemain yang muda gagah" lalu lihat suami wah koq kelihatan sudah tua sekali. Itulah cara-cara syetan memalingkan manusia melalui berbagai cara agar kehidupan manusia penuh dengan perpecahan dan jauh dari mengingat Allah.
Coba jalan-jalan ke Mall, dimana ada di Mall itu sesuatu yang bisa mengingatkan kita kepada Allah. Suara adzan / lantunan Al-Qur'an tidak terdengar, sholat pun bisa jadi lewat begitu saja.
Begitu juga halnya dengan pacaran. Bila ada yang berkata "Aku cinta padamu",padahal arti sebenarnya adalah "Aku nafsu pada kamu". Kenapa? Karena cinta itu sejatinya setelah mema-suki jenjang perkawinan. Sebelum pernikahan, yang ada hanya-lah nafsu. Untuk itu berhati-hatilah antara pergaulan muda-mudi jangan sampai tergelincir kepada zina.
Dalam upaya kita berbuat kebaikan juga selalu berusaha syetan itu menyusup, misalnya ketika berbuat baik ditiup-tiup-kan perasaan riya' atau ketika baca Al-Qur'an dibagus-baguskan supaya orang lain memuji kita.
Oleh sebab itu yakinlah bahwa syetan ada dan selalu berusaha menggelincirkan manusia kepada maksiat dan jauh dari mengi-ngat Allah.
Ada hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menjauhkan godaan syetan, antara lain adalah memohon perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari godaan syetan, sebab syetan itu sendiri mutlak berada da-lam genggaman Allah.
Jangan jadikan rumah kita menjadi sarang syetan. Caranya adalah hindari barang-barang yang bisa menarik syetan untuk dijadikan tempat bersarang. Contoh: jangan ada patung, lukisan makhluk hidup, jangan ada tempat-tempat kotor, lembab, bau dan tidak terawat. Jangan pelihara anjing - Bagi yang punya anjing kasihkan saja pada orang lain yang non muslim - karena an-jing itu bisa menahan malaikat rahmat memasuki rumah kita. Kalau untuk penjaga pakai saja alarm atau sewa satpam. Buat juga kamar atau rumah itu suasananya bisa mengingat Allah. kalau perlu pajang kain kafan di kamar. Hati-hati dengan ba-rang-barang elektronik seperti Kom-puter, TV, VCD, dll karena barang-barang itu juga bisa dijadikan alat perusak iman kita oleh syetan.
Disamping menjaga lingkungan dari kemungkinan dijadi-kannya sarang syetan maka diri kitapun harus dijaga dengan dzikir kepada Allah baik diwaktu pagi atau petang dan juga sebelum tidur. Beberapa contoh yang dapat dilakukan adalah berwudhu sebelum tidur, membaca do'a sebelum tidur, juga baca ayat kursi atau baca lafadz : Laa ilaaha illAllahu wahdahu Laa syarikalah lahul mulku walahul hamdu yuhyii wa yumiitu wahuwa 'alaa kulli syai'in qodiir sebanyak 100 kali (kalau bisa) atau baca doa-doa yang mashyur (Dzikir Al Ma'tsurat misalnya).
Dan sebagai salah satu bentuk pertahanan yang harus selalu kita lakukan bagi keluarga/anak-anak kita atau saudara-saudara kita adalah berdo'a kepada Allah yang menguasai segala makhluk agar terlindung dari godaan syetan.
Semoga kita semua dapat diselamatkan dan dilin-dugi oleh Allah dari godaan syetan dan iblis yang terkutuk. Aamiin.

( 18 )
TAUBAT LELAKI YANG SIBUK
Diceritakan bahwa ada seseorang menceritakan kepada Hasan Al-Basri: “Wahai Abu Said! Di sini ada seorang lelaki yang tidak mau berkumpul dengan orang ramai. Dia senantiasa duduk sendirian saja.”
Hasan pergi kepada orang yang dimaksudkan itu dan berkata: “Wahai hamba Allah! Aku melihat engkau suka duduk menyendiri saja. Mengapa engkau tidak suka bergaul dengan orang ramai?” “Ada suatu perkara yang telah menyibukkan aku dari berkumpul dengan manusia.”
Sekurang-kurangnya engkau pergi kepada lelaki yang dipanggil sebagai Hasan Al-Basri dan duduk di majlis ilmunya.” Kata Hasan lagi.
“Ada satu perkara yang mencegah aku dari berkumpul dengan manusia termasuk Hasan Al-Basri.” Kata lelaki itu.
“Semoga Allah merahmatimu. Apakah gerangan yang senantiasa menyibukkan engkau?”
“Aku setiap hari terjepit di antara nikmat dan dosa. Maka setiap hari diriku sibuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah dan sibuk bertaubat atas dosa-dosa tersebut.” Jawab lelaki itu.
“Wahai hamba Allah! Kalau begitu engkau lebih alim dari Hasan Al-Basri. Maka kekalkanlah amalan yang telah engkau lakukan.” Kata Hasan Al-Basri.

( 19 )
TAUBAT SEORANG WANITA BUTA

Saleh Al-Muri bercerita, bahwa dia pernah melihat seorang perempuan tua memakai baju kasar di Mihrab Daud Alaihis-salam. Perempuan yang telah buta matanya itu sedang menger-jakan sholat sambil menangis terisak-isak. Setelah selesai sholat dia mengangkat wajahnya ke langit dan berdoa :
"Wahai Tuhan, Engkaulah tempatku memohon dan Pelindung-ku dalam hidup. Engkaulah penjamin dan pembimbingku dalam mati. Wahai Yang Maha Mengetahui perkara yang tersembunyi dan rahasia, serta setiap getaran batin tidak ada Raja bagiku selain Engkau yang kuharap dapat menghindarkan bencana yang dahsyat."
Saleh Al-Muri memberi salam kepada perempuan tersebut dan bertanya: "Wahai Ibu! Apa yang menyebabkan hilangnya penglihatanmu?"
"Tangisku yang disebabkan sedihnya hatiku karena terlalu ba-nyaknya maksiatku kepada-Nya, dan terlalu sedikitnya ingatan dan pengabdianku kepada-Nya. Jika Dia mengampunkan aku dan menggantinya di akhirat nanti, adalah lebih baik dari kedua-dua mataku ini. Jika Dia tidak mengampunkan aku, buat apa mata di dunia tetapi akan dibakar di nereka nanti." Kata perem-puan tua itu.
Saleh pun ikut menangis karena sangat terharu mendengar hujjah wanita yang mengharukan itu. "Wahai Saleh! Sudikah ki-ranya engkau membacakan sesuatu dari ayat Al-Quran untukku. Karena aku sudah sangat rindu kepadanya." Pinta perempuan itu.
Lalu Saleh membacakan ayat yang artinya: "Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya." (Al-An'am: 91)
"Wahai Saleh, siapakah yang berkhidmat kepada-Nya de-ngan sebenarnya?" Kata perempuan itu lalu menjerit kuat-kuat dengan jeritan yang boleh menggoncangkan hati orang yang mendengarnya. Dia jatuh ke bumi dan meninggal dunia seketika itu juga.
Pada suatu malam Saleh Al-Muri bermimpi berjumpa dengan perempuan tua itu dalam keadaan memakai baju yang sangat bagus.
Dalam mimpi tersebut Saleh bertanya: "Bagaimana kea-daanmu sekarang?" Perempuan itu menjawab: "Lebih baik rohku dicabut, aku didudukkan di hadapan-Nya dan berkata: "Selamat datang wahai orang yang mati akibat terlalu sedih karena merasa sedikitnya khidmatnya kepada-Ku."

( 20 )
MEMAHAMI BERBAGAI “KEBETULAN”
DALAM KEHIDUPAN

Abraham Lincoln menjadi presiden Amerika tahun 1860
John F. Kennedy jadi presiden Amerika tahun 1960.
Pengganti Lincoln bernama Johnson (Andre) lahir tahun 1808
Sedangkan pengganti Kennedy juga Johnson (Lindon) lahir tahun 1908
Kedua presiden, Lincoln dan Kennedy tewas terbunuh
Pembunuh Lincoln lahir tahun 1839, pembunuh Kennedy lahir tahun 1939
Kedua pembunuh presiden ini terbunuh sebelum sempat diadili.
Sekretaris Lincoln bernama Kennedy, sekretaris Kennedy ber-nama Lincoln
Kedua sekretaris menyarankan kepada presiden agar tidak pergi ke tempat dimana kemudian terjadi pembunuhan, namun ke-duanya menolak.
Pembunuh Lincoln melakukan pembunuhan di teater kemudian bersembunyi di pasar swalayan.
Pembunuh Kennedy, sebaliknya.
Apakah semua itu “kebetulan”?
Dalam kehidupan Rasulullah terdapat pula hal-hal yang dapat dinamai kebetulan-kebetulan.
Beliau lahir, hijrah dan wafat pada hari Senin bulan Rabiul awwal.
Ayah beliau bernama Abdullah (pengabdian kepada ALLAH)
Ibunya Aminah (Kedamaian dan Keamanan)
Bidan yang menangani kelahirannya bernama Asy-Syifa (kesem-buhan, perolehan sempurna dan memuaskan).
Sedangkan yang menyusukan beliau bernama Halimah (Yang Lapang Dada).
Beliau sendiri diberi nama Muhammad (Yang Terpuji), suatu nama yang sebelumnya tidak dikenal sehingga menimbulkan ba-nyak pertanyaan, “mengapa kakeknya menamainya demikian?”
Apakah nama-nama tersebut merupakan kebetulan-kebetulan atau ia merupakan isyarat tentang kepribadian manu-sia ini?
Suatu peristiwa yang tidak sejalan dengan kebiasaan atau terjadi secara tidak terduga biasa kita sebut “kebetulan”.
Keterbatasan kemampuan dan pengetahuan meng-antarkan kita untuk menamainya demikian. Tidak ada “kebetulan” disisi ALLAH SWT
Bukankah DIA Maha Mengetahui, Maha Berkuasa, Pengendali dan Pengatur tatisti?
Sebahagian dari kebetulan-kebetulan itu tidak dapat ditafsirkan dengan teori kausalitas (sebab-akibat).
Disamping sunnatullah ada juga yang dinamai inayatullah (uluran tangan Ilahi) yang tidak harus selalu sama dengan sun-nahNYA.
Bukankah sunnatullah, yang sering diterjemahkan “tati tati alam” tidak lain adalah kebiasaan-kebiasaan yang dialami kemudian diformulasikan? Bukankah ia pada hakikatnya hanya-lah ikhtisar dari pukul rata tatistic? Itulah anugerah ALLAH yang diberikan kepada siapa yang dikehendakiNYA.

( 21 )
KISAH ABU BAKAR DICERCA

Dikeluarkan oleh Ahmad dan At-Tabarani dari Abu Hurai-rah r.a. bahwa seorang lelaki telah mencerca Abu Bakar r.a. Ketika itu, Rasulullah SAW juga sedang duduk di sana. Baginda SAW tersenyum dan keheranan melihat keadaan lelaki tersebut. Ketika lelaki itu mulai bersikap kurang ajar terhadap dirinya, Abu Bakar r.a. pun membalas beberapa kata lelaki tersebut. Dengan demikian, Rasulullah SAW menjadi marah lalu bangun dan dibuntuti oleh Abu Bakar r.a.. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah SAW: "Lelaki itu bersikap kurang ajar terhadap diriku, oleh karena itu aku membalasnya.
Ketika aku mulai membalasnya, kamu meninggalkan kami di tempat itu".
Rasulullah SAW bersabda: "Apabila kamu tidak membalas kata-katanya, terdapat malaikat yang membalasnya untuk kamu. Walau bagaimanapun apabila kami mulai membalas kata-kata kasarnya itu syetan mulai mengambil tempat dan duduk di antara kamu. Yang demikian itu maka aku tidak mau duduk bersama-sama dengan syaitan".
Kemudian Rasulullah SAW bersabda lagi: "Ya Abu Bakar Terdapat tiga perkara yang benar yaitu:
1) Apabila seorang hamba didzalimi dengan satu kedzaliman, maka dia meninggalkan tempat itu semata-mata karena Allah, Allah akan menguatkan dan membantunya.
2) Apabila seseorang membuka pintu kedermawanannya dan memberi hadiah, maka Allah akan menambahkan kekaya-annya.
3) Apabila seseorang mulai meminta-minta untuk menambah-kan kekayaannya, maka Allah akan mengurangkan kekaya-annya.
( 22 )
ORANG-ORANG TAMAK

Ada dua orang yang tamak dan masing-masing tidak akan kenyang. Pertama, orang tamak untuk menuntut ilmu, dia tidak akan kenyang. Kedua, orang tamak memburu harta, dia tidak akan kenyang.
(Nabi Muhammad saw) Menurut Hadith yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas ra di atas, ada dua karakter orang tamak yang tidak akan pernah puas terhadap apa yang dimili-kinya dan senantiasa berusaha untuk menambahnya. Namun, ke-duanya memiliki karakteristik yang berbeda menurut sisi pan-dang Islam.
Adalah terpuji jika ada seorang Muslim yang tamak ter-hadap ilmu. Muslim seperti ini senantiasa menginginkan derajat keilmuan, akhlak, amal kebajikan, dan usahanya untuk meraih kemuliaan, yang akan mengetuk hatinya untuk menapaki tangga kesempurnaan sebagai seorang Muslim. Ia selalu memanfaatkan segala kesempatan untuk mengkaji Islam dalam memecahkan problem kehidupan manusia dengan hikmah. Sabda Rasulullah saw, “Ilmu laksana hak milik seorang Mukmin yang hilang, di manapun ia menjumpainya, di sana ia mengambilnya,” (HR Al Askari dari Anas ra).
Sedangkan ketamakan terhadap harta hanyalah akan menghasilkan sifat buas, laksana serigala yang terus mengejar dan memangsa buruannya walaupun harta itu bukan haknya. Fitrah manusia memang sangat mencintai harta kekayaan dan berhasrat keras mendapatkannya sebanyak mungkin dengan segala cara dan usaha. Firman Allah SWT: Katakanlah (hai Muhammad), jika seandainya kalian menguasai semua perbenda-haraan rahmat Tuhan, niscaya perbendaharaan (keka-yaan) itu kalian tahan (simpan) karena takut menginfakkannya (menge-luarkannya). Manusia itu memang sangat kikir. (QS Al Isra’: 100).
Rasulullah saw bersabda, “Hamba Allah selalu mengata-kan, ‘Hartaku, hartaku’, padahal hanya dalam tiga soal saja yang menjadi miliknya yaitu apa yang dimakan sampai habis, apa yang dipakai hingga rusak, dan apa yang diberikan kepada orang sebagai kebajikan. Selain itu harus dianggap kekayaan hilang yang ditinggalkan untuk kepentingan orang lain.” (HR Muslim).
Seorang Mukmin adalah orang yang meyakini bah-wa rezeki telah ditentukan oleh Allah SWT Dia juga yakin bahwa setiap manusia tidak akan menemui ajalnya sebelum semua rezeki yang telah ditetapkan oleh Allah dicukupkan kepadanya.
Ia merasa cukup terhadap harta yang telah diperolehnya dan menyadari ada hak orang lain atas kelebihan harta yang dimilikinya. Ia infakkan sebagian hartanya di jalan Allah untuk membantu saudara-saudaranya yang dilanda kelaparan dan kekurangan. Demikianlah yang patut dilakukan seorang Muslim dan ia tidak lagi silau terhadap kekayaan orang lain yang dihimpun karena ketamakan.
Rasulullah bersabda, “Tidak ada iri hati kecuali dalam dua perkara, (yaitu) orang yang dikaruniai harta kekayaan dan diha-biskan untuk menegakkan kebenaran, dan orang yang dikaruniai hikmah kemudian ia melaksanakan dan mengajarkannya (kepada orang lain).”

( 23 )
NISFU SYA'BAN

"Apabila tiba malam Nisfu Sya'ban, maka bangunlah kamu pada malamnya; bershalat, beribadat dan berpuasalah kamu pada siangnya. Allah berfirman; " Adakah orang meminta ampun maka Aku ampunkannya, adakah orang yang ditimpa bala Aku afiatkannya. Adakah orang yang meminta rezeki maka aku rezekikannya."
Dari Utsman bin Abil `Asi, Nabi Saw. bersabda; "Pada malam Nisfu Sya'ban setelah berlalu 1/3 malamnya, Allah turun kelangit dunia lalu berfirman; " Adakah orang yang meminta, maka Aku perkenankan permintaannya, adakah orang yang meminta ampun, maka Aku ampunkannya, adakah orang yang bertaubat, maka Aku terima taubatnya dan diampunkan sekalian orang Muk-min lelaki dan perempuan melainkan orang yang berzina atau yang dendam kepada saudaranya."
"Allah tidak akan mengampunkan dosa pada malam Nisfu Sya'ban pada 6 orang yaitu orang yang kekal minum arak, orang yang durhaka kepada kedua ibu-bapanya, orang yang kekal dalam berzina, orang yang banyak berkelahi, orang yang berda-gang dengan sumpah dusta, dan orang yang mengadu domba."
"Hai Aisyah! Adakah engkau izinkan aku shalat pada malam ini (Nisfu Sya'ban)?" Jawab Aisyah; "Ya, aku Izinkan." Lalu Nabi Saw. bershalatlah sepanjang malam Nisfu Sya'ban Itu. Baginda sujud terlalu lama sehingga aku (Aisyah) menyangka beliau telah diambil ruhnya (wafat), lalu aku tutupkan dengan kain dan aku letakkan tanganku di atas kedua tapak kakinya. Maka dia bergerak, gembiralah aku karena beliau masih bernafas lagi...
Pada malam Nisfu Sya'ban telah datang Jibril kepada Rasulullah Saw. lalu berkata ; "Angkat kepalamu ke langit, inilah malam yang dibukakan Allah padanya 300 rahmat dan diampunkan Allah sekalian orang yang tiada menyekutukan-Nya dengan sesuatu kecuali tukang nujum, orang yang kekal dalam berzina dan orang yang durhaka terhadap ibu bapa."
Amalan yang dianjurkan pada Malam Nifsu Sya'ban:
1. Selesai shalat Maghrib, hendaklah dibaca Yasin 3 kali. Yang pertama diniatkan untuk: Diberkahi umur, kedua;dimurahkan rezeki dan ketiga; ditetapkan iman.
2. Memperbanyak beristighfar.
3. Membaca sholawat ke atas Nabi Muhammad SAW
4. Berdzikir, bersedekah dan berpuasa

( 24 )
THE BLESSING IN “NO”
(KETIKA TUHAN BERKATA “TIDAK”)

I asked God to take away my pride.
God said, “No. It is not for me to take away, but for you to give it up.”
(Ya Tuhan ambillah kesombonganku dariku Tuhan berkata, “Tidak, bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus me-nyerahkannya.”)
I asked God to make my handicapped child whole.
God said, “No. Her spirit was whole, her body was only temporary.”
(Ya Tuhan sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat. Tuhan berkata, “Tidak, Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara.”)
I asked God to grant me patience.
God said, “No. Patience is a by-product of tribulations; it isn’t granted, it is earned.”
(Ya Tuhan beri aku kesabaran. Tuhan berkata, “Tidak Kesa-baran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri.”)
I asked God to give me happiness.
God said, “No. I give you blessings, happiness is up to you.”
(Ya Tuhan beri aku kebahagiaan. Tuhan berkata, “Tidak Ku-beri keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri.”)
I asked God to spare me pain.
God said, “No. Suffering draws you apart from worldly cares and brings you closer to me.”
(Ya Tuhan jauhkan aku dari kesusahan. Tuhan berkata, “Tidak Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekat-kanmu pada Ku.”)
I asked for all things that I might enjoy life.
God said, “No. I will give you life so that you may enjoy all things.”
(Ya Tuhan beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat. Tuhan berkata, “Tidak Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal.”)
I asked God to help me LOVE others, as much as God loves me.
God said… “Ahhhh, finally you have the idea!”
(Ya Tuhan antu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku. Tuhan berkata… “Ahhhh, akhirnya kau mengerti !”)
Kadang kala kita berpikir bahwa Tuhan tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya.
Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan, bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali, orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya tanpa susah payah. Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, ber-akhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan. Kita meng-inginkan harta yang ber-kecukupan, namun kebutuhan terus meningkat.
Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang se-dang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil).
Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Tuhan) dan merengek agar dibelikan es. Orang-tua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu.
Begitu pula dengan Tuhan, segala yang kita minta Tuhan tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Tuhan mengabulkannya. Karena Tuhan tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari “pilek” dan “demam”…. dan terus berdoa.
“There’s a time and place for everything, for every-one. God works in a mysterious way.”

( 25 )
WANITA BERTANGAN LUMPUH
Berdermalah selagi kalian mampu

Pada suatu hari pernah seorang wanita yang lumpuh tagan kanannya menghadap Nabi SAW seraya berkata: "Ya Nabiallah, kumohon sudilah kiranya baginda memohon kepada Allah SWT agar Dia menyembuhkan tangan kananku yang lumpuh ini!"
Nabi SAW bertanya kepadanya: "Apakah yang menjadikan ta-nganmu lumpuh ?"
Maka wanita tadi menceritakan sebab kelumpuhannya :
"Ya, Nabiyallah, pada suatu malam aku bermimpi seakan-akan hari kiamat telah tiba. Neraka Jahannam yang apinya menyala-nyala tergambar dengan jelas dalam impianku, begitu juga surga. Namun betapa hati merasa sedih ketika aku melihat ibuku ber-ada di neraka Jahannam. Dia memegang sepotong lemak dan selembar kain serbet. Dengan sepotong lemak dan selembar kain serbet itulah ibuku nampak bersusah payah menghalangi panas--nya jilatan api neraka Jahannam. Maka aku segera menyapa ibuku: "Aduh ibu, mengapa ibu berada di jurang neraka Jahan-nam ini ? Padahal setahuku, ibu dulu rajin beribadah kepada Allah SWT, dan ayahpun nampaknya meridhai kebaktianmu ?"
Ibu : "Wahai anakkku, ketahuilah bahwa ibu dulu terlanjur bersifat kikir. Maka inilah tempat yang disediakan bagi orang-orang yang kikir!"
Anak : "Apakah arti sepotong lemak dan selembar serbet yang ibu pegang itu ?"
Ibu : "Anakku, hanya kedua benda itulah yang pernah kuder-makan selama hidup! Selain itu tak ada lagi!"
Anak : "Lalu, sekarang ayah di mana ?"
Ibu : "Wahai anakku, ayahmu dulu seorang yang dermawan. Maka beliau sekarang berada di surga bersama-sama dengan para dermawan lainnya."
Ya Nabiyallah, setelah itu aku pun segera ke surga meng-hampiri ayahku. Ternyata ayah sedang berdiri di sisi telagamu Ya Rasulullah. Disana beliau membagi-bagikan air minum ke-pada orang banyak, tetapi ibuku justru dilupakan.
Lalu aku bertanya kepada ayah : "Wahai ayahku, keta-huilah bahwa ibuku yang juga istri ayah, meskipun dulu sama-sama taat beribadah kepada Allah dan ayahpun tampaknya meri-dhai kebaktian ibu, namun kini dia berada di neraka Jahannam!.
Sementara itu, ayah berada di tempat ini membagi-bagikan minuman dari telaga Rasulullah SAW kepada orang banyak. Dan ayah begitu tega melupakan ibu. Maka kumohon wahai ayah, berilah segelas air dari telaga ini untuk kuberikan kepada ibu!"
Kata ayah : "Hai anakku, ketahuilah bahwa Allah SWT telah mengharamkan orang-orang yang kikir dan orang-orang yang berdosa meminum air telaga Rasulullah SAW ini!"
Ya Nabiyallah, mendengar jawaban ayah yang melarang-ku mengambil air dari telagamu, maka aku nekat mengambil segelas air dari telaga itu tanpa sepengetahuan ayahku. Lalu aku bermaksud memberikannya kepda ibu yang telah lama kehausan. Tiba-tiba terdengar suara: "Semoga Allah melumpuhkan tangan-mu, karena kamu telah berani mencuri air dari telaga Rasulullah SAW ini untuk memberikan kepada orang yang kikir lagi berdosa!"
Ya Nabiyallah, usai mendengar suara itu, aku terbangun dari tidurku. Dan ternyata tanganku menjadi lumpuh seperti ini. Inilah sebab kelumpuhan tangan kananku, ya Nabiyallah!"
Setelah Nabi SAW mendengarkan sebab-sebab kelum-puhan tangan kanan wanita tersebut, maka beliau SAW mele-takkan tongkatnya pada tangan wanita itu lalu berdoa : "Ya Allah, ya Tuhanku, dengan kebenaran mimpi yang diceritakan oleh wanita ini, maka kumohon sudilah kiranya Engkau ber-kenan menyembuhkan tangan kanannya yang menderita ke-lumpuhan !"
Atas doa Nabi SAW itu, sembuhlah tangan kanan wanita itu dari kelumpuhannya dan pulih seperti sediakala.

( 26 )
BUAH MENGEMBALIKAN URUSAN
KEPADA ALLAH DAN BERSABAR

Dalam hidup ini setiap muslim kadang menghadapi ujian, cobaan dan bencana. Karena itu, ketika diuji, hendaknya ia bersabar dan mengharapkan pahala kepada Allah atas musibah-nya. Jika demikian, tentu Allah tidak akan menyianyiakan sesua-tu pun untuknya, bahkan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang hilang darinya.
Dalam Shahih-nya, Imam Muslim meriwayatkan dari Um-mu Salamah ra, bahwasanya ia berkata, "Aku mendengar Rasu-lullah saw, 'Tidaklah seorang muslim yang tertimpa suatu musi-bah, lalu ia mengatakan apa yang diperintahkan Allah, 'Sesung-guhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah aku pahala karena musi-bah ini, dan gantikanlah untukku sesuatu yang lebih baik darinya,' kecuali Allah akan memberinya ganti yang lebih baik.' Ummu Salamah berkata, 'Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku berkata, 'Siapakah orang Islam yang lebih baik dari Abu Salamah?, (penghuni) rumah yang pertama kali hijrah kepada Rasulullah saw? Lalu aku mengucapkan perkataan diatas, ke-mudian Allah menggantikan untukku Rasulullah saw sebagai suami'."
Wahai ummat Islam, ketahuilah! Sesungguhnya barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari pada-nya. Siapa yang meninggalkan dari menampar pipi sendiri, me-ngoyak-ngoyak pakaian dan berteriak-teriak meratap serta ke-mungkaran yang sejenisnya, kemudian ia memohon pahala di sisi Allah atas musibahnya serta mengembalikan semuanya kepa-da Allah, niscaya Allah akan menggantikanya dan sungguh Allah adalah sebaik-baik Pemberi ganti.

( 27 )
MENGAPA TAK MAU BERDOA ?
“Saya tak bisa bahasa Arab, saya malu memimpin do’a selepas sholat jama’ah bersama isteri saya, apalagi di-depan jama’ah yang lain.”
Pernahkah pengalaman ini menimpa kita ? Insya Allah ti-dak. Tapi andaikata pernah, janganlah khawatir. Sungguh Allah mengerti segala macam bahasa. Jangan malu untuk berdo’a da-lam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Kalau anda hapal do’a dalam bahasa Arab, saya ucapkan alhamdulillah! Namun kalau anda lebih “sreg” berdo’a dengan bahasa selain bahasa Arab, sa-ya pun berucap alhamdulillah! Yang terpenting adalah kita masih mau berdo’a.
Kalimat terakhir ini mengundang pertanyaan, “Mengapa sih kita harus berdo’a?” Allah adalah Tuhan kita satu-satunya. Allah pun dalam Al-Qur’an mengatakan bahwa “Allah adalah Tuhan yg bergantung kepadaNya segala sesuatu” (Al Ikhlas: 2).
Dalam surat al-Fatihah kita berseru, “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in” (Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan). Karena itu, ka-lau ada orang yang mengaku bahwa Allah itu Tuhannya lalu ia tak mau berdo’a maka pantas kalau kita sebut orang tersebut orang sombong. Bukankah Allah telah berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (Al Mukmin: 60).
Betulkah setiap do’a akan dikabulkan oleh Allah? Boleh jadi ada diantara kita yang telah berdo’a sesuatu namun tak kita rasakan hasil dari do’a tersebut. Pertama, harus disadari bahwa kita ini “hamba” sehingga tak ber-hak memaksa Allah. Kita yang membutuhkan Allah; bu-kan sebaliknya.
Kedua, Allah lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Boleh jadi, sebuah do’a yang kita minta bila dikabulkan oleh Allah jus-tru ujung-ujungnya dapat menimbulkan kesulitan dalam hidup kita atau mungkin Allah punya ketentuan lain yang tak kita ketahui. Sebagai contoh, Nabi Nuh berdo’a agar anaknya dise-lamatkan dari banjir dah-syat, Tuhan tidak mengabulkannya dan bahkan menegur Nabi Nuh sehingga Nabi Nuh pun berdo’a: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakekatnya) dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang rugi.” (Huud: 47) Allah Maha Tahu, maka do’a kita kadang kala bukan tak dikabulkan tapi ditunda waktunya, atau malah diganti dengan yang lebih baik. Wa Allahu A’lam.
Ketiga, sudah seberapa jauh usaha kita untuk “meminta” dan “memelas” pada Allah. Nabi Zakariya sendiri telah puluhan tahun berdo’a namun belum dikabulkan Allah. Tapi berbeda de-ngan kita yang cenderung tak sabar, Nabi Zakariya berdo’a, “Ya Tuhanku, sesung-guhnya tulangku telah lemah dan kepalaku te-lah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam ber-do’a kepada Engkau, ya Tuhanku.” (Maryam: 4)
Begitulah sikap kita seharusnya: jangan pernah kecewa dalam berdo’a. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa “Aku ini bagaimana persangkaan hambaKu saja” Maksudnya, kalau kita dalam berdo’a belum-belum sudah beranggapan bahwa do’a ini tak akan dikabulkan, yah begitulah jadinya. Insya Allah kita selalu berbaik sangka dan tak pernah kecewa dalam berdo’a.
Dalam berdo’a kita diminta untuk berharap-harap cemas (Al Anbiyaa: 90). Artinya, kita berharap do’a kita akan dika-bulkan, namun disisi lain kita juga cemas kalau-kalau do’a ini tidak dikabulkan. Gabungan perasaan ini-lah yang menjadi etika dalam berdo’a. Kita tidak terlalu yakin pasti akan dikabulkan, namun juga tidak putus asa. Etika lainnya adalah kita disuruh berdo’a dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lem-but (Al A’raaf:55). Kalau kita jalani etika berdo’a ini insya Allah hati kita akan tergetar dan seringkali tanpa sadar airmata meng-gantung di pelopak mata.
Pendek kata, berdo’alah baik dalam keadaan sehat-sakit, suka-duka, kaya-miskin, berdiri-duduk-berbaring, pagi-siang-malam.......

( 28 )
KESEMPURNAAN SEORANG MUSLIM

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, Dia berkata Aku ingin menjadi orang yang alim
Baginda SAW menjawab : Takutlah kepada Allah maka engkau akan menjadi orang yang alim.
Dia berkata : Aku ingin menjadi orang paling kaya. Baginda SAW menjawab : Jadilah orang yang yakin pada diri sendiri maka engkau akan menjadi orang paling kaya.
Dia berkata : Aku ingin menjadi orang yang adil .
Baginda SAW menjawab: Kasihanilah manusia yang lain seba-gaimana engkau kasih pada diri sendiri maka jadilah engkau seadil-adil manusia.
Dia berkata : Aku ingin menjadi orang yang paling baik
Baginda SAW menjawab: Jadilah orang yang berguna kepada masyarakat maka engkau akan jadi sebaik-baik manusia.
Dia berkata : Aku ingin menjadi orang yang istimewa di sisi Allah. Baginda SAW menjawab : Perbanyak dzikrullah niscaya engkau akan jadi orang istimewa di sisi Allah.
Dia berkata : Aku ingin disempurnakan imanku. Baginda SAW menjawab : Perbaikilah akhlakmu niscaya imanmu akan sem-purna.
Dia berkata : Aku ingin termasuk dalam golongan mereka yang taat. Baginda SAW menjawab : Tunaikan segala kewajiban yang difardhukan maka engkau akan termasuk dalam golongan mere-ka yang taat.
Dia berkata : Aku ingin berjumpa Allah dalan keadaan bersih dari dosa. Baginda SAW menjawab : Bersihkan dirimu dari dosa niscaya engkau akan menemui Allah dalam keadaan suci dari dosa.
Dia berkata : Aku ingin dihapuskan segala dosaku
Baginda SAW menjawab : Banyaklah beristighfar niscaya akan dihapuskan (kurangkan ) segala dosamu.
Dia berkata : Aku ingin menjadi semulia-mulia manusia
Baginda SAW menjawab : Jangan berprasangka pada orang lain niscaya engkau akan menjadi semulia-mulia manusia.
Dia berkata : Aku ingin menjadi segagah-gagah manusia
Baginda SAW menjawab: Senantiasa berserah diri (ta-wakkal) kepada Allah niscaya engkau akan menjadi segagah-gagah manusia.
Dia berkata : Aku ingin dimurahkan rizeki oleh Allah …
Baginda SAW menjawab : Senantiasa berada dalam keadaan bersih (dari hadast) niscaya Allah akan memurahkan rizeki kepadamu.
Dia berkata : Aku ingin termasuk dalam golongan mereka yang dikasihi oleh Allah dan rasulNya. Baginda SAW menjawab : Cintailah segala apa yang disukai oleh Allah dan rasulNya maka engkau termasuk dalam golongan yang dicintai oleh Mereka.
Dia berkata : Aku ingin diselamatkan dari kemurkaan Allah pada hari qiamat. Baginda SAW menjawab: Jangan marah kepada orang lain niscaya engkau akan selamat dari kemurkaan Allah dan rasulNya.
Dia berkata : Aku ingin diterima segala permohonanku
Baginda SAW menjawab: Jauhilah makanan haram niscaya segala permohonanmu akan diterimaNya.
Dia berkata : Aku ingin agar Allah menutupkan segala keaiban-ku pada hari qiamat. Baginda SAW menjawab: Tutupilah kebu-rukan orang lain niscaya Allah akan menutup keaibanmu pada hari qiamat.
Dia berkata : Siapa yang selamat dari dosa ? Baginda SAW menjawab: Orang yang senantiasa mengalirkan airmata penye-salan, mereka yang tunduk pada kehendakNya dan mereka yang ditimpa kesakitan.
Dia berkata : Apakah kebaikan terbesar di sisi Allah ?
Baginda SAW menjawab : Baik budi pekerti, rendah diri dan sabar menghadapi cobaan Allah.
Dia berkata : Apakah kejahatan terbesar di sisi Allah ?
Baginda SAW menjawab : Buruk akhlak dan sedikit ketaatan.
Dia berkata Apakah yang meredakan kemurkaan Allah di dunia dan akhirat ? Baginda SAW menjawab: Sedekah dalam kea-daan sembunyi dan menghubungkan persaudaraan.
Dia berkata: Apakan yang akan memadamkan api neraka pada hari qiamat ? Baginda SAW menjawab : sabar di dunia dengan bala dan musibah.

( 29 )
PENCERAHAN
Hadith riwayat Abu Hurairah r.a. ia berkata, Rasu-lullah SAW. bersabda, Janganlah kamu berpuasa satu atau dua hari menjelang Ramadan, kecuali bagi orang-orang yang memang biasa berpuasa. Maka baginya diperbolehkan.
Hadith riwayat Ummi Salamah r.a. ia berkata, Rasulullah SAW. pernah bersumpah tidak akan menemui sebagian istri-istrinya selama sebulan. Namun baru dua puluh sembilan hari berlalu, beliau sudah menemui mereka. Kemudian beliau ditanya, Wahai Nabi! Engkau sudah bersumpah tidak akan menemui kami selama satu bulan. Mendengar itu Nabi SAW. bersabda, Sesungguhnya sebulan itu ada dua puluh sembilan hari.
Hadith riwayat Sahl bin Saad r.a. ia berkata, Rasulullah SAW. bersabda, Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat pintu yang bernama Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk lewat pintu itu pada hari kiamat kelak. Tidak boleh masuk se-orangpun selain mereka. Kelak akan ada pengumuman, Di manakah tempat orang-orang yang berpuasa ? Mereka berdu-yun-duyun masuk lewat pintu tersebut. Ketika orang yang ter-akhir sudah masuk, maka pintu tadi ditutup kembali.
Sehingga dengan begitu tidak akan ada lagi orang yang masuk lewat pintu tadi
Hadith riwayat Ibnu Umar r.a. bahwa, Ada sekelompok orang dari sahabat Rasulullah SAW. bermimpi melihat Lailatul-qadar pada hari ke tujuh yang terakhir. Ketika dilaporkan kepada Rasulullah saw, beliau bersabda, Menurut saya mimpi kalian pasti bertepatan dengan hari ke tujuh terakhir.
Oleh karena itu barangsiapa yang ingin mencarinya, hendaklah dia cari pada hari ke tujuh yang terakhir tersebut.
Hadith riwayat Abu Said Al Khudri r.a. ia berkata, Rasu-lullah SAW. pernah melakukan iktikaf (berdiam di dalam mesjid) selama sepuluh hari pertengahan bulan Ramadan.
Manakala selama waktu dua puluh malam telah berlalu dan memasuki hari atau malam yang kedua puluh satu, beliau pulang ke rumahnya. Para sahabat yang beriktikaf bersama beliau juga ikut pulang. Setelah menyuruh atau mengajak mereka untuk se-lalu tabah terhadap kehendak Allah, beliau bersabda, Sesung-guhnya aku telah melakukan iktikaf pada sepuluh hari dan aku lanjutkan pada sepuluh hari berikutnya. Oleh sebab itu barang-siapa yang ingin melanjutkan iktikaf bersamaku, maka sebaiknya dia tetap tinggal di tempat iktikafnya. Sebetulnya aku telah ber-mimpi melihat Lailatulqadar, namun aku lupa kapan waktunya.
Maka carilah ia pada sepuluh hari yang terakhir, yaitu pada tiap bilangan ganjil. Pada waktu itulah aku yakin bahwa aku se-dang sujud pada air dan ataka. Abu Said Al Khudri ra. mengatakan, Kami tersiram air hujan pada malam hari yang ke-dua puluh satu. Begitu pula dengan tempat Shalat Rasulullah SAW. Juga terkena tetesan air hujan dari celah-celah atap mes-jid. Kemudian setelah beliau mengerjakan Shalat Subuh, aku pandang wajah beliau basah terkena ataka dan air.
Hadith riwayat Aisyah r.a. ia berkata, Rasulullah SAW. bersab-da, Carilah Lailatulqadar itu pada sepuluh hari yang terakir di bulan Ramadan.
Hadith riwayat Anas bin Malik r.a. ia berkata, Rasu-lullah SAW. bersabda, Aku didatangi Buraq, lalu aku menunggangnya sampai ke Baitulmakdis. Aku mengi-katnya di pintu mesjid yang biasa digunakan mengikat tunggangan oleh para nabi. Kemudian aku masuk ke mesjid dan mengerjakan Shalat dua rakaat. Seteah aku keluar, Jibril as. ataka membawa bejana berisi arak dan be-jana berisi susu. Aku memilih susu, Jibril berkata, Engkau telah memilih fitrah (Islam dan istiqamah). Kemudian Jibril membawa-ku naik ke langit. Ketika Jibril minta dibukakan, ada yang ber-tanya, Siapakah engkau ? Dijawab, Jibril. Ditanya lagi, Siapa yang bersamamu ? Jibril menjawab, Muhammad. Ditanya, Apa-kah dia telah diutus ? Jawab Jibril, Ya, dia telah diutus, pintupun dibukakan bagi kami. Aku bertemu dengan Adam. Dia me-nyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.
Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril as. Minta dibukakan. Ada yang bertanya, Siapakah engkau ? Jawab Jibril, Jibril. Ditanya lagi, Siapakah yang bersa-mamu ? Jawabnya, Muhammad. Ditanya, Apakah dia telah diutus ? Jawabnya, Dia telah diutus, pintupun dibuka untuk kami. Aku bertemu dengan Isa bin Maryam as. Dan Yahya bin Zakaria as. Mereka berdua menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya, Siapa engkau ? Dijawab, Jibril. Ditanya lagi, Siapa ber-samamu ? Muhammad SAW. jawabnya. Ditanyakan, Dia telah diutus ? Dia telah diutus, jawab Jibril. Pintu dibuka untuk kami. Aku ber-temu Yusuf as. Sungguh nampak bahwa dia dikaruniai keindah-an. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keempat.
Jibril as. Minta dibukakan. Ada yang bertanya, Siapa ini ? Jibril menjawab, Jibril. Ditanya lagi, Siapa bersamamu ? Mu-hammad, jawab Jibril. Ditanya, Apakah dia telah diutus? Jibril menjawab, Dia telah diutus, pintupun dibukakan.
Ternyata di sana ada Nabi Idris as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah Taala berfirman (Kami mengangkatnya pada tempat “martabat” yang tinggi). Aku di-bawa naik ke langit kelima. Jibril min-ta dibukakan. Ada yang bertanya, Siapa ? Dijawab, Jibril. Ditanya lagi, Siapa bersamamu ? Dijawab, Muhammad. Ditanya, Apakah dia telah diutus ? Di-jawab, Dia telah di-utus, pintupun dibukakan buat kami. Di sana aku bertemu Nabi Harun as. Dia menyambutku dan mendoa-kanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit ke-enam. Ji-bril as. Minta dibukakan. Ada yang bertanya, Siapa ini ? Jawab-nya, Jibril. Ditanya lagi, Siapa bersamamu ? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya, Apakah dia telah diutus ? Jawabnya, Dia telah diutus. Kami dipersilahkan masuk. Di sana ada Nabi Musa as. Dia menyambut dan mendoakanku dengan kebaikan.
Jibril membawaku naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan. Lalu ada yang bertanya, Siapa ini ? Jawabnya, Jibril. Ditanya lagi, Siapa bersamamu ? Jawabnya, Muhammad. Dita-nyakan, Apakah dia telah diutus ? Jawabnya, Dia telah diutus, kamipun dipersilahkan masuk. Ternyata di sana aku bertemu Nabi Ibrahim as. Sedang menyandarkan punggungnya pada Bai-tulmakmur. Ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitulmakmur dan tidak kembali lagi ke sana. Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratulmuntaha yang dedaunan-nya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempa-yan. Ketika atas perintah Allah, Sidratulmuntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorangpun di antara makhluk Allah mampu melu-kiskan keindahannya.
Kemudian Allah memberikan wahyu kepadaku. Aku diwa-jibkan Shalat lima puluh kali dalam sehari semalam. Tatkala turun dan bertemu Nabi Musa as, dia bertanya, Apa yang telah diwajibkan Tuhanmu kepada umatmu ? Aku menjawab, Shalat lima puluh kali. Dia berkata, Kembalilah kepada Tuhanmu, min-talah keringanan, karena umatmu tidak akan kuat melaksana-kannya. Aku telah pernah mencobanya pada Bani Israel. Aku-pun kembali kepada Tuhanku dan berkata, Wahai Tuhanku, be-rilah keringanan atas umatku. Allah memotong lima Shalat dan aku kembali kepada Nabi Musa as. Dan aku atakana, Allah telah mengurangi lima waktu Shalat. Dia berkata, Umatmu masih tidak sanggup melaksanakan itu, kemba-lilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi.
Tak henti-hentinya aku bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa as. Sampai Allah berfirman, Hai Muham-mad. Inilah kewajiban lima Shalat sehari semalam, setiap Shalat mempunyai nilai sepuluh, dengan demikian, lima Shalat sama dengan lima puluh Shalat. Siapa yang ber-niat untuk kebaikan, tetapi tidak melaksanakannya, maka baginya dicatat satu kebaikan, jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan. Sebaliknya siapa yang berniat jahat, tetapi tidak melaksanakannya, maka tidak dicatat apa-apa, jika dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa as, lalu aku beritahukan padanya. Dia masih saja berkata, kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Aku menya-hut, Aku telah bolak-balik kepada Tuhan, hingga aku merasa malu kepada-Nya (Nomor Hadith dalam kitab Sahih Muslim [Bhs. Arab saja]: 234)
Hadith riwayat Ibnu Abbas r.a., Dari Rasulullah SAW. tentang apa yang diriwayatkan oleh beliau dari Allah Taala bah-wa, Allah berfirman, Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan dan kejelekan.
Kemudian Beliau (Rasulullah) menerangkan, Siapa saja yang berniat melakukan kebaikan, tetapi tidak jadi mengerja-kannya, maka Allah mencatat niat itu sebagai kebaikan yang sempurna. Jika dia meniatkan perbuatan baik dan mengerja-kannya, maka Allah mencatat sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat hingga kelipatan yang sangat banyak. Kalau dia berniat melakukan perbuatan jelek tetapi tidak jadi melaku-kannya, maka Allah mencatat hal itu sebagai satu kebaikan yang sempurna. Jika dia meniatkan perbuatan jelek itu, lalu melaksa-nakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kejelekan

( 30 )
GHIBAH DAN PUASA

Dari 'Ubaid r.a, dia berkata : "Di masa Rasulullah SAW, beliau memerintahkan orang-orang berpuasa selama satu hari. Lalu mereka pun berpuasa. Saat itu ada dua orang wanita berpuasa, dan mereka sangat menderita karena lapar dan dahaga pada sore harinya. Kemudian kedua wanita itu mengutus sese-orang menghadap Rasulullah SAW, untuk memintakan izin bagi keduanya agar diperbolehkan menghentikan puasa mereka.
Sesampainya utusan tersebut kepada Rasulullah SAW, be-liau memberikan sebuah mangkuk kepadanya untuk diberikan kepada kedua wanita tadi, seraya memerintahkan agar kedua-duanya memuntahkan isi perutnya ke dalam mangkuk itu. Ter-nyata kedua wanita tersebut memuntahkan darah dan daging se-gar, sepenuh mangkuk tersebut, sehingga membuat orang-orang yang menyaksikannya terheran-heran. Dan Rasulullah SAW ber-sabda: "Kedua wanita ini berpuasa terhadap makanan yang dihalalkan Allah tetapi membatalkan puasanya itu dengan per-buatan yang diharamkan oleh-Nya. Mereka duduk bersantai sambil menggunjingkan orang-orang lain. Maka itulah 'daging-daging' mereka yang dipergunjingkan." (H R Ahmad)
“Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan, keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.” (Hadith Riwayat Ath-Thabrani)
"Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita dusta dan banyak memakan yang haram." (Al-Qur'an Surat Al-Maidah : 42)
Allah SWT berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian pra-sangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesa-lahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penya-yang. " (Al-Qur'an Surat Al-Hujuraat:12)

SUDAHKAH KITA MENJAGA PUASA KITA???
Rasulullah SAW bersabda : "Puasa adalah perisai (tabir penghalang dari perbuatan dosa). Maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah ia ber-buat jahil." (Hadith Riwayat Bukhari - Muslim)
"Lima hal yang dapat membatalkan puasa ialah: berkata dusta, ghibah (menggunjing), memfitnah, sumpah dusta dan meman-dang dengan syahwat." (Hadith Riwayat Al-Azdiy)
"Barangsiapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan kotor dan dusta selama berpuasa, maka Allah SWT tidak ber-hajat kepada puasanya." (Hadith Riwayat Bukhari)
“Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan , keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.” (Hadith Riwayat Ath-Thabrani)
"Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali haus dan lapar." (HR Turmudzi)
Imam Al-Ghazali berkata : "Berapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya itu, selain lapar dan haus. Sebab puasa itu bukanlah semata-mata menahan lapar dan haus, akan tetapi adalah menahan hawa nafsu. Boleh jadi orang tersebut berdusta, menggunjing dan memandang de-ngan syahwat, sehingga yang demikian itu membatalkan hakikat puasa." (Ihya' Ulumiddin)
Para Ulama berkata: "Betapa banyak orang yang berpuasa padahal ia berbuka (tidak berpuasa) dan betapa banyak orang yang berbuka padahal ia berpuasa." Yang dimaksud dengan orang yang berbuka tetapi berpuasa ialah menjaga anggota tu-buhnya dari perbuatan dosa sementara ia tetap makan dan mi-num. Sedangkan yang dimaksud dengan berpuasa tapi berbuka ialah yang melaparkan perutnya sementara ia melepaskan ken-dali bagi anggota tubuh yang lain." (Ihya' Ulumiddin)
Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya puasa itu adalah amanah, maka hendaknya masing-masing kamu menjaga amanahnya." (HR Al-Kharaithy) Sudahkah kita menjaga puasa kita ?

( 31 )
CATATAN BUKU SEORANG KYAI

Kisah perjalanan batin seorang ulama, melalui doa, rasa kecewa, takut, marah, khawatir, hingga mendapatkan hidayah, bahwa putri bungsunya yang progresssive /agresive ternyata tetap dalam lindungan dan Jalannya Allah SWT
Medan, 15 Juni 1975
Hari ini engkau terlahir ke dunia, anakku. Meski tidak seperti harapanku bertahun-tahun merindukan kehadiran seo-rang anak laki-laki, aku tetap bersyukur engkau lahir dengan selamat setelah melalui jalan divakum. Telah kupersiapkan se-buah nama untukmu; Qaulan Syadida..Aku sangat terkesan de-ngan janji Allah dalam surat Al-Ahzab ayat tujuh puluh, mak-nanya “perkataan yang benar”. Harapanku engkau kelak menjadi seorang yang kaya iman dan memperoleh fauzan'adzima, keme-nangan yang besar seperti yang engkau telah dijanjikan Allah dalam Al-Quran. Sungguh kelahiranmu telah me-ngajarkanku makna bersyukur...
1981 Tahun ini engkau memasuki sekolah dasar. Usiamu belum genap enam tahun. Tetapi engkau terus merengek minta disekolahkan seperti saudarimu. Engkau berbeda dari keempat kakakmu terdahulu. Bagaimana engkau dengan gagah tanpa ragu atau malu-malu melangkah memasuki ruang kelasmu. Bah-kan engkau tak minta dijemput. Saat ini aku mulai menyadari sifat keberanian yang tumbuh dalam dirimu yang tak kutemukan dalam diri saudarimu yang lain.
1987 Putriku, sungguh aku pantas bangga padamu. Tahun ini engkau ikut Cerdas Cermat tingkat nasional di TVRI. De-ngan bangga aku menyaksikan engkau tampil penuh percaya diri di layar kaca dan aku pun bisa berkata pada teman-temanku; itu anakku Qaulan..Meski tidak juara pertama, aku tetap bangga padamu. Namun di balik rasa banggaku padamu selalu terbesit satu kekha-watiran akan sikapmu yang agak aneh dalam penga-matanku. Tidak seperti ke-empat kakakmu yang kalem dan cenderung memiliki sifat-sifat perempuan, engkau justru sangat angresif, pemberani, agak keras kepala, meski tetap santun pa-daku dan selalu juara kelas.
Jika hari Ahad tiba, engkau lebih suka membantuku mem-bersihkan taman, mengecat pagar, atau memegangi tangga bila aku memanjat membetulkan atap bocor. Engkau lebih sering mendampingiku dan bertanya tentang alat-alat pertukangan ke-timbang membantu ibumu memasak di dapur seperti saudarimu yang lain.
Kebersamaan dan kedekatanmu denganku, membuatku sering meperlakukanmu sebagai anak lelakiku, dengan senang hati aku menjawab pertanyaan-perta-nyaanmu, membekalimu dengan pengatahuan dan permainan untuk anak lelaki. Tak ja-rang kita berdua pergi memancing atau sekedar menaikkan la-yang-layang sore hari di lapangan madrasah tempat aku me-ngajar.
Putriku, sungguh kekhawatiranku berbuah juga Engkau menolak bersekolah di tsanawiyah seperti saudarimu. Diam-diam tanpa sepengetahuanku engkau telah mendaftar di sebuah SMP negeri. Bukan kepalang kemarahanku. Untunglah ibumu datang membelamu, jika tidak mungkin tangan ini sudah ber-pindah ke pipimu yang putih mulus. Tegarnya watakmu, bahkan tak setetes airmata jatuh dari kedua matamu yang tajam menatapku.
Putriku, jika aku marah padamu semata-mata karena aku khawatir engkau larut dalam pola pergaulan yang tak benar, anakku. Terlebih-lebih saat engkau menolak mengenakan jilbab seperti ke-empat kakakmu. Betapa sedih dan kecewa hatiku melihatmu, Nak...
1993 Tahun ini engkau menamatkan SMAmu. Engkau tumbuh menjadi gadis cantik, periang, pemberani, dan banyak teman. Temanmu mulai dari tukang kebun sampai tukang becak, wartawan, bahkan menurut ibumu pernah anggota Kopassus datang mencarimu.
Putriku, disetiap bangun pagiku, aku seolah tak percaya engkau adalah putriku, putri seorang yang sering dipanggil Ustadz, putri seorang kepala madrasah, putri seorang pendiri perguruan Islam...
Putriku, entah mengapa aku merasa seperti kehilanganmu. Sedih rasanya berlama-lama menatapmu dengan potongan rambut hanya berbeda beberapa senti dengan rambutku. Biar praktis dan sehat; berkali-kali itu alasan yang kau kabarkan lewat ibumu. Jika terjadi sesuatu yang tidak baik pada dirimu selama melewati usia remajamu, putriku, maka akulah orang yang paling bertanggung jawab atas kesalahan itu. Aku tidak berhasil mendidikmu dengan cara yang Islami.
Dalam doa-doa malamku selalu kubermohon pada Rabbul 'Izzati agar engkau dipelihara olehNya ketika lepas dari penga-wasan dan pandangan mataku. Kesedihan makin bertambah tatkala diam-diam engkau ikut UMPTN dan lulus di fakultas teknik. Fakultas teknik, putriku? Ya Rabbana, aku tak sanggup membayangkan engkau menuntut ilmu berbaur dengan ratusan anak laki-laki dan bukan satupun mahrommu?
Dalam silsilah keluarga kita tidak satupun anak perempuan belajar ilmu teknik, anakku. Keempat kakakmu menimba ilmu di institut agama dan ilmu keguruan. Ya, silsilah keluarga kita ada-lah keluarga guru, anakku. Engkau kemukakan sejumlah alasan, bahwa Islam juga butuh arsitek, butuh teknokrat, Islam bukan tentang ibadah melulu...Baiklah, aku sudah terlalu lelah mengha-dapimu, aku terima segala argumen dan pemikiranmu, putriku..
Dan aku akan lebih bisa menerima seandainya engkau juga me-ngenakan busana Muslimah saat memulai masa kuliahmu.
1995 Tahun ini tidak akan pernah kulupakan. Akan ku-catat baik-baik...Engkau putriku, yang selalu kusebut namamu dalam doa-doaku, kiranya Allah SWT mendengar dan menga-bulkan pintaku. Ketika engkau pulang dari kuliahmu; subhan-nalah! Engkau sangat cantik dengan jilbab dan baju panjangmu, aku sampai tidak mengenalimu, putriku. Engkau telah berubah, putriku. Apa sesungguhnya yang engkau dapati di luar sana. Bertahun-tahun aku mengajarkan padamu tentang kewajiban Muslimah menutup aurat, tak sekalipun engkau cela perkataan-ku meski tak sekalipun juga engkau indahkan anjuranku. Dua tahun di bangku kuliah, tiba-tiba engkau mengenakan busana takwa itu? Apa pula yang telah membuatmu begitu mudah menerima kebenaran ini? Putriku, setelah sekian lamanya waktu berlalu, kembali engkau mengajarkan padaku tentang hakikat dan makna bersyukur.
1997 Putriku, kini aku menulis dengan suasana yang lain. Ada begitu banyak asa tersimpan di hatiku melihat perubahan yang terjadi dalam dirimu. Engkau menjadi sangat santun, bahkan terlihat lebih dewasa dari keempat saudarimu yang kini telah berumah tangga se-muanya. Kini, hanya engkau aku dan ibumu yang men-diami rumah ini.
Kurasakan rumah kita seolah-olah berpencar cahaya setiap saat dilantuni tilawah panjangmu. Gemercik suara air tengah malam menjadi irama yang kuhafal dan pantas kurenungi.
Putriku, jika aku pernah merasa bahagia, maka saat paling ba-hagia yang pernah kurasakan di dunia adalah saat ketika diam-diam aku memergokimu tengah menangis dalam sujud malam....
Selalu kuyakinkan diriku bahwa akulah si pemilik mutiara ca-haya hati itu, yaitu engkau, putriku...
1998 Putriku, kalau saat ini aku merasa sangat bangga padamu, maka itu amat beralasan. Engkau telah lulus menjadi sarjana dengan predikat cum laude. Keharuan yang menyesak dadaku mengalahkan puluhan pertanyaan ibumu, diantaranya; mengapa engkau tidak punya teman pendamping pria seperti kakak-kakakmu terdahulu? Engkau begitu sederhana, putriku, tanpa polesan apapun seperti lazimnya mereka yang akan berangkat wisuda, semua itu justru membuatku semakin bangga padamu. Entah dari mana engkau bisa belajar begitu banyak tentang kebenaran, anakku...
Jika hari ini aku meneteskan airmata saat melihatmu dilantik, itu adalah airmata kekaguman melihat kesungguhan, ketegaran, serta prinsip yang engkau pegang teguh. Dalam hal ini akupun mesti belajar darimu, putriku...
1 Agustus 1999
Putriku, bulan ini usiaku memasuki bilangan enampuluh tiga. Aku teringat Rasulullah mengakhiri masa dakwahnya didunia pada usia yang sama.
Akhir-akhir ini tubuhku terasa semakin melemah. Penya-kit jantung yang kuderita selama bertahun-tahun kemarin mendadak kumat, saat kudapati jawaban diluar dugaan dari ke-empat sau-darimu. Tidak satu pun dari mereka bersedia meneruskan per-guruan yang telah kubina selama puluhan tahun. Aku sangat maklum, mereka tentu mempunyai pertimbangan yang lain, yaitu para suami mereka.
Sedih hatiku melihat mereka yang telah kudidik sesuai dengan keinginanku kini seolah-oleh bersekutu menjauhiku.
Jika aku menulis diatas tempat tidur rumah sakit ini, itu dengan kondisi sangat lemah, putriku. Aku tak tahu pasti kapan Allah memanggilku. Putriku, kutitipkan buku harianku ini pada ibumu agar diserahkan padamu. Aku percaya padamu. Jika aku memberikan buku ini padamu, itu karena aku ingin engkau mengetahui betapa besar cintaku padamu, mengapa dulu aku se-ring memarahimu, maafkan buya, putriku...
Kini hanya engkau satu-satunya harapanku...Aku percaya-kan perguruan yang telah kubangun dengan tanganku sendiri ini padamu. Aku bercita-cita mengembangkannya menjadi sebuah pesantren. Engkau masih ingat lapangan tempat kita dulu me-naikkan layangan? Itu adalah tanah warisan almarhum kakekmu.
Di lapangan itulah kurencanakan berdiri bangunan asrama tempat para santri bermukim. Engkau seorang arsitek, anakku, tentu lebih memahami bangunan macam apa yang sesuai untuk kebutuhan sebuah asrama pesantren...
Kuserahkan sepenuhnya kepadamu, juga untuk mengelo-lanya nanti. Sebab aku yakin, dari tanganmu, dari hatimu yang jernih, dari perkataan dan tindakanmu yang selalu sejalan dengan kebenaran akan terlahir sebuah fauzan'adzima, kemenangan yang besar, seperti yang telah Allah janjikan, yakinlah, putriku...
Dalam diri dan jiwamu kini terhimpun beragam kapasitas keilmuan dunia dan akhirat. Kini kusadari engkau bukan saja sekedar terlahir dari rahim ibumu, tetapi juga lahir dari rahim bernama Hidayah. Semoga Allah menyertai dan memudahkan jalan yang akan engkau lalui, putriku. Amien Ya Rabbal 'Alamiin.
12 Agustus 1999
Rabbi, jika airmata ini bukan tumpah, bukan karena aku tidak mengikhlaskan buyaku Engkau panggil, tapi sebab aku belum mengenali buyaku selama ini, seutuhnya. Sebab hanya seujung kuku baktiku padanya. Rabbi, perkenankan aku menjalankan amanah Buya dengan segenap ridho-Mu. hanya Engkau, ya Mujib...

------000-----

“Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar ...Dalam dinding keterbatasan itu saya merasakan kedamaian”.

Semoga apa yang saya sampaikan ini ada manfaatnya,
Bila ada salah kata mohon dimaafkan, yang benar itu pasti datangnya dari Allah SWT Wallahù'alam bíshawab
Wabíllahí taùfík walhídayah,
Wassalamù'alaíkùm warahmatùllahí wabarakatùh.

……… Insya Allah Bersambung ………


Drs.H. Sudibya Samiyana, KDU

Kisah Penuh Hikmah (3)


“ Bísmíllaahírrahmaanírrahím ”


Akal Setipis Rambutnya, Tebalkan Dengan Ilmu.
Hati Serapuh Kaca, Kuatkan Dengan Iman.
Perasaan Selembut Sutera, Hiasilah Dengan Akhlak

***

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasa tenteram (sakinah) kepadanya,
dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih (mawaddah)
dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berpikir." (QS. 30:21)

***

Ya Allah kalau Engkau masukkan aku ke dalam sorga,
rasanya tidaklah pantas aku berada di dalam sorga …
Tetapi kalau aku Kau masukkan ke dalam neraka,
aku tidak akan tahan, aku tidak akan kuat
ya Allah, maka terimalah saja taubatku ini……

INTISARI DARI AL QUR'AN DAN HADITH
BAGI SUAMI DAN ISTRI
===============================

WAHAI SUAMI .......
*Taati dan cintailah Allah SWT dan Rasul-Nya.
*Ketahuilah bahwa kamu mendirikan rumah tangga adalah untuk menda-patkan keridhoan Allah SWT dan bukan untuk melepaskan nafsu se-mata-mata.
*Nasihatilah isterimu dengan cara yang baik.
*Layanilah isterimu dengan cara yang baik karena sebaik-baik orang diantaramu adalah orang yang paling lemah lembut terhadap isterinya.
*Hiasilah dirimu untuk isterimu sebagaimana kamu suka dia menghiasi dirinya untukmu.
*Jagalah perasaan isterimu dan janganlah memuji wanita lain di hadap-annya dan janganlah mengumpatnya di hadapan orang lain.
*Bertimbang rasalah kamu dan jangan menuntut sesuatu yang di luar kemampuan isterimu.
*Ketahuilah bahwa Rasulullah SAW tidak pernah memukul isteri-isteri-nya. Jika kamu terpaksa, elakkanlah dari pukulan yang menyakitkan.
*Janganlah kamu terlalu menurut kemauan isterimu karena ini akan me-rusakkan akhlaqnya dan menjatuhkan kewibawaanmu.
*Bersabarlah atas kelemahan isterimu karena mungkin kamu membenci sesuatu yang Allah menjadikan kebaikan yang banyak kepadanya.
WAHAI ISTERI....
*Taati dan cintailah Allah SWT dan Rasul-Nya.
*Utamakanlah hak suamimu lebih daripada hak-hak yang lain melainkan hak-hak Allah SWT dan Rasul-Nya.
*Senantiasalah bersikap malu dan taat kepada suamimu serta berilah perhatian ketika ia berbicara di samping menghormatinya.
*Berpuas hatilah dengan apa saja rezki yang telah diperoleh oleh suamimu dari Allah SWT.
*Muliakanlah anggota keluarga suamimu dan saudara maranya.
*Tumpukanlah perhatian kepada kewajiban dan urusan dalam rumah-anggamu.
*Jagalah perasaan dan maruah suamimu.
*Hiasilah dirimu untuk suamimu saja.
*Janganlah merasa bangga kepada suamimu lantaran harta, kecantikan dan keturunanmu.
*Janganlah keluar dari rumahmu melainkan dengan izin suamimu.

( 1 )
AKAL SETIPIS RAMBUTNYA

Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita. Tanpa mereka hati, fikiran, perasaan lelaki akan resah. Masih mencari walaupun sudah ada segala galanya.
Apa lagi yang tidak ada di syurga, namun Nabi Adam a.s tetap merin-ukan Siti Hawa. Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, isteri atau puteri.
Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau lelaki sendiri yang tak lurus, tdk mungkin mampu hendak meluruskan mereka.
Tak logik kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus.
Luruskanlah wanita dengan cara petunjuk Allah, karena mereka dicipta-kan begitu rupa oleh Mereka.
Didiklah mereka dengan panduan dariNya.
Jangan coba jinakkan mereka dengan harta, nanti mereka semakin liar.
Jangan hiburkan mereka dengan kecantikan, nanti mereka semakin menderita.
Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah. Kenalkan mereka kepada Allah, zat yang kekal, disitulah kuncinya.
Akal setipis rambutnya, tebalkan dengan ilmu.
Hati serapuh kaca, kuatkan dengan iman.
Perasaan selembut sutera, hiasilah dengan akhlak.
Suburkanlah karena dari situlah nanti mereka akan nampak penilaian dan keadilan Tuhan.
Akan terhibur dan bahagialah hati mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik dunia, presiden ataupun perdana menteri negara atau women gladiator.
Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan. Itu bukan diskriminasi Tuhan. Sebaliknya disitulah kasih sayang Tuhan, karena rahim wanita yang lembut itulah yang mengandungkan lelaki-lelaki wajah : negarawan, karyawan, jutawan dan " wan-wan" lain. Tidak akan lahir superman tanpa superwoman.
Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan.
Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan, bahkan mereka pula membengkokkan.
Lebih banyak lelaki yang dirusakkan oleh perempuan
Daripada perempuan yang dirusakkan oleh lelaki.
Sebodoh-bodoh perempuan pun bisa menundukkan sepandai-pandai lelaki
Itulah akibatnya apabila wanita tidak kenal tuhan. Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki. Kini bukan saja banyak boss telah kehilangan secretary, bahkan anak pun akan kehilangan ibu, suami kehilangan isteri dan bapa akan kehilangan puteri. Bila wanita durhaka dunia akan huru-hara. Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa. Para lelaki pula jangan hanya mengharap ketaatan tetapi binalah kepimpinan. Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Allah Pimpinlah diri sendiri dahulu kepadaNYA.
Jinakkan diri dengan Allah, niscaya akan jinaklah segala-galanya dibawah pimpinan kita.
Jangan mengharap isteri seperti Siri Fatimah, kalau pribadi belum lagi seperti sayidina Ali.

( 2 )
KITAB UQUUDU LUJAIN FII BAYAANI HUQUUZZAUJAINI

BAB 1

Shahabat-shahabat yang dirahmati oleh Alloh SWT, Alhamdulillah segala puji tersanjung kehadirat Alloh SWT Sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada sayyidina Muhammad SAW besrta keluarganya dan para shahabat, sejumlah bilangan semua perkara yang diketahui Alloh. “Amma ba’du”.
Izinlah kami menulis buletin ini dengan suatu pegangan kitab, yang insya Alloh kami ambil dari kitab “UQUUDU LUJAIN FII BAYAANI HUQUUQUZZAUJAINI” Kami sangat berharap memperoleh pertolong-an Alloh, keikhlasan, diterima dan bermanfa’at dalam segala hal yang berkaitan dengan risalah yang kami tulis ini, semata karena kemuliaan sayyidina Muhammad SAW para istrinya anak cucunya dan golongan beliau.
Risalah ini kami hadiahkan kepada kedua orang tua kami, dengan harapan memperoleh pengampuan dari Alloh, dan mudah-mudahan derajatnya ditinggikan. Sesungguhnya Alloh SWT adalah dzat yang maha luas pe-ngampunan Nya dan dzat Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

PASAL I
( 3 )
HAK-HAK ISTRI TERHADAP SUAMI

Alloh SWT berfiman sebagaimana tersebut dalam Surat An-Nisaa ; Ayat 19: “WA ‘AASYIRUUHUNNA BILMA’RUUFI”
Artinya : “ Dan pergaulilah mereka (istri-istrimu)dengan baik “
Yang dimaksud adalah pergaulan secara adil. Baik dalam pembagian gi-liran (kalau kebetulan polygami), pemberian belanja dan berperangai baik dalam ucapan dan tindakan.
Dalam Surat Al-Baqoroh ayat 228 diterangkan: Artinya : “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai suatu tingkatan kele-bihan daripada istrinya. ”
Diriwayatkan dari nabi SAW bahwa, saat beliau menunaikan haji wada’ belau bersabda : Setelah beliau mamuji Alloh SWT dan menyanjung-Nya serta memberi petuah pada kaum muslimin yang hadir, Beliau melanjut-kan sabdanya:
“Ingatlah, berikanlah wasiat kepada para wanita secara baik, karena mereka hanyalah sebagai tawanan dihadapanmu. Sesungguhnya kalian tidak memiliki apapun dari mereka kecuali kebaikan. kecuali jika mereka itu (wanita) datang denga membawa perbuatan buruk yang jelas. Kalau wanita melakukan perbuatan tercela, maka berpisahlah sebatas tempat tidur dan pukullah dengan pukulan yang tidak membahayakan.
Kalau istimu mentaati maka kamu jangan mencari alasan lain untuk mengusiknya. Ingatlah sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istri di-mu. Diantara hak kalian atas istri-istrimu adalah melarang istrimu meng-elar tikarmu terhadap orang yang tidak kamu sukai dan tidak mengizinkan istri-istrimu memasukkan orang yang tidak kamu sukai. Ingatlah, bahwa diantara hak-hak istrimu adalah memberi pakaian yang baik kepadanya dan demikian pula dalam hal makanannya. ”

BAB 2

Rasululloh SAW bersabda, Artinya: “ Hak istri atas suami adalah mamberi makan kepadanya jika ia (suami) makan, memberi pakaian ke-padanya apabila ia (suami) berpakaian, dan jangan menampar wajah, ja-ngan menjelek-jelekkan dan jangan membiarkan (memisahkannya) kecuali dalam hal tempat tidur. (riwayat Thamrani dari Muawiyah bin Haidah).
Rosululloh SAW bersabda:
“Ayyumaa rojulin tazawwaja imroatan ‘alaa maaqolla minal-ahri au katsuro laisya fii nafsihi anyuaddiya haqqohaa khodda’ahaa famaata walam yuaddi ilaihaa haqqohaa laqiualloha yaumal qiyamata wahuwa zaarin”
Artinya: “Siapapun orang laki-laki yang menikahi seorang wanita dengan maskawin yang hanya sedikit atau banyak, tetapi drinya berniat untuk tidak memenuhi hak-hak istri (yakni bermaksud menipunya) lalu lelaki itu mati hingga belum pernah memenuhi hak-hak istrinya, maka dihari kiamat kelak ia akan menghadap Alloh SWT dengan menyandang predikat seba-gai pezina. ”
Rosulloh SAW bersabda : “Inna min akmalil mu’miniina iimaanan ahsanuhum khuluqon waal thofuhum biahlihii. ”
Artinya: ”Sesunguhnya diantara kesempurnaan keimanan orang mukmin adalah mereka yang lebih bersikap kasih sayang (berlaku lemah lembut) terhadap istrinya. ” (riwayat Turmudzi dan Hakim dari Aisyah).

BAB 3

Rasulullah SAW bersabda: “Khoirukum khoirukum liahlihii wa ana khoirikum li ahlii. ”
Artinya : “ Sebaik-baik orang diantara kamu adalah mereka yang paling bagus terhadap istri-istrinya. Dan aku adalah orang yang terbaik dian-taramu terhadap keluarga (istri-istri)ku. ” (Riwayat Ibnu Hibban).
Dalam riwayat lainnya dikatakan :
Artinya : “ Sebaik-baik orang diantara kamu adalah mereka yang paling bagus terhadap istri-istrinya, dan aku adalah orang yang lebih bagus diantaramu terhadap istri-istriku. ”
Rasulullah SAW bersabda :
“Man shobaro’ala suui khuluqi imroatihii a’thoohu allahu minal ajri mitslamaa u’thiya ayyuubu ‘alaihissalaamu’ala balaa ihi wa man shobarot ‘alasui khuluqi zaujihaa a’thoohallahu minal ajri mitslatsawaa bi aasiyata imroata fir’auma. ”
Artinya : “ Barang siapa bersabar atas keburukan kelakuan istrinya maka Allah SWT akan memberi pahala kepadanya seperti pahala yang pernah diberikan Allah SWT kepada Nabi Ayyub AS atas cobaan yang dite-rimanya. Dan barang siapa bersabar atas keburukan kelakuan suaminya maka Allah SWT memberi pahala kepadanya seperti pahala yang pernah diberikan kepada Asiyah istri Fir’aun. ”
Perlu diketahui bahwa cobaan yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Ayyub AS adalah terdiri dari empat macam cobaan.
Meliputi cobaan atas kebangkrutan (pailit) kekayaannya, kematian semua anak-anaknya, kerusakan pada tubuhnya dan diasingkan oleh masyarakat kecuali hanya istrinya saja yang setia menemani.
Kehancuran harta kekayaan Nabi Ayyub AS terdiri dari unta, sapi, kambing, gajah, khimar (keledai). Kekayaan lain milik Beliau adalah 500 hektar tanah persawawahan, semuanya digarap oleh 500 orang, pada se-tiap orang mempunyai anak istri. Pengikut Beliau terdiri dari 3 golongan semua telah beriman dan masih berusia muda.
Iblis yang diberikan kekuasaan oleh Allah SWT dapat turun naik dari bumi ke langit sewaktu dikehendaki, mempunyai maksud naik ke langit. Tiba-tiba Iblis mendengar para malaikat membaca Sholawat atas Nabi Ayyub AS. Saat itu juga timbullah rasa Hasud di dalam hatinya. Ia berkata memohon kepada Allah SWT :
“Wahai Tuhan, sekarang ini aku memang telah menyaksikan sendiri hamba-mu ayyub sangat rajin bersyukur seraya memuji kepada-mu tetapi kalau engkau memberi cobaan kepadaku tentu dia tidak akan bersyukur dan tidak pula mentaatinya.
Allah SWT berfirman kepada Iblis :
“Baik, silakan kamu merangkap sekarang aku beri kekuasaan kepadamu untuk mencoba Ayyub a.s melalui harta kekayaannya. ”
Iblis berangkat. Ia mengumpulkan semua anak buah terdiri dari syaitan dan jin ia katakan kepada mereka: “ Sekarang aku telah diberi wewenang untuk mencoba Ayyub as melalui hartanya. ”
Lebih lanjut iblis berkata lagi :
“Ifrit, sekarang kauu kuberi tugas membakar tempat penggembalaan unta-unta milik Ayyub as dan sekaligus membunuh semua unta-unta itu laksanakan !”
Iblis datang menjumpai Ayyub AS, saat mana ketika itu Beliau sedang melaksanakan sholat. Iblis berkata kepadanya: “Tempat peng-embalaan unta-untamu terbakar, dan seluruh unta milikmu ikut terbakar pula. ”
Apa kata Nabi Ayyub AS: “Alkhamdulillah Allah SWT sendiri yang memberikan kekayaan itu kepadaku dan hanya Dia saja yang berhak mengambil kembali. ”
Iblis tidak berhenti sampai disitu. Ia meningkat lagi pada kekayaan yang lain. Ia hancurkan semua kambing milik Nabi Ayyub As, berikut tempat penggembalaannya. Ia datang ke Nabi Ayyub As seraya memberi-ahukan peristiwa itu.
“Angin panas telah menghancurkan kebunnya tidak ada jang tersisa sedi-kitpun.” kata iblis sehabis merusak semua kebun milik Nabi Ayyub AS. Apa kata Nabi Ayyub As. “ Alkhamdulillah ...” kemudian Beliau memuji Allah SWT dan menyanjung-Nya. ”

BAB 4

Usaha iblis belum berhenti sampai disitu. Ia kembali menghadap Allah SWT seraya memohon agar diberi kekuasaan untuk mencoba Nabi Ayyub AS melalui anak-anaknya.
Allah berkata:”Silakan, pergilah. Aku memberi kekuasaan penuh kepada-mu untuk mencoba Ayyub melalui anak-anaknya. ”
Iblis berangkat. Yang dituju adalah gedung tempat anak-anak Nabi Ayyub As berlindung di bawahnya. Gedung itu diguncang lalu hancur menindih habis anak-anak Nabi Ayyub As, semuanya mati. Iblis lalu memberi Nabi Ayyub As tentang bencana yang menimpa anak-anaknya.
Apa reaksi Beliau?. Nabi Ayyub AS malah beristigfar memohon ampun kepada Allah SWT.
Usaha iblis tetap tidak menghasilkan apapun untuk merubah ketaatan Nabi Ayyub As. Beliau tetap taat kepada Allah SWT dan bersyukur kepada-Nya. Iblis kembali menghadap Allah SWT seraya memohon agar diberi kekuasaan untuk menguji nya. Allah berkata kepadanya: “ Silakan aku beri kekuasaan kepadamu untuk menguji melalui tubuh lisan dan akalnya tetapi bukan hatinya. ”
Iblis segera berangkat untuk menggoda Nabi Ayyub As. Sampai ketempat yang dituju ternyata Beliau sedang bersujud. Iblis datang dari arah kepala Beliau, lalu meniup kedua lubang hidungnya dengan sekali tiup. Seketika itu badan Nabi Ayyub As serasa gatal-gatal.
Makin lama terasa semakin gatal. Nabi Ayyub As menggaruk-garuk bagian-bagian tubuh yang gatal dengan ujung-ujung jemarinya. Tetapi belum juga hilang gatal-gatal itu.
Nabi Ayyub As mencoba menggaruk-garuknya dengan kain kasar. Belum juga hilang gatal-gatal itu. Lalu menggunakan kereweng (pecahan gen-ting) dan batu. Beliau tidak henti-hentinya menggaruk badannya hingga melepuh, sehingga bernanah dan berbau busuk. Masyarakat sekitarnya menganggap berbahaya terhadap penyakit yang sedang dialami Nabi Ayyub As. Mereka sepakat mengasingkan Beliau ke luar daerah. Beliau terusir ke tempat yang kotor. Mereka membuatkan untuk Beliau sebuah gubuk yang hanya ditemani istrinya yang bernama Rahmah.
Meskipun demikian istri beliau, Rahmah, selalu setia melayaninya. Ia berbuat baik sekali kepadanya. Ia perlakukan suaminya penuh kasih sa-yang. Kebutuhan-kebutuhan makan dan minumnya selalu diperhatikan. Kaum Nabi Ayyub As yang mendeportasi dirinya terdiri dari tiga go-longan. Namun begitu semuanya masih tetap dalam keimanan semula. Mereka tidak meninggalkan agamanya.
Dalam kisah lain diriwayatkan bahwa, ada seseorang bermaksud menghadap Umar Bin Khattab hendak mengadukan perihal perangai buruk istrinya. Sampai ke rumah yang dituju orang itu menanti Umar Ra di depan pintu. Saat itu ia mendengar istri Umar mengomeli dirinya, se-mentara Umar sendiri hanya berdiam diri saja tanpa bereaksi. Orang itu bermaksud balik kembali sambil melangkahkan kaki seraya bergumam: Kalau keadaan Amirul Mukminin saja begitu bagaimana halnya dengan diriku. ”
Bersamaan itu Umar keluar, ketika melihat orang itu hendak kem-bali. Umar memanggilnya, katanya : ”Ada keperluan penting?”. Ia men-jawab : ” Amirul Mukminin, kedatanganku ini sebenarnya hendak mengadukan perihal istriku lantaran suka memarahiku. Tetapi begitu aku mendengar istrimu senfiri berbuat serupa, maka aku bermaksud kembali. Dalam hati aku berkata kalau keadaan Anirul Mukminin saja diperlalukan istrinya seperti itu bagaimana halnya dengan diriku. ”
Umar berkata kepadanya:”Saudara, sesungguhnya aku rela mengaggung perlakuan seperti itu dari istriku karena adanya beberapa hak yang ada padanya. Isriku bertindah sebagai juru masak makanku. Ia sesalu mem-buatkan roti untukku. Ia selalu mencucikan pakaian-pakaianku. Ia menyu-sui anak-anakku, padahal semua itu bukan kewajibannya, Aku cukup ten-tram tidak melakukan perkara haram lantaran pelayanan istriku. Karena itu aku menerimanya sekalipun dimarani. ”
Kata orang itu : ”Amirul mukminin, demikian pulakan terhadap istriku?”. Jawab Umar : ”Ya, terimalah marahnya karena yang dilakukan istrimu tidak akan lama, hanya sebentar saja. ”
Tentang kisah Asiyah lengkapnya begini; ketika Nabi Musa As mengalahkan para tukang sihir Fir’aun, keimanan Asiyah semakin mantap. Keimananya kepada Allah sendiri itu sebenarnya sudah lama tertanam didalam hatinya, dan ia tidak menyatakan Fir’aun (suaminya) sebagai Tuhan. Begitu Fir’aun semakin jelas mengetahui keimanan istrinya, maka ia menjatuhkan hukuman kepadanya.
Kedua tangan dan kakinya diikat. Asiyah ditelentangkan diatas ta-nah yang panas, wajahnya dihadapkan kesinar matahari. Manakala para penyiksanya kembali, malaikat menutup sinar matahari sehingga siksaan itu tidak terasa.
Belum cukup siksaan itu dilakukan Fir’aun, ia kembali memerintahkan algojonya supaya menjatuhkan sebongkah batu besar kedada Asiyah. Manakala Asiyah melihat batu besar itu hendak dijatuhjkan padanya, beliau berdoa kepada Allah SWT:”ROBBI IBNILII ‘INDAKA BAITAN FIL JANNAH. ” Artinya :” Wahai Allah SWT, Tuhanku, bangunkanlah untukku disisi-Mu sebuah gedung di Syurga, (Q. S. At Tahrim, ayat 11).
Segera Allah memperlihatkan sebuah bangunan gedung di syurga yang terbuat dari marmer berwarna mengkilat. Asiyah sangat bergembira, lalu ruhnya keluar menyusul kemudian barulah sebongkah batu besar itu dijatuhkan pada tubuhnya sehingga beliau tidak merasakan sakit, karena jasadnya sudah tidak mempunyai nyawa.
Syeikh habib Abdullah Al Haddad mengatakan, seseorang yang sempurna adalah orang yang mempermudah hak-haknya, tetapi tidak mempermudah (meremehkan) hak-hak Allah. Sebaliknya orang yang kurang sempurna adalah orang yang diketahui berlaku sebaliknya.


BAB 5
K I S A H
Ada seorang salih, ia mempunyai saudara (kawan) yang salih pula. Setiap tahun ia berkunjung kepadanya. Suatu hari ia mengun-junginya lagi, sampai ke rumah yang dituju pintunya masih tertutup. Ia ketuk pintu rumah itu. Dari dalam terdengar suara wanita: “SIAPA ITU?” Orang yang salih menjawab: “Aku, saudara suamimu. Aku darang untuk mengunjunginya, hanya karena Allah semata. ”
“Dia sedang keluar mencari kayu bakar”, balas istri sahabatnya. “Mudah-mudahan ia tidak kembali. ” Lanjutnya sambil terus ber-gumam memaki-maki suaminya.
Ketika mereka sedang terlibat perbincangan, tiba-tiba orang yang salih itu datang sambil menuntun seekor harimau yang sedang membawa seikat kayu bakar. Begitu melihat saudaranya datang mengunjunginya, ia menghambur kepadanya seraya bersalam.
Kayu bakar itu lalu diturunkan dari punggung harimau tersebut. Katanya kemudian: “Sekarang pergilah kamu, mudah-mudahan Allah memberkahimu. ”
Orang yang salih itu (yakni yang empunya rumah) lalu mempersilakan saudaranya masuk. Sementara isterinya masih bergunam memaki-maki dirinya. Namun sebegitu jauh ia hanya berdiam, tanpa menunjukkan reaksi kebencian. Setelah terlibat perbincangan beberapa saat lamanya, hidangan keluar disuguhkan. Dilanjutkan berbincang-bincang hingga beberapa saat. Setelah itu saudaranya berpamitan dengan menyimpan kekaguman yang sangat berkesan. Ia sangat kagum sebab saudaranya sanggup menekan kesabarannya menghadap isteri yang begitu cerewet dan berlidah panjang.
Tahun berikutnya ia berkunjung lagi. Sampai di depan pintu ia mencoba mengetuknya. Isterinya keluar dan menyapa: “Tuan siapa?”
“Aku adalah saudara suamimu” balasnya. “kedatanganku ini semata untuk mengunjunginya. ”
“Oh, selamat datang tuan, ” kata isteri saudaranya seraya mem-persilakan masuk penuh keramahan. Tidak begitu lama saudara salih yang ditung-gunya tiba juga sambil memanggul seikat kayu bakar. Mereka segera terlibat perbincangan sambil menikmati hidangan yang disuguhkan. Setelah semuanya dirasa cukup, dan ketika ia hendak kembali, ia sempatkan bertanya tentang beberapa hal. Bagaimana dahulu ia dapat menundukkan seekor harimau dan mau diperintah membawakan kayu bakar. Sedang sekarang ini ia hanya datang sendirian sambil memanggul kayu bakar. “Kenapa bisa begitu?” tanya saudaranya. Saudaranya menjawab: ”Ketahuilah saudaraku, isteriku yang dahulu berlidah panjang itu sudah meninggal. Sedapat mungkin aku berusama bersahar atas perangai buruknya, sehingga Allah memberi kemudahan diriku untuk menundukkan seekor harimau, sebagaimana pernah kau lihat sendiri sambil membawa kayu baker itu. Semuanya terjadi lantaran kesabaranku padanya. Lalu aku menikah lagi dengan perempuan yang shalihah ini. Aku sangat gembira mendapatkannya. Maka harimau itupun dijadikan jauh dariku, karena itu aku memanggul sendiri kayu bakar itu, lantaran kegembiraanku terhadap isteriku yang shalihah ini.”

PERHATIAN
Seorang suami diperbolehkan memukul isterinya jika tidak mengin-dahkan perintahnya berhias, padahal ia menghendaki. Atau lantaran menolak diajak tidur bersama. Diperbolehkan pula seorang suami memukul isterinya lantaran keluar rumah tanpa memperoleh izinnya. Atau karena isterinya memukul anak kecil yang sedang rewel. Atau karena mencaci ma-ki orang lain, atau karena menyobek pakaian suaminya, menjambak jeng-gotnya, atau berkata kepada suaminya: “Hai kambing, hai keledai, hai orang tolol, dll.” sekalipun penca-ciannya itu didahului oleh sikap suami yang telah mencacinya.
Demikian pula seorang suami diperbolehkan memukul isterinya lan-aran isterinya sengaja memamerkan wajahnya kepada lelaki lain. Atau karena asyik berbincang-bincang dengan lelaki lain. Atau sekalipun ia ikut mendengarkan pembicaraan suaminya bersama lelaki lain, dengan maksud dapat mencuri pendengaran dari suara lelaki itu. Atau karena memberikan sesuatu dari rumah suaminya berupa barang yang tidak biasanya diberikan kepada orang lain. Atau karena menolak menjalin kekeluargaan dengan saudara suaminya.
Begitu pula suami dibenarkan memukul isterinya karena mening-galkan shalat, setelah terlebih dulu diperintah tetapi menolak menger-jakannya. Pendapat inilah yang lebih kuat.


WASIAT DAN PENGAJARAN SUAMI
Ketahuilah bahwa, setiap suami hendaknya pandai-pandai mem-beri pengajaran atau wasiat-wasiat kebajikan kepada isterinya. Rasu-lullah SAW mengingatkan :
“Rohimallahu rolulan qoola yaa ahlaahu sholaa takum shiyaa makum dzakaa takum miskiinakum yatiimakum jiiroonakum la’allakum ma’a-hum fil jannati. ” Artinya: “Mudah-mudahan Allah merahmati seorang suami yang mengingatkan isterinya, ‘Hai istriku, jagalah shalatmu, puasa-mu, zakatmu, kasihanilah orang-orang miskin di antaramu, para tetanggamu, mudah-mudahan Allah mengumpulkan kamu bersama mereka di surga’. ”
Hendaknya seorang suami selalu memperhatikan nafkahnya sesuai dengan kesanggupannya. Hendaknya suami selalu bersabar jika menerima cercaan isterinya, atau perlakuan-perlakuan tidak baik lainnya. Hendaknya suami mengasihani isterinya, yaitu dengan bentuk memberi pendidikan secara baik, kendati ia seorang terpelajar. Sebab kaum wanita bagaimanapun diciptakan dalam keadaan serba kurang akal dan tipis beragama (kecuali hanya sedikit saja yang mempunyai akal panjang dan beragama kuat).
Tersebut dalam hadith: “Lau laa annallaha satarol mar ata bil hayaa ilakaa nats laa tusaa wii kaffan min turoobin. ”
Artinya: “Kalaulah bukan karena Allah membuatkan penutup rasa malu bagi kaum wanita, niscaya harganya tidak dapat menyamai segenggam debu. (al-hadith).
Hendaknya seorang suami selalu menuntun isterinya pada jalan-jalan yang baik. Memberi pendidikan kepadanya berupa pengetahuan agama (Islam), meliputi hukum-hukum bersuci (Thaharah) dari hadats besar. Misalnya tentang haid dan nifas. Seorang isteri harus diberi pengetahuan tentang persoalan yang sangat penting itu. Sebab bagaimanapun masalah itu berhubungan erat dengan waktu-waktu shalat.
Demikian pula memberikan pengajaran terhadap maslah ibadah. Meliputi ibadan fardhu (wajib) dan sunnahnya. Pengetahuan tentang shalat, zakat, puasa dan haji.
Jika seorang suami telah memberi pendidikan tentang persoalan pokok tersebut, maka isteri tidak dibenarkan keluar rumah untuk bertanya kepa-da ulama. Tetapi kalau pengetahuan yang dimiliki suami tidak memadai, sebagai gantinya maka ia sendiri yang harus siap untuk selalu bertanya kepada ulama (orang yang mengerti ilmu agama). Artinya, isteri tetap tidak diperkenankan keluar rumah. Namun, kalau suami tidak mempunyai untuk bertanya, maka isteri dibenarkan keluar rumah untuk bertanya tentang persoalan agama yang dibutuhkan. Hal itu malah menjadi kewajibannya, dan bahkan kalau suaminya melarang keluar berarti telah melakukan kamaksiatan (dosa). Tetapi isteri harus meminta izinnya lebih dulu jika sewaktu-waktu hendak belajar mengenai ilmu-ilmu tersebut. Isteri harus memperoleh keridhaan suaminya.

BAB 6
KEHARUSAN MEMELIHARA DIRI DAN KELUARGA
Tersebut dalam firman Alloh Surat Al Tahrim ayat 6: “Yaa ayyuhal ladzi aamanuu quuu anfusakum wa ahlikumnaaroon”
Artinya: Hai orang-orang yg beriman, peliharalah dirimu keluargamu dari api neraka.
Dalam menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Abas Ra mengatakan, ”Berikanlah pengertian kepada mereka dan didiklah mereka “ yakni tentang syariah Islam dan akhlak-akhlak yang baik.
Tersebut dalam riwayat dijelaskan :
“Inna asyaddannaasi ‘adzaabayyau mal wiyaa mati man jahhala ahladu”
Artinya : Sesungguhnya di antara manusia yang paling keras menerima siksaan kelak di hari kiamat adalah orang yang memperbodoh keluarga-nya, (yang sengaja membentuk keluarganya menjadi bodoh). (al-hadith)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Ra dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda yang artinya : “Setiap kamu sekalian adalah peng-gembala dan kelak akan ditanya tentang penggembalaannya. Imam adalah penggembala dan kelak dimintai tanggung jawab atas peng-gembalaan (kepemimpinan)nya. Suami adalah pemimpin keluarganya dan kelak dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinan (rumah tangganya). Isteri adalah pengatur di rumah suaminya, kelak akan diminta pertang-gungjawaban tentang pengaturannya (di rumah suaminya). Pembantu adalah pelaksana dalam menjalankan pertang-gungjawaban tentang pelak-sanaannya. Anak lelaki adalah penjaga harta kekayaan orang tuanya dan kelak akan diminta pertang-gungjawaban tentang penjagaannya. Jadi kalian semua adalah peng-gembala dan kelak kalian akan diminta pertanggungjawaban atas penggembalaannya. (riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).
Rasulullah SAW bersabda yang artinya:”Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah dalam urusan wanita, karena mereka adalah merupakan amanat bagimu. Barangsiapa tidak menyuruh isterinya menunaikan shalat dan tidak mengajarinya, berarti telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya. (al-hadith).
Di antara akhir kata-kata yang dipesankan oleh Rasulullah SAW yang diulang tiga kali hingga lisannya terasa sulit berkata dan sangat berat, adalah:
“Peliharalah shalat, peliharalah shalat (mu) dan apa saja yang ada pada kekuasaanmu. Janganlah kamu membebani mereka dengan perkara yang mereka tidak mampu menanggungnya. Takutlah kepada allah, takutlah kepada Allah dalam urusan isteri-isterimu, sesungguhnya me-reka adalah tawanan yang ada dalam kekuasaanmu. Kamu mengambil mereka dengan amanat Allah, dan kamu mengambil kehalalan farji mereka dengan firman-firman Allah. (al-hadith).
Firman Allah dalam surat Thaaha ayat 132: “Wa mur ahlaka bisholati” yang artinya: “dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat.
Diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda, yang artinya: “tidak ada dosa yang lebih besar yang kelak di hari kiamat dibawa seeorang menghadap kepada Allah, daripada orang yang membuat keluar-ganya menjadi bodoh. ”
Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: “Pertama kalli perkara yang dipertanggungjawabkan kepada seseorang di hari kiamat adalah keluar-ganya (yakni isteri) dan anak-anaknya. Mereka berkata, wahai Tuhan kami, ambillah hak-hak kami (tanggung jawab) kami dari orang ini, karena sesungguhnya dia tidak mengajarkan kepada kami tentang urusan agama kami. Ia memberi makan kepada kami berupa makanan dari hasil yang haram, dan kami tidak mengetahui. Maka orang itu dihantam (disiksa) lantaran mencari barang yang haram, sehingga terkelupas dagingnya, kemudian dibawa ke neraka. (al-hadith).

BAB 7
PASAL 2
( 4 )
HAK-HAK SUAMI ATAS ISTERI

Firman Allah dalam surat An-Nisaa’ Ayat 34 : Artinya :”Kaum laki-laki itu adalah pemimpin kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta meraka. Sebab itu maka wanita yang sholihah adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara(mereka). Wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya (kemaluannya), maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka ditempat tidur dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencaricari jalan untuk menyusahkannya. ”
Rasululloh SAW bersabda: Artinya :” Sebaik-baik Wanita (Isteri) adalah seorang wanita yang apabila kamu pandang menyenangkan dirimu, kalau kamu perintah mentaatimu, kalau kamu pergi ia menjaga harta dan dirimu.
Rasululloh SAW bersabda :
“Barang siapa bersabar terhadap perangai isterinya, maka Allah akan memberikan pahala kepadanya seperti pahala yang diberikan padaa Nabi Ayyub As. Barang siapa bersabar (yakni Isteri) terhadap perangai suaminya, maka Allah akan memberikan pahala seperti pahala yang diberikan Allah pada orang yang gugur dalam membela agama Allah. Barangsiapa (isteri) menganiaya suaminya dan memberi beban pekerjaan yang tidak pantas menjadi bebannya (yakni suami) dan menyakitkan hatinya, maka para Malaikat juru pemberi Rahmat (Malaikat Rahmat) dan Malaikat juru siksa (malaikat azab) melak-natinya (yakni isteri). Barangsiapa (isteri) yang bersabar terhadap perbuatan suaminya yang menyakitkan, maka Allah akan memberinya seperti pahala yang diberikan Allah pada Asiyah dan Maryam Binti Imran. (Al-hadts).

BAB 8
Rasululloh SAW bersabda : “Ayyumaa imroatin maa tat wazaujuhaa ‘anhaa roodhin dahholatil jannata”
Artinya: ”Siapa saja kaum wanita (istri) yang mati sedangkan suami-nya meridhoinya, maka kelak ia masuk surga. ” (Diriwayatkan Tirmizdi Ibnu Majah, Hakim dari Ummu Salamah).
Rasululloh SAW bersabda : “Idzaa shollatilmaratiu khomsahaa washoomat syahrohaa wafidhot farjahaa wa athoo’at zaujahaa qiila lahaa udhululjannata min ayyiabwaabiljannatisyi, ti. ”
Artinya: “Apabila seorang Isteri menunaikan shalat lima waktunya, ber-puasa dibulannya, pandai-pandai memelihara kemaluannya dan mentaati suaminya, kelak akan dikatakan kepadanya:”Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki. ”(Diriwayatkan oleh Ahma)
Tersebut dalam suatu riwayat ada seorang perempuan datang menghadap Nabi SAW seraya berkata : “Wahai Rasululloh, aku ini utusan dari kaum wanita yang diminta menghadapmu. Yaitu menanyakan masalah jihad yang hanya diwajibkan Alloh kepada kaum laki-laki. Kalau mereka terluka mendapatkan pahala. Kalau mereka terbunuh, mereka bahkan sebagi orang-orang yang hidup disisi Tuhannya seraya memperoleh rizki. sedangkan kami dari golongan Wanita ini selalu setia mengikuti dan membantu mereka menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan. Namun demikian kenapa kami tidak memperoleh pahala berjihad seperti yang diberikan pada mereka Rosulloh SAW Bersabda:”Sampaikan kepada siapa saja kaum wanita yang kamu jumpai bahwa, mentaati suami dengan mengakui hak-hakhya sesungguhnya telah menyamai dengan pahala berjihad. Tetapi sedikit sekali diantaramu melaksanakan. ”
(Diriwayatkan oleh Al Bazzar dan Thabrani).

BAB 9

Dalam Firman Allah SWT Surat An-Nisa’ ayat : 32 : “Lirrijaali nashiibun mimmaa ihtasabuu walinnisaai nashiibun mimmaa iktasabna”
Artinya:”Bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi merka wanita ada bagian dari apa yang meraka usahakan. ”
Yang dimaksud adalah pahala yang diberikan Allah SWT kepada kaum lelaki karena menunaikan jihad. Sedangkan pahala yang diberikan Allah SWT kepada kaum wanita adalah lantaran mereka mamlihara kemauannya dan mentaati Allah SWT serta mentaati suaminya. Pahala kaum elaki dan wanita di akhirat kelak kedudukan-nya sama. Yang demikian karena, perburan baik itu dilipatkan pahalanya hingga sepuluh kali lipat. Baik hal itu berlaku bagi kaum lelaki maupun wanita. Kutamaan kaum lelaki atas kaum wanita hanyalah sebatas masa di dunia. Demikian menurut penafsirsn Asy Syarbini didalm Tafsirnya.
Iman Ali RA mengatakan:”Seburuk-buruk sifat kaum lelaki namun sebaik-baik sifat sifat kaum wanita. , penakut. Sebab kaum wanita (Isteri) itu bakhil maka akan dapat memelihara hartanya dsn hartanya dan suami saja, kalau isteri (wanita) itu merasa besar maka perasaan besarnya itu akan mencegah diri nya banyak bicara kepada setiap orang dengan gaya bicara yang lunak, yang memungkinkan mengundang perhatian. kalau wanita itu penakut daari segala sesuatu maka ia tidak akan keluar rumah dan merasa takut ketempat-tempat yang dapat mengundang dugaan lantaran takut kepada Suaminya. Nabi Dawud As mengatakan :”Isteri yang berakhlak buruk bagi seorang suami, kalau dimisalkan adalah bagaikan orangtua renta yang memikul beban berat. Sedang isteri yang sholihah bagi seorang suami bagaikan mahkota yang dilapisi emas. Manakala suami meman-dangnya, maka membuat ketenangan. ”


KEDUDUKAN KAUM ISTERI
Hendaknya suami memberi pengertian kepada isterinya bahwa, se-ungguhnya keberadaan isterinya tidak lebih bagaikan hamba sahaya (bu-ak) dimata tuannya. Atau bagaikan tawanan yang tidak berdaya karena itu isteri tidak berhak mempergunakan harta harta suaminya kecuali mem-eroleh izinnya.
Bahkan menurut pendapat mayoritas Ulama bahwa, seorang isteri tidak boleh mempergunakan hartanya juga sekalipun harta itu mutlak miliknya sendiri, kecuali telah mendapat restu suami. Sebab kedudukan Isteri itu seperti orang yang menanggung hutang banyak yang harus membatasi penggunaan hartanya.
Selain itu telah kewajiban bagi kaum isteri supaya memiliki sikap pemalu terhadap suaminya sepanjang waktu. Tidak banyak mem-bantah perkataan suami. Merendahkan pandangannya di hadapan suami. Mentaati perintah-perintahnya, dan siap mendengarkan kata-kata yang diucapkan suaminya. Menyongsong kedatangan suami dan mengantarkannya ketika hendak keluar rumah. Menampakkan rasa cinta dan bergembira dihadapannya. Menyerahkan dirinya secara penuh di sisi suaminya ketika di tempat tidur.
Termasuk perkara penting yang perlu mendapat perhatian kaum isteri adalah, hendaknya selalu memperhatikan kebersihan mulutnya, baik dengan cara di gosok dalam berbagai waktu, menggunakan misik atau wewangian lain. Membersihkan pakaian, selalu bersolek di hadapan suami sebaliknya tidak berhias jika suami sedang pergi.
Al Ashmu’i menceritakan pengalamannya ketika berjalan-jalan di suatu dusun. Katanya, suatu hari aku melihat seorang wanita di suatu desa. Ia berpakaian merah menyala, semua semua kukunya dikenakan pacar dan tangannya menggenggam tasbih. Al Ashmu’i bergumam Alang-ah indahnya wanita itu, hampir tidak ada keindahan yang melebihinya.
Setelah mengetahui sapaanku, ia bersair : Demi Allah sesunggunya aku mempunyai seorang kawan yang akrab yang tidak dapat kutinggalkan sewaktu-waktu aku bercengkerama bersama dirimu Al Ashmu’i melanjutkan, sekarang aku tahu bahwa, wanita itu ternyata seorang isteri yang solehah. Ia mempunyai suami dimana ia selalu berhias untuk menye-nangkan dirinya.
Selanjutnya, seorang isteri hendaknya menjauhkan diri dari sikap ber-khianat terhadap suami. Baik berkhianat ketika ditinggal suami, saat di tempat tidur atau berkhianat pada hartanya.
“LAA YAHILLU LAHAA AN TUTH’IMA MIN BAITIHI ILLAA BIIDZNIHI ILLAA ARROTHBA MINATHTHO’AAMI ALLADZII YAKHOOPU FASAADUHU FAIN ATH’AMAT ‘AN RIDHOOHU KAANA LAHAA MITSLA AJRIHI WAIN ATH’AMAT BIGHOIRI IDZNIHI KAANA LAHULAJRU WA’ALAIHALWIZRU. ” (AL-HADITH)
Artinya:”Tidak dihalalkan bagi seorang isteri memberikan makanan dari rumah suaminya kecuali mendapat izinnya. Kecuali berupa makanan basah (yang kadar airnya tinggi) yang dikhawatirkan busuk. Kalau seorang isteri memberi makanan tanpa memperoleh izin suaminya, maka suaminya yang mendapat pahala dan ia sendiri mendapat dosa. (al-hadith).
Seorang isteri juga harus menghormati keluarga suaminya, kerabat-kerabatnya kendati hanya dengan ucapan. Hendaknya isteri dapat menempatkan dirinya dalam memandang perkara yang sedikit yang dimiliki suami sebagai perkara yang banyak. Tidak menolak jika diajak tidur bersama, kendati saat itu ia sedang berkendaraan.

BAB 10

Ibnu Abas mengatakan, Aku mendengar Rasululloh SAW bersabda :
“Lau anna imroatan ja’alat laklahaa qiiyaaman wanahaarohaa shiyaaman wa’aahaa zaujuhaa ilaa firoosyihi wa taakhkhorot ‘anhu saa’atan waahi datan jaaat yaumalqiamati tushabu bissalaasili walaghlaali ma’asysya-aatihini ilaa asfali saa filiina” (Al haditu)
Seandainya seorang istri menjadikan seluruh waktu malamnya untuk beribadah dan siangnya selalu berpuasa, sementara suaminya mengajak dia tidur bersama (yakni bersetubuh) tetapi ia terlambat sebentar saja meme-nuhi panggilan (ajakannya), maka kelak di hari kiamat ia datang dalam keadaan terantai dan terbelenggu, serta ia dikumpulkan bersama syetan ditempat neraka yang paling bawah. (al-hadist)
Perlu sekali diketahui, hendaknya seseorang apabila hendak berse-tubuh menjauhkan diri dari pandangan orang lain. karena termasuk diharamkan bersetubuh dilihat orang lain. termasuk dalam kategori ini adalah persetubuhan yang dilakukan ditempat terbuka, tidak tertutup dari pandangan orang lain.
Disunnahkan bagi orang yang hendak bersetubuh memulai dengan membaca Bismillahir rahmaanir rahiim, dilanjutkan membaca surat AL Ikhlas, kemudian bertakbir dan bertahlil (yakni membaca Allohu akbar dan Laa ilaahaa illalloh). dilanjutkan membaca : “Bismilahil ‘aliiyil ‘adhimi allohumma ij” Al annuthfata dzurriyyatan thoyyibatan in kunta qodarta an tukhrija dzaalika min shulbii. ”
Artinya ; “Dengan nama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Wahai Allah, jadikanlah sperma ini menjadi keturunan yang bagus kalau kehendaki keluar dari tulang rusukku. ”
Rasululloh SAW mengajarkan : “Lau anna ahadakum inna ataa ahlahu qoola: allohumma jannib nisysyaithoona wa janninisy-syaithoona maa rojaqtanaa.” (Al-Hadith) Artinya; “Jika seorang diantara kamu bermaksud menyetubuhi istrinya, bacalah: “Allohumma jannabnisy-syaithoona wa jannibisysyaithoona maa rojaqtanaa (wahai allah jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari suatu rizqi yang engkau berikan kepada kami). karena jika dalam waktu persetubuhan itu menghasilkan anak, maka syetan tidak akan membahayakannya.
Apabila telah mendekati ejekulasi dan maka hendaknya membaca do’a dalam hati yaitu “alhamdulillahillaszii kholaqo minal-maai basyaron fija’alahu nasaban washihron wakaana robbuka qodiiron “. artinya segala puji bagi Allah dzat yang telah menciptakan manusia dari setetes air (sperma) lalu dia menjadikan dari setetes air itu keturunan dan keluarga. Dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. Sewaktu bersetubuh hendaknya menghindari menghadap ke arah kiblat. Hal itu semata untuk menghormati kiblat. Hendaknya dalam persetubuhan antara laki-laki dan wanita di tutup dengan selimut. Hendaknya seorang istri jangan berpuasa (sunnah) selain telah memperoleh izin suaminya. Kalau-pun tetap berpuasa tanpa mendapatkan izinnya maka puasanya tidak di terima, kendati ia lapar dan dahaga saja. Seorang istri hendaknya jangan pula keluar rumah kecuali memperoleh izin suami. Kalau terpaksa keluar rumah tanpa memperoleh izinnya maka para malaikat yang ada dilangit melak-natinya, demikian pula para malaikat yang bertugas di bumi, malaikat rahmat dan malaikat juru siksa. hal itu terus berlangsung hingga dirinya bertaubat atau kembali kerumahnya. Bahaya itu akan berlaku menimpa dirinya sekalipun suaminya seorang yang aniaya.
BAB 11
HIKAYAT

Abdullah alwasiti bercerita bahwa pernah di Arafah aku melihat seorang perempuan ia berkata, “barang siapa mendapat petunjuk Allah maka takkan ada yang dapat menyesatkanya, Barang siapa di sesatkan Allah maka tidak ada orang yang akan menunjukanya “.
Tahulah aku bahwa wanita itu seorang tersesat jalan. aku bertanya. ”wahai perempuan dari mana asalmu?” ia menjawab “maha suci Allah Dzat yang telah meng Isra’ kan hambanya pada suatu malam dari masjidil Haram ke masjidil Aqsho “.
Tahulah aku bahwa perempuan itu berasal dari Muqodas. Aku bertanya :”untuk keperluan apa kedatanganmu kemari?”, ia menja-wab:”diwajibkan oleh Allah atas manusia menunaikan haji bagi orang yang mampu menempuh perjalananya”. aku bertanya:”kau punya suami?” ia menjawab:”janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan dengan masalah ltu!”. ”apa kau bersedia naik unta ?” tanyaku. ia menjawab: ”perkara apa saja dari kebaikan yang kamu kerjakan maka Allah mengetahuinya”.
Manakala perempuan itu hendak menaiki unta, ia berkata :”katakanlah kepada orang-orang yang beriman agar menundukkan pandangan mereka! “.
Maka akupun berpaling dari memandanginya. setelah berada di punggung kendaraan kembali aku bertanya:”siapa namamu?” dan “ceritakanlah kisah Mariam didalam Al Qur’an ?” jawabnya. “kau punya anak?”
ia menjawab :”berwasiatlah Ibrahim dengan milat itu kepada anak-anaknya dan Yaqub “.
Akupun mengerti bahwa ia mempunyai beberapa anak. aku me-lanjutkan pertanyaan : ”siapa nama mereka ?” ia menjawab: ”dan Allah berfirman kepada Musa dengan firman-firman-Nya. dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih (pilihan). Hai Dawud, sesung-guhnya kami menjadikan kamu kholifah di muka bumi”. (jadi nama anak-anak mereka adalah Musa, Ibrahim, dan Dawud).
Aku bertanya :”ke daerah mana aku dapat menjumpai mereka ?”
ia menjawab :”dan beberapa tanda, dengan bintang mereka di beri petunjuk jalan “.
Akupun mengerti bahwa perempuan itu termasuk salah seorang yang ada dalam rombongan pengendara unta.
Aku melanjutkan :”Mariam, beberapa hari ini kau belum makan apa-apa?” ia menjawab : ” sesungguhnya aku bernadzar kepada Tuhan Arrahman untuk berpuasa.
Manakala aku telah sampai ketempat anak-anaknya dan mereka melihat ibundanya mereka menangis seketika, perempuan itu berkata:” salah seorang di antara kamu pergilah kekota dengan membawa uang untuk berbelanja “.
Aku bertanya kepada anak-anaknya tentang ibundanya itu, mereka menjawab “sesungguhnya dia sudah tiga hari ini tersesat jalan. ia ber-nadzar tidak akan berbicara apa-apa kecuali menggunakan bahasa Al Qur’an”. setelah itu aku bertanya kepada mereka, begitu melihat bahwa mereka menangis semua. mereka menjawab: ”sesungguhnya ia dalam keadaan nadzar”.
Maka akupun buru-buru masuk menjumpainya dan bertanya kepada-nya mengenai keadaan yang di alami. Perempuan itu menjawab:”dan sakaratul maut datang dengan nyata “.
Setelah kematianya malamnya aku bermimpi bertemu dengan perem-puan itu. aku bertanya:”dimana kamu sekarang?” ia menjawab :”sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa di tempatkan dalam surga dan sungai-sungai, di tempat yang di senangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa “.
Diriwayatkan dari Rosulullah SAW bahwa beliau bersabda :”se-sungguhnya istri yang mentaati suaminya di mohonkan ampunan oleh burung-burung yang terbang diudara, ikan-ikan yang ada di air dan para Malaikat yang ada di langit, selagi istri itu berada dalam keridloan suaminya “. (Al-hadith )

BAB 12
HIKAYAT
Di baghdad ada seorang laki laki menikah dengan anak puteri pamannya sendiri. Dalam pernikahan itu ia berjanji tidak akan menikah lagi dengan wanita lain. Suatu hari ada seorang perempuan datang (be-lanja) ke tokonya. Ia meminta lelaki itu untuk menikahi dirinya. Lelaki itupun bercerita apa adanya, bahwa dia telah mengikat janji dengan is-trinya (anak pamannya) untuk tidak akan kawin lagi dengan wanita lain.
Tetapi perempuan itu terus mendesak dirinya, hingga dirinya rela sekali-pun hanya di gilir pada hari jum’at. Lelaki itupun menikahinya.
Masa itu telah berlalu, hingga sampai memasuki kedelapan bulan dalam pernikahannya dengan wanita lain, isterinya mulai curiga. Ia tidak menyukai tingkah suaminya yang mulai tidak beres. Ia meme-rintahkan pembantunya supaya menyelidiki suaminya.
Menjelang hari jum’at, suaminya keluar, isterinya meminta pemban-tunya untuk mengawasi dari jauh, ke mana tujuannya.
Ternyata ia masuk kerumah seorang perempuan. Pembantu tadi terus malakukan penyelidikan Ia bertanya kepada salah seorang tetangga perempuan itu. Jawabnya, bahwa lelaki itu telah menikahinya beberapa bulan yang lalu.
Tuan puterinya di beritahu bahwa, suaminya telah menikah lagi dengan perempuan lain. Ia berkata:”Kamu jangan menyebarkan rahasia ini kepada siapapun”.
Manakala lelaki itu telah mati (yakni suami dari isteri anak pa-mannya) Ia mengutus pembantunya supaya mengantarkan uang sebanyak 500 dinar kepada isterinya yang kedua. ”Pergilah ke-rumahnya dan katakan kepadanya :”Semoga Allah menambah paha-lamu menjadi lebih besar. Sesungguhnya suamimu telah mati. Ia meninggalkan uang sebanyak 8000 dinar. Yang tujuh ribu dinar diberikan kepada anaknya. Yang 1000 dinar lagi dibagi dua antara aku dan kamu. ”
Ketika isteri mudanya mendapat penjelasan itu, ia menolak pem-berian uang dari isteri tua. Ia berkata kepada pembantunya: ”Kemba-likan uang itu padanya. Aku tidak akan mengambil maskawin daripa-danya, dan aku tidak ingin mengambil tinggalan apapun dari padanya ”
Tersebut dalam riwayat, kelanjutan hadith diatas : “Ayyumamraa atin ‘ashot zaujahaa fa’alaihaa la’natullaahi wal malaaikaati wannaasi ajma’iina”. (al hadith)
“Mana saja isteri yang berbuat durhaka kepada suaminya, maka ia mem-peroleh laknat Allah, para malaikat, dan semua manusia”.
Imam Ali bin abu thalib berkata:”Aku mendengar Rasulullah bersabda:”Seandainya seorang isteri membawa makanan yang digo-reng dan yang di rebus di kedua tangannya lalu, diletakkan (disiapkan) untuk suaminya, tetapi suaminya tidak meridhoinya, maka dihari kia-mat kelak isteri itu akan di kumpulkan bersama golongan Yahudi dan Nashrani. (al hadith)
Abdullah bin mas’ud mengatakan bahwa, aku mendengar Rasulullah bersabda : “Ayyumaa imra-atin da’aahaa zaujuhaa ilaa firaasyihi fasawwafat bihi hatta yanaama fahiya mal’uunab”. (al hadith)
“Mana saja isteri yang di ajak suaminya bersetubuh, lalu ia mengulur ngulur waktu hingga suaminya tertidur, maka ia terlaknat”.
Dalam kelanjutan hadith di katakan: ”Mana saja isteri yang bermuka masam di depan wajah suaminya, maka ia berada dalam kemurkaan Allah hingga ia tersenyum kembali dan berusaha meminta keri-dhoannya. Dan mana saja isteri yang keluar rumahnya tanpa mendapat restu suaminya, maka ia dilaknati para malaikat hingga kembali”.
Abdurrahman bin ‘auf mengatakan, aku mendengar bahwa rasu-lullah bersabda:
“Ayyumamra-atin ‘abasat fii wajhi zaujihaa illaa qaamat min qabrihaa-muswaddatalwajih”. (al hadith)
“Mana saja isteri yang bermuka masam di depan suaminya, kelak ia di bangkitkan dari kuburnya dalam keadaan berwajah hitam”.
Dari ‘usman bin ‘affan Ra berkata, aku mendengar rasulullah bersabda : “Maa kharajat imra atumminbaiti zaujihaa bi ghairi idznihi illaa la’anahaa kullu syai’in thala’at ‘alaihisysyamsu hattal hiitaani fil bahri. ”
“Tidaklah seorang isteri keluar dari rumah suaminya tanpa mendapat restunya, kecuali dilaknati oleh segala sesuatu yang tersiram matahari, hingga termasuk ikan ikan yang ada dilaut”. (al hadith)

BAB 13
Ummul mu’minin ‘aisyah ra berkata : “Yaa ma’syarannisaa lau ta’lamna bi haqqi azwaajikunna ‘alaikunnalaja’alatilmar-atu minkunna tamsahul ghubaara ‘an qadama zaujihaa buhurri wajhihaa”(al hadith)
“ Wahai kaum wanita, seandainya kamu akan mengetahui hak-hak suamimu atas dirimu, niscaya kamu akan bersedia membersihkan debu ditelapak kaki suaminya dengan sebagian wajahnya”.
Tersebut dalam riwayat Al Bazzar dari ‘aisyah ra bahwa beliau berkata : “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW “Siapa orang yang paling besar hak-haknya atas wanita?. Beliau menjawab:”Suaminya”. Aku melanjutkan:”siapa orang yang paling besar hak-haknya atas seorang laki laki?”. Beliau menjawab ”Ibunya”.
Rasullullah SAW bersabda :”Ada tiga macam orang yang mana Allah tidak berkenan menerima sholatnya, kebajikannya tidak dibawa naik kelangit. Yaitu :
1) Budak yang lari dari tuannya hingga kembali,
2) Isteri yang di marahi suaminya hingga mendapat ridhonya ;
3) Pemabuk hingga sadar (dari mabuknya). Riwayat Ibnu huzaimah, ibnu hibban dan al baihaqqi dari jabir.
Rasulullah bersabda ketika mengingatkan kaum wanita (isteri): ”Idzaa qaalatil mar-atu lizaujiha maa ra-aitu minka khairunqaththu faqad habitha ‘amaluha””.
“Apabila seorang istri berkata pada suaminya :”Sama sekali aku tidak pernah melihat kamu berbuat baik”. Maka benar-benar telah terha-puslah amalnya”. (riwayat ibnu adi dan ibnu ‘asakir dan ‘aisyah)
Thalhah bin ubaidillah ra mengatakan bahwa, aku mendengar Rasulullah bersabda : “Ayyumamra-atin qaalat lizaujihaa maa ra aitu mimka kharian quththa illaa ayasahallaahu ta’aalaa mirrahmatihi yaumalqiyaamati”
“Mana saja perempuan (isteri) yang berkata pada suaminya : Sama sekali aku belum pernah melihat engkau berbuat baik”, Kecuali Allah memutuskan rahmat baginya kelak di hari kiamat”. (al hadith)
Rasulullah bersabda : ”Mana saja istri yang menuntut cerai suaminya tanpa ada perkara yang memperbolehkannya sama sekali (yakni alasan yang jelas), maka haram baginya menikmati bau harum-nya sorga (yakni terhalang penciumannya pada bau sorga). (diriwa-yatkan oleh Ahmad, abu daud, At turmudzi, Ibnu Mahaj, Ibnu Hibban, Al hakim dari tsauban).
Abu bakar As sidiq Ra mengatakan, aku mendengar bahwa Rasu-lullah SAW bersabda:”Apabila seorang istri berkata pada suaminya: ”Ceraikanlah aku “, Maka kelak dihari kiamat ia datang de-ngan membawa wajah tanpa terbalut daging, sementara lidahnya menjulur keluar dari langit-langit mulut dan ia turun menuju tengah-te-ngah jurangnya neraka, kendati ia selalu berpuasa dan beribadah di waktu malamnya”.
Rasulullah SAW bersabda:”Innallaaha laa yandzuru ilaa imra atin laa tasykuru zaujahaa.”.
“Sesungguhnya Allah tak mau memperhatikan seseorang istri yang tidak mau bersyukur kepada suaminya”. (al hadith)
Rasulullah SAW bersabda :”Laa yandzurullaahu tabaaraka wata’aa-laa ilaa imra atin laa tasykur lizaujihaa wahiya laa tstaghnii ‘anhu”.
“Allah tidak mau memperhatikan seseorang istri yang menolak bersyu-kur kepada suaminya, padahal ia tetap membutuhkan suaminya”.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, aku mendengar bahwa Rasu-lullah SAW bersabda “Seandainya seorang istri mempunyai Kekayaan seperti yang dikuasai Sulaiman bin daud, dan suaminya ikut makan hartanya Itu, kemudian istrinya berkata kepadanya:”Mana harta mi-likmu !!”, kecuali Allah akan menghapus amalnya (amal istri) selama empat puluh tahun”.
Usman bin ‘affan berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ”Seandainya seorang istri mempunyai sejumlah harta kekayaan seba-nyak isi dunia dan memberikan semua kekayaan itu pada suaminya, dan setelah berlalu beberapa saat lalu di ungkit-ungkitnya, kecuali Allah akan menghapus semua amalnya dan akan mengumpulkanya bersama dengan Qorun”.

BAB 14
( 5 )
PERTANYAAN PERTAMA
PADA SUAMI DAN ISTRI

Rasulullah bersabda :”Awwalu maa tus-alul mar-atu yaumal qiyaamati ‘ansholaatihaa wa’an ba’lihaa” (al hadith)
“Pertama kali yang di pertanyakan kepada seorang isteri pada hari kiamat adalah tentang sholatnya dan suaminya”.
Rasulullah bersabda: ”Permulaan yang di perhitungkan dari sese-orang lelaki (suami) adalah mengenai shalatnya, kemudian tentang is-trinya dan perkara-perkara yang di kuasainya. Jika pergaulannya ber-sama mereka baik dan lelaki itu berlaku baik kepada semuanya, maka Allah berbuat bagus kepadanya. Dan permulaan perkara yang di perhitungkan (yakni dihisab) bagi perempuan adalah tentang shalatnya kemudian tentang hak-hak suaminya. (al hadith)
Rasulullah SAW bersabda kepada istrinya: ”Dimana engkau mempunyai kewajiban kepada suamimu?. Istri beliau menjawab : Aku tidak akan berbuat lalai dalam melayaninya, kecuali terhadap hal-hal yang kurasa tidak mampu kulakukan. Rasulullah SAW pun melan-jutkan :”Bagai-manapun kamu bergaul bersamanya maka sesung-guhnya suamimu adalah sorga dan nerakamu”. (al hadith).
Tersebut dalam riwayat, bahwa Nabi SAW bersabda: ”Ada em-pat macam wanita yang masuk sorga dan empat macam wanita yang lain masuk neraka. Diantaranya empat macam wanita yang masuk sor-ga adalah, istri yang memelihara kesucian (kehormatan dirinya), men-taati perintah Allah dan mentaati suaminya, banyak anaknya, penyabar, mudah menerima pemberian sedikit bersama suaminya, mempunyai rasa malu. Kalau suaminya tidak ada ditempat (sedang pergi) ia me-melihara dirinya dan harta suaminya. Kalau suaminya sedang di rumah ia mengekang lisannya.
Yang lain adalah isteri yang ditinggal mati suaminya, ia mempunyai anak banyak tetapi ia menahan diri untuk kepentingan anak-anaknya, memelihara mereka berlaku baik pada mereka dan tidak menikah lagi karena khawatir jika menyia-nyiakan anak-anaknya itu.
Adapun empat wanita yang lain yang di tetapkan masuk neraka adalah, istri yang berlisan buruk pada suaminya, kalau suaminya sedang pergi ia tidak menjaga kehormatan dirinya, kalau suaminya berada di-rumah lisannya terus mencerca dengan kata-kata yang buruk, dan isteri yang membebani suaminya dengan beban yang tidak sanggup dipikulnya, dan isteri yang tidak menutup dirinya dari lelaki lain bahkan ia keluar rumah dengan dandanan yang berlebihan, dan isteri yang tidak mempunyai aktivitas lain kecuali makan, minum, tidur dan tidak mempunyai kecintaan untuk melaksanakan sholat, tidak menaati Allah dan rasulNYA dan tidak berusaha menaati suaminya. Isteri yang bersikap seperti itu adalah istri yang terlaknat, termasuk ahli neraka, kecuali jika segera bertaubat. (al hadith)
Kata sa’ad bin waqash, aku mendengar rasulullah SAW bersab-da:”Sesungguhnya seorang istri jika tidak membesarkan hati suaminya sewaktu mengalami kesempitannya, maka Allah akan melaknatnya dan begitu pula para malaikat semuanya ikut melaknat dirinya. (al hadith) Salman Al farissi mengatakan bahwa aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:”Maa nadzaratimra-atun ilaa ghairi xaujihaa bisyahwatin illaa summirat ‘ainahaa yaumanlqiyaamati. (al hadith)
“Tidaklah seoarang istri yang memperhatikan lelaki yang bukan sua-minya di sertai syahwat, kecuali kedua matanya kelak di hari kiamat akan di butakan”.
Abu ayyub Al anshari mengatakan, aku mendengar bahwa Rasu-lullah SAW bersabda : ”Dilangit dunia, Allah menciptakan (menem-patkan tujuh puluh ribu malaikat, dimana mereka melaknati setiap isteri yang menghianati suaminya dalam penggunaan hartanya. Di hari kiamat kelak mereka dikumpulkan bersama para tukang sihir, para dukun, kendati sepanjang hidupnya dihabiskan untuk melayani sua-minya”. (al hadith)
Kata mu’awiyah, sesungguhnya aku mendengar bahwa rasulullah SAW besabda: ”Ayyumaa imra-atin akhadzat min maalin zaujihaa bighairi idznihi illa kaana ‘alaihaa wizruu sab’iina alfa saariq”.
“Mana saja seorang isteri yang mengambil harta suaminya, tanpa seizinnya kecuali dirinya mendapat tujuh puluh dosanya pencuri”. (al hadith)
Rasulullah SAW bersabda:”Allah mengharamkan setiap orang msuk sorga sebelum aku, hanya saja melihat dari sebelah kananku seorang perempuan yang mendahului aku menuju pintu sorga. Aku bertanya “Ba-gaimana perempuan ini mendahuluiku? Dijawab: ”Hai Muhammad, dia adalah perempuan yang bagus. Ia mempunyai anak-anak yatim, tetapi ia bersabar merawat mereka hingga mencapai usia beligh. Lalu dia bersyukur kepada Allah terhadap semua itu”. (al hadith)

BAB 15

Umar bin khatab mengatakan, bahwa Rasulullah SAW bersabda : ”Ayyumaa imra atin rafa’at shautahaa ‘alaa zaujihaa illaa la’anahaa kullu syai-in thala’at ‘alaihi syamsu “. (Al hadith)
“Mana saja isteri yang memperkeraskan suaranya kepada suaminya ke-uali dilaknat oleh segala sesuatu yang tersinar oleh sinar mentari. (al hadith)
Abu dzar mengatakan, aku mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda : ”Sesungguhnya kalaupun seseorang isteri beribadah seperti ibadahnya para malaikat dan manusia yang ahli ibadah. Kemudian ia membuat keprihatinan kepada suaminya karena masalah nafkah, kecuali pada hari kiamat ia datang sementara tangannya terbelenggu pada leher dan kakinya terikat, mulutnya dirobek, wajahnya pucat dan dirinya digantung oleh malaikat yang sangat keras seraya diseret menuju neraka”. (al hadith)
Salman Al farisi mengatakan, aku mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Mana saja isteri yang bersolek dan mengenakan wewangian, keluar rumah tanpa mendapat izin suaminya, maka sesungguhnya dia berjalan dalam kemurkaan Allah dan kebencianNYA hingga kembali”. (al hadith)
Rasulullah SAW bersabda:”Ayyumamra-atin naza’at tsiyaabahaa fii ghairi baitihaa khairaqallaahu ‘azza wajalla ‘anhaa sitrahu” (rawahu ahmad dan thabrani dan hakim dan baihaqi)
“Mana saja isteri yang menukar pakaiannya dilain rumah dengan maksud sengaja di buka supaya terlihat lelaki lain, maka Allah pasti merobek penutupnya (yakni Allah tidak akan menutupi dosanya). (dari ahmad thabrani al-hakim dan al baihaqi)
Tersebut dalam riwayat Al hakim bahwa, ada salah seorang perempuan bertanya kepada Nabi SAW, katanya: ”Sesungguhnya putra pamanku bermaksud melamar aku, karena itu jelaskan kepa-daku apa saja hak-hak suami atas istrinya. Jika hak-hak itu sanggup aku jalani niscaya aku siap menikah. Rasulullah SAW menjawab: ”Diantara hak-hak suami adalah seandainya dari hidungnya mengalir darah atau nanah, maka istrinya men-jilatinya maka yang demikian itu belum cukup menunaikan hak-haknya. Seandainya diperbolehkan seseorang bersujud kepada orang lain, tentu aku perintahkan seorang istri supaya bersujud kepada suaminya”.
Wanita itu berkata: “Demi dzat yang mengutusmu dengan hak, selama di dunia aku tak akan menikah”.
Tersebut dalam riwayat diberitakan oleh Aisyah Ra bahwa, ada seorang perempuan datang menghadap Nabi SAW seraya ber-kata:”Hai Rasulullah, aku ini seorang wanita yang masih muda. Baru-baru ini aku sedang di-lamar seseorang tapi aku belum suka menikah, sebenarnya apa sajakah hak-hak suami atas istrinya itu? ”Rasulullah SAW menjawab:”Sekiranya mulai dari muka hingga sampai kakinya dipenuhi oleh penyakit bernanah, lalu istrinya menjilati seluruhnya, maka yang demikian itu belum terbilang memenuhi rasa syukur terhadap suami”. Perempuan muda itu berkata:”Kalau begitu pantas-kah aku menikah?”. Rasulullah SAW berkata: ”Sebaiknya menikahlah karena menikah itu baik”.
Tersebut dalam riwayat At thabrani: ”Sesungguhnya seorang istri terhitung belum memenuhi hak-hak Allah ta’ala sehingga dia memenuhi hak-hak suaminya keseluruhan. Seandainya suaminya me-minta dirinya sementara ia masih berada diatas punggung onta, maka ia tidak boleh menolak suaminya atas dirinya”. (yang di maksud me-minta dirinya adalah meminta untuk melayani seksual suaminya). (Al hadith)
Ibnu Abbas Ra mengatakan, ada seorang perempuan dari Kats’am menghadap Rasulullah SAW, katanya: ”Aku ini seorang perempuan yang masih sendirian, aku bermaksud menikah. Sesung-guhnya apa sajakah hak-hak suami itu? Beliau menjawab: ”Apabila suami menghendaki istrinya seraya terus menggoda, sementara waktu itu istrinya masih diatas punggung unta, maka ia tidak boleh meno-laknya. Diantara hak suami adalah hendaknya istri jangan memberikan sesuatu apapun dari rumahnya kecuali mendapat izin dari suaminya. Kalau ia tetap melakukan perbuatan itu, maka ia berdosa dan pahalanya diberikan kepada suaminya. Diantara hak suami yang lain adalah hendaknya istri jangan berpuasa sunnah kecuali mendapat izin dari suaminya, kalau ia tetap berpuasa maka hanya mendapat rasa lapar dan dahaga, puasanya tidak diterima. Kalau istrinya memaksa keluar rumah tanpa memperoleh izin dari suaminya maka ia di-laknati para malaikat, hingga kembali dan bertaubat”. (Al hadith)
Ali Ra mengatakan, aku berkunjung kepada Nabi SAW bersama Fatimah Ra. Sampai dirumah beliau, kujumpai sedang menangis terisak isak, Aku bertanya: ”Bapak dan Ibuku menjadi tebusan atas kesedihanmu, wahai Rasulullah, apa sebenarnya yang menyebabkan engkau menangis seperti itu?”. Rasulullah menjawab: ”Hai Ali pada malam ketika aku di isra’kan kelangit, kulihat berbagai macam kaum wanita dari umatku di siksa dineraka dengan berbagai macam siksaan, Melihat hal itu aku menangis lantaran beratnnya siksaan yang di timpakan kepada mereka. Aku melihat ada wanita yang digantung dengan rambutnya dimana otaknya mendidih. Aku melihat lagi wanita yang digantung dengan lidahnya, sementara yang mendidih dituangkan ke tenggorokannya. Aku juga melihat wanita yang kedua kakinya dipasung hingga susu dan kedua tangannya terbelenggu pada ubun-ubunnya. Sementara Allah memerintah ular dan kalajenging untuk menyiksanya. Aku juga melihat wanita yang digantung dengan kedua susunya. Aku melihat pula wanita berkepala babi dan ber-badan keledai, ia mengalami beribu-ribu siksaan. Aku melihat wanita yang berbentuk (berupa) anjing, sementara api neraka membakar dirinya masuk melalui lubang mulutnya dan keluar melalui duburnya, sementara para malaikat memukulimya dengan godam yang panas.
Mendengar semua itu Fatimah Az Zahra bangkit seraya berkata: ”Wahai Kekasihku dan permata hatiku, sesungguhnya perbuatan apakah yang pernah dilakukan mereka, hingga mengalami siksaan seperti itu?”.
Rasulullah menjawab: ”Wahai putriku perempuan yang digan-tung menggunakan rambutnya sendiri adalah disebabkan ia tidak menutup rambutnya dari pandangan lelaki lain. Perempuan yang di gantung menggunakan lidahnya disebabkan ia suka menyakiti hati suaminya. Perempuan yang digantung menggunakan kedua susunya disebabkan ia mengotori tempat tidur suaminya (dia bersetubuh dengan lelaki lain). Perempuan yang dipasung kedua kakinya pada kedua susu dan kedua tangannya dirantai keubun-ubunnya, sementara Allah memerintah ular dan kala-jengking untuk menyiksanya, dise-babkan dia tidak mandi jinabat, tidak mandi setelah haid dan mere-mehkan sholat. Perempuan yang berkepala babi dan berbadan keledai sesungguhnya perempuan itu suka mengadu-adu lagi pendusta. Ada-pun perempuan yang berbentuk anjing sementara api membakar diri-nya masuk melalui mulut dan keluar melalui duburnya, sesung-guhnya disebabkan dia perempuan yang suka mengungkit ungkit (pemberian kepada suaminya) lagi berhati dengki. Wahai putriku, celaka sekali istri yang bermaksiat (durhaka) kepada suaminya”. (Al hadith)
Singkatnya bahwa kedudukan suami bagi istrinya, jika dimisal-kan seperti kedudukan orang tua atas anak-anaknya, Sebab ketaatan anak terhadap orang tuanya dan usaha anak mencari keridhaan orang tuanya termasuk wajib. Sebaliknya kewajiban itu tidak berlaku bagi suami.

BAB 16
( 6 )
PERKARA PENTING

Tersebut dalam riwayat dari Abu Hurairah Ra, katanya, suatu hari Rasulullah SAW menjenguk putrinya, Fathimah-. Sampai di ru-mahnya, Rasulullah melihat putrinya sedang menggiling tepung sambil menangis.
Rasulullah bertanya:”Kenapa menangis, Fathimah?. Mudah mudahan Al-lah tidak membuat matamu menangis lagi”.
Fathimah menjawab: ”Bapak, aku menangis hanya karena batu peng-giling ini, dan lagi aku hanya menangisi kesibukanku dirumah yang datang silih berganti”.
Rasulullah kemudian mengambil tempat duduk disisinya. Fathimah ber-kata:”Bapak demi kemulyaanmu, mintakanlah kepada Alli supaya membe-likan seorang budak untuk membantu pekerjaan-pekerjaanku membuat tepung dan menyelesaikan pekerjaan rumah”.
Manakala Rasulullah SAW selesai mendengar perkataan putrinya, beliau bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tempat penggilingan. beliau memungut segenggam biji-bijian gandum dima-sukkan kepenggilingan. Dan membaca “Bismillahir rahmanir rahiime” Maka berputarlah alat penggilingan itu karena izin Allah. Beliau terus memasukkan biji-bijian itu sementara alat penggiling terus berputar dengan sendirinya, seraya memuji Allah dengan bahasa yang tidak di pahami manusia. Hal itu terus berajalan hingga biji-bijian itu habis.
Rasululah SAW bersabda kepada alat penggilingan itu: ”Berhentilah dengan izin Allah”. Seketika alat itu berhenti. Ia berkata seraya mengutip ayat Al Qur’an: ”HAi orang orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargam dari api neraka, Yang bahan bakar-nya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap yang diperintahkanNYA, dan mereka selalu mengerjakan segala apa yang diperintah”. (Qs At Tahrim 6)
Merasa takut jika menjadi batu kelak akan masuk neraka, demikian tiba tiba batu itu berbicara dengan izin Allah. Ia berbicara menggunakan bahasa Arab yang fasih. Selanjutnya batu itu Ber-kata:”Wahai Rasulullah, demi dzat yang mengutusmu dengan hak menjadi Nabi dan rasul, seandainya engkau perintahkan aku untuk menggiling biji-bijian yang ada diseluruh jagat Timur dan Barat, nis-cayaakan kugiling seluruhnya’. Dan aku mendengar pulabahwa Nabi SAW bersabda:”Hai batu, bergembiralah kamu sesungguhnya kamu termasuk batu yang kelak di gunakan untuk membangun gedung Fathimah disorga”. Seketika itu batu penggiling itu sangat bahagia dan berhenti.
Nabi SAW bersabda kepada putrinya, Fathimah :”Kalau Allah ber-kehendak, hai Fathimah, niscaya batu penggiling itu akan bergerak dengan sendirinya untukmu. Tetapi Allah berkehendak mencatat ke-baikan-kebaikan untuk dirimu dan menghapus keburukan-keburuk-anmu serta mengangkat derajatmu.
Hai Fathimah mana saja seoarang istri yang membuatkan tepung untuk suaminya dan anak anaknya, kecuali Allah mencatat baginya memperoleh kebaikkan dari setiap butir biji yang tergiling, Dan meng-hapus keburukkannya serta meninggikan derajatnya.
Hai Fathimah mana saja istri yang berkeringat disisi alat penggiling-annya karena membuatkan bahan makanan untuk suaminya, kecuali Allah akan memisahkan atas dirinya dan neraka sejauh tujuh hasta.
Hai Fathimah mana saja seorang istri yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci baju mereka, kecuali Allah akan mencatat baginya memperoleh pahala seperti pa-halanya orang yang memberikan makan kepada seribu orang yang se-dang kelaparandan seperti pahalanya orang yang memberikan pakaian kepada seribu orang yang sedang telanjang.
Hai Fathimah mana saja istri yang memenuhi kebutuhan tetang-ganya, kecuali Allah kelak mencegahnya (tidak memberi kesempatan ba-ginya) Untuk minum air dari telaga Kautsar besok di hari kiamat. Hai Fathimah tetapi yang lebih utama dari pada itu semua adalah keridhoan suami terhadap istrinya. Sekiranya suamimu tidak meridhoi-mu, tentu aku tidak akan mendoakan dirimu”.
“Bukankah engkau mengerti, hai Fathimah, bahwa keridhoan suami itu menjadikan sebagian dari keridhoan Allah, dan kebencian suami merupa-kan bagian dari kebencian Allah.
Hai Fathimah, manakala seorang istri sedang mengandung, maka para malaikat memohonkan ampunan untuknya, dan setiap hari dirinya dicatat memperoleh seribu kebajikan dn seribu keburukannya di hapus. Apabila telah mencapai rasa sakit (menjelang melahirkan) maka Allah mencatat baginya memperoleh pahala seperti pahalanya orang orang yang berjihad di jalan Allah. Apabila telah melahirkan dirinya terbebas dari segala dosa seperti keadaannya di hari setelah dilahirkannya oleh ibunya”.
“Hai Fathimah, mana saja istri yang melayani suaminya dengan niat yang benar, kecuali dirinya terbebas dari dosa-dosanya bagaikan pada hari dirinya dilahirkan ibunya. Ia keluar dari dunia (yakni mati) kecuali tanpa membawa dosa, ia menjumpai kuburnya sebagai per-tamanan sorga, Allah memberinya pahala seperti pahala seribu orang yang naik haji dan berumrah, dengan seribu malaikat memo-honkan ampun padanya sampai hari kiamat”.
“Mana saja seorang istri yang melayani suaminya sepanjang hari dan malam, di sertai hati baik, niat yang ikhlas dan niat yang benar, kecuali Allah akan mengampuni semua dosa-dosanya. Pada hari kiamat kelak di-rinya akan di beri pakaian berwarna hijau, dan dicatatkan untuknya pada setiap rambut yang ada di tubuhya dengan seribu kebajikan, dan Allah memberi pahala untuknya sebanyak orang yang pergi haji dan umrah”.
“Wahai Fathimah mana saja seorang istri yang tersenyum manis di muka suaminya, kecuali Allah akan memperhatikannya dengan penuh mendapat rahmat.
Hai Fathimah, mana saja seorang istri yang menyediakan tidur bersama suaminya dengan sepenuh hati, kecuali ada seruan yang di tujukan kepadanya dari balik langit: Hai perempuan menghadaplah dengan membawa amalmu, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang datang”.
“Wahai Fathimah, mana saja seorang istri yang meminyaki ram-but suaminya demikian juga jenggotnya memangkas kumisnya dan memotong kuku-kukunya, Kecuali Allah kelak memberi minum pada-nya dari “Rahiqim makhtum” (tuak yang tersegel) dan dari sungai yang terdapat di sorga. bahkan Allah akan meringankan beban saka-ratul-maut, kelak dirinya akan menjumpai kuburnya bagai taman sorga. Allah mencatatnya terbebas dari neraka dan mudah melewati shirath (titian)”.
Pengertian, yang dimaksud “Rahiq” adalah “Al-khamru asysya-fiyatu aththayyibatu”, yakni arak yang jernih lagi sangat bagus. Se-dangkan makna “Makhtum”adalah. ”Al-mamnu’min an tamassahu yadun ilaa an yafukkal abraaru khatmahu”, yakni tercegah dari pen-jamahan tangan hingga orang-orang yang baik melepas segalanya. Jelas bahwa barang yang disegel jauh lebih baik ketimbang barang yang mengalir.
Diriwayatkan dari ibnu mas’ud ari Nabi SAW bahwa beliau ber-sabda:”Idzaa ghasalatil mar’atu tsiyaaba zaujihaa kataballahu laialaa alfa hasanatin waghafara lahaa alfa sayyi-atin warafa’a lahaa alfaa darajatin wastaghfara lahaa kullu syai-in thala’at ‘alaihisy syamsyu. (Al Hadith)
“ketika seorang istri mencucikan pakaian suaminya, maka Allah men-catat untuknya memperoleh seribu kebajikan dan mengampuni seribu kebu-rukannya. meninggikan seribu kali derajat untuknya dan semua barang yang berada di bawah siraman mentari memohonkan ampun untuknya”.
Aisyah RA mengatakan: Suara penenunan yang dilakukan oleh se-orang istri, itu menyamai gemuruh suara takbir dalam perang fi sabilillah. mana saja seorang istri yang memberi pakaian suaminya dari hasil tenun-annya, kecuali pada benang tenunan itu tercatat seribu kali kebajikan.
Nabi SAW bersabda: ”Manistaraa li’iyaalihi syai-antsumma hamalahu biyadihi ilaihim thallaahu ‘anhu dzunuuba sab’iina sanatan”.
“Barang siapa yang membuat gembira hati seorang istri maka ia ba-gaikan tengah menangis karena takut kepada Allah maka Allah meng-haramkan tubuhnya dari api neraka”.
Rasulullah bersabda:”Barang siapa yang membuat gembira hatinya seorang wanita, seakan akan menangis karena takut kepada Allah. Dan barang siapa menangis karena takut pada Allah maka Allah mengharamkan tubuhnya masuk kedalam api neraka”. (al hadith)
Rasulullah SAW bersabda:’Suatu rumah yang mana didalamnya terda-pat anak-anak perempuan, maka setiap hari Allah menurunkan dua belas rahmat dan tidak henti-hentinya di kunjungi malaikat. Dan bagi kedua orang tuanya setiap hari dan malam dicatat seperti ibadah selama tujuh puluh tahun”.

BAB 17
PASAL 3
( 7 )
KEUTAMAAN SHALATNYA WANITA
DIRUMAHNYA SENDIRI

Dalam bagian ini akan membicarakan tentangg keutamaan sha-latnya orang perempuan (istri) di rumahnya sendiri dan shalatnya itu lebih utama di banding shalat orang perempuan di masjid, sekalipun berjamaah dengan rasulullah.
Humaid As Sa’idi meriwayatkan tentang seorang perempuan yang datang kepada Rasulullah, perempuan itu bertanya:”Hai rasu-lullah, sesungguhnya aku sangat senang jika shalat berjamaah dengan-mu”. Nabi menjawab:”Aku tau kamu senang shalat berjamaah de-nganku. Tetapi shalatmu di rumahmu sendiri lebih utama dari pada shalatmu di kamarmu dan shalatmu di kamarmu lebih utama di banding shalatmu diserambi rumahmu dan shalatmu di serambi ru-mahmu lebih utama di banding shalatmu di masjidku ini”. Yang de-mikian itu tidak lain untuk menjaga agar ketertutupan dirinya sebagai hak yang perlu dijaga.
Rasulullah bersabda : ”Sesungguhnya shalatnya orang perem-puan di rumahnya lebih baik dari pada shalat di kamarnya, dan se-sungguhnyalah shalatnya seorang perempuan di kamarnya lebih baik dari pada shalatnya di serambi rumahnya, dan shalatnya seorang perempuan di serambi rumahnya itu lebih baik dari pada shalatnya di masjid”. (al hadith riwayat Al baihaqi dari Aisyah Ra)
Rasulullah SAW bersabda :”shalat seorang perempuan di rumah-nya lebih utama dari pada shalatnya di kamarnya dan shalatnya di dalam ruangan yang berada di tengah tengah rumahnya lebih baik dari pada shalatnya di serambi rumahnya”. Diriwayatkan oleh abi daud dari ibnu mas’ud dan riwayat Al hakim dari Ummu salamah.
Rasulullah SAW bersabda:”Shalaatul mar-ati wahdahaa tafdhulu ‘alaashalaatihaa fil jam’I bikhamsin wa’isyriina darajatan”.
Shalatnya seorang wanita sendirian menyamai shalatnya dalam berja-maah dengan memperoleh dua puluh lima derajat “. (di riwayatkan oleh Ad Dailami dari ibnu ‘umar) Menurut suatu pendapat, shalat seorang wanita yang demikian itu berlaku bagi perempuan yang masih lajang, yakni belum kawin.
Rasulullah SAW bersabda :”Inna ahabba shalaatil mar-ati ilallaahi filasyaddi makaanin fii baitihaa”
“Sesungguhnya shalat seorang wanita yang paling di sukai Allah adalah yang di laksanakan di dalam rumahnya yang gelap”.
Rasulullah SAW berssabda :”sesungguhnya seorang istri yang keluar rumah, padahal tidak ada kebutuhan yang teramat mendesak, maka syetan terus memperhatikan dan mengikutinya. Syetan ber-kata:”Jangan kau sia-siakan setiap melewati seseorang kecuali ia ka-gum padamu”. lalu wanita itu mengenakan busananya. Ketika di tanya suaminya :”Hendak kemana kamu.?”. ia menjawab:”Aku hendak membesuk orang sakit, atau aku hendak mendatangi upacara pembe-rangkatan jenazah atau aku hendak shalat di masjid”. Padahal tidak ada ibadah seorang perempuan yang lebih sempurna kepada Tuhan-nya kecuali yang dikerjakan di rumahnya sendiri”.
Diriwayatkan dari Abu Syaibani bahwa, ia melihat Abdullah bin Asy Syayab menghalau perempuan-perempuan dari masjid di hari jum’at Ia berkata:”Keluarlah kalian kerumah masing masing. Hal itu Jauh lebih baik bagi kamu”. Di riwayatkan oleh sulaiman Al ‘Lakhami dari Ath Thabrani
Di riwayatkan ada seorang perempuan yang berlalu dekat de-ngan abu Hurairah Ra. Ia berbau sangat harum semerbak. Abu hurairah bertanya:”Hai perempuan hendak kemana kamu.?”. Ia menjawab:”Hendak ke masjid”. Abu hurairah melanjutkan:”Kau me-ngenakan wewangian. ?”. Ia menjawab :”Yaa”. Abu hurairah ber-kata:”Kembalilah, mandi dulu. Sebab aku pernah mendengar bahwa rasulullah SAW bersabda:”Allah tidak akan menerima shalat seorang perempuan yang keluar menuju masjid dengan membawa aroma yang semerbak harum sehingga ia pulang kembali lantas mandi”. (Al hadith)
Yang di maksud mandi dalam hadith itu adalah menghilangkan bau harum yang di timbulkan dari bau minyak wangi tersebut. jadi maksudnya tidak di hususkan pada mandinya melainkan upaya meng-hilangkan bau wangi tersebut.
Rasulullah SAW besabda :”Al mukhtali’atu wal mutabarrijaatu hunnal munaafiqaatu”.
“Perempuan perempuan yang minta cerai suaminya tanpa ‘udzur dan perempuan-perempuan yang memperlihatkan perhiasan (dandananya) kepada orang bannyak mereka termasuk munafik”. (Diriwayatkan oleh Abu na’im dan Ibnu mas’ud)

BAB 18
( 8 )
LARANGAN BERHIAS DAN BERBUSANA
BERLEBIHAN

Di riwayatkan dari Aisyah RA, katanya ketika Rasulullah SAW se-ang duduk beristirahat di masjid, tiba tiba ada seorang perempuan golongan muzainah terlihat memamerkan dandanannya di masjid sambil menyeret-yeret busana panjangnya Rasulullah SAW bersab-da:”Hai sekalian manusia, laranglah istri istrimu (termasuk anak anak remaja perempuan yang mereka miliki) mengenakan dandanan seraya berjalan angkuh di dalam masjid. Sesungguhnya Bani Israil tidak akan dilaknati sehingga kaum perempuan mereka dandanan menyolok (berlebihan)dan berjalan di dalam masjid. (Di riwayatkan Ibnu majah)
Rasulullah SAW bersabda : ”mana saja seorang perempuan yang mengenakan wewangian, kemudian keluar rumah lalu melewati orang banyak dengan maksud agar mereka mencium bau harumnya, maka perempuan itu termasuk golongan perempuan yang berzian dan setiap mata yang memandang itu melakukan zina (diriwayatkan Ahmad Annasai dan Al Hakim dari Ibnu abu Musa Al Asy’ari)
Rasulullah SAW bersabda :”Aku melihat di sorga, ternyata se-bagian besar isinya (yakni penghuninya ) adalah golongan orang fakir. Dan aku melihat neraka ternyata sebagian besar penghuninya kulihat dari golongan orang perempuan”. (Diriwayatkan oleh Ahmad, Mu-slim, Turmudzi, dari Anas dan diriwayat oleh bukhori dan Turmudzi dari Imran bin Hashin)
Yang demikian itu di sebabkan karena, mereka sedikit sekali me-naati Allah, mentaati Rasul-NYA dan mentaati suaminya. Sebaliknya mereka lebih suka memamerkan dandannannya (tabaruj).
Dalam pengertiannya yang di sebut “tabaruj” adalah seorang pe-rempuan apabila bermaksud keluar rumah mengenakan pakaian yang lebih bagus dan berdandan mencolok yang tidak biasanya seperti itu. Ia keluar itu dapat mengganggu kaum lelaki, Kalaupun ia bisa me-nyelamatkan diri, tetapi kaum lelaki tidak akan selamat dari sikapnya. Karena itu Nabi Muhammad SAW menngingatkan bahwa, orang perempuan itu segala aurat.
Rasulullah SAW bersabda :”Orang perempuan itu segala aurat. Apabila keluar rumah maka syetan memperhatikannya terus untuk me-nyesatkannya. Dan yang lebih mendekatkan seorang perempuan kepada Allah adalah jika berada di rumahnya”.
Dalam Riwayat lain di jelaskan:”Orang perempuan itu segala aurat, maka pingitlah mereka, Karena manakala seorang perempuan keluar jalan, dan keluarganya berkata:”hendak kemana kamu.. ?”. Ia menjawab: ”aku hendak membesuk orang sakit, atau aku hendak mengiringi jenazah, maka tidak henti hentinya syetan menggodanya hingga ia mengeluarkan lengannya (yakni ia mengeluarkan sebagian tubuhya). Tidak ada perempuan yang berusaha memperoleh keridhoan Allah seperti kalau dirinya tinggal di rumah, menyembah Tuhannya dan meaati suaminya’.
Hatim Al Asham mengatakan, Wanita sholehah itu menjadi tiangnya agama dan sebagai pemakmur (yang meramaikan) rumah serta membantu suami melaksanakan ketaatan pada Allah. Sebaliknya perempuan yang suka melanggar hukum, dapat menghancurkan hati suaminya dengan tertawa.
Abdullah bin ‘umar Ra mengatakan:”Tanda tanda perempuan yang shalihah adalah, jika mempunyai kecintaan takut pada Allah dan bersikap qona’ah (menerima apa adanya) terhadap apa yang diberikan Allah. Ia di hiasi sifat pemurah terhadap perkara yang di miliki, iba-dahnya baik, berbakti pada suami dan gemar mempersiapkan diri beramal shalih untuk persiapan mati.

BAB 19
( 9 )
DOSA BESAR BAGI ISTERI

Termasuk dosa besar bagi seorang isteri adalah bila mana keluar rumah tanpa seizin suaminya. Kendati tujuannya untuk takziyah kepada orang tuanya yang mati. Tersebut dalam ihya ‘ulumuddin Imam Al Gho-zali di katakan bahwa ada seorang lelaki (suami)hendak bepergian. Sebelum berangkat ia meminta istrinya agar tidak turun dari tempatnya yang berada di bagian bangunan tingkat atas. Semen-tara orang tuanya berada di tingkat bawah. Orang tuanya sakit. Perempuan itu mengutus seorang pembantunya menghadap Rasulullah SAW untuk minta izin turun sebentar untuk membesuk orang tuanya.
Rasulullah SAW bersabda :”Taatilah suamimu. Jangan kau turun. . ”Tidak begitu lama, orang tuanya mati. IA mengirim utusan meng-hadap Rasulullah SAW untuk memohonkan izin, agar dirinya dapat menyaksikan jenazah orang tuanya.
Rasulullah SAW bersabda :”Taatilah suamimu”. Maka orang tua-nyapun di kuburkan. tidak begitu lama Rasulullah SAW mengutus seseorang untuk memberi tahu pada perempuan itu bahwa Allah telah mengampuni dosa dosa orang tuanya disebabkan ketaatan perempuan itu pada suaminya.
FAIDAH Ada seorang Ibu memberi nasehat pada putrinya, Ia berkata peliharalah sepuluh tingkah ini, niscaya kamu akan menjadi simpanan, Yaitu:
Pertama dan kedua: Mudah menerima keadaan(qona’ah), berbakti dan mentaati suami.
Ketiga dan keempat, hendaknya kamu menjadikan dirimu seba-gai perempuan yang selalu didambakan dan dirindukan lantaran ta-tapan mata dan ciumannya. Artinya hendaknya kamu jangan sampai dilihat suamimu sebagai perempuan yang dibenci (atau perempuan yang buruk). Hendaknya suamimu tidak pernah berkasih mesra de-ngan dirimu kecuali dalam keadaan selalu harum melekat dalam dirimu.
Kelima dan keenamnya hendaknya kamu selalu menjadi perha-tian sewaktu suamimu makan dan tidur. Sebab rasa lapar itu mudah menimbulkan pemberontakan nafsu dan sulit tidur, bahkan mem-permudah tumbuhnya kemarahan.
Ketujuh dan kedelapannya hendaknya kamu pandai pandai me-melihara harta dan rahasia keluarga suami yang dapat memper-malukan dirinya.
Kesembilan dan kesepuluhnya : Hendaknya kamu jangan menen-tang perintahnya, dan jangan suka menyebarkan rahasia suami. Karena kalau kamu menentang perintahnya akan sangat mudah menimbulkan/-meledakkan kemarahannya. Kalau kamu menyebar luaskan rahasianya berarti kamu tidak dapat dipercaya jika dia sedang tidak ada dirumah.
Ingatlah baik baik ingatlah. Sekali sekali kamu jangan menun-jukkan kegembiraan di hadapannya, selagi suamimu sedang bersedih. Sebaliknya jangan berwajah cemberut selagi suamimu berwajah ber-binar binar lagi gembira.
Rasulullah SAW bersabda : ”Sesungguhnya seorang istri yang keluar rumah sedangkan suaminya tidak menyukainya maka seluruh malaikat melaknatinya, demikian pula semua barang yang di lewatinya, selain jin dan manusia. Sehingga dirinya kembali dan bertaubat.

( 10 )
PAHALA BAGI PEREMPUAN YANG HAMIL
Tersebut dalam riwayat bahwa NAbi Muhammad SAW bersabda : ”Apakah salah seorang di antara kamu senang, hai kaum isteri, kalau kamu sedang mengandung dari hasil hubungan dengan suaminya, sementara suaminya merasa senang. Sesungguhnya perempuaan yang sedang hamil memperoleh pahala seperti pahalanya orang yang sedang berpuasa sambil perang di jalan Allah. Apabila mencapai puncak sakit mendekati melahirkan semua penduduk langit tidak ada yang tahu perkara apa yang disamarkan baginya, berupa ketenangan bathinnya. Apabila telah melahirkan, maka tidak ada tetesan air susu yang keluar dari susu ibunya dan tidaklah si bayi menghisap air susu ibunya ke-cuali pada setiap tetesan dan isapan di catat sebagai satu kebaikkan. Jika di waktu malamnya ia terjaga maka ia memperoleh pahala, bagaikan pahala memerdekakan tujuh puluh budak yag dimerdekakan di jalan Allah secara ikhlas, (diriwayatkan Hasa bin sufyan dan Tabrani, ibnu Asakir dari salamah)
Rasulullah bersabda : ”Innarrajuula idzaa nadzara ilaam ra-atihii wanadzarat ilaihi nadzarallaahu ilaihimaa nadzara rahmatin faidzaa akhadza bikaffihaa tasaa qathat dzunuubuhumaa min khilaalin ashaabi ’ihimaa”
“Sesungguhnya seorang suami apabila memperhatikan isterinya dan isterinya balas memerhatikan suaminya, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan perhatian penuh rahmat. Manakala suaminya merengkuh telapak tangannya (diremas remas) maka berguguranlah dosa dosa suami istri itu dari sela-sela jari jemarinya. (diriwayatkan maisarah bin Ali dari Ar rafi’i dari sa’id Al Khudzi Ra)
Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW bahwa : ”Innarrajula layujamu’u ahlahu fayuktabu lahu bijima’ihi ajru waladi dzakarin qaatala fii sabilillaahi faqutilu”.
“Sesungguhnya seorang suami yang menggauli istrinya, maka per-gaulannya itu dicatat memperoleh pahala seperti pahalanya anak lelaki yang berperang di jalan Allah lalu terbunuh (Al hadith)
Ketahuilah bahwa, ada beberapa faktor yang dapat membentuk seseorang anak dekat dengan Allah Antara lain:
1. Sejalan dengan yang di cintai Allah, bahwa putera yang dihasilkan itu dimaksud untuk menyambung generasi manusia.
2. Mencari kecintaan dari Rasulullah SAW, maksudnya untuk mem-perbanyak (memperbesar) jumlah umatnya Nabi Muhammad SAW yang mana besar jumlah umat itu menyebabkan kebanggaan beliau.
3. Mengharap kelak memperoleh do’a anak yang sholeh setelah kema-tiannya.
4. Mencari syafa’at dengan kematian anak yang masih berusia anak anak, sebelum kematian dirinya sendiri (orang tua).
BAB 20
PASAL 4
( 11 )
HARAM KAUM LELAKI MEMANDANG
WANITA YANG BUKAN MUHRIMNYA

Dalam fasal ini dijelaskan tentang diharamkannya kaum lelaki me-mandang kaum wanita yang bukan muhrimnya. Begitu pula sebaliknya, yakni keharaman kaum wanita memperhatikan kaum lelakiyang bukan muhrimnya.
Tersebut dalam firman Allah dalam surat Al ahzab, : “Wa idzaa sa-altumuu hunna mataa’an fas aluu hunna miwwaraa I hijaabin dzaalikum ath haru liquluubikum waquluu bihinna”
“Apa bila kamu meminta sesuatu kepada mereka maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan bagi hati mereka”.
Dalam surat An Nuur ayat 30 di jelaskan: “Qul lilmu miniina yaghudhshuu min abshaarihim wayahfadzuu furuujahum dzaalikaadzkaa lahum innallaaha khairumbimaa yashna’uuna”
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman :”Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka”; Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.
Rasulullah SAW bersabda: ”Pandangan mata itu merupakan panah beracun dari panah Iblis. Barang siapa meninggalkannya karena takut Allah SWT, maka Allah memberinya keimanan yang mana ia akan mem-peroleh kemanisannya didalam hati”.
Nabi Isa as bersabda:”Iyyaakum wannadzara fa innahaa tuzri ‘u filqplbi syahwatan wakafaa bihaa fitnatan”
“Takutlah kamu. peliharalah dirimu dari memperhatikan. Karena sesung-guhnya memperhatikan itu menumbuhkan syahwat di dalam hati. Dan cukuplah syahwat itu menjadi fitnah”.
Sa’ad bin jubair mengatakan hanyalah fitnah yang menimpa Nabi Daud As adalah disebabkan pandangan beliau. Nabi Daud bersabda kepada putera beliau Nabi Sulaiman As, lebih baik berjalanlah di belakang macan dan Harimau, janganlah berjalan di belakang perempuan.
Mujahid mengatakan, apabila seorang perempuan mengahadap ke muka maka Iblis duduk di bagian kepalanya. Lalu Iblismemperindah diri perem-puan itu yang di peruntukkan bagi orang yang memperhatikannya. Kalau seorang perempuen berbalik menghadap kebelakang maka Iblis duduk di pantatnya. Lalu Iblis memperindah perempuan itu yang diperuntukkan bagi orang yang memperhatikannya.
Seorang bertanya kepada Nabi Isa As, Apa permulaan yang menye-babkan orang berzina?. Beliau bersabda :Yaitu akibat memperhatikan pe-rempuan dan memperhatikan dirinya.
Al Fudhail mengatakan, Iblis berkata bahwa pandangan yang di lepaskan pada suatu perkara yang tidak halal itu adalah merupakan panahku yang sudah tua dan busurku yang tak pernah luput jika aku pergunakan.
Tersebut dalam sya’ir:
Segala sesuatu yang baru terjadi
Permulaannya dari pandangan
Nyala api yang besar
Permulaannya dari pelatuk yang kecil
Orang yang mempermainkan mata
Sangat di khawatirkan akibatnya
Berapa banyak pandangan
Yang masuk dan bekerja dalam hati
Bagaikan anak panah yang dilepas busur dan tali
Orang yang memperhatikan
Perkara yang membahayakan
Akan menyenangakan orang yang mempunyai kekhawatiran
Tetapi kalau akhirnya mencelakakan
Itu tidak membahayakan
Ummu salamah Ra mengatakan bahwa Ibnu Ummi maktum memin-ta izin kepada Rasulullah SAW. Saat itu aku dam maimunah Ra duduk bersama, maka Rasulullah bersabda: ”Bertakbirlah kalian “. Kami menim-pali: ”Bukankah dia orang buta yang tidak dapat memandang kami?”. Ra-sulullah bersabda:”Apa kalian tidak dapat melihatnya juga ?”.
Rasulullah SAW mengingatkan : ”La’anallaahunnaadzira walman-dzuura ilaihi” “Allah melaknat orang yang dipandang dan orang yang dipandangi (membalas pandangan).
Bagi perempuan yang beriman pada Allah, tidak dibenarkan mem-perlihatkan diri pada setiap orang asing, karena yang tidak terikat oleh pernikahan atau muhrim karena nasab atau sesusuan. Demikian pula orang lelaki tidak dibenarkan memperhatikan kaum wanita, sebaliknya kaum wanita balas memperhatikan pandangannya.
Sebagaimana kaum lelaki menundukkan pandangannya kepada ka-um wanita, maka menjadi kewajiban pula kaum wanita menundukkan pandangan mata terhadap kaum lelaki. Pendapat itu sebagaimana di te-kankan oleh Ibnu Hajar dalam kitab AZ ZAWAJIR.
Tidak pula diperbolehkan lelaki bermusafahah(bersalaman) dengan perempuan yang bukan muhrim. Larangan ini berlaku juga pada perbuatan saling memberikan. Sebab itu perkara yang di haramkan memandangnya diharamkan pula memegangnya. Mengingat dengan cara memegangnya itu ia dapat merasakan kelezatan. Hal ini didasarkan pada dalil bahwa, kalau orang berpuasa lalu berpegangan dengan lawan jenisnya yang me-nyebabkan inzal (keluar mani), maka puasanya batal. Tetapi kalau keluar-nya mani disebabkan oleh pandangan, puasanya tidak batal. Demikian menurut penjelasan kitab An Nihayah.
Diriwayatkan oleh Thabrani di dalam kitab Al Kabir dari mu’qal bin Yasar bahwa, salah seorang di antaramu yang di lukai kepalanya oleh jarum, itu lebih baik dari pada memegang perempuan yang tidak dihalal-kan untuknya.
Rasulullah SAW memperingatkan : ”Iitaquu fitnataddun-yaa waditna-tannisaa fa inna awwala fitnati bani Isra-Iila kaatat minqiba linnisaa. ”
“Takutlah kalian terhadap fitnah dunia dan fitnah kaum wanita. Sebab permulaan fitnah yang menimpa bani isra-il itu adalah kaum wanita”.
Rasulullah SAW bersabda: ”Wamaa taraktu ba’dii fitnatan adharru ‘alarrijaali minannisaa”. (al hadith)
“Dan setelah masaku tidak ada fitnah yang lebih membahayakan terhadap kaum lelaki ketimbang fitnah akibat perempuan”.

BAB 21
( 12 )
LARANGAN BERDUAAN
DI TEMPAT YANG SUNYI

Tersebut dalam riwayat bahwa Rasulullah SAW bersabda : ”Takut-lah kamu dari menyepi (berduaan) dengan perempuan. Demi Dzat yang diriku berada dalam kekuasaanNYA, tidaklah orang lelaki yang menyepi ber sama dengan orang perempuan (yakni berpacaran), kecuali syethan menyusup di antara mereka berdua. Sungguh seorang yang berdesak desakkan dengan babi yang berlepotan lumpur itu jauh lebih baik dari pada berdesak desakkan (bersenggolan) dengan pundak perempuan yang tidak halal baginya”.
Rasulullah SAW bersabda:”Orang perempuan itu merupakan jerat-jeratnya syethan (yakni perangkapnya), dan kalaulah bukan karena syahwat, tentu kaum wanita tidak akan menguasai (menundukkan) kaum lelaki”. (al hadith)
Ada pepatah mengatakan “Idzaa qaama dzakarur rajuli dzahaba tsuluutsa ‘aqlihi.”Apabila kelamin lelaki bangkit maka hilanglah sepertiga akalnya”.

( 13 )
KEWAJIBAN PEREMPUAN JIKA KELUAR
Kalaulah perempuan bermaksud keluar rumah, ia berkewajiban me-nutup seluruh tubuhnya tampa kecuali termasuk kedua tangannya dari perhatian orang banyak. Tidak hanya itu bahkan hendaknya ia menya-markan diri dari perhatian orang yang mungkin mengenalnya.
Jika seseorang kawan suaminya berkunjung, sementara suaminya tidak ada di rumah, hendaknya dia tidak perlu bertanya panjang lebar. Hal itu di maksud untuk memelihara diri dan suaminya. Demikian yang diungkapkan Imam Ghazali dan beberapa imam lainnya.
Rasulullah SAW bersabda:”Sudah menjadi ketentuan bagi manusia bahwa bagian bagian dari tubuhnya melakukan zina, hal itupasti did lakukan. Kedua mata zinanya memandang, Kedua telinga zinanya men-dengar, lisan zinanya berbicara. Kedua tangan zinanya memaksa, kedua kaki zinanya berjalan, dan hati zinanya menyenangi dan mengharap harap. Semmua itu di benarkan oleh kelamin atau di dustakannya”. (riwayat Muslim dari Abu Hurairah)
Rasulullah SAW bersabda : ”Perkara apakah yang lebih baik bagi kaum wanita?. Fathimah menjawab : ”Hendaknya ia tidak memandang kaum lelaki dan lelaki tidak memandanginya. Kemudian Rasulullah SAW merangkul Fathimah dna beliau bersabda:”Anak turun sebagian manusia dari sebagian yang lain hendaknya saling menolong. Rasulullah SAW, merasa terharu atas pendapat puterinya itu”.


( 14 )
PERILAKU KAUM WANITA
DEWASA INI

Ketahuilah bahwa sebagian besar wanita dewasa ini telah kena pe-nyakit suka memperlilhatkan dandanannya secara berlebihan kepada kaum lelaki. Mereka sedikit sekali mempunyai rasa malu. Kalau berjalan mereka suka membuat buat, dengan melenggak lenggokkan pinggulnya. Kenya-taaan itu sering mereka perlihatkan di muka golongan kaum lelaki, baik sewaktu di pasar atau bahkan ketika berjalan menuju masjid. Terutama di waktu siang atau malam hari di bawah cahaya lampu.
Ada yang mengatakan bahwa, apabila seorang perempuan perila-kunya menyimpan tiga perkara ini maka di namakan Qahbah(semacam biduan) yang sangat buruk. Pertama, kalau perempuan itu keluar rumah diwaktu siang hari dengan mengenakan dandanan yang berlebihan untuk di pamerkan kepada kaum lelaki secara umum. Kedua, perempuan yang mempunyai kebiasaan meperhatikan kaum lelaki lain. Ketiga, perempuan yang gemar memperdengarkan suaranya di telinga orang lain, sekalipun perempuan itu tergolong bisa menjaga kehormatannya. Karena dengan begitu dirinya mempersamakan dengan perempuan yang tidak baik.
Tentang mempersamakan (penyerupaan itu) Rasulullah SAW mem-peringatkan : ”Mantasabbaha biqaumin fahuwa minhu” “Barang siapa yang membuat penyerupaan dengan suatu kaum maka dia termasuk go-longan mereka”.
Orang yang menyerupakan dirinya sebagai golongan orang shalih (mak-sudnya bergaul dengan mereka), niscaya akan ikut di hormati, sebagai-mana orang yang shalih itu menerima penghormatan. Sebaliknya orang yang bergaul dengan orang orang yang fasik, niscaya akan menjadi sasa-ran cercaan. Yang berarti tidak akan dihormati oleh orang lain.
Perempuan hendaknya membersihkan diri dan memperhias pera-ngainya dengan sikap pemalu. Jangan sampai seorang perempuan berpe-rangai yang menyebabkan dirinya memperoleh predikat “Quhbah”.
Maka alangkah baiknya bagi perempuan yang mempunyairasa takut keada Allah dan rasul-NYA, serta bagi orang orang yang mempunyai budi pekerti yang tinggi, supaya mencegah isterinya (atau anak perempuan-nya) keluar rumah dengan dandanan yang mencolok. larangan keluar rumah itu memang tidak mutlak tanpa ada pengecualian dalam suatu waktu. Setidaknya Rasulullah SAW memberi kelonggaran kepada kaum wanita pada hari raya. Di hari raya itu, kaum wanita yang dapat menjaga kehormatannya di beri izin keluar rumah, setelah mendapat keridhoan suaminya. Tetapi berdiam diri tinggal di rumah itu lebih menyelamatkan diri dari godaan.
Hendaknya seorang perempuan jangan kemana-mana. Jangan keluar rumah kecuali ada keperluan yang mendesak. Kalau keluar rumah hen-daknya menundukkan pandangannya dari kaum lelaki. Memang kami ti-dak mengatakan bahwa wajah lelaki menurut haknya adalah aurat, seba-gaimana wajah perempuan menurut haknya. Tetapi wajah anak lelaki itu seperti wajah anak lelaki yang tampan. Orang di haramkan memper-hatikan wajah anak lelaki yang tampan, jika dikhawatirkan timbulnya fitnah. Hanya itu. Kalau tidak mengkhawatirkan terjadinya fitnah tidak di haramkan. Sebab, sejak semula tidak ada perintah kepada kaum lelaki untuk menutup wajah. Sebagaimana perintah yang di tekankan kepada kaum wanita supaya menutup wajahnya. Sekiranya wajah kaum lelaki itu termasuk auratnya dalam pandangan kaum perempuan niscaya mereka di perintah untuk menutup wajahnya, atau bahkan dilarang keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak.
Bagi kaum lelaki yang mempunyai tangggung jawab dalam rumah-tangganya, berkewajiban untuk menjaga orang orang perempuan yang berada di bawah kekuasaanya. Terutama dizaman sekarang. Jangan sam-pai memberi kelonggaran kepada mereka yang memungkinkan mereka melakukan pelanggaran. Hendaknya mereka tidak diberi izin keluar ru-mah, kecuali dimalam hari beserta muhrimnya, atau dengan perempuan lainnya yang dapat di percaya. Pembantu saja belum cukup di percaya, jika tidak disertai perempuan yang lain yang lebih dapat dipercaya. Sebab kelurusan amanat yang di berikan kepada pembantu sangat jarang dilak-sanakan.
Dalam sejarah, dimasa jahilliyah ada seeorang perempuan anak Tai-milah bin tsa’labah bekerja sebagai penjual samin. Suatu ketika Khawat bin Jubair Al Anshari datang untuk membeli minyak samin. lalu mereka terlibat tawar menawar. Perempuan itu membuka tali penutup wadah yang penuh berisi samin.
Khawwat berkata:”Pegangi wadah ini, aku hendak melihat lihat wajah yang lain”. Lalu Khawaat membuka wadah yang lain. Setelah dilihat, Ia berkata :”Pegagi Wadah ini”.
Ketika perempuan itu sedang terlena dengan wadah wadah samin yang di peganginya. tanpa terduga Khawat menubruk dirinya lalu berbuat yang tidak senonoh hingga terlampiaskan keinginannya. Setelah melakukan perbuatan itu Khawwat lari dan masuk Islam. Ia ikut perang badar.
Suatu hari Rasulullah SAW berkata kepadanya :”Hai khawwat, bagaimana ceritanya ketika membeli samin”, Rasulullah SAW tersenyum.
Khawwat menjawab:”Wahai Rasulullah benar benar Allah telah melim-pahkan rezki pada saya, Rizki yang baik. Sekarang aku berlindung kepada Allah dari kekurangan setelah mengalami penambahan”.

BAB 22
HIKAYAT

Ada sebuah keluarga yang sangat terpandang. Suatu hari keluarga itu membeli seorang pembantu (budak) yang berkebangsaan hindi (Hindia). Keluarga itu terus merawatnya dan akhirnya di ambil sebagai anak.
Setelah dewasa, ia jatuh cinta pada tuan puterinya, yang ketika itu telah menjadi ibu angkatnya sendiri. Ia terus menerus menggoda ibu angkatnya, dan ibunyapun melayani. Hingga suatu hari terjadilah hubungan layaknya hubungan suami istri.
Ketika pembantu itu sedang asyik di atas dada ibu angkatnya, Tiba tiba ayah angkatnya datang. Ia marah. Ia segera mengambil pisau, lalu di po-tongnya kelamin anak angkatnya itu. Namun pada akhirnya Ia menyesal. Ia membawanya ketabib untukdi obati.
Setelah sembuh si anak angkat itu tidak di usir. Ia tetap diberi kesempatan tinggal di rumah orang tuanya yang telah menjadi orang tua angkatnya, tetapi secara diam diam ia ( anak angkat ) itu mendendam, Ia menunggu datangnya kesempatan untuk melakukan pembalasan.
Keluarga yang sangat terpandang itu sebenarnya mempunyai dua anak yang sangat tampan. Salah satunya masih berusia anak-anak sedang yang lainnya mendekati remaja. Suatu hari kedua anak itu hilang dibawa pembantunya yang telah di angkat menjadi anaknya. Tanpa diketahui keduanya dibawa naik ke atas loteng. Disana keduanya diajak bermain-main, diperlakukan secara baik hingga tak ada kesan di sandera.
Hingga manakala orang tuanya telah kebingungan mencari, tanpa sengaja ia mendongak keloteng. Disana anak-anak disandera anak hindi tadi. Ia berteriak “Celaka benar Kau. Apakah engkau menghendaki kematian kedua anakku?”
Bekas pembantunya menjawab:”Ya benar, Kedua anakmu mesti akan mati kalau Kau tidak menuruti perintahku”. ”Apa kemauanmu?”, ta-nya orang yang terpandang itu. ”Aku menghendaki supaya kamu memo-tong kelaminmu sendiri”. Demi mendengar permintaan itu, Ia terperanjat bukan kepalang, katanya, ”Takutlah kepada Allah, takutlah kamu. Bu-kankah dirimu telah kupelihara. Hentikan perbuatan jahatmu itu”. Ia terus mengulang -ulang permintaanya. Namun anak hindi itu tidak ambil peduli.
Ketika tuannya akan naik keatas loteng, sianak Hindi itu menyeret kedua anaknya dibawa kepinggir loteng. Lelaki yang malang itu berteriak, ”Celaka benar kamu !Tunggu sebentar. tentu aku akan menuruti tun-tutanmu”. Ia pergi sebentar lalu datang dengan membawa pisau. tanpa di minta lagi kelaminnya di potongnya sendiri di depan mata si anak Hindi. setelah puas menyaksikan dendamnya, si anak Hindi itupun mencam-pakkan kedua anak bekas majikannya itu hingga tewas seketika. Apa katanya. ”Tuntutan memotong kelamin sendiri itu adalah sebagai pemba-lasan atas perbuatanmu tempo hari memotong kelaminku. Dan kematian kedua anakmu itu sebagai tambahan atas kerugianku”.
Memperhatikan kisah tersebut, dapat di ambil pelajaran bahwa, bilamana pembantu telah memasuki usia baligh hendaknya dilarang masuk kamar majikannya. Sebab pada umumnya godaan mulai terjadi setelah memasuki usia itu. Disamping menjaga keturunan itu termasuk perkara terpenting.
( 15 )
KECEMBURUAN

Rasulullah SAW bersabda : ”Innii laghaayuurun wamaa minimri-in laa yaghaaruillaa mankuusul qalbi”
Sesungguhnya aku ini pecemburu. setiap orang yang tidak mempunyai rasa pecemburu, maka tidak lain kecuali orang itu berhati terbalik” (Al hadith)
Rasulullah SAW bersabda:”Sesungguhnya Allah SWT itu pecem-buru, dan orang mukmin itu hendaknya pecemburu. Kecemburuan Allah adalah jika ada orang mukmin yang melakukan prbuatan yang diharamkan oleh Allah. (Diriwayatkan oleh Ahmad, bukhari, muslim dan turmudzi dari abu hurairah)
Imam Ali Ra mengatakan, ”Apakah kalian tidak malu. Apa kalian tidak cemburu membiarkan perempuan-perempuan (istri-istri)mu keluar ketengah tengah kaum lelaki. Ia melihatnya dan mereka memperhatikan dirinya”.
Sebaliknya cemburu yang berlebihan juga tidak baik. Imam Ali Ra mengatakan hal itu, ”Janganlah kamu berlebihan mencemburu. Sebab dengan kecemburuan yang berlebihan itu sama artinya menuduh istrimu berbuat buruk”.
Rasulullah SAW bersabda : ”Sesungguhnya di antara kecemburuan ada yang di cintai Allah dan ada pula kecemburuan yang di benci Allah. Di antara sikap berbangga diri ada yang di sukai Allah dan ada pula sikap berbangga diri yang di murkai Allah. Adapun kecemburuan yang di sukai Allah adalah kecemburuan (Dalam hal keragu-raguan). Kecemburuan yang di benci Allah adalah kecemburuan di luar hal itu. Adapun sikap berbangga diri yang di sukai Allah adalah keberbanggaan seseorang ketika maju kemedan pertempuran di saat terjadinya bencana. Sikap keber-banggaan yang dibenci Allah adalah dalam hal kebatilan”.
Di Era globalisasi dewasa ini, kalau ada perempuan keluar rumah maka hampir di pastikan menjadi sasaran godaan kaum lelaki. Mungkin dengan cara mengedipkan matanya atau disentuh. Ada pula yang sekedar di pegang dan ada pula yang disindir dengan kata kata yang jorok yang tidak mengenakan telinganya.
Yang terakhir itu tentu saja khusus bagi orang baik-baik dan orang sholehah serta selalu menjaga kehormatannya. Ibnu Hajar mengatakan, jika seorang perempuan (istri)bermaksud hendak keluar untuk menjenguk orang tua, misalnya, sebenarnya tidak dilarang. Tetapi terlebih dulu harus memperoleh izin dari suaminya. yang perlu diperhatikan pula, hendaknya ketika keluar jangan memamerkan perhiasan dan dandanannya. Sebaiknya bahkan dirinya dianjurkan agar berdandan sebagaimana seorang pelayan yang kotor tubuhnya.
Pakaian yang dikenakannya tidak perlu bagus, melainkan pakaian yang sederhana. Pandangan hendaknya dijaga, di tundukkan sepanjang jalan. Tidak perlu tengok kanan dan kiri. Kalau tidak begitu justru akan membuka kesempatan untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah, Rasul-NYA dan kemaksiatan kepada suaminya.

BAB 23
KISAH

Dikisahkan ada seorang perempuan yang gemar memamerkan dan-danannya di depan kaum lelaki. Ia mati. Hingga suatu malam di antara saudaranya ada yang bermimpi melihat dirinya di hadirkan kehadapan Allah dengan mengenakan busana yang sangat tipis. Saat itu angin bertiup menerpa busananya, tersingkaplah busananya. Allah berpaling tidak sudi memperhatikannya. Allah berfirman:”Seret dia ke NERAKA … … …!!! Sesungguhnya perempuan itu termasuk orang yang suka memamerkan dandanannya sewaktu di dunia.
Ketika suami rabi’ah Adawiyah mati, beberapa waktu kemudian Hasan Al Basri dan kawan kawannya datang menghadap Rabi’ah. Mereka meminta izin di perkenankan masuk, mereka di perkenankan masuk. Rabi’ah segera mengenakan cadarnya, dan mengambil tempat duduk di balik tabir.
Hasan AlBasri mewakili kawan kawannya mengutarakan maksud kedatangannya. Ia berkata : ”Suamimu telah tiada, sekarang Kau sendi-rian. Kalau kamu menghendaki si